AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Namanya ....



Malam ini, Linda hanya bisa menatap punggung suaminya itu tanpa mau bertanya hal apapun.


Selepas shalat Isya, Agam kembali berkutat dengan laptopnya. Linda tidak faham apa yang dikerjakan oleh suaminya itu sebab bahasa yang digunakan Agam terdengar asing di telinganya.


.


.


.


.


Saat ini, Linda sedang menjalani kewajibannya. Yaitu memberi ASI pada putranya yang berada di kamar lain. Kamar itu dijaga oleh dokter Rita dan dua orang suster. Kamar tersebut bersebelahan dengan kamarnya.


Linda menatap putranya yang tampak lahap dan tidak sabaran.


Untuk seorang bayi prematur, menurut dokter Rita dan dokter Dani, bayinya tergolong luar biasa. Aktif, dan kian sehat tiap harinya.


Setelah kenyang, bayi mungil dengan mata sayu itu mulai memejamkan mata, namun bibirnya masih bergerak teratur seolah masih minum ASI.


Linda tersenyum. Raut wajah bayinya mengingatkannya pada pria sibuk dan berubah dingin yang berada di kamar samping. Kata Pak Yudha, jika Agam sedang sibuk memang seperti itu. Sedikit bicara, banyak bekerja.


"Mari saya pindahkan lagi ke inkubator," kata suster.


"Sama aku saja, Sus."


Linda berdiri perlahan, berjalan senyap menuju inkubator. Lalu meletakan bayinya penuh kehati-hatian.


"Namanya siapa, Bu? Apa sudah ada?"


Suster itu memberanikan diri bertanya karena penasaran. Pikirnya, selagi dokter Rita tidak ada di tempat.


"Dari aku belum ada nama Sus, belum bertanya pada pak Agam juga. Dianya sedang sibuk, untuk namanya ditunda dulu."


"Oh begitu, oiya Bu LB, Anda tidak perlu dua jam sekali ke sini, kan sudah ada cadangan ASI perah. Jadi, bisa menemani Pak Agam lebih lama, hehehe."


"Hahaha, Suster bisa saja." Linda tersipu.


"Saya serius Bu, tapi kalau nanti bayinya rewel atau tidak mau minum pakai dot, nanti saya bangunkan."


"Baiklah, aku permisi ya, Sus. Sekarang mau mengurus bayi besar dulu."


Linda berlalu, suster menatap kepergian Linda sambil berdecak, Linda tidak seperti wanita yang baru melahirkan. Tubuhnya sudah kembali ke bentuk semula.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


'Kriet.'


Linda membuka pintu kamar. Tidak dikunci ternyata. Tampaklah yang tampan itu masih berjibaku di depan laptopnya.


Linda langsung ke kamar mandi. Lanjut perawatan wajah sebelum tidur dan tentu saja mengganti bajunya dengan piyama tidur.


"Pak, mau tidur jam berapa? Ini sudah setengah sebelas malam."


Linda mendekat, berdiri di belakang Agam. Ingin melingkarkan tangan di leher Agam, tapi pria itu sepertinya tidak ingin diganggu.


"Tidur duluan saja sayang, nanti saya menyusul," ucapnya tanpa menoleh.


"Baiklah, selamat bekerja Paren."


Linda menghela napas, merebahkan tubuhnya seorang diri. Setelah menggulung tubuhnya dengan selimut, Linda masih mengintip sosok Agam.


Besok, Agam akan pergi, pasti akan merindukan pria ini, ditatapnya lekat-lekat. Tidak terasa bibir Linda tersenyum. Ia semakin menyadari jika Agam sangat tampan.


Linda juga melihat jika saat ini Agam tengah berbicara dengan layar monitor yang terhubung dengan lima orang dengan wajah misterius.


"Siapkan semuanya, saya percayakan kalian. Misi kita adalah menggugat salah satu peraturan BRN ke badan HAM dunia," tegas Agam.


Mereka mengangguk. Linda merinding mendengarnya. Ingin bertanya, tapi takut. Selain kalimat itu, apa yang dikatakan Agam tidak difahami Linda. Hingga akhirnya kantukpun datang dan Linda terlelap jua.


.


.


.


.


Entah pada pukul berapa Linda merasakan tubuhnya kedinginan, padahal sebelum tidur jelas-jelas ia sudah memakai selimut.


Ingin membuka mata, tapi ... teramat mengantuk, tiba-tiba seseorang mendekapnya, memberikan kehangatan. Linda merasa nyaman, tidurnya kian lelap.


Lalu ... ia merasakan tubuhnya diterlentangkan, Linda masih enggan membuka membuka mata. Beberapa detik kemudian, sesuatu yang beraroma mint itu menari-nari di bibirnya. Menggodanya, dan mengajaknya untuk saling menjalin.


"Mmm ... ss-sayang ...."


Terdengar suara berat yang melintas di telinganya saat jalinan itu berhenti sejenak.


"Uhm, Maga ...," gumam Linda.


Saat membuka mata, Linda langsung bersitatap dengan mata itu, mata sayu yang selalu membuat jantungnya berdegup. Di tatapnya mata itu sambil tersenyum. Di usapnya dada bidang yang polos itu dengan perasaan gundah.


"Maaf ya ... saya mengganggumu ...."


"Tidak apa-apa," kata Linda, kembali menatap wajah Agam, menikmati setiap detail ketampanannya dari jarak yang begitu dekat.


Tapi ... Linda tidak bisa berlama-lama, karena bibir yang merah alami itu kembali merenggutnya. Menyalurkan lagi rasa itu, rasa yang tidak akan terlupakan. Semakin lama, Pak Dirut kian menuntut. Linda kewalahan.


Linda bahkan memekik saat Agam memberikan tanda cinta di sana-sini. Terasa sedikit perih. Tapi ... ia pasrah, membiarkan tangan Agam m e n j a m a h n y a. Agam menatap ke sana.


"Sabar ...." Linda mengusap rahang tegasnya.


"Ya sayang ... saya akan sabar. Tapi ... saya pasti merindukan kamu, merindukan ini, ini, ini, dan ini," kata Agam.


"Apa hanya tubuhku yang anda rindukan?" Linda cemberut.


"Hmm ... tidak dong sayang, saya merindukan semuanya, merindukan jiwa dan ragamu," rayunya.


"Benarkah? Oiya Pak, ja-jangan lama-lama di kotanya, ya ... please ...." Mata Linda mengiba.


"Akan saya usahakan, tapi ... saya tidak janji."


Posisi mereka kini berhadapan. Agam mengusap bibir Linda yang sedikit membengkak, ia tidak menyangka jika ulahnya bisa berakibat separah ini.


"Hati-hati ya, aku takut Pak Agam kenapa-napa. Aku juga khawatir pada Gama," ucap Linda.


Ia memberanikan diri menelusupkan kepala di dada Agam dan menikmati belaian Agam di rambutnya.


"Kamu berdoa saja ya .... Saya akan mengambil Gama dari tangan mereka. Saya juga akan menggugat peraturan BRN yang memberatkan itu. Apa kamu tahu siapa yang menyerahkan Gama pada BRN?"


Linda menggeleng perlahan, tapi bibirnya sedang aktif mengecup pelan dada yang bidang itu.


"Paman Yordan pelakunya sayang."


"Apa?!"


Linda menengadahkan kepala, menatap tak percaya.


"Kenapa paman Yordan tega? Jahat sekali," tuding Linda.


"Mmm, paman Yordan melakukannya demi saya, El. Dia mengambil keputusan itu untuk mencegah saya dari eksekuti mati."


"A-apa? Eksekusi apa?" Linda mempertegas kembali.


"Eksekusi ma-ti, kenapa telingamu?" Agam menjewer telinga Linda, tapi pelan.


"Jadi ...." Mata bulat yang indah itu membelalak.


"Ya sayang, tidak adil bukan? Ya, saya memang salah, tapi ... hukuman mati rasanya tidak adil. Apalagi kamu sebagai korbannya sudah menjadi istri sah saya."


"Dalam agama kita, pemerkosaan dikategorikan sebagai tindakan zina. Hukumannya adalah had yang sudah ditetapkan dalam kasus perbuatan zina. Yang saya tahu, jika pelaku belum menikah, hukumannya dicambuk 100 kali dan diasingkan selama satu tahun. Jika pelakunya sudah menikah maka hukumannya adalah rajam. Jadi, hukuman mati pada kasus saya, sangat-sangat tidak adil."


Linda mengangguk setuju.


"Kecuali ---."


Kalimat Agam menggantung karena ia mengulum kembali yang merah merekah itu.


Linda terkejut. Tapi ... ia suka dan mulai terbiasa. Hanya saja, Linda perlu belajar lagi dan lagi.


Kenapa?


Karena Pak Dirut sangat mahir.


"Kecuali apa?" tanya Linda setelah Agam memberinya jeda untuk menghirup oksigen.


"Emm, kecuali pemerkosaan itu dilakukan dengan ancaman, dan kekerasan. Misalnya sampai memaksa dengan menodongkan senjata, menculik atau menyiksa korbannya, maka pemerkosa dianggap telah melakukan tindak kriminal yang disebut hirabah. Nah, untuk kasus itu hukuman mati mungkin sudah tepat," jelasnya. Agam tahu hal ini dari pengacara Vano.


"Saya merasa tidak layak dihukum mati. Karena saat itu saya tidak menggunakan senjata, dan juga tidak menyiksa kamu. Ya, kan?"


"Kata siapa Anda tidak menggunakan senjata?" goda Linda.


"Apa?" Alis Agam bertaut.


"Hehe, aku benar, kan?"


"El, kamu ...." Gemas, Agam memasygulnya.


"Awwhhh ... sakit Pak ...," pekik Linda.


"Maksud saya bukan senjata itu," mencubit hidung Linda. Linda terkikik.


"Mereka juga memfitnah saya, El. Mereka menuduh saya menculik, menyekap kamu, dan menuduh kita kumpul kebo. Saya tidak bisa tinggal diam," geramnya.


"Aku mendukung Pak Agam. Kelak, jika kasus ini sampai ke pengadilan aku akan bersaksi membela Bapak."


"Terima kasih sayang, sekarang ayo dong ...." Kali ini Agam yang menggoda.


"Ayo? Ayo apa?"


"Saya mau ...." Kemudian berbisik.


"Apa? Tidak terdengar, Pak." Lalu Agam berbisik lagi.


Spontan pipi Linda merona. Matanya mengerjap. Permintaan itu membuatnya merinding seketika.


"Kenapa? Apa kamu tidak mau, hm?"


Kepalanya sudah menelusup di ceruk Linda. Memberikan kecupan-kecupan kecil, tangannya kembali berkelana melepas yang belum terlepas, meraih, membelai dan lain-lain.


"Ma-mau, tapi ... kalau bayinya mau ASI, bagaimana? Setiap dua jam a-aku harus ke sana." Suara Linda begitu lirih hampir tidak terdengar.


"Sayang ... a-apa saya boleh melihatnya?" bisik Agam.


"Melihat bu-bunga kamu sayang," kata Agam.


"Bunga? Bunga apa?"


Linda faham sebenarnya, tapi ... pura-pura polos.


"Jawab dong sayang, boleh tidak?"


Pak Dirut rupanya sudah tidak kuat menanggung beban.


"Uhhuk, uhhuk, Maga ... aku masih masa nifas, jangan ...." Linda menahan tangan Agam.


"Hanya lihat sayang ... please ...." Mata sayu itu mengiba.


"Emm ... a-anu Pak, i-itu ---."


'Kring.'


Interkom berbunyi. Serius, bunyinya 'Kring' bak bunyi bel sepeda.


Agam spontan mengumpat, Linda menarik selimut. Agam bangun, punggung polosnya ditatap Linda. Terlihat mengkilat indah tersinari lampu.


"Ada apa?"


Agam melongokan kepala. Tampak dokter Rita dan seorang suster berdiri gugup di depan kamar.


"Maaf mengganggu, Pak. Itu Pak, bayinya tidak mau minu ASI perah, sekarang rewel, menangis terus," jelas dokter Rita.


"Oke Dok, aku ke sana," teriak Linda dari balik selimut.


"Pindahkan inkubator ke kamar ini. El, kamu saya larang keluar dari kamar ini," tegas Agam. Pak Dirut seolah tidak mau tersaingi putranya.


"Baik Pak," kata dokter Rita.


Linda sedang memakai kembali yang tadi terlepas saat Agam mendekat ke tempat tidur.


"El, saya tidak menyuruh kamu memakainya, buka lagi," titahnya.


"A-apa? Tapi Pak ...."


"El." Mata Pak Dirut menatap tajam.


"Ba-baiklah," kata Linda. Ia melepasnya lagi dan kembali bersembunyi di balik selimut.


Lima menit kemudian terdengar suara inkubator didorong. Rival Agam tiba di kamar. Sedang menangis kencang, meronta, hingga sekujur tubuhnya memerah.


"Terima kasih, kalian istirahat ya. Malam ini saya dan Linda akan menjaganya," kata Agam saat dokter Rita dan yang lainnya meninggalkan kamar.


"Kenapa, pria tidak boleh menangis, harus kuat," kata Agam sambil memangku putranya untuk diberikan pada Linda yang sudah siap dengan posisinya. Lalu memakai kembali piyamanya.


"Pak, dia masih kecil, menangis juga wajar," bela Linda. Ia menerima bayi itu dengan hati-hati, lalu memunggungi Agam saat ia mulai memberikan ASI-nya.


"Sayang, memang harus ya bersembunyi?" Agam sedikit kesal.


"Ssst ... aku lagi serius, jangan diganggu," jawab Linda.


"Ya ampun, saya kalah. Saya cemburu," candanya.


Sekarang memeluk pungung Linda dan mengintip ke sana.


Agam terkejut karena mata kecil yang jernih dan suci itu menatapnya seolah ingin mengatakan jika Linda adalah miliknya. Ya, seorang ibu memang cinta pertama putranya.


"Hahaha, sebelum kamu, Paren yang pertama," kata Agam. Linda tersenyum kecut mendengar itu.


"Apa Bapak sudah punya nama untuk bayi kita?"


"Sudah dong sayang."


Sekarang Agam meletakan kepala di ujung kaki Linda yang berselonjor. Beban Linda jadi bertambah, tapi ia menikmatinya. Bangga karena telah berhasil menjadi wanita seutuhnya.


"Nama untuk putra kita yang ini adalah ... 'Keivel Agler Alf B. Buana.' Sudah saya siapkan jauh-jauh hari. Dan putra kita yang sudah meninggal saya beri nama Khalil Agler Ale B. Buana."


Keivel Agler Alf B. Buana.


Khalil Agler Ale B. Buana.


Linda tersenyum. Nama yang bagus pikirnya.


"Bagus."


"Kamu suka? Apa kamu ada nama lain?" tanya Agam sambil mengelus lembut yang saat ini tengah menjadi bantalnya.


"Suka sekali Pak, aku tidak punya nama cadangan, karena berpikir Bapak sudah menyiapkannya."


"B (dibaca; Bi) adalah singkatan dari Brilliant. Saya ambil dari nama keluarga kamu. Kalau ditulis lengkap, takut kepanjangan. Walaupun saya tidak memiliki hak menasabkan anak saya, tapi saya ingin nama Buana tersemat. Semoga ayah Berli setuju."


"Pasti setuju, Pak. Aku yakin. Lagipula kemiripan nama anak di luar nikah dengan ayah kandungnya bukan sesuatu yang dilarang atau diharamkan agama. Maaf kalau aku salah memaknai," kata Linda dengan mata mengerjap karena tangan yang sedari tadi mengelus kakinya mulai tidak terkendali.


"Kamu tidak salah sayang." Mengulum senyum, sadar jika Linda mulai terpengaruh.


"Pak Agam, bayi kita belum tidur, bisa tidak tangannya dikondisikan? Sudah jam satu malam, Pak. Apa Bapak tidak ngantuk?"


"Saya tidak bisa tidur, El. Banyak pikiran. Memikirkan Gama, memikirkan kamu, dan lain-lain," kilahnya.


Linda menghela napas, ditatapnya malaikat kecil yang sedang mendominasi. Masih asyik menyesap dan belum tidur juga. Linda tersenyum, merasa lucu dengan kondisi ini.


"Pak, geser ke sini," kata Linda.


Agam patuh, menggeser kepalanya lebih dekat. Linda menopang bayinya dengan bantal. Dengan begini tangan yang lainnya bisa bergerak bebas.


Linda membelai rambut Agam. Lalu menggunakan bakatnya dalam bernyanyi. Sebuah lagu populer. Know Me Too Well.


...🎶 ....🎶...


...🎶 I spend my weekends tryna get you of...


...My mind again, but I can't make it stop...


...I'm tryna pretend I'm good, but you can tell (uh). Cause you know me too, you know me too well. Ah-ah-ah-ah. You know me too well. Ah-ah-ah-ah 🎶...


...🎶 ....🎶...


"Sayang ... merdu sekali." Agam tercengang.


Linda tersenyum dan melanjutkan syairnya. Melakukan sedikit improvisasi agar lagu itu terdengar lebih mendayu. Semoga jadi penghantar tidur, harapnya.


"Hoaaam."


Ampuh, Agam menutup mulutnya, mulai menguap. Matanyapun perlahan terpejam. Tapi, masalahnya adalah ... Agam junior masih melotot sempurna.


"Alf, kamu tidak mau tidur?" tanya Linda.


Bayi itu hanya berkedip-kedip, tetap dahaga. Linda mulai berkeringat. Punggungnya panas, kakinya pegal. Rasanya nikmat, mengesankan.


Mau menggerakan kakipun tidak berani. Takut Agam terbangun, lengkaplah sudah. Beberapa saat kemudian kakinya kesemutan.


"Uuhh ...." Linda merintih pelan. Serius, ini tidak nyaman. Lalu tiba-tiba ingin buang air kecil.


"Ya Rabb," katanya. Menjatuhkan kepala pada bantal yang dijadikan sandaran. Ingin berteriak saat ini juga, tapi ... mana mungkin.


Tangannya masih mengelus rambut Agam, ia menoleh yang mengusai tubuhnya. Ternyata sudah terpejam, tapi bibirnya tetap aktif, konsisten. Linda mencoba melepasnya dari sana. Tapi sulit.


Jadi teringat seseorang, apa sifat ini diturunkan dari seniornya? Eh, Linda menahan tawa. Lalu menatap sang senior yang ia maksud. Gaya tidur mereka sama percis.


Linda mengatur napas, ia tidak tahan, keadaan ini terasa menyiksa. Pertolongan dari-Nya segera tiba. Agam terbangun. Langsung duduk, panik melihat Linda berkeringat.


"Sayang? Ada yang bisa saya bantu? Maaf, saya ketiduran."


"Aku pegal, terus mau ke kamar mandi, Alf-nya tidak mau lepas. Padahal sudah tidur," lirihnya.


"Ya ampun Keivel." Agam mengintipnya.


"Ayo lepaskan, Keiv." Agam menyentuhnya. Ajaib, terlepas.


"Hufth ...." Linda lega.


"Aku mau panggil Alf," kata Linda saat Agam memindahkan Alf ke inkubator.


"Saya lebih suka Keiv," katanya. Mengulurkan tangan membantu Linda turun dari tempat tidur.


"Bapak istirahat saja, biar besok tidak kesiangan."


"Tidak, El. Saya tetap antar."


"Ya sudah," Linda pasrah.


.


.


.


.


Di kamar mandi, Agam kembali membantunya, telaten dan cekatan. Padahal, Linda sudah bisa mengganti pembalut seorang diri.


Dan ternyata, ada harga yang harus dibayar oleh Linda.


Saat Linda sudah selesai dan hendak membuka pintu kamar mandi. Agam menghadangnya. Berdiri menghalangi pintu.


"Jangan pergi dulu, sayang," cegahnya.


"Ke-kenapa? A-ada apa, Pak?"


"Di kamar ada Keivel, bagaimana kalau di sini?" godanya, berbisik.


"Hahh?" Gugup.


"Tidak baik kalau Keivel mengintip kita, ya kan?"


"I-iya juga sih," Linda pasrah.


Dan lucunya, Agam pura-pura kesulitan membuka kancing piyamanya.


Bilang saja mau dibukakan, huh. Batin Linda.


Hahaha, tidur yang nyenyak ya Keiv, jangan ganggu Paren dan Momca. Batin Agam, sambil membayangkan sesuatu yang tidak-tidak.


Sesuatu yang membuatnya melupakan kata malu. Sesuatu yang membuatnya sangat bahagia.


Pokoknya sangat sesuatu. Titik.




***Vote***-*nya jika berkenan. Terima kasih*.