
"Apa dia bisa bela diri seperti direktur utama HGC? Apa dia kaya-raya? Apa dia menguasai empat bahasa asing? Apa kamu sangat mencintai dia? Apa kelebihan dia hingga kamu jatuh cinta dengan pria itu?!"
"Ya ampun, aku bahkan menyombongkan diri gara-gara si Rangga apa tadi? Raya? Rangga Raya Permana, biar kupanggil saja dia 'Rayap.' Untung saja Linda belum membaca pesan itu."
Agam terbangun lagi, dan segera menghapus pesan terakhir yang ia kirimkan untuk Linda. Namun sebelum tidur, ia tampak menulis pesan untuk seseorang.
"Tolong lacak identitas manusia ini, namanya kamu baca saja sendiri. Katanya kuliah di London. Jika dia masih berada di London, buat agar dia segera kembali ke negara ini. Laporkan setiap pergerakan dia."
Setelah pesan terkirim, Agam memejamkan kembali matanya.
Ah, aku tidak bisa tidur, jadi penasaran wajah si Rayap itu seperti apa.
Agam kembali gelisah. Malam ini ia benar-benar mengetahui panjangnya malam. Karena penasaran iapun membuka akun milik Rangga, dengan hati berdebar.
Hmm ... coba kulihat.
Agam mulai mengetik
@rayangga_p
Enter ....
Searching ....
Sejenak Agam menutup matanya sebelum benar-benar melihat foto profil pria itu, dan saat dia melihatnya, Agam langsung mengumpat.
"Damn it, dia lumayan juga. Apa dia lebih ganteng dari aku? Tinggi dia berapa? Aarggh, rasanya aku ingin membunuh dia, tapi kan dosa. Linda, ternyata kamu lebih suka yang kulitnya lebih coklat. Apa aku harus sering berjemur?"
Agam gelisah, satu setengah jam menjelang Subuh, malah digunakan untuk melihat-lihat foto-foto Rangga. Dia ingin mencari foto Rangga bersama Linda, untungnya foto yang ia cari tidak ditemukan. Dan adzan Subuhpun berkumandang, dan saat itulah kantukpun menyerangnya. Pertahanan Agam goyah, ia terlelap nyaman, masih memeluk ponsel di dadanya.
Lima menit berlalu ....
"BANGUUUN!!" Gama berteriak memekik telinganya .
"Gama?! Kamu?! Kakak ngantuk Gama, Hmm, Kakak belum tidur." Agam ambruk lagi.
Gama melotot, sungguh ini bukan seperti Agam yang ia kenal sebelumnya. Kakaknya tidak pernah kesiangan shalat Subuh. Menjelang Subuh biasanya sudah berada di mushola.
"Kakak kenapa sih? Kok jadi begini? Heran deh. Ayo bangun Kak, Kak Linda sudah menunggu di mushola, katanya mau shalat berjamaah."
"Apa?! Dia sudah bangun?" Agam beranjak, iapun sempoyongan menuju kamar mandi.
Tapi saat di depan pintu kamar mandi, ia kembali membalikan badan pada Gama dan kembali ke tempat tidur. Bukan untuk tidur lagi tapi untuk mengambil ponselnya.
"Gama, lihat pria ini, menurutmu bagaimana? Apa dia ganteng?"
Agam menyerahkan ponselnya pada Gama. Gama langsung mengamati dengan seksama.
"Emm, ganteng sih. Lumayan lah," kata Gama.
"Hmm," Agam menghela napas.
"Memangnya kenapa Kak? Foto siapa itu?" Gama penasaran.
"Sudahlah, Kakak mau mandi, sana." Ia mengusir Gama.
"Kak Agam tunggu, pria ini bukan mantannya Kak Agam kan?! Atau kekasih Kak Agam, kan?!" Gama membeliakan matanya.
"APA?! Kamu ulangi lagi kalimat barusan, atau aku sobek-sobek mulutmu itu!"
BRUG, Agam menutup sekuat tenaga pintu kamar mandi, hingga Gama terlonjak. Gama jadi penarasan. Siapakah laki-laki di foto itu? Apa hubungannya dengan Agam?
Saat ia hendak berangkat ke sekolah, Gama masih menatap kamar kakaknya, ia khawatir jika Agam kembali dekat dengan pria. Sebuah kekhawatiran yang sebenarnya salah sasaran.
***
Akhirnya hari yang tunggu Agam, dan ditakutkan Lindapun tiba jua. Hari ini Linda akan menjalani syuting iklan untuk beberapa produk HGC. Iklan itu akan ditayangkan selama periode ia dan Agam terikat kerja sama.
Linda telah menunggu Agam di halaman rumah, Agam masih ada di dalam basement mengeluarkan mobil, sedangkan Gama telah berangkat sekolah. Walau katanya tidak berias, tapi Linda tetap saja cantik dan mempesona. Linda merasa gugup. Ia juga tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya karena akan bertemu Bagas.
Ia semakin kikuk saat mobil Agam keluar dari basement.
"Masuk," ajak Agam, ia membukakan kaca tanpa menoleh pada Linda.
"Di belakang atau di depan, Pak?"
"Di atas."
"Di atas?" Linda melongo.
"Ya depan lah Bu Linda."
"Oh, hehehe." Linda berusaha mencairkan suasana.
Biasanya Agam membukakan pintu untuknya tapi pagi ini, pria ini sangat kaku. Dan Linda bisa melihat jika Agam beberapa kali menguap dan mengucek matanya sebelum memajukan kemudi.
"Bapak mengantuk?"
"Tidak, saya menghayal," jawabnya.
"Pak Agam, bagaimana kalau saya saja yang nengemudi? Bapak tunjukkan saja alamatnya. Oiya kalau untuk alamat HGC saya tahu, tapi alamat biro iklannya saya tidak tahu."
"Emm, kita akan ke HGC dulu, saya akan menandatangani beberapa dokumen, hoamm ...." Agam menutup mulutnya.
"Pak, mengemudi saat ngantuk berbahaya lho. Biar saya yang mengemudi." Linda kembali menawarkan diri.
Kondisi jalanan terlihat ramai lancar, aktivitas pagi hari di kota itu seperti biasanya, sesak dengan hiruk-pikuk para pencari nafkah.
"Apa Anda tidak apa-apa?" sepertinya Agam sadar diri. Ia tentu saja tidak mau membahayakan Linda dan janinnya.
"Saya serius, saya tulus," tegas Linda.
"Baiklah. Terima kasih ya." Ia sekilas menatap Linda.
"Maaf ya," Agam menepikan mobil. Lalu turun bersamaan dengan Linda yang turun juga.
"Baru pagi ini saya merasa sangat ngantuk," ucap Agam saat ia sudah berada di kursi samping kemudi. Saya merasa jadi pria lemah."
"Bapak tenang saja, saya akan merahasiakan masalah ini dari siapapun."
"Hmm ...."
Mata Agam mulai meredup, rupanya ia benar-benar mengantuk. Jika diibaratkan lampu, mungkin kurang dari lima watt. Linda mengulum senyum, melihat Agam terlihat lemah, ia merasa lucu.
"Bapak tidur saja, setelah sampai HGC nanti saya bangunkan," kata Linda. Lalu Lindapun bernyanyi.
...🎶"Nina bobo, oh nina bobo, ka--."🎶...
"Hmm ... saya bukan Nina, saya Agam Ben Buana," sela Agam. Matanya sudah terpejam, dan kacamatanya berpindah ke jidat.
Linda kembali tersenyum. Mau bernyanyi lagi tapi tidak berani. Iapun hanya terdiam dan konsentrasi pada jalanan. Saat berada di lampu merah ia menatap Agam.
Gaya tidur dia sangat rapi, persis sepeti foto KTP, sama sekali tidak ada suara napasnya, dia tidur seperti orang mati, bibirnya sangat rapat sama sekali tak ada celah untuk bisa dimasuki binatang apapun. Tangannya bersidekap seperti gerakan shalat. Gumam Linda dalam batinnya.
Saat lampu merah kembali hijau, Linda terkikik menutup mulutnya menahan tawa. Ia membayangkan jika ke bibir Agam ada seekor semut yang merayap, namun yang dilakukan Agam bukannya mengusap semut, tapi malah pasang kuda-kuda.
Kalau dia dikagetkan saat tidur, reaksinya seperti apa? Aku penasaran, tapi aku tak berani mengagetkannya. Tapi ... hihihi, nanti kalau sudah sampai di HGC, akan aku kagetkan, ah.
Linda menyusun rencana usil.
Apa kaki dia sudah sembuh? Perasaan tadi jalannya tidak pincang, mungkin sudah sembuh. Kenapa dia sampai terlelap begini? Apa semalaman tidak tidur?
***
Linda menghela napas, kini gedung tertinggi di negara tersebut sudah tampak jelas, mobil para karyawan mulai memasuki kawasan HGC. Ada banyak jalur di hadapan Linda, matanya fokus pada tulisan 'The Main Director's Special Line.' Artinya, itu jalur khusus untuk direktur utama. Berada pada jalur paling kiri dari Lima jalur lainnya. Tidak ada mobil lain yang masuk ke jalur itu.
Linda melirik, Agam masih terlelap. Sementara petugas keamanan pada jarak sekitar 5 meter lagi terlihat tengah bersiap. Mereka akan menyambut kedatangan direktur utama HGC setelah melihat mobil Agam. Mereka menatap mobil Agam, mungkin kebingungan karena mobil itu berhenti sejenak sebelum memasuki kawasan megah HGC.
"Biasanya Pak Agam tidak pernah berhenti di situ," kata salah satu petugas keamanan.
"Biarkan saja, toh tidak menghalangi mobil lain," ujar yang lainnya.
Linda berniat untuk membangunkan Agam, namun ia tidak tega, pria yang tidurnya kaku dan rapi itu terlihat begitu tenang dan nyenyak. Lebih mirip dengan petapa atau pesemedi jika dibandingkan dengan orang tidur pada umumnya.
Lagi-lagi Linda tersenyum memandangi Agam. Ada perasaan gemas, ia ingin sekali memijat hidung mancungnya, yang bahkan cupingnyapun seperti tidak ada napas.
Tunggu, dia tidak mati kan? Bukannya segera memasuki kawasan, Linda malah menatap lekat pada dada Agam.
Syukurlah, ada sedikit pergerakan dada, teratur dan halus. So, dia masih hidup. Oiya, apa yang harus aku katakan saat para petugas itu melakukan pengecekan? Aku harus pakai masker dulu, dan topi. Yeey, sempurna. Tidak akan ada yang mengenaliku.
Linda becermin pada spion sebelum melajukan kembali mobilnya.
Bismillaah ....
Tuk, tuk, pintu mobil diketuk petugas. Linda membuka kaca.
"Selamat pagi Pak Direk--?"
Mereka langsung menutup mulut melihat Agam terlelap. Dan melongo saat melihat Linda. Tiga orang petugas itu saling menatap kebingungan. Linda lalu menulis sesuatu pada secarik kertas agar suaranya tidak membangunkan Agam.
"Saya supir pribadinya Pak Agam, saya orang baru, ini hari pertama saya bekerja."
Para petugas itu mengangguk-angguk, ada yang seperti mengatakan, "Oooh, supirnya?" lalu merekapun mempersilahkan mobil Agam masuk dengan gerakan tangan mereka dan tanpa ada suara.
Setelah mobil Agam melaju, salah satu petugas langsung berbicara pada HT.
"Pak Agam akan memasuki lobi, beritahu bu Fanny jika pak Agam bersama supir barunya. Seluruh staf yang ada di lantai satu dan lobi bersiap, ganti."
"Siap," suara di ujung sana.
Sesampainya di lobi Linda terkejut, ternyata di area ini, direktur utama HGC akan disambut, mereka terlihat sudah berbaris rapi dan melemparkan senyum. Mata Linda langsung fokus pada wanita seksi, elegan nan cantik yang ada di barisan paling depan.
Ya dia adalah Fanny, sekretaris utama HGC. Dia menggantikan posisi Agam setelah Agam dilantik menjadi direktur. Kemampuannya yang berkembang pesat membuat posisinya aman dan tidak mengalami mutasi ke divisi lain saat tim manajemen HGC melakukan reshuffle besar-besaran pasca Agam dilantik.
"Pak Agam, bangun Pak. Kita sudah sampai." Linda melupakan misi usilnya mengagetkan Agam.
Tapi Agam tetap diam, dan diluar sana staf yang meyambut terdiam jua. Rupanya petugas keamanan memberiatahu juga jika Agam sedang tidur.
Oh sudah sampai? Tidurku nyenyak sekali. Agam mendengar saat Linda memanggilnya, tapi ia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Linda jika ia susah dibangunkan.
"Pak," kata Linda.
Dia tidak menyentuhku? Biarkan saja. Aku tidak akan bangun. Kata Agam dalam benaknya.
"Oke, kalau Bapak diam saja, saya akan gigit telinga Bapak. Satu, du--."
"Ya saya bangun."
Agam tersenyum, memakai kaca mata dan duduk tegak. Ia tidak mau Linda menggigit telinganya lagi. Sebab jika itu terjadi, yang terbangun bukan hanya dirinya. Tapi juga ada makhluk hidup lain yang turut bangkit dari persembunyiannya. Agam belajar dari pengalaman sebelumnya saat Linda hendak menggigit telinganya.
"Ayo kita turun, buka saja maskermu, toh hari ini kamu akan go public," ajak Agam.
"Tidak Pak, saya di mobil saja. Tadi saya sudah bilang pada petugas kemananan kalau saya supir pribadi Bapak."
"Apa?!" Agam terkejut.
"Iya Pak, biar aman. Terus, tadi saya tidak berani membangunkan Bapak."
"Kamu tetap turun, ikut dengan saya, jika tidak nyaman, oke kamu tetap pakai masker." Agam membuka pintu kiri. Setelah Agam turun, petugas keamanan langsung membuka pintu kanan di mana Linda berada.
"Saya mau minta data identitas Anda," kata petugas itu.
"A-apa?!" Linda panik, para staf kini menatapnya setelah membungkukkan badan pada Agam.
"Identitas dia ada di saya. Tidak perlu dicek lagi," tegas Agam.
Syukurlah, Linda bisa bernapas lega.
"Ba-baik, Pak Agam."
"Kamu, ikut ke ruangan saya. Berikan kunci mobil saya pada petugas," kata Agam.
"Baik," kata Linda sambil menganggukkan kepala.
Agam lalu menarik tangan Linda. Yang mana membuat semuanya terkejut dan melongo, masa iya memperlakukan supir seperti itu?
Linda membaca situasi. Langsung menepis tangan Agam.
"Saya bisa mengikuti Bapak dari belakang," kata Linda sambil menunduk.
Agam menghela napas, ia lalu berjalan menuju lift disusul oleh Fanny. Linda ada di belakang Fanny.
"Selamat pagi, Pak."
"Selamat pagi, Pak."
"Selamat pagi, Pak."
Staf dan karyawan yang berpasapasan menyapa Agam. Agam hanya mengangguk dan tersenyum tanpa mengatakan apapun. Dan di depan pintu lift khusus untuknya Agam memberikan intruksi pada salah satu petugas keamanan.
"Pak, mulai besok, tolong jangan ada lagi acara menyambut saya di lobi ya. Hari ini yang terakhir," tegasnya.
"Ta-tapi Pak ...."
"Tidak ada tapi-tapi," tegas Agam.
Ting, lift terbuka.
"Baik, Pak." Mereka membungkuk saat Agam, Linda dan Fanny masuk ke dalam lift.
"Kamu supir baru Pak Agam? Saya Fanny, sekretaris utama HGC," ia menyodorkan tangan.
"I-iya," jawab Linda. Menyambut tangan Fanny.
Agam diam saja.
"Pak Agam, dasi Anda miring," Fanny mendekati Agam dengan gemulai dan membetulkan dasinya.
"Terima kasih," kata Agam.
"Sama-sama, Pak." Fanny tersenyum manis pada Agam, yang mana membuat Agam tertawa.
"Hahaha."
Dan Fanny pun tertawa.
"Hahaha."
Linda menunduk, mereka akrab sekali. Kenapa aku merasa tak nyaman saat melihat Pak Agam tertawa dengan wanita itu? Dan saat wanita itu merapikan dasi, aku juga tidak nyaman.
.
.
Ting, tiba di lantai 88.
"Saya akan ambil berkas dulu, Pak."
"Oke," jawab Agam. Fanny berlalu.
Lalu Agam menarik tangan Linda.
"Lepaskan, tidak perlu pegang-pegang," kata Linda.
"Anda kenapa? Perasaan kok jadi pendiam?" Kata Agam saat ia sudah berada di ruangannya dan Linda masih berdiri.
"Tidak apa-apa."
"Duduk dong, nanti kakimu pegal kalau berdiri terus."
"Ya saya duduk."
"Mau minum apa? Nanti saya mintakan," tawar Agam.
"Saya tidak haus."
"Oke, apa mau melihat-lihat?" tanya Agam. Sedangkan tangannya sibuk menyalakan laptopnya dan membuka beberapa dokumen yang menumpuk di hadapannya.
"Bu Fanny cantik banget ya, Pak." Kata Linda.
"Ya, mungkin." Jawab Agam singkat.
"Itu fakta, bukan kemungkinan," sahut Linda.
"Cantik itu relatif," dan menurutku kamulah wanita yang paling cantik. Lanjut Agam dalam benaknya.
Tiba-tiba Fanny datang, ia menyodorkan dokumen pada Agam dengan membungkukkan badan dan tentu saja membelakangi Linda.
"Ini dokumennya, Pak. Berkas dari biro iklan ada dipaling atas."
Dan saat itu, Linda melihat rok super mini yang digunakan Fanny semakin memendek di bagian belakang dan terangkat. Hingga bagian itu hampir terekspose begitu saja secara cuma-cuma. Linda langsung mual.
"Owwheek, owheek," Linda panik, ia memegang perutnya.
"Bu Linda?!" Agam melempar berkas dan segera menghampiri Linda.
"Pak Agam ...." Linda menatap nanar. Agam segera membopongnya dan membawa Linda ke kamar mandi. Ia yakin Linda akan muntah.
Fanny mengernyit, kok bisa seorang supir diperlakukan seperti itu? Pikir Fanny.
"Linda," sapa Agam." Ia mendudukkan Linda di toilet duduk dan melepaskan maskernya.
Dan ....
Syuur, Linda memuntahkan seluruh makanan di dalam perutnya ke baju Agam yang rapi, berjas dan berdasi.
"Hahhh," Agam mematung, tersenyum, lalu menghela napas panjang.
"Ma-maaf," ucap Linda.
Dengan gerakan cepat, Linda membuka baju Agam saat Agam masih terkejut dan mematung. Hingga pria itu kini sudah polos setengah badan.
"Kenapa kamu tidak izin dulu? Berani ya kamu membuka baju saya tanpa izin?" Agam memegang tangan Linda yang gemetar.
"Ma-maaf Pak, nanti saya yang mencuci bajunya." Linda menunduk, suaranya menciut.
Agam lalu berdiri, dan mengulurkan tangan pada Linda.
"Kemarilah."
Linda menyambut tangan Agam. Dan Agam langsung mendekap Linda.
"Saya yang seharusnya minta maaf, bukan kamu. Maafkan saya ... kamu seperti ini gara-gara saya."
"Pak Agam, Pak Agam," dari luar kamar mandi Fanny memanggil.
"Bu Fanny memanggil Bapak," kata Linda.
"Biarkan saja," Agam tetap mendekap Linda sambil membelai rambutnya.
"Apa kamu sangat mencintai Angga?" tanya Agam.
"APA?!" Linda terkejut, ia mendongakan wajah lalu menunduk lagi.
"Pak Agam, Pak Agam," Fanny memanggil lagi.
"Sekretaris Bapak cantik sekali, Bapak cocok sama dia." Kata Linda.
"APA?!" kali ini Agam yang terkejut. Keduanya saling menatap. Bingung dengan pertanyaan masing-masing.
Linda bingung kenapa Agam menanyakan perasaannya pada Angga. Sementara Agam bingung karena Linda malah membahas Fanny. Sedangkan Fanny di mata Agam hanyalah sekretaris biasa yang skandal gelapnya ia tutupi karena mengikuti saran tuan Deanka.
Ya, tuan Deanka mempunyai rekaman vidio panas antara Fanny dan pria bernama Yohan Nevan Haiden. Citra Fanny di mata Agam tentu saja kurang baik.
Tidak ada yang lebih cantik dari kamu, Linda. Batin Agam.
Agam mengusap pipi Linda yang seputih susu.
"Kekasihmu sangat tampan, aku sudah melihat foto dia," kata Agam.
"Dan sekretaris Bapak juga sangat cantik," kata Linda.
"Maksudmu? A-apa kamu ...." Agam menatap lekat pada Linda.
Lindapun menatap wajah Agam, dan entah kenapa mata Linda tiba-tiba berkaca-kaca.
❤❤ Bersambung ....
...___...
...Mohon votenya jika berkenan, terima kasih....