
"Apa mobilnya bisa lebih cepat?! Kenapa lambat sekali?!"
Ayah Berli naik pitam. Ia tidak sabaran. Padahal, kecepatan mobil sudah sangat tinggi, bibir dokter Rita bahkan terus berkomat-kamit karena ketakutan. Takut terjadi kecelakaan dengan mobil tersebut.
"Pak, ini sudah cepat," kata pengemudi. Dia orang asing, kemungkinan adalah pengemudi bayaran yang diperintah oleh Hikam atau pak Yudha.
"Ayah ... maafkan Linda ya Ayah ... huuks ...,"
Linda merintih sembari meminta maaf pada ayahnya. Ia tidak menyangka jika di saat seperti ini, bukannya Agam yang mendampingi, eh malah ayahnya.
Tapi, setiap kontraksi datang menyerang, bibirnya spontan menyebut nama seseorang.
"Ahhh ... sakiiit .... Magaaa!" teriaknya sambil mengcengkram baju Ayah Berli.
Panggilan 'Maga,' membuat Ayah Berli kaget.
"Siapa yang kamu panggil, Nak? Maga? Maga siapa?"
"Hmm ... huuuh ... i-itu ...." Sambil menahan rasa sakit, wanita cantik itu berpikir.
"Siapa?"
Ayah Berli penasaran. Sampai-sampai berpikir buruk jika Maga adalah kekasih lain putrinya selain Angga Raya Permana.
"I-itu panggilan sa-sayang a-aku pada pak Agam, A-Ayah ...," lirihnya. Bibirnya kembali memucat, lalu memohon.
"Ayah ... aku ingin bicara dengan pak Agam, telepon dia Ayah ... boleh ya ...." Ratapnya dengan bibir yang gemetar.
"Ya Pak, telepon saja Pak Agamnya. Selagi ada signal, dukungan dari orang terdekat sangat baik untuk memotivasi ibu, mengurangi kecemasan dan bisa menenangkan ibu secara psikologis," terang dokter Rita.
Sambil berkata, dokter Rita sebenarnya sembari berpikir, ia masih tidak percaya dengan pesan yang dikirim rekannya, dokter Dani, yang berisi ....
"Ini informsi rahasia, hanya tim medis yang boleh tahu. Itu juga yang berkepentingan saja, yang tidak berkepentingan jangan sampai tahu. Kamu jangan kaget ya."
"LB itu virgin. Kamu jangan memaksa melakukan pemeriksaan apapun. Kemungkinan, dia sengaja hamil dengan cara injeksi. Dia artis, kasus seperti ini bisa saja terjadi. Oiya, dia CPD. Pak Dirut sudah mengirimkam data rekam medis kesehatannya. Setibanya di rumah sakit rujukan, kita akan melakukan prosedur operasi darurat."
Pantas saja LB menolak, pikirnya. Bahkan untuk sekedar dilihatpun, artis dan presenter yang baru-baru ini naik daun karena membintangi iklan produk HGC itu tetap menolak.
"Dokter, aku tidak mau diperiksa," tolak Linda, tadi saat mereka ada di ruangan khusus bandara Pulau Jauh dan baru saja mendarat.
"Kenapa? Kita harus tahu pembukaannya, setiap ibu hamil yang akan melahirkan, wajib diperiksa, kalaupun Anda artis, tetap harus diperiksa. Prosedur pemeriksaan dalam adalah protap yang harus dilakukan pada ibu hamil inpartu di seluruh dunia."
Terang dokter Rita yang pada saat itu berusaha keras untuk membujuk Linda.
"Pokoknya tidak mau, Dok. Kalau dokter memaksa, justru dokter yang akan dikenakan sanksi. Aku tidak mau diperiksa, titik." Linda bersikukuh.
Tim dokter yang diperintah dokter Cepy, sebelumnya telah dibriefing oleh dokter Cepy jika wanita hamil yang akan mereka dampingi adalah wanita spesial Dirut HGC.
Jadi, awalnya mereka tidak tahu kalau wanita yang dimaksud adalah LB yang saat ini sedang tenar dengan berita kontroversialnya. Mereka sebenarnya kaget, namun kembali lagi pada perjanjian awal.
"Jika kalian membocorkan informasi sekecil apapun tentang LB dan Dirut HGC, maka yang pulang dari Pulau Jauh hanya nama kalian saja. Camkan itu!"
Seperti itulah ancaman yang diutarakan dokter Cepy pada dokter Rita, dokter Dani, dan dua orang perawat yang belum diketahui namanya.
Dokter Rita menghela napas, kehidupan Agam Ben Buana dan LB benar-benar misterius. Tapi, barusan ia jelas sekali mendengar jika Linda menyebut Agam sebagai suami.
Apa janin yang dikandung LB adalah benih Dirut HGC?
Kalau mereka benar sudah menikah, kenapa LB masih virgin?
Apa Agam Ben Buana sengaja membayar Linda untuk meminjam rahimnya?
Tapi, LB pernah mengatakan jika ia diperkosa seseorang, kan?
Kalau diperkosa, harusnya tidak virgin lagi, kan?
Tapi kenapa?
Apa info LB virgin hanya issue belaka?
Haduh, aku pusing memikirkannya. Sulit difahami oleh akal sehat, bukankah rahim bayaran di negara ini hukumnya tidak boleh? Tapi, tadi LB bilang suami, berarti sudah menikah dong?
Tapi, kenapa LB masih virgin? Apa mereka nikah kontrak? Terus, untuk apa juga LB mengaku diperkosa? Apa serumit ini kisah di balik layar kehidupan seorang artis?
Batin dokter Rita berkecamuk. Memikirkan masalah itu membuatnya pusing tujuh keliling. Daripada bingung, ia berpikir lebih baik tetap berpegang teguh pada kesepakatan awal jika ia dan tim akan merahasiakan hal apapun yang ditemukan.
"Ba-baik, Nak ... Ayah akan telepon dia."
Ayah Berli mengalah. Sebelum Ayah Berli melakukan panggilan, ponselnya sudah terlebih dahulu berdering. Ada panggilan dari sang menantu.
"Panjang umur, dia menelepon."
Ayah Berli meletakan ponselnya di telinga Linda. Linda langsung terharu.
"Assalamu'alaikuum," suara pujaan hatinya terdengar gemetar.
"Wa'alaikumusaalaam," Pak Agam, huuu ...." Linda menjawab salam, lalu mengakhirinya dengan tangisan.
"Sabar ya sayang ... saya sedang mencari penerbangan darurat supaya bisa menyusul kesana. Saya mau mendampingi kamu, El ...."
"Ka-kalau kesulitan mencari transportasi, tidak pe-perlu ke sini, Pak ...." Walau ingin didampingi, tapi Linda memaklumi jika Agam tidak bisa menemaninya.
"Tidak sayang, saya akan berusaha untuk bisa ke sana. Saya mau menyewa penerbangan darurat. Apa kamu lupa kalau suamimu mendapat titipan harta berlimpah?" Agam sedikit menggoda.
"Hmm ... huuhh ... a-aku tahu, tapi ... HGC bagaimana? Bukankah Bapak hari ini harus bekerja?"
"Saya sudah izin sayang ... jangan dipikirkan. Bagaimana mulasnya? Apa makin sering?"
"I-iya Pak ... makin sering dan sakitnya melebihi mulas yang waktu itu, huuuks ...."
"Maafkan saya El .... Maaf karena telah membuatmu menderita. Saya akan membayar semuanya dengan cara membahagiakan kamu, saya akan melakukan apapun demi kamu. Saya mencintai ka ---."
Panggilan terputus, bermasalah dengan signal lagi.
"Halloo," sapa Linda. Mengecek ponsel.
"Sudahlah Nak."
Ayah Berli mengambil ponsel tersebut bersamaan dengan teriakan Linda dan kepanikan selanjutnya.
"Aaahhh ... Ayah ...."
Linda meringis, ada sesuatu yang hangat mengalir dari inti tubuhnya dan membasahi roknya.
"Ketuban Anda pecah, ayo posisi Anda harus berbaring."
Dokter Rita membantu memposisikan Linda. Ayah Berli panik, ketuban yang keluar sangat banyak. Ayah Berli yakin, kali ini kandungan putrinya tidak bisa dipertahankan dalam waktu yang lebih lama lagi.
Ia tiba-tiba jadi merasa bersalah karena sangat antusias akan kepulangan Linda. Andai Linda tidak jadi pulang, mungkin, operasi elektif yang telah dijadwalkan dan direncakan oleh dokter Fatimah akan terlaksana dengan baik.
"Maafkan Ayah, Nak ...." Sambil mengelap keringat di wajah pucat putrinya.
Dokter Rita segera menelepon dokter Dani dan memberitahu jika LB sudah pecah ketuban.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Syukurlah, perjalanan yang menegangkan itu sepertinya akan segera berakhir, pelataran Rumah Sakit Rujukan Daerah Pulau Jauh, sudah tampak. Lumayan besar tenyata, dan terlihat begitu asri. Banyak pepohonan menjulang tinggi tumbuh di sekitarnya.
Rombongan mobil berhenti di depan IGD. Linda terus merintih kesakitan. Hikam turun dari mobil disusul oleh yang lain, termasuk Pak Yudha dan dokter Dani.
Pak Yudha secepatnya melakukan koordinasi dengan pihak keamanan rumah sakit dan perawat IGD jika pasien mereka adalah LB, dan kemungkinan akan segera dilakukan operasi cito pada kandungannya di rumah sakit ini.
"APA?! LB?"
Tim IGD kaget, pun dengan dokter jaga IGD. Pasien yang berada di selasar IGDpun turut terkejut. Apa benar akan ada artis yang mau melahirkan di rumah sakit daerah? Mereka antara percaya dan tidak percaya.
Kemudian ketidakpercayaan mereka terjawab sudah saat dokter Rita dan dua orang yang lain, mengambil cepat berankar yang ada di selasar dengan wajah panik.
"Cepat bantu!" teriak dokter Rita.
"Kalau bisa tolong sediakan jalur khusus, jika tidak bisa tidak apa-apa, asalkan LB tetap nyaman," teriak Hikam, wajah pria itu tampak panik.
Dan saat pintu mobil terbuka, tim medis rumah sakit tersebut benar-benar membelalakan mata.
Benar saja, si cantik yang sensasional dan kontroversional itu benar-benar ada di hadapan mereka. LB diboyong oleh pria yang mereka duga sebagai ayahnya LB.
"Cepaaat!"
Kali ini dokter Rita yang teriak. Ia yakin tim medis pasti terpana dengan kemilau LB. Ya, aura LB memang bersinar. Wajah glownya yang dipenuhi keringat, membuat LB terlihat sangat seksi. Dokter Rita saja yang perempuan menyadari fakta itu, apalagi laki-laki.
"Baik," ucap mereka serempak.
"Linda, kamu kuat ya."
Hikam memegang tangan Linda sesaat sebelum brankar masuk ke ruang IGD.
"Jaga tanganmu!" teriak Pak Yudha. Ia sigap menepis tangan Hikam.
"Hanya keluarga yang diizinkan masuk," kata dokter jaga IGD.
"Dok, kami tim medis. Kami dokter pribadinya LB. Izinkan kami masuk ke dalam. Ada hal penting yang perlu kami jelaskan," kata dokter Dani.
"Ya, dan dua orang ini adalah perawat dan suster," tambah dokter Rita.
"Emm, baiklah. Boleh masuk," ucap dokter jaga.
Mereka masuk ke IGD.
.
.
.
.
Pak Yudha dan Hikam menunggu di luar dengan harap-harap cemas. Pak Yudha berulang kali menghubungi Agam, namun signal bermasalah lagi.
"Harus ganti kartu dulu," kata Hikam.
"Ya sudah, kamu bantu saya membeli kartu baru," kata Pak Yudha.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Agam masih dalam kepanikannya. Sewa penerbangan darurat untuk rute Pulau Jauh tidak tersedia. Ia sudah menghubungi Mister X, tapi Mister X dan timnya sedang ada misi penting.
Ingin menghubungi tuan Deanka, tapi ia dan tuan Deanka sedang berselisih faham.
Mau meminta bantuan pak Barata, namun ia tidak enak hati karena pak Barata masih mengharapkan Agam untuk menjadi menantu mendampingi putri sulungnya, yaitu dokter Mia.
Agam merenung. Ting, ada seseorang yang bisa ia andalkan. Tapi, ia musuhnya.
Benar, Yohan Nevan Haiden. Dia bisa melakukan penerbangan darurat. Hanya saja, saat ini heli pribadi milik Yohan sudah disita negara.
Namun, lisensi penerbangan milik Yohan tidak dicabut. Artinya, pria bejad itu masih bisa menerbangkan heli secara legal. Agam hanya butuh satu heli untuk disewa dan meminta bantuan Yohan sebagai pilotnya.
Tapi, ini jam tiga pagi, apa Yohan mau dimintai bantuan? Apalagi, notabene yang meminta bantuan adalah dirinya.
"Dia pasti butuh uang, kan? Aku harus mencobanya," gumam Agam.
Ia berharap Yohan mau bekerja profesional dan mengesampingkan konflik pribadi di antara mereka.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Sementara orang yang dimaksud Agam Ben Buana, saat ini tengah terbaring di kamar apartemen miliknya. Yohan belum tidur, pria itu sedang sibuk di hadapan laptop dengan beberapa berkas yang tergeletak di tempat tidur.
Layar laptopnya menampilkan foto lama sebuah panti asuhan yang menjadi backgroud foto anak-anak panti dan pemilik panti. Fokus kursor menunjuk pada gadis kecil mungil yang sedang memegang boneka lusuh berbentuk kucing.
Ya, bocah dalam foto itu adalah gadis yang ia culik saat melakukan sabotase pada kapal feri E452 DT.
"Ternyata benar, gadis itu anak panti. Dia sebatang kara," gumamnya.
Selama ini, Yohan terus menyelidiki asal-usul gadis tersebut.
Lalu, kenapa Yohan melakukan sabotase bahkan sampai berani menenggelamkan kapal feri E452 DT?
Jadi, aksi kejahatan Yohan pada kapal feri E452 DT adalah murni balas dendam, tidak ada hubungannya dengan Agam Ben Buana. Selain itu, Yohan juga sengaja bergabung dengan para perompak demi memperluas kekuasaan dan jejaringnya.
Ia ingin membangun kembali kejayaan keluarganya pasca keluar dari penjara. Apalagi saat ini, papanya sudah ditetapkan sebagai tersangka yang menjadi buronan interpol karena kasus korupsi dan suap yang dipublikasikan ke publik oleh jaringan rahasia anonymous.
"Hoaam," ia mulai menguap.
Segera keluar dari kamarnya untuk mengecek seseorang. Benar, Yohan akan mengecek gadis itu sebelum ia tidur.
Saat ini, kesehatan gadis itu sudah pulih. Namun trauma psikisnya belum sembuh. Gadis itu masih ketakutan saat bertemu langsung dengan Yohan. Pelecehan dan pemerkosaan brutal yang dilakukan Yohan masih membekas di benak gadis itu.
Gadis itu dirawat dengan baik. Yohan mendatangkan guru les untuk membantunya belajar. Usianya masih sangat belia, bahkan lebih muda dari nona Aiza. Umurnya belum genap 18 tahun.
.
.
.
.
Setibanya di kamar gadis itu, Yohan menatapnya lekat. Gadis itu sedang memeluk buku pelajaran di dadanya. Yohan mendekat, dibetulkannya selimut, diambilnya buku, lalu mengganti lampu kamar dengan lampu tidur yang temaram.
"Maaf ya," lirih Yohan.
Sampai saat ini, ia belum mengetahui nama gadis itu karena saat ditanya namanya, ia selalu diam. Pada guru lespun, gadis itu tidak memberitahu namanya dan kehidupan pribadinya.
Sejauh ini, Yohan memanggil namanya dengan sebutan 'Sea.'
Kenapa 'Sea?'
Karena Yohan berpikir gadis itu ditemukan di laut.
Bukan Yohan namanya kalau tidak gila. Sebelum meninggalkan kamar, ia mengusap pelan bagian tubuh gadis itu seraya menelan saliva.
Mata Yohan terpejam, ia sedang mengingat kembali kenikmatan tubuh gadis ini yang ia rasa sangat berbeda. Padahal, itu bukan pengalaman pertamanya. Sebelumnya, ia sering membeli kehormatan seorang gadis yang masih suci.
Tapi, gadis ini berbeda, ia tidak bisa melupakan saat-saat itu.
Apa karena gadis ini sekilas mirip dengan nona Aiza?
Entahlah.
Yang jelas, Yohan benar-benar terbuai dan terpesona. Ada getaran rasa lain saat pertama kali menikmati keranuman gadis ini. Rasa yang belum pernah ia dapatkan dari gadis suci ataupun wanita j a l a n g yang sering ia gunakan untuk melampiaskan hasratnya.
Gadis ini bahkan telah mencuri ciuman pertamanya. Biasanya, Yohan selalu menolak dan merasa jijik saat para wanita murahan pemuja uang ingin menciumnya.
Tapi, pada gadis ini, ia sama sekali tidak merasa jijik. Bahkan, Yohan tanpa sadar melakukannya tanpa pelindung. Hingga berani menyentuh dan memainkan tubuh gadis itu tanpa menggunakan sarung tangan.
Ia ingin merasakann kembali perasaan nikmat yang tidak biasa itu, tapi ... ia tahan-tahan. Cup, Yohan mengecup kening gadis itu, lalu mengecup lehernya dengan perlahan.
Kaget, saat Yohan mendengar gumaman dari bibir mungilnya. Gadis itu somniloquy atau mengigau.
"Mama ... Papa ... Mama ... Papa ...," igaunya. Lalu air matanya mengalir dan terisak-isak.
Yohan menghela napas. Serius, hatinya mulai terusik. Ingin terus bersama gadis itu, namun telepon genggamnya berdering. Ada panggilan dari rivalnya. Agam Ben Buana.
"Mau apa dia pagi-pagi buta begini?"
Ia menerima panggilan dari Agam dengan wajah kesal.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Freissya merenung, disaat temannya bersuka-cita karena mendapatkan hadiah dari tanpa nama, ia justru gudah-gulana.
Jam di dinding sudah menunjukkan jam setengah lima pagi. Artinya, tidak lama lagi Gama akan menjemputnya.
Awal mula kegundahan Freissya muncul saat tidak sengaja melihat nama yang terukir di balik helm milik Gama.
'My Ice.'
Tertulis di dalam helm menggunakan tinta emas.
Ya, Ice memang bukan namanya. Tapi, Val memanggilnya dengan nama Ice.
Apa ini kebetulan?
Apa nama itu ada hubungan dengannya?
"Huft." Freissya bingung.
"Frei, tidur. Selagi aman, lumayan," ajak seniornya.
"Nanti saja, Kak. Tanggung, hehehe," jawabnya.
"Kamu aneh lho Frei. Perasaan, dari tadi banyak melamun, kenapa? Jangan sampai melamunnya kamu mempengaruhi pelayanan," ucap yang lain.
"Kamu juga menolak saat kita bagi makanan dari si tanpa nama, kenapasih?"
"Biasanya kamu tidur kalau pasien aman, ini kok tidak tidur-tidur? Sudah mau Subuh lho Frei."
"Ya, tidak apa-apa Kak, aku tidur di rumah saja," jawab Freissya.
"Kamu sakit?"
"Emm, ti-tidak Kak."
"Ya sudah deh, kamu jaga nurse station ya, kita mau istirahat dulu, tiga puluh menit kan lumayan."
"Siap, Kak," kata Freissya.
.
.
.
.
Pukul 06.00, Freissya terkejut saat ada pesan dari kekasihnya. Dokter Gio.
"Sayang, kata bapak, kamu tidak naik sepeda ya saat berangkat kerja? Kebetulan, hari ini aku libur, aku jemput ya."
"A-pa?"
Mata Freissya membulat, dan ia menelan saliva saat ada pesan lain yang masuk.
"Ice, aku sudah ada di alun-alun samping rumah sakit, aku olah raga dulu, jam tujuh tepat, aku tunggu kamu di pintu keluar rumah sakit, jangan lupakan helmnya ya gadis lucu." Pesan dari Gama, alias Val.
"Ya ampun, bagaimana ini?" Freissya galau.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
"Saya sudah membayar kamu, jangan banyak bicara dan bertanya!" bentak pria tampan yang duduk di kursi copilot.
"Ya, aku menolong kamu demi uang. Hanya penasaran saja, untuk apa kamu ke Pulau Jauh?"
Obrolan mereka berpadu dengan suara putaran baling-baling pesawat yang saat ini tengah mengudara di ketinggian 3427 meter dari permukaan laut dengan kecepatan 120 km/jam.
Heli itu seolah tengah membelah kabut pagi yang menyelimuti daerah pegunungan, mereka telah mengudara sekitar satu jam.
"Penerbangan ini sudah melewati triple quatrip, durasi lebih dari 45 menit. Apa yang kamu cari, Gam? Kamu juga panik," kata sang pilot yang tidak lain adalah Yohan Nevan Haiden.
"Diaaam!" teriak Agam.
"Apa uang untuk menutup mulut kamu belum cukup?!" teriaknya lagi.
"Gila kamu, Gam. Sial! Kalau saja aku tidak jatuh miskin dan butuh uang, aku tidak mungkin mau kamu suruh-suruh!"
Yohan menambah kecepatan.
"Ini peta lokasi pendaratannya, kita akan mendarat di sini," kata Agam.
"Rumah sakit? Mendarat di sini? Siapa yang sakit, Gam?"
"Yang sakit itu, kamu Yohan!"
"Aku?! Maksudmu?!"
"Ya, kamu sakit! Sakit kelamin!" sindir Agam sambil memusatkan teleskopnya ke titik landasan.
"Hei, aku sehat. Aku selalu memakai pengaman dan sarung tangan, kalau tidak percaya, kamu bisa mengecek rekam medisku," elak Yohan.
"Ya, kelaminmu mungkin sehat, tapi jiwamu tidak sehat," ucap Agam.
Agam memang sangat membenci para kasanova yang sering bermain wanita. Dalam kamus Agam, menghamburkan uang dengan cara menumpuk dosa, sungguh perbuatan laknat.
Masuk sana-sini tanpa ikatan? Ihh, membayangkannya saja, membuat Agam jijik dan mual.
Tapi, ia juga tidak munafik. Pernah melakukan perbuatan terlaknat itu pada Linda. Ya, rasanya memang menyenangkan. Tapi, Agam sadar akan dosanya dan bertaubat.
Seketika itu, Agam Ben Buana beristighfar sambil mengusap dada dan memejamkan matanya.
"Hmm, tega kamu, Gam. Dengar ya, aku mau taubat, Gam. Kamu dukung aku ya, mohon doanya dari kamu. Bisa jadi, doa dari musuh yang dikabulkan Tuhan."
"Hahaha, hahaha," Agam malah tertawa mendengar ucapan Yohan.
"Aku serius, Gam. Aku merasa terlahir kembali dan jatuh cinta pada seseorang."
"Cukup, saya tidak ingin mendengar bualanmu."
"Aku tidak membual. Oiya Gam, apa menurutmu, Tuhanku masih bisa mengampuniku?" tanya Yohan, saat ia hendak melakukan landing manuver.
Agam terdiam, hanya melirik Yohan dengan sudut matanya.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Agam tetap terdiam bahkan sampai heli itu mendarat. Pikiran Agam terpaku pada sidia yang saat saat ini sedang berjuang antara hidup dan mati.
Beberapa petugas mendekat dan memeriksa.
"Cepat lepas landas, rahasiakan perjalanan ini, atau kamu akan masuk penjara lagi," ancam Agam.
"Baiklah, aku menyerah, kali ini aku mengaku kalah dan mengalah," kata Yohan. Ia tersenyum pada Agam.
Senyuman yang itu membuat Agam merinding.
Kenapa?
Karena Agam merasa jika senyuman Yohan terlihat tulus.
Agam menengadah, menatap titik badan heli yang semakin mengecil dan menghilang ditelan awan seraya spontan melambaikan tangan ke udara.
"Pak Agam," teriak seseorang.
"Pak Yudha?"
Agam terkejut, Pak Yudha berlari dan memeluknya. Di kejauhan, tampak Hikam yang berdiri mematung.
"Kenapa, Pak? Linda baik-baik saja, kan? Bagaimana keadaannya? Apa sudah masuk kamar operasi?"
Tapi, Pak Yudha tetap diam. Pelukannya pada Agam malah semakin erat.
Sayang ... aku datang, kamu baik-baik saja, kan?
Agam membalas pelukan Pak Yudha untuk menenangkan jiwa dan raganya.
Ya Allah, istriku baik-baik saja, kan? Tolong selamatkan dia. Aku mohon .... Ratapnya.
***Next*** ....