AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Siasat



"Ice ...."


"Lepaskan! Aku sulit percaya padamu."


Freissya menghentak kakinya. Tapi Gama bersikeras. Ia tetap memeluk kaki Freissya.


"Jika kamu benar-benar ingin mati, baiklah. Mari kita mati bersama Ice .... Serius, aku dijebak, kita dijebak Ice. Karena jebakan itu, kita melakukannya tanpa paksaan, kita korban Ice."


"Cukup Val! Aku tidak mau mendengar lagi alasanmu!"


Freissya menunduk dan menarik rambut Gama agar pria itu tidak memeluk kakinya.


Dan ombak yang lumayan besar kembali datang menerjang. Enda yang memantau melalui teleskop berteriak karena panik.


"Awaaas!" teriak Enda. Sampai-sampai Maxim merebut teleskop tersebut.


Dan mereka panik saat sosok Gama dan gadis itu menghilang dari jangkauan.


"Kemana mereka?!" teriak Maxim.


Spontan saling menatap, dan sepersekian detik keduanya berlari menuju bibir pantai untuk memastikan keberadaan Gama dan gadis tersebut. Wajah Maxim dan Enda memucat.


"Gamaaa! Nonaaa!"


Teriak Maxim dan Enda, mereka melepas sepatu dan jaket lalu mencari-cari dan berenang."


"Itu dia!" teriak Enda.


Ia menemukan tubuh Freissya yang terhempas ke tepi.


"Nona, Anda tidak apa-apa?" Enda mendekat, sementara Maxim masih mencari Gama.


"Siapa kamu! Jangan mendekatiku! Aku mau mati!" teriak Freissya. Ia menjauh kembali, melangkah ke tengah laut.


"Hei, Nona! Apa Anda sudah gila?!"


"Ya, aku memang gila!"


"Jangan seperti ini Nona, kalau ada masalah ya selesaikan. Kematian bukan akhir dari segalanya!" teriak Enda. Ia menarik gaun Freissya dan menyeret gadis itu ke tepi pantai.


"Lepaaas!"


"Enda, bagaimana? Apa Gama sudah ditemukan?"


"Belum Xim, bagaimana ini? Harusnya dia muncul, Gama kan jago renang, dia pandai berselancar juga, ombak yang tadi terbilang kecil, aku pernah melihat dia berenang di laut dengan ombak yang lebih besar dibanding yang tadi," Enda kian panik.


Apa? Dia serius mau mati bersamaku? Batin Freissya.


Ia melamun sejenak hingga tak sadar jika tangan dan kakinya sudah diikat oleh dasi milik Maxim yang dirobek menjadi dua bagian.


"Apa yang kamu lakukan?!" pekik Freissya saat tubuhnya dibopong dan dibaringkan di pasir.


"Dari pada Anda bunuh diri, lebih baik aku ikat, tunggu di sini Nona, kami akan mencari Gama."


"Gamaaa!"


"Gamaaa!"


Enda dan Maxim memanggil lagi, penerangan di daerah itu cukup baik, harusnya Gama kelihatan.


"Apa kita hubungi tim penyelamat saja?" tanya Maxim.


"Jangan dulu, kata pengacara Vano, ini misi rahasia."


"Vaaal, huuu ... aku tidak tenggelam bodoh!! Kamu jangan mati dulu!!" teriak Freissya, mengagetkan Enda dan Maxim.


Luar biasa, setelah Freissya berteriak, sosok yang dicari itu muncul ke permukaan. Gama keluar dari balik ombak, dan berenang ke darat.


Gubrak.


"Ya Tuhan, Anda mengagetkan," Maxim dan Enda sampai bersimpuh di pasir karena bahagia, kaget, bercampur panik


"Gama, maksud saya Tuan Gama, Anda tidak apa-apa kan?!"


Maxim dan Enda mendekat, sementara Gama langsung mendekati Freissya.


"Jangan panggil aku Tuan! Aku bukan tuan Deanka, aku bukan keluarga Haiden, panggil Gama saja," bentaknya.


Maxim dan Enda saling menatap, sementara Gama segera membopong tubuh Freissya yang kali ini tidak bisa berkutik lagi karena terikat.


"Emm, Gama, sekarang kita ke vilanya pak Vano ya, kalau berada di sini terus, Anda bisa dicurigai," kata Enda.


"Tidak, aku akan tetap di sini sampai kakakku datang," tolaknya.


"Tapi, baju Anda kotor, gadis itu juga bajunya kotor, kasihan kalau dia sakit," rayu Maxim.


Gama merenung, sejenak menatap Freissya yang terisak di pangkuannya. Gadis itu tidak berteriak lagi karena kelelahan.


"Baiklah, aku ikut perintah kalian."


Maxim dan Enda merasa lega.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


Mereka tiba di villa, walaupun dipenuhi kebingungan, pelayaan wanita yang berada di sana segera membawa Freissya ke kamar dan membersihkan tubuh gadis itu. Freissya hanya bisa menangis dan meratapi nasibnya.


Pengacara Vano tiba di villa pada pukul setengah 3 pagi. Menurutnya, Agam Ben Buana akan segera tiba dalam waktu kurang lebih 10 menit lagi.


Tubuh Gama dingin saat ia mendengar kakaknya akan segera tiba. Ia duduk di ruang tamu dikelilingi pengacara Vano, Enda dan Maxim.


Sementara Freissya berada di salah satu kamar, sedang dipaksa untuk makan oleh pelayan villa.


Gama sudah menyiapkan diri, ia bahkan minum multivitamin mengikuti anjuran Maxim dan Enda agar tubuhnya kuat saat menerima serangan dari Agam.


Tik, tok, tik, tok. Waktu terus berputar.


"Anda harus makan nasi yang banyak, kalau perlu makan mie, telurnya tiga, terus dicampur nasi supaya kuat," ucap Vano.


"Aku tidak selera makan Pak Vano. Lagipula, aku tidak suka makan mie instan. Mulitivitamin saja cukup, kok."


"Kalau boleh tahu, siapa gadis itu?" Vano bertanya, tapi matanya menatap intens pada leher Gama. Walaupun belum menikah, Vano tahu benar tanda itu berasal dari mana.


Anak muda zaman sekarang meresahkan. Batin Vano.


"Sudahlah diam saja, aku sedang tegang, nanti kalian juga akan tahu semuanya saat kakakku tiba."


.


.


.


.


Tubuh Agam gemetar, ia sudah melihat hasil pemantauan Maxim dan Enda di layar ponselnya. Ternyata, pada sabuk Maxim dan Enda telah terpasang kamera canggih yang terkoneksi dengen ponsel milik Agam.


Pikiran Agam kacau-balau. Rasanya ingin mematahkan leher Gama saat ini juga karena menurutnya Gama sangat ceroboh. Wajah tampannya kian memerah saat taksi yang ditumpanginya berhenti di depan villa milik pengacara Vano.


Ia sudah dikabari oleh Vano jika Gama dan gadis itu diamankan di villa ini. Apa ini kutukan karena ia mengabdi pada keluarga Haiden? Agam sempat berpikir ke arah sana.


"Kak ... a-aku dijebak."


"Huuu, iya Kak .... A-aku diracun dengan obat kuat, bukan aku saja, ada orang lain yang jadi korban juga, huuu ---."


"Pak Agam, ada mobil mencurigakan, ada beberapa anak muda di dalamnya. Dua orang turun dan mengintip mobil adik Anda."


Teringat ucapan Maxim.


Siapa yang berani menjebak adikku? Kurang ajar! Akan kuhabisi kalian!


"Gamaaa, keluar kamu!" teriak Agam di depan pintu villa.


Suaranya menciutkan nyali siapapun.


"Haaa ...."


Maxim dan Enda terkejut! Giginya gemeretak. Mereka pernah merasakan bagaimana sakitnya diamuk Agam Ben Buana.


Pengacara Vano menelan salivanya, wajahnya memucat. Ia juga pernah merasakan amukan Agam, sampai harus dirawat selama seminggu di rumah sakit akibat retak tulang.


"Kalian pecundang!" ucap Gama. Padahal ia juga ketakutan.


'BRAK.'


Agam menendang pintu.


"Pak Agam!"


Semuanya berdiri dan panik.


"Kalian pergi! Kecuali DIA!" teriak Agam.


Vano, Maxim dan Enda pergi sambil menatap khawatir pada Gama.


Mata Agam langsung tertuju pada Gama. Yang ditatap langsung berlari ke arah Agam dan bersujud di kakinya.


"Kak, maafkan aku Kak ...."


.


.


.


.


Sementara di dalam kamar, Freissya dihadapkan pada sebuah layar besar yang merekam semua kegiatan di villa itu termasuk kegiatan di ruang tamu.


"Vano, pastikan gadis itu bisa melihat dan mendengar apa yang saya lakukan pada Gama."


Sejam yang lalu, Agam mengirim pesan tersebut pada Vano.


"Untuk apa, Pak?" tanya Vano.


"Saya ingin gadis itu tahu kalau saya tidak pandang bulu. Siapapun itu, jika bersalah, akan saya habisi, termasuk Gama. Dengan melihat penyiksaan yang akan saya lakukan pada Gama, semoga gadis itu sadar jika adik saya mungkin saja tidak sepenuhnya salah."


"Kata Gama, dia dijebak, lalu ada mobil mencurigakan yang ditemukan Maxim dan Enda. Saya juga tidak akan percaya begitu saja pada Gama. Kita lihat saja nanti."


Ternyata, Agamlah yang mengaturnya. Ia sengaja memperlihatkan semua ini pada Freissya agar gadis itu mengetahui semua kebenaran dan faktanya dari sudut pandang Gama. Pikir Agam, jikapun Gama mati di tangannya, gadis itu harus tahu dan menyaksikan.


Freissya ketakutan melihat Agam. Ia berteriak saat melihat Agam menjambak rambut dan menonjok hidung Gama.


'Syuur.'


Seketika itu juga darah segar mengalir deras dari hidung Gama.


"Apa yang kamu lakukan, hahh? Apa kamu menodai gadis itu?!" teriak Agam.


"A-ampun Kak, ya Kak ... aku menodainya, tapi ... itu di luar kendaliku. A-aku dijebak Kak. Aku menemukan ini ...."


Gama yang tersungkur bersimbah darah memberikan kamera kecil pada Agam dengan tangan gemetar.


"Bohong kamu! Kamu pasti bohong! Mana ada buaya ngaku!"


'Bugh.'


Punggung Gama ditendang.


"De-demi Tuhan, Kak ... a-aku tidak berbohong."


Freissya menyaksikan adegan itu dengan cara mengintip di balik jemarinya. Jantungnya berdebar-debar.


"Apa kamu rela mati di tangan Kakak untuk membuktikan kejujuranmu?" tanya Agam.


Agam melakukan itu sejatinya adalah untuk membuktikan pada Freissya jika adiknya tidak seburuk yang dikira. Ya, Gama memang buaya, tapi di mata Agam, Gama adalah anak baik dan cerdas. Agam tidak ingin adiknya mengalami nasib yang sama dengannya. Cukup dirinya saja yang melakukan kesalahan pada Linda, sering difitnah, dan sering tersudutkan.


Gama harus bahagia, titik. Dan Agam rela melakukan apapun demi kebahagiaan adik semata wayangnya.


"Silahkan Kak ... bunuh saja aku. Ta-tapi tolong ... tolong katakan pada gadis itu kalau aku dijebak. Kakak harus membuktikan padanya kalau aku tidak bersalah. Aku mencintainya tulus Kak ... aku tidak mungkin menodainya. A-aku tahu batasan," lirih Gama sambil mengusap darah yang terus mengalir dari hidungnya.


"Maxiiim," panggil Agam.


"Ya Pak," Maxim mendekat.


"Ambilkan pisau steril," titah Agam.


"U-untuk apa, Pak?"


"Saya mau memotong senjatanya," tegas Agam. Padahal hanya untuk menggertak Gama dan Freissya. Ia tentu saja tidak serius.


"Apa?!"


Gama, Freissya dan Maxim terkejut.


"Kak ... please jangan dipotong, bunuh saja aku Kak ...." Ratap Gama.


"Baik, Endaaa," Agam memanggil lagi.


"Ya, Pak."


"Ambilkan pistol."


"Baik."


Enda datang membawa pistol.


Tubuh Freissya menggigil menyaksikan adegan itu.


'DOR.'


Freissya terlonjak. Agam menembak layar televisi hingga hancur. Tujuan Agam adalah ... agar Freissya tahu jika pistol yang digunakan bukan senjata mainan.


Agam lalu menarik rambut Gama yang tersungkur dan membidikkan moncong pistol ke pelipis adiknya.


"Kak ... huuu ...." Gama menangis.


"Pak Agam, Anda tidak serius kan? Tolong jangan main-main, kita selidiki kebenarannya."


Vano datang dan menahan tangan Agam.


"Kalian tidak boleh ikut campur, ini urusan saya!" tegas Agam.


Padahal, Agam sedang menantikan reaksi Freissya. Ia berharap gadis itu datang dan melarangnya membunuh Gama


Apakah Freissya akan luluh dan menolong Gama?


Entahlah.