AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Kejutan



Kini, semua hanya tinggal kenangan. Kebaikan dan ketulusan bu Lela akan ia ingat sepanjang hidupnya. Andai ia boleh meminta, tak ikhlas rasanya ditinggalkan secepat ini oleh wanita itu. Namum apa daya, tak seorangpun bisa menolak saat Dzat Yang Maha Kuasa telah berkendak. Kendatipun ia menangis darah tujuh hari tujuh malam, bu Lela tak akan pernah kembali.


Senja masih bersimpuh di depan pusaranya bu Lela di saat yang lain telah pergi. Senja masih mengusap batu nisan berwarna hitam itu sambil berurai air mata. Di sisi Senja, terdapat sebuah tongkat tuna netra. Dari kejauhan, terlihat ada dua pasang mata tengah memperhatikan pegerakan Senja.


"Kak, siapa gadis itu?" tanya wanita muda yang berparas cantik pada pria tampan di sampingnya.


"Aku juga tak tahu, kata anaknya bu Lela, dia ke sini bersama Mister X. Tapi Mister X pergi secara misterius dan meninggalkan gadis itu."


"Bagaimana kalau kita tanya pak Agam, pak Agam selalu lebih tahu dari pada Kakak."


"Issh, Za. Beraninya kamu memuji Agam di hadapan suamimu."


"Hahaha, tapi yang aku katakan benar, kan?"


"Ya juga 'sih. Baik, nanti akan aku tanyakan. Gadis ini masih punya waktu tiga bulan untuk tetap tinggal di rumah kita. Oiya, kata anaknya bu Lela, di dalam tasnya bu Lela ada kartu ATM, tapi anak bu Lela tahu pinnya. Bu Lela tak pernah cerita apapun tentang ATM itu. Kemungkinan, kartu ATM itu sengaja ditinggalkan oleh Mister X untuk memenuhi kebutuhan gadis itu."


"Mister X itu sebenarnya siapa, Kak? Dari dulu, kalau aku tanya tentang Miter X, jawaban Kak Dean tak pernah memuaskanku," protesnya.


"Tapi, di atas tempat tidur aku selalu membuatmu puas, bukan? Kamu bahkan kecanduan bercinta denganku, baby."


"Kak Dean! Tak sopan membicrakan hal itu di area pemakaman!" sentaknya, kesal. Bibir mungilnya mencucu.


"Hahaha, oke. Aku mengaku salah. Begini Za, sebenarnya ada banyak teori konspirasi tentang identitasnya Mister X. Lebih baik, agar lebih jelas kita tanyakan ke Agam saja," jawabnya.


"Tuh, kan? Ujung-ujungnya Pak Agam juga." Ia semakin cemberut.


"Telinga Agam pasti panas gara-gara kita membicarakannya," timpal pria yang dipanggil kak Dean.


Ya benar, mereka adalah nona Aiza Bahira dan suaminya, tuan Deanka Kavindra Byantara. Mereka datang ke Waroulaut untuk melayat bu Lela yang merupakan salah satu dari sekian banyak karyawannya. Mereka datang menggunakan heli didampingi oleh beberapa orang pengawal.


"Kak, ayo kita sapa gadis itu," ajak Aiza saat Senja beranjak dari pusara dan berjalan memapah tongkatnya.


"Halo, aku Aiza, pemilik rumah yang kamu singgahi. Salam kenal."


"Oh ya ampun, benarkah yang ada di hadapanku adalah Nona Aiza? Salam kenal juga Nona. Aku sudah tahu banyak tentang Anda dari mendiang bu Lela. Namaku Senja," jawab Senja. Ia langsung mengulurkan tangan ke arah suara. Aiza menyambut tangan Senja. Mereka bersalaman.


"Aku Deanka." Deankapun meraih tangan Senja untuk bersalaman.


"Tu-Tuan Deanka? Sa-salam kenal juga. A-aku Senja." Senja gugup, ia tak menyangka jika Nona Muda dan Tuan Muda yang pernah mengguncang publik itu benar-benar ada di hadapannya.


"Ya sudah, kita pulang yuk! Biar aku yang menuntun kamu," tawar Aiza. Langsung memegang tangan Senja.


"Terima kasih, Nona. Anda sangat baik dan ramah. Oiya, apa Nona punya lowongan pekerjaan yang bisa mempekerjakanku? Aku sadar diri tak bisa selamanya tinggal di rumah Nona," lirih Senja. Mata gadis itu terlihat sembab. Bola matanya memerah.


"Kenapa kamu memikirkan masalah itu? Kamu boleh tinggal di rumah itu sesuka hati kamu, tak perlu bayar sewa. Ya, kan Kak?" Melirik pada Deanka.


"Benar, silahkan saja," jawab Deanka sambil tersenyum. Ia bangga karena istri cantiknya sangat dermawan dan penyayang. Padahal, Aiza baru melihat Senja hari ini dan belum mengenal gadis itu.


"Terima kasih, tapi ... apa Anda pekerjaan lain? Aku butuh uang untuk biaya hidup."


"Ehm, begini saja, bagaimana kalau kamu ikut pulang ke kota?"


"Aku ingin tetap di sini, Nona." Senja tak mau ke kota karena takut bertemu dengan pamannya yang jahat.


"Kenapa?" tanya Deanka.


"Aku tak punya keluarga. Aku yatim piatu. Aku sebenarnya punya paman, tapi ... dia jahat, dia pernah berkali-kali akan menjualku ke rumah bordil," terang Senja.


"Kamu yatim piatu? Begini saja, bagaimana kalau kamu ikut kami ke yayasan yatim piatu? Suamiku punya yayasan yatim piatu yang dikhususkan untuk anak-anak dan remaja seperti kamu. Di sana, kamu akan dilatih agar bisa mengembangkan bakat dan keterampilan, apa kamu mau?" tanya Aiza yang langsung jatuh hati dan bersimpati pada Senja. Masa lalu Aiza yang memprihatinkan, membuat jiwa sosialnya tinggi.


"A-apa? Be-benarkah aku boleh bergabung dengan yayasan milik Tuan Deanka?" Wajah Senja sumringah, namun airmatanya tetap mengalir karena tak kuasa menahan rasa haru.


"Benar, kami serius," ucap Deanka.


"Alhamdulillah, terima kasih Yaa Rabb." Senja kemudian melakukan sujud syukur. Setelah itu, ia merangkul Aiza untuk kembali mengucapkan terima kasih.


Deanka sebenarnya sangat penasaran akan hubungan gadis tuna netra itu dan Mister X, namun ia tak berani menanyakan langsung masalah tersebut. Ia berniat akan menanyakan masalah ini pada seseorang yang ia yakini mengetahui masalah ini. Pada siapa lagi kalau bukan pada ... Agam Ben Buana.


...❤...


...❤...


...❤...


~Enam Bulan Kemudian~


"Awas!!! Pak Agam bau!"


Tiba-tiba saja Linda mengusir Agam Ben Buana dan menuduhnya bau. Padahal, penampilan pak Dirut saat ini seolah tak ada celah. Agam benar-benar memukau dan harum mewangi. Pria itu memakai piyama yang bagian dadanya terbuka. Di sana, ada yang terpahat indah. Tapi Linda seolah tak menyukainya.


"Apa?!"


Pak Dirut kaget. Ia memeriksa tubuhnya dan mengendus tubuhnya sendiri sambil menautkan alis.


"Saya wangi sayang, kok bisa-bisanya kamu menuduhku bau? Heran saya." Kembali mendekati Linda. Agam naik ke tempat tidur dan memeluk Linda.


"Pak, kubilang juga jangan mendekat! Issh, lepas!" Linda meronta. Bahkan mengurai tangan Agam yang melingkar di pinggangnya.


"El, kenapa 'sih? Aku tak mau melepaskan kamu! Tidak akan!" tolaknya. Malah memeluk kian erat.


"Aku tak suka aroma parfum Pak Agam. Itu membuatku mual, Pak. Sungguh." Sambil memijat ujung hidungnya.


"Benarkah? Tunggu. Saya mau ganti baju dulu."


Agam bergegas. Lalu mengganti bajunya dengan t-shirt yang terlihat kekecilan di tubuhnya yang atletis. Linda memandang suaminya sambil mengulum senyum.


"Bagaimana? Sudah tak bau lagi, kan?" Kembali memeluk Linda dan menelusupkan kepala Linda di dadanya.


"Ehmm, a-aku masih mencium bau parfum pencuci pakaian. Aku masih tak suka," keluh Linda. Ia menjauh dari Agam.


"Tunggu."


Agam mengendus baju Linda. Maksudnya untuk mengecek aroma parfum yang digunakan istrinya. Hasilnya, baju tidur Linda wangi minyak hangat milik Keivel.


"Kamu pakai minyak hangat punya Keivel?"


"Ya Pak, aku tak suka dengan bau baju tidurku. Jadi, aku lumuri saja dengan minyak hangatnya Keivel.


Agam kembali mengernyitkan alisnya sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal. Ada yang tak wajar dengan istrinya. Lalu ia beranjak. Agam membuka bajunya. Yang tersisa hanya boxer. Linda mengerjapkan mata. Otaknya mulai tak baik-baik saja kala melihat dengan jelas jika tubuh suaminya benar-benar aduduh.


"Kalau seperti ini, apa kamu masih tak masalah?" Untuk yang ketiga kalinya Agam naik ke tempat tidur.


"Coba aku cek."


Linda menyentuh dada polos Agam, lalu mengendusnya perlahan seraya memejamkan mata. Bukan hanya diendus, tapi diraba-raba juga. Agam tersenyum sambil mengatur napasnya. Jika adegannya seperti ini, ia sudah bisa memprediksi hal apa yang akan terjadi dalam beberapa menit ke depan.


"Nah, kalau Bapak seperti ini, kurasa tak masalah. Aku lebih suka aroma alami tubuh Pak Agam," kata Linda. Lanjut menciumi dada Agam yang saat ini tengah terlentang pasrah.


"Naik ke tubuhku, sayang," bujuk pak Dirut.


"Tidak mau, Pak. Aku hanya mau cium-cium saja, tak mau yang lain dan tak ada maksud lain," tolak Linda.


"Apa?! Sayang, kamu serius? Ya ampun, saya merasa kamu agak aneh," duga Agam.


"Aneh? Siapa yang aneh?! Enak saja! Pak Agam menyebalkan! Beraninya mengataiku aneh! Aku marah! Sana! Jangan dekat-dekat aku! Bapak tidur di sofa saja!" usirnya sambil memalingkan wajah dan cemberut.


"El? Oke, maaf sayang, saya mengaku salah. Baiklah, saya akan tidur di sofa." Agam berlalu dengan kening mengkerut.


"Harusnya Bapak tak langsung ke sofa 'dong! Harusnya membujuk dan merayuku dulu!" protes Linda.


"Apa?!" Agam membalikan badan, langkahnya terhenti sejenak.


"Kan kamu yang menyuruh saya tidur di sofa." Sambil menghela napas.


"Baik, maaf sayang. Saya kembali lagi. Jangan marah ya istriku yang cantik, yang seksi, yang senyumnya menawan, yang merah muda, yang tubuhnya aduhai yang ---."


"Stop!" sela Linda.


"Apa lagi sayang? Saya salah apa lagi?" Agam mengusap dadanya. Kesabarannya sedang diuji.


"Bukan begitu caranya merayuku! Itu gombalan, bukan rayuan!" protes lagi.


"Ya sudah, sekarang cepat kamu katakan saya harus apa, hmm?" Agam memaksa memeluk Linda.


"Yakin Bapak mau melakukan apapun?"


"Yakin sayang. Katakan, saya harus apa?"


"Kalau aku menyuruh Bapak kayang, mau?"


"Kayang? Hahaha, itu hal yang sangat mudah sayang. Salto saja sangat mudah bagi saya, apa lagi kayang, kecil," kata pak Dirut dengan raut wajah menyepelekan.


"Ya sudah, sekarang Anda pakai lagi piyamanya, lalu tutup mata, aku mau ambil sesuatu," qkata Linda.


"Oke," setelah memakai piyama, Agam menutup matanya dengan hati dipenuhi tanda tanya.


"Aku tutup pakai dasi ya," kata Linda.


Ia naik ke pangkuan Agam lalu menutup mata Agam dengan dasi. Agam pasrah. Mustahil ia menolak permintaan wanita yang sangat dicintainya, ibu dari putranya, rindunya, candunya.


"Tunggu ya, Pak. Jangan begerak, jangan mengintip." Agam mengangkat jempol.


Lantas, Linda berjalan mengendap menuju pintu kamar. Lalu membuka pintu dengan perlahan. Di luar kamar ternyata sudah ramai. Ada bu Nadia, pak Yudha, bu Ira, dokter Fatimah, dan Keivel yang didampingi oleh ners Sinta dan suster dini.


"Ssttt," kata Linda sambil melambaikan tangan agar mereka semua masuk.


Merekapun masuk dengan langkah senyap sambil membawa sebuah kertas berwarna yang di dalamnya menampilkan foto hasil USG. Kertas itu dibawa di sebuah tongkat kecil, lalu dikibar-kibarkan bak bendera.


"Sayang? El?" Panggil Agam.


"Sebentar Pak," jawab Linda sambil mengatur posisi agar yang hadir melingkari tempat tidur.


Lucunya, Keivel yang notabene masih berusia satu tahun, seolah telah mengerti. Ia tak rewel. Keivel sedang asyik menikmati susu formula di kereta bayi sambil menatap parennya. Keivel tumbuh menjadi bayi gembul yang tampan, lucu, dan menggemaskan. Jika tak mengenalnya, pasti tak akan mengira jika ia sebenarnya dilahirkan dalam keadaan prematur.


"Sekarang buka dasinya, Pak," suruh Linda saat persiapan telah selesai.


"Kamu yang buka 'dong sayang, biasanya juga kamu yang buka, kan?" kata Agam sambil menajamkan indera pendengarannya.


Sebagai anggota BRN yang telinganya terlatih dan sensitif terhadap bunyi, ia telah menyadari jika di ruangan ini ada orang lain selain ia dan Linda.


Agam bahkan tahu perkiraan jumlah orang yang ada di kamarnya. Namun Agam tak tahu motif Linda melakukan ini. Pak Dirut bukanlah orang yang mudah dibohongi. Hingga timbul 'lah niatan untuk mengerjai Linda.


"Bapak saja yang buka," Linda mulai tak enak hati.


"Baik, saya mau membukanya asalkan kamu harus mencium saya dulu," sambil mencucukan bibirnya.


"Apa?!" Linda terkejut. Pipinya merona. Yang hadir berusaha menahan tawa.


"Tunggu apa lagi? Ayo 'dong sayang," desak Agam, dan iapun menahan tawa karena tahu kalau Linda sedang gugup.


"Baik, aku yang buka." Linda segera naik ke tempat tidur agar rencanya cepat selesai. Lalu membuka dasi dengan perlahan.


"Tadaaa."


"Selamat ya."


Seruan riuh menggema saat dasi sudah dilepas dan Agam membuka matanya. Bendera foto hasil USG dikibar-kibarkan.


"Haaa ---."


Agam membulatkan matanya. Segera menutup mulutnya yang spontan terbuka karena terharu dan kaget. Ia tak menyangka jika Keivel akan segera mendapatkan adik. Agam juga heran, kenapa Linda bisa hamil? Sebab, tiga bulan yang lalu, ia mengizinkan Linda dipasang KB cover-T untuk mengatur jarak kehamilannya.


Bahkan dokter Fatimah 'lah yang memasangnya. Kata dokter Fatimah, Linda memang harus memakai kontrasepsi non hormonal karena ada riwayat eklampsia pada kehamilan sebelumnya, dan tensi darah Linda setelah melahirkan Keivel cenderung tinggi.


"Ha-hamil? Se-serius?" Pak Dirut seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Kalian gagal KB," timpal bu Nadia.


Ia senang Linda hamil lagi, namun mengingat jaraknya yang terlalu dekat, bu Nadia merasa khawatir pada kesehatan Linda. Linda menunduk, yang lain menyimak, dokter Fatimah menghela napas.


"Saya bahagia Linda hamil, tapi saya mau bertanya pada dokter Fatimah. Kenapa istri saya bisa gagal KB? Bukankah Anda sudah memasang KB cover-T di tubuhnya?" Agam menatap tajam pada dokter Fatimah.


"Maaf sebelumnya, mohon izin bicara. Alat kontrasepsi dalam rahim atau Intra Uterine Device atau dikenal dengan istilah IUD sebenarnya sangat efektif untuk mencegah kehamilan bila dipasang dengan benar. Namun, karena beberapa hal, alat KB tersebut bisa saja begeser dari rahim dan menyebabkan kehamilan."


"Kok bisa begeser? Apa yakin doker Fatimah sudah memasangnya dengan benar?" Agam masih keheranan.


"Pak, tenang dulu," sela Linda.


"Penyebab begesernya beragam, Pak. Bisa akibat kontraksi rahim yang kuat selama periode menstruasi, bisa karena rongga rahim yang kecil, posisi rahim yang miring, sedang menyusui, atau bisa jadi dipasang oleh dokter atau bidan yang tidak berpengalaman dalam melakukan prosedur ini. Maaf, saya pribadi merasa sudah memasangnya dengan benar. Bukannya sombong, saya adalah dokter yang sangat berpengalaman dalam hal ini."


"Selain itu, ada juga faktor lain yang bisa membuat KB IUD jadi begeser. Antara lain, usia ibu di bawah 20 tahun, sedang menyusui, atau pemasangan IUD yang dilakukan terlalu cepat. Misal dipasang langsung setelah melahirkan atau setelah operasi SC. Padahal, sebaiknya dipasang antara 6 hingga 8 minggu setelah melahirkan."


"Kenapa demikian? Karena setelah lahiran atau operasi SC, kondisi rahim belum pulih sempurna dan masih berkontraksi. Jadi, ada kemungkinan IUD yang telah dipasang begeser saat rahim berkontraksi atau saat rahim melakukan pemulihan secara alami untuk kembali ke posisi semula," jelas dokter Fatimah panjang lebar.


"Dalam kasus LB, faktor begesernya banyak. Pertama, rongga rahim LB memang sempit, kedua, LB 'kan memang masih menyusui. Ketiga, bisa jadi karena Pak Agamnya yang terlalu sering, terlalu bersemangat atau terlalu kuat saat ---."


"Cukup!"


Agam menyela kalimat dokter Fatimah. Ia sudah faham maksudnya. Pun dengan Linda. Linda dan Agam jadi tersipu-sipu. Pak Dirut jelas sadar diri jika yang diucapkan dokter Fatimah adalah fakta.


Aktivitas bercintanya dengan Linda memang sering, selalu bersemangat, dan tentu saja selalu powerfull. Yang lang lain menahan tawa setelah mendengar penjelasan dokter Fatimah.


"Tapi, karena sudah terlanjur hamil, mari dijaga baik-baik dan disyukuri. Oiya, ada hal yang ingin saya utarakan. Saya bahkan merahasiakan hal ini dari LB. Saya sengaja merahasiakannya untuk memberi kejutan," tambah dokter Fatimah.


"Kejutan lagi? Apa itu? Tolong ya Dok, jangan membut saya penasaran," timpal Agam.


"Aku juga penasaran," kata Linda.


"Kami semua penasaran," sahut bu Nadia.


"Emm, begini, sebenarnya ... Bu Linda ... emm ...." Sengaja tak langsung diuatarakan agar semuanya semakin penasaran.


"Sebenarnya apa? Linda kenapa?! Cepat katakan!" Pak Dirut tak sabaran. Nada suaranya meninggi, ia khawatir kehamilan Linda bermasalah.


"Sebenarnya ... Bu Linda atau LB, alhamdulillah ... kembali mengandung anak kembar," tegas dokter Fatimah.


"APA?!"


Agam dan Linda histeris. Mereka spontan berpelukan. Linda bahkan menangis. Mata pak Dirut berkaca-kaca. Yang hadirpun turut larut dalam keharuan. Bu Nadia mendekat, ia lantas memeluk putra dan menantunya.


"Kembar lagi?" Pak Yudha dan bu Ira seolah tak percaya.


"Alhamdulillah ...." Mereka semua mengucap syukur dan berbahagia.


"Mo-Mo-Moca, Pa-Pa-Pa," suara Keivel. Agam dan Linda lantas memeluk Keivel.


"Kamu akan jadi kakak ...," ucap Linda, lirih.


"Semoga kehamilan Bu Linda selalu dirahmati. Semoga Bu Linda dan calon bayinya selalu diberikan kesehatan dan keselamatan," kata pak Yudha.


"Aamiin," sahut semuanya.


...~Tbc~...