
"Ada apa ya? Kok wajah ayah tegang sekali?" Linda masih menatap kepergian Agam dan ayahnya.
Jemari lentiknya mengusap halus perut. Kini sudah rata kembali. Tiba-tiba muncul kerinduan pada perut buncitnya. Oh, seperti ini ternyata rasanya kehilangan sesuatu yang pernah menjadi bagian dari tubuh.
"Ya ampun, aku kangen saat dia gerak-gerak, kangen saat aku kesulitan bangun."
Bibirnya tersenyum, namun sesaat kemudian alisnya mengkerut kala teringat raut panik ayah Berli. Dan satu hal lagi, tadi sepulang menjenguk bayi, Agam terlihat seolah menyembunyikan sesuatu dari darinya.
Ya, Agam memang menyembunyikan fakta jika sebenarnya ia sangat sedih karena namanya tidak tercantum dalam identitas bayi.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
"Ada apa Ayah?"
Di selasar rumah sakit yang tampak sepi, menantu dan mertua itu duduk di bangku kayu.
"Aku berharap Pak Dirut tidak kecewa." Ayah Berli menunduk, sedang mencari kalimat terbaik untuk diutarakan.
"Panggil Agam saja, Ayah."
"Aku nyaman memanggilmu Dirut. Anda mendapatkan jabatan itu dengan susah payah. Boleh kan kalau aku berbangga hati dan memanggilmu Dirut?" Sejenak menatap menantunya yang tertunduk.
Agam diam saja, ia sangat tidak nyaman dengan panggilan itu. Tapi, ya sudahlah.
"Mari bicara Ayah, ada apa?"
"Maaf, mungkin Anda juga sudah tahu tentang pemberitaan di pusat kota. Emm, awalnya aku berpikir itu ulahku, tapi ... ternyata bukan."
"Mm-maksud Ayah?" Agam terkejut.
"A-aku mengaku salah Pak Dirut, aku menyetujui perjanjian dua pihak dengan kepala redaksi TV KITA."
"Apa? Perjanjian apa, Ayah?"
"Begini Pak Dirut, silahkan jikapun Anda mau marah. Aku mengatakan pada kepala redaksi TV KITA kalau Andalah yang memperkosa putriku."
"Apa?" Melirik sejenak lalu tertunduk lagi.
"Pak Dirut, aku sudah konfirmasi mengenai pemberitaan itu pada kepala redaksi, tapi dia bersumpah atas nama Tuhan kalau dia belum mempublikasikan berita itu. Dia juga kaget karena perjanjian awal denganku akan menunggu informasi dulu. Maksudku informasi dari Linda."
Mendengar nama istrinya disebut, Agam mengangkat kepalanya.
"Ayah, ada apa dengan Linda? Kenapa melibatkan dia? Informasi apa?"
Sebenarnya Agam sudah menduga maksud mertuanya, ia yakin ini pasti berhubungan dengan status dan pekerjaan Linda sebelum terlibat skandal dengannya.
Ayah Berli kemudian menjelaskan duduk perkaranya. Ia berbicara dengan suara gemetar. Sudah pasrah jikapun Agam murka kepadanya. Namun apa yang ditakutkan Ayah Berli sama sekali tidak terjadi.
Mulai dari penculikan, perjanjian menukar informasi dari Linda dengan fakta tentang kehamilannya sampai kembali lagi ke rumah sakit dan meminta Linda pulang kampung, sudah dibeberka.
Agam hanya menyimak sambil memainkan rambutnya yang lebat dan berkilau.
"Maafkan aku Pak Dirut, silahkan Anda kecewa, ataupun mau marah sekalipun, aku terima."
Kalimat itu menjadi kalimat penutup Ayah Berli di akhir keterangannya.
"Ayah, saya sudah biasa difitnah dan diberitakan yang bukan-bukan. Masalah saya memperkosa Linda, itu fakta. Dari awal saya ingin mengakuinya, tapi ... El selalu melarang. Saya tidak marah Ayah. Jika kepala redaksi tidak berbohong atau bukan dia yang menyebarkan berita itu, artinya ada pihak lain yang tahu fakta ini."
Dan jika benar pernikahan sirinya dengan Linda akan tersebar ke media, Agam berpikir hal itu tidaklah buruk. Ia sudah siap menerima risiko apapun termasuk kehilangan jabatannya sebagai Direktur utama.
"Benar Anda tidak marah?"
Ayah Berli menatap menantu tampannya, masih tidak percaya jika Agam Ben Buana tidak bereaksi dan datar-datar saja.
"Saya marah untuk hal lain," tegas Agam. Suaranya berat, lalu ia melempar botol bekas minuman yang dipegangnya ke tempat sampah yang kebetulan terbuka.
'Syung.'
Tepat sasaran, padahal jaraknya kurang lebih sepuluh meter. Ayah Berli melongo. Hatinya mulai gusar dan takut.
"Silahkan marah saja Pak Dirut." Memberanikan diri berucap.
"Coba Ayah tebak, apa yang membuat saya marah?" Balik bertanya. Suaranya semakin berat.
"Aku tidak tahu."
"Miris sekali, harusnya Ayah tahu. Bagaimana perasaan Ayah saat merasa tidak diakui?" tanya Agam.
Kepalanya menunduk, namun sekilas Ayah Berli bisa melihat dengan jelas jika tangan Agam mengepal.
"Jujur aku tidak faham, Pak Dirut," katanya.
"Huhh, kenapa Ayah tidak mencantumkan nama saya pada identitas putra saya? Kenapa? Apa alasannya? A-apa Ayah tahu? Yang Ayah lakukan sangat melukai perasaan saya. Saya mencintai Linda Ayah, apa Ayah belum bisa menerima kenyaataan ini? Saya bahkan tidak diperkenankan melihat putra saya sendiri."
"Pak Dirut ...." Ayah Berli terhenyak, Lidahnya kelu seketika.
"Katakan, apa alasannya? Dia anakku, kenapa Ayah mengatakan pada suster kalau Linda masih sendiri?"
Kini Agam tidak menunduk lagi. Tangannya dilipat di dada. Matanya fokus ke depan menatap dinding. Ayah Berli menarik napas. Lagi, ia sibuk memilah kalimat yang sekiranya patus untuk dilontarkan pada menantunya.
"Pak Dirut, aku melakukan itu demi privasi Anda, demi kenyamanan dan ketenangan Anda, lagipula kalian kan belum menikah secara hukum."
"Ayah, dengar ya."
Kali ini Pak Dirut berdiri, wibawanya langsung mendominasi. Wajah tampannnya memerah.
"Saya belum mengurus pernikahan secara hukum negara bukan karena saya tidak mau, tapi ada hal lain yang sulit dijelaskan," tegasnya.
"Hal lain, hal apa?"
Ayah Berli memberanikan untuk berdiri jua, walaupun tidak bisa sejajar tinggi dengan Agam, namun ia juga ingin menunjukkan peran pentingnya sebagai ayah Linda.
"Pak Dirut, tolong jangan menorehkan luka lagi, aku sudah memberikan Linda pada Anda, masalah nama Anda tidak tercantum, aku rasa tidak akan merubah status Anda sebagai suaminya Linda, ya kan?"
Setelah mengatakan itu, Ayah Berli pergi. Ia berjalan cepat meninggalkan Agam yang diam seribu bahasa. Dengan langkah cepat Agam menyusul sambil menuliskan pesan penting pada Vano.
"Vano, kamu ke rumah tuan Deanka sekarang ya. Katakan padanya untuk tidak bersaksi apapun tentang permasalahan saya. Saya khawatir publik akan menyalahkan Tuan Muda. Maksud saya, jangan sampai Tuan Muda memberi keterangan pada publik jika sejak awal ia tahu siapa pemerkosa Linda."
"Saya tidak ingin mecoreng nama baik Tuan Muda dan pak komisaris gara-gara masalah saya."
"Oiya satu lagi, tolong perintahkan Yanyan, Maxim dan kawan-kawan untuk mencari Gama. Jika sudah ketemu, kamu suruh dia tinggal di firma saja. Saya tidak tenang, anak itu selalu berpikir saya mengekangnya. Padahal, saya ingin melindunginya."
Pesan terkirim.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Setibanya di kamar perawatan milik Linda, Agam dikejutkan oleh pemandangan yang membuatnya terenyuh, perawat sedang memposisikan inkubator yang di dalamnya ada sosok kecil yang ia rindukan.
Linda sedang memperhatikan pergerakan inkubator seraya berurai air mata. Matanya tidak lepas dari sosok di dalamnya. Ayah Berli menyangga tubuh Linda. Sepertinya Linda memaksa duduk demi melihat putranya.
Agam mematung di ambang pintu. Batinnya tiba-tiba mengiba. Ia berharap Ayah Berli melihatnya, memanggilnya dan mengatakan, "Agam, kemari. Ini putramu, lihatlah."
Namun, baik Linda ataupun Ayah Berli seolah tidak ada yang menyadari keberadaannya. Terasa ada yang menusuk relung hatinya, sakit ....
Agam ingin berhambur ke dalam dan melihat putranya dari dekat, tapi ... langkahnya kaku. Pria itu berharap dan membutuhkan pengakuan lisan dari Ayah Berli.
"Ada tamu?"
Kalimat suster mengagetkan. Mereka berpikir Agam adalah tamu, dari penampilannya memang bak artis. Wajar jika disangka rekannya Linda. Rupanya, para suster yang berjaga telah berganti shift. Agam tidak melihat suster yang mendengar pengakuannya jika ia adalah ayah bayi tersebut.
Linda terkejut, ia baru melihat Agam karena terlalu fokus pada putranya.
"Ya, itu kerabat kita Sus, dari kota," kata Ayah Berli.
Deg, Linda kaget. Agam apalagi. Tega sekali Ayah Berli mengatakan itu. Apa harus dengan cara sesakit ini melindungi privasi seseorang?
"Ayah?"
Linda memandangi ayahnnya. Ingin marah pada ayahnya saat ini juga. Namun keberadaan para suster mengurungkan niatnya.
"Kerabat LB tampan sekali," kata suster.
"Em, mirip siapa ya? Kok saya berasa pernah lihat, dimana ya?" kata yang lain.
"Iya, familiar ya, saya juga perasaan pernah melihat," timpal suster yang sedang merapikan pintu inkubator.
Agam diam saja, pun dengan Ayah Berli dan Linda. Sedang menahan gejolak di hati masing-masing.
"Em, LB, Pak Berli, kami permisi dulu, jika ada apa-apa langsung tekan bel saja." Para suster mungkin merasa tidak enak.
"Sus, tunggu." Linda memanggil.
"Ya?"
"ASIku belum keluar, bagaimana kalau bayinya kelaparan?"
"Oh, tenang saja Bu LB. Bayi baru lahir itu bisa bertahan selama tiga hari tanpa ASI pasca dilahirkan. Karena bayi Anda prematur dan riwayat asfiksia, semalam kami sempat memasang infus, tapi karena kodisinya terus membaik, dokter spesialis anak menyarankan agar infusnya dilepas dan rawat gabung."
"Masalah ASI, nanti juga keluar kok. Jika besok belum produksi, akan kami laporkan ke dokter untuk pemberian vitamin pelancar ASI, kami permisi." Mereka berlalu.
"Ayah, kenapa menyebut Pak Agam sebagai kerabat, dia suamiku," Linda protes. Ia terisak dan menepis tangan ayahnya.
"El, ini demi privasinya," kilahnya.
Agam mematung saja, ingin segera mendekati bayinya, namun merasa tidak percaya diri.
"Huuu, Ayah jahat." Linda terisak. Sedih melihat Agam yang berdiri di pojokan bak anak tiri.
"Pak Agam, itu bayi kita," teriak Linda. Andai ia bisa berlari, mungkin sudah memeluk Agam saat ini juga.
"Apa? Apa benar begitu, Ayah? Ayah tega, aku benci Ayah!" Emosi Linda meluap.
"Lagi-lagi, kamu selalu memilih dia daripada Ayah. Ayah melakukannya demi kenyamanan kamu! Pak Dirut, silahkan lihat bayinya."
"Benar, Ayah memang berbicara seperti itu pada suster, tapi tujuannya baik. Ayah ingin melindungi privasi menantu dan cucu Ayah, itu saja! Tidak salah, kan?!" Ayah Berli bersikeras dengan keputusan yang menurutnya sudah benar.
Lalu bel ruangan kembali berbunyi, tim medis yang dibawa Agam memasuki ruangan. Dokter Dani, dokter Rita dan dua orang perawat. Mereka langsung fokus pada sosok yang berada di dalam inkubator.
"Wah, lucunya."
"Ya, Rit. Tampan sekali. Padahal masih bayi ya," dokter Dani menimpali.
Dan seorang perawat tiba-tiba menyalakan televisi. Tanpa ada maksud apapun, ia hanya ingin menyetel saja. Lalu ....
"HGC kembali diguncang skandal. Suasana genting masih terjadi di halaman depan kantor pusat Haiden Group Corporation pasca beredarnya berita tentang pelaku pemerkosaan pada mantan presenter sekaligus bintang iklan produk HGC inisial LB. Pelaku pemerkosaan itu tidak lain adalah Dirut HGC saat ini, ABB. Demikian hotnews ini kami sam ---."
'Trek,' Ayah Berli mematikan televisi.
Linda mematung, tubuhnya gemetar. Ia memegang dadanya karena merasakan sakit. Sakit itu berasal dari perasaan tidak teganya melihat Agam yang tersudutkan. Entah bagaimana perasaan Agam saat ini.
Sementara dokter Dani dan yang lain, jelas langsung menatap Agam. Tatapan mereka tidak terbaca. Agam semakin menunduk, ia sadar akan kesalahannya. Pun ia tahu, jika sedikit kesalahan di mata manusia akan menenggelamkan banyak kebaikan yang telah ia perbuat sebelumnya.
Agam menatap satu persatu tatapan itu, lalu berkata perlahan seraya mundur dan menjauh.
"Berita itu benar, saya salah. Maaf sudah mengecewakan kalian," lirihnya.
Tatapan sendu Agam mengiris hati Linda. Ia tahu Agam sebenarnya terluka. Namun pria itu berusaha keras untuk tetap tegar. Saat ini, seluruh orang pasti menyalahkannya. Hal inilah yang ditakutkan Linda. Itulah alasan kenapa ia selalu melarang Agam saat pria itu ingin berterus terang.
Linda tidak ingin Agam tersakiti.
"Pak Agam, jangan tinggalkan aku, Anda mau kemana?" kata Linda saat Agam membalikan badan dan sepertinya hendak meninggalkan ruangan itu.
Langkah Agam terhenti, namun ia tidak menoleh. Suasana menegang, tim medis tertunduk. Mereka larut dalam perasaan masing-masing.
Tap, Agam kembali melangkah. Sebentar lagi tangannya akan meraih pegangan pintu.
"Pak Agam, lihat aku ... lihat bayi kita, jangan pedulikan berita itu, bukankan Anda sudah berjanji akan membahagiakanku? Aku bahagia saat bersama Anda, Pak."
Linda memohon. Airmatanya terus berurai. Ayah Berli kelu. Ia tak mampu mengatakan apapun.
"Saya mencintai kamu. Jadi ... saya akan menyelesaikan masalah ini secepatnya, saya mau pulang," kata Agam. Tetap tidak membalikan badan.
"Pak Agam, mari selesaikan bersama, jangan sendirian. Pak ... aku juga harus memberi keterangan. Apa yang Anda lakukan tidak murni kesalahan Anda. Aku juga salah, Pak Agam please jangan pergi, kumohooon ...."
Ratapan Linda membuat dokter Rita dan suster meleleh. Bibir mereka gemetar menahan tangis. Dada dokter Dani kembang-kempis.
"Pak Agam," Linda kembali memanggil, dan lepas kendali. Ia memaksa bangun dari tempat tidur dan histeris.
"Ahh ...," rintihnya. Jelaslah Linda kesakitan.
"LB! Jangan bergerak," dokter Rita panik. Mereka menahan Linda.
Agam terhenyak, Linda pasti kesakitan, namun ia belum juga menoleh. Tapi jiwanya sudah kesana. Memeluk Linda.
"Lepaskan! Aku harus melarang dia pergi. Ayah, tolong cegah Pak Agam, dia tidak boleh pergi tanpa aku." Linda meminta bantuan Ayahnya.
"Nak, Pak Dirut pasti bisa menanganinya. Kamu fokus saja pada pemulihan kamu ya," bujuk Ayah Berli.
"Pak Agaaam, tidaaak! Jangan pergi." Linda berteriak saat melihat suaminya benar-benar membuka pintu dan berlalu.
"Huuuu, Magaaa," panggilnya.
"Sabar Bu, sabar ...." Dokter Rita memeluk Linda.
Linda semakin histeris, ia tidak terima Agam disalahkan secara sepihak. Hanya ia yang bisa menjelaskan pada publik dan melakuan pembelaan. Hanya Linda yang tahu jika pada hari kelam itu, Agam memperlakukannya dengan cara yang terhormat. Ya, Agam memang memaksanya.
Tapi ....
Apa yang dilakuan Agam, jujur ... membuat Linda terlena hingga tidak bisa melupakannya. Di hari itu cuma Linda yang tahu bagaimana rasanya terjebak dalam kondisi marah, sedih, dan kecewa. Namun di balik rasa itu, ada perasaan lain yang membelenggunya.
Apa itu?
Ya, benar. Linda menikmati setiap detail perlakuan Agam Ben Buana kepadanya.
"Aaaaa," Linda berteriak. Hari itu kembali mengusik.
Teringat lagi akan kemunafikannya. Benar kata Agam, ia memang munafik. Pada saat itu, mulutnya menolak dengan garangnya. Tapi ... tidak dengan raganya. Tubuhnya justru menerima dan merespon dengan sangat baik.
Bahkan ia masih ingat saat matanya mengiba di setiap dan gelenyarnya. Ingat jua saat tangannya spontan membelai rambut dan memeluk punggung Agam. Memalukan. Linda menyadari jika hari itu ia telah berubah menjadi b i n a l yang munafik.
Pak Agam, aku baru sadar sekarang. Aku yakin jika pada hari itu ... aku sebenarnya telah mencintai kamu. Sungguh tidak adil jika kamu disalahkan dan dihakimi seorang diri.
"Huukks." Linda menangis.
Disahuti tangisan kecil dari dalam inkubator. Suster segera mendekat dan memeriksa. Namun tangisannya tak kunjung reda.
"Tidak buang air kecil, kok." Ucap suster.
"Mau mimi sepertinya," kata dokter Dani.
"Ya sudah, dokter yang laki-laki keluar saja," kata Ayah Berli.
"Baik," dokter Dani dan perawat laki-laki keluar.
Dokter Rita dan suster membantu Linda memangku dan menyusui bayinya.
"Sa-sayang ...." Linda gemetar saat menyentuh bayinya.
Dan tangisan bayi mungil itu semakin menjadi-jadi. Sudah dicoba untuk disusui Linda walaupun ASinya belum keluar, namun bayi itu tidak mau menyusu dan terus menangis.
.
.
.
.
"Pak Agam?"
Dokter Dani dan perawat terkejut, Agam ternyata masih ada di depan kamar. Langkahnya terhenti saat mendengar putranya menangis.
"Ssssttt," kata Agam.
Mata sayunya memerah. Hati dokter Dani berdesir. Ia tidak mengira akan melihat seorang Agam Ben Buana dalam keadaan terpuruk seperti ini.
Suara Linda dan bayi yang menangis masih terdengar. Hati Agam teriris-iris.
"Sa-sayang kamu kenapa? Apa kamu mau bertemu Paren kamu?" Ucapan Linda mendebarkan jantung Agam.
"Pak Agam, ayo masuk lagi," ajak dokter Dani.
"Saya malu, saya manusia bejad, saya berbeda dengan kalian," jawabnya.
"Pak Agam, setiap manusia pasti memiliki kesalahan. Saya tahu cemerlangnya prestasi Anda. Anda juga sudah sering berkontribusi dan membanggakan negara ini di bidang ekonomi dan bisnis. Bodoh jika saya membenci Anda hanya karena satu kesalahan," ujar dokter Dani.
"Ya, Pak. Ayo masuk," timpal perawat laki-laki.
Mereka kompak membuka pintu dan mendorong bahu Agam untuk kembali ke kamar.
"Pak Agam? Huuu," Linda menyambutnya dengan tangisan.
Ayah Berli tidak berekspresi.
"Pak Agam, bayi kita menangis terus." Linda melambaikan tangan. Agam mendekat dengan langkah kaku.
Suster sigap menyemprotkan handsanitizer pada tangan Agam.
Deg, jantung Agam berdegup saat matanya bertemu pandang dengan putranya untuk pertama kali. Tatapan putranya tajam, mirip seperti mata Gama. Ia langsung berdoa di dalam hati agar putranya tidak mengikuti sikap buruk pamannya.
Kenapa matanya mirip Gama? Please Nak, kamu jangan play boy seperti paman kamu. Batin Agam.
Dan Agam terhenyak saat bayi itu disodorkan kepadanya. Tangannya gemetar. Ia takut bayinya terjatuh. Bola matanya berkaca-kaca. Tidak percaya jika ia bisa membuat adonan setampan ini. Hatinya bersyukur.
"Duduk Pak," suster mengambil kursi untuk Agam. Mereka was-was karena Agam sangat kaku. Agam duduk perlahan. Tangannya masih gemetar tidak terkendali.
"Hati-hati," Linda risih, sedih, campur terharu.
Agam sudah berhasil duduk. Dan apa yang terjadi?
Ajaib, bayi merah mungil itu benar-benar berhenti menangis. Semuanya ternganga. Pun dengan Ayah Berli. Linda dan Agam saling menatap, air mata keduanya menetes. Sementara bibir mereka sama-sama tersenyum.
"Huuu ... hwaaa," tangisan dokter Rita mengagetkan semuanya.
"Rita, kamu kenapa? Berlebihan," kata dokter Dani.
"Saya terharu," ucapnya. Disambut tawa kecil Linda dan Agam.
Semuanya lantas tergelak, kecuali Ayah Berli.
"Pak Agam dan Bu Linda pasangan serasi, bayinya hebat, bisa mempersatukan," kata dokter Dani.
"I love you," ucap Agam sambil menatap wajah bayinya.
"I love you too," jawab Linda.
"Jangan pergi ya," rengek Linda.
"Tidak akan sayang," kata Agam.
Aaaaa .... so sweeet. Batin suster yang kebetulan masih jomblo berteriak.
*Selamat berhari Minggu, untuk yang sudah bergabung di grup, terima kasih ya 🥰🥰🥰*
*Jangan penasaran lagi sama nyai ya. Di grup, nyai sudah go publik. 🤭🤭🤭*