
Seharian ini, Linda mengurus Agam. Menyuapi, memapahnya ke kamar mandi dan membantunya berganti pakaian. Namun keduanya tidak banyak berbicara karena keberadaan dokter kepala yang melakukan pemeriksaan rutin pada Agam setiap 30 menit.
Agam sebenarnya geram jua, namun tidak bisa menolak.
Usut punya usut, dokter kepala adalah orang yang dikirimkan secara khusus oleh ketua BRN untuk membantu pemulihan Agam sebagai upaya pertanggungjawaban atas tindakan melanggar hukum dan semena-mena yang dilakukan oleh pak wakil.
Info rahasia itu didapatkan Agam dari sahabat baiknya. Siapa lagi kalau bukan dari tuan mesum. Eh, maksudnya dari tuan Deanka.
Linda sebenarnya ingin bertanya penyebab Agam mimisan terus-menerus, namun ia belum berani. Apalagi saat Linda merasa jika keberadaannya tidak dianggap ada oleh dokter kepala. Selama melakukan pemeriksaan pada Agam, tatapan dokter kepala pada Linda seolah tidak senang.
Kenapa dia seperti itu?
Alasannya tentu saja karena dokter kepala telah menyimpulkan jika alasan Agam keluar dari BRN pasti karena memiliki hubungan spesial dengan presenter kontroversial itu.
Sebenarnya, tanpa diketahui siapapun, tadi saat Linda berada di kamar mandi dan Agam tertidur, wanita itu menangis sambil duduk di toilet.
Linda merasa sedih akan tatapan sinis dokter kepala saat melihat perutnya. Linda juga tidak sengaja melihat kepalan tangan dokter kepala saat Agam mencium perut dan mencium tangannya.
Linda tidak tahu jika dokter kepala adalah kaki tangan ketua BRN. Sedangkan Agam Ben Buana sengaja mengumbar kemesraan setelah tahu jika dokter kepala adalah kaki tangan pak ketua.
Saat di kamar itu ada nona Aiza, Linda sebenarnya merasa nyaman dan terhibur. Namun nona Aiza tidak bisa berlama-lama di kamar itu karena sebuah alasan.
"Kak Linda, aku haru memandikan kak Dean dulu, hehehe maksudnya mandi bareng. Setelah itu, aku harus menyuapinya. Oiya, aku juga harus memasak untuknya. Sore ini, aku dan kak Dean juga ada jadwal olah raga bersama. Maaf tidak bisa menemani Kak Linda lama-lama," ucap Aiza tadi siang sekitar pukul tiga.
Linda senyum-senyum mengingat kata 'Olah raga bersama.'
.
.
.
.
Pada sore harinya, kondisi Agam kian membaik, sekarang sedang dipasang transfusi darah labu ke dua. Dokter kepala tidak berada di kamar itu. Linda dan Agam jadi leluasa.
"Pak Agam."
Linda menatap wajah tampan yang berseri itu sambil tersenyum. Senyuman Linda sebenarnya adalah upaya untuk menutupi kegelisahan hatinya. Ia gelisah karena takut pada dokter kepala.
"Ada apa? Saya sehat. Terima kasih sudah merawat saya," ucap Agam. Ia meraih tangan Linda dan mengecupnya.
"Tidak ada apa-apa, Pak. Aku hanya tidak nyaman dengan sikap dokter kepala. Dia orang baik, kan?" tanya Linda.
"Berperasangkalah yang baik-baik. Saya berharap dia baik," jawab Agam.
"Kenapa Bapak sampai begini? Apa yang terjadi? Tolong ceritakan Pak. Jangan menyembunyikan masalah apapun dariku. Akukan istri Pak Agam."
"Hmm, ada yang sengaja mencelakai saya. Tapi dia sudah ditangkap, kok. Tidak perlu khawatir, saya akan segera pulih. Yang penting istirahatnya cukup."
Agam bergeser, ia meletakan kepalanya di pangkuan Linda.
"Kata dokter kepala, Bapak harus bed rest selama 3x24 jam, lalu kenapa semal ---."
"Ssstt, jangan dibahas sayang. Takutnya saya mau berulah lagi," sela Agam. Ia mengulum senyum sambil menempelkan telunjuknya di bibir Linda.
"Bapak tidak sabaran sih. Jadinya begini, kan?" ketus Linda.
"Siapa yang menawari? Kamu yang mulai," goda Agam.
"Tapikan aku tidak tahu kalau Bapak sedang sakit, masa iya ada orang sakit main tinju-tinjuan?" Sergah Linda.
"Hahaha, ya juga sih, saya meninju samsak untuk melampiaskan, El. Kamu juga sih, kenapa coba menggoda saya dengan baju tipis itu? Siapa yang bisa tahan? Saya bukan malaikat." Kali ini Agam yang melakukan pembelaan.
Linda tersenyum kecut, ia mencubit hidung Agam. Lalu menyuapi suaminya dengan puding agar-agar buatan nona Aiza yang rasanya luar biasa. Dan saat ini Lindapun tengah menikmati kembali puding itu.
"Ada waktu istirahat dua hari lagi. Setelah dibolehkan pulang, kita menginap di rumah kita yang ada di sini ya. Sekarang sudah ada perabotannya," jelas Agam.
Linda hanya mengangguk, dan membelalak karena Agam tiba-tiba merangkul tengkuknya dan menyatukan bibir mereka. Linda pasrah saat Agam mengambil puding agar-agar yang baru saja ia gigit dan belum sempat dikunyah.
"Mmm ... rasa pudingnya lebih nikmat ya," gumam Agam saat pertautan mereka terpaksa usai kerena bel pada interkom berbunyi.
Linda diam saja, napasnya berburu. Ia mengusap bibirnya yang terasa bak baru keluar dari lorong waktu yang menghisapnya. Agam Ben Buana memang liar. Sengatan dan manisnya setara lebah. Sang pelaku seyum-senyum melihat ekspresi Linda.
Di markas pusat BRN sedang berlangsung rapat alot untuk membahas langkah lanjutan dalam rangka menyikapi surat pengunduran diri dari Maga.
Rapat itu dilaksanakan setelah ada tebusan dari federasi BRN internasional. Hasilnya, BRN internasional tidak mengizinkan Maga keluar dari keanggotaan sebelum menemukan pengganti yang kemampuannya setara dengan Maga atau minimal memiliki kemampuan yang dimiliki Maga.
"Kita harus menemukan orang yang memiliki kemampuan di bidang bahasa dan navigasi. Jika tidak, maka kita harus tetap mempertahankan Maga apapun alasannya," ucap Pak Ketua.
"Tapi Pak Ketua, sampai saat ini kita belum mengetahui alasan dia keluar dari BRN. Kenapa kita tidak mengadakan sidang etik dulu? Apa benar Maga telah melanggar peraturan Malima?" tanya salah satu elit BRN yang berusia sekitar 40 tahunan.
"Bisa ya bisa tidak, kita tidak bisa menyimpulkan sebelum bertanya langsung pada yang bersangkutan," ucap Pak Ketua.
Lalu yang lainnya mengangkat tangan untuk memberikan pendapat.
"Pak Ketua, mundur dari BRN adalah hak dari setiap anggota. Begitupun dengan Maga, kenapa kita tidak merelakan Maga saja?" tanyanya.
Lalu Pak Ketua menjawab ...
"Saya sependapat dengan Anda, namun kita tidak bisa melakukan apa-apa sebelum memiliki kandidat pengganti Maga. Maga berbeda, dia bukan anggota biasa. Dia spesial. Kemampuan dia belum ada tandingannya."
"Ya, dan tega sekali pak wakil menyakiti dia. Padahal, jika Maga tidak diserang, Maga bisa saja memberikan informasi tentang kandidat yang bisa menggantikan posisinya," seorang anggota rapat tiba-tiba marah dan bersungut-sungut. Ia lalu ditenangkan oleh anggota yang lain.
Lalu seorang pria misterius masuk ke dalam ruangan. Dia memakai masker. Ia dipersilahkan duduk di barisan kursi paling depan. Langsung berbicara dengan tenangnya.
"Saya jamin kita tidak akan ditekan lagi oleh federasi internasional. Lakukan saja sidang etik pada Maga," katanya.
"Maksud Anda apa? Jangan memperkeruh suasana," kata Pak Ketua.
"Hahaha, Pak Ketua, saya memiliki kandidat calon pengganti Maga."
"APA?!"
Semua anggota rapat tertegun.
"Siapa? Kenapa Anda bisa cepat menyimpulkan? Setahu saya, selama ini kita selalu gagal merekrut anggota yang setara dengan Maga," Pak Ketua menatap tajam pria itu.
"Kali ini kita tidak akan gagal lagi Pak Ketua, karena dia memiliki ikatan darah dengan Maga."
"APA?!"
Semuanya kembali tercengang.
"Orang yang selama ini kita suruh untuk mengintai Maga menemukan fakta bahwa Maga memiliki seorang adik."
"Hahhh?!"
"Laki-laki apa perempuan?"
"Usia berapa?"
"Apa dia memiliki kemampuan di bidang bahasa juga?"
"Sekolah di mana?"
"Apa sudah kuliah?"
"Apa info ini valid?
Beberapa pertanyaan terlontar.
"Cukup! Diam semuanya!" teriak Pak Ketua.
"Anda ke ruangan saya sekarang. Rapat selesai," ucap Pak Ketua sambil menunjuk pria bermasker yang mengatakan jika Maga memiliki adik.