
An menuntun tangan Senja agar bisa bersalaman dengan Agam. Lalu mereka duduk kembali dan siap memulai perbincangan.
"An, tetap di dekatku," pinta Senja. Seusai menyentuh tangan Agam, entah kenapa, ia tiba-tiba merasa ketakutan. Padahal, kulit tangan Agam terasa halus.
"Baik, Nona. Aku akan tetap di sisimu." An bahkan memeluk bahu Senja agar gadis itu lebih tenang.
"Tak perlu takut, saya bukan pemangsa," kata Agam.
Ia sadar diri jika gadis itu takut padanya. Sebenarnya, kata pemangsa cocok disematkan untuknya. Agam mengulum senyum. Menyebut kata pemangsa, ia jadi teringat pada Linda. Ya, Linda pernah menyebutnya sebagai 'pemangsa.'
"Langsung saja ya, Pak. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan pada Bapak."
"Silahkan."
"Apa Bapak yang menyelamatkanku dari penculikan? Apa Pak Agam yang menyediakan tempat tinggal untukku? Jika ya, kenapa? Jika bukan, tolong beri tahu aku siapa orangnya? Lalu, apa Bapak bisa membantuku bertemu atau minimal berkomunikasi dengan kak Exam? Kata kak Exam, jika ingin bertanya tentangnya, aku harus menghubungi Anda. Aku mendengar pesan itu dari mendiang bu Lela."
"Oh, jadi kamu datang jauh-jauh karena ingin menanyakan masalah itu?"
"Ya, Pak."
"Sayangnya, saya tidak bisa menjawab."
"A-apa?! Kenapa?" Senja heran. Lensa matanya bergulir.
"Saya tidak kenal dengan seseorang yang kamu sebut sebagai Exam. Selain itu, saya juga punya hak untuk tak menjawab pertanyaan kamu."
Senja melongo. Benar kata orang, Agam Ben Buana bukanlah orang yang mudah difahami apa lagi di dikte.
"Pak, aku menunggu lama untuk bertemu Bapak. An, tolong katakan sesuatu." Senja meminta bantuan pada An.
"Maaf Nona, saya juga tak bisa membantu. Jika faktanya Pak Agam tak mau menjawab, kita tak boleh memaksanya."
"An? Kamu?"
Air mata Senja spontan meleleh. Ia kebingungan. Pikirnya, 'kok bisa Agam tak mengenal Exam, padahal jelas sekali bu Lela menyuruhnya menemui Agam jika ingin mengetahui keberadaan Exam. Agam dan An saling menatap. Dari tatapan An, wanita itu seolah bertanya pada Agam, 'bagaimana ini?' Sambil mengangkat bahunya.
"Jangan bersedih, tak begitu penting kamu tahu siapa yang menyelamatkan kamu. Boleh jadi, orang yang selama ini membantu kamu ataupun menyelamatkan kamu, sengaja menyembunyikan identitasnya karena ia ingin menolong dengan ikhlas dan tanpa pamrih apapun," jelas Agam.
"Seperti halnya tangan kanan yang bersedekah, namum tangan kiri tak mengetahuinya. Saya harap kamu faham maksudnya," tambahnya.
Senja menunduk, lalu mengusap airmatanya. Ia sebenarnya sudah menduga kalau Agam pasti tak mau menjelaskan.
"Kamu hanya perlu bersyukur dengan apa yang saat ini kamu dapatkan. Patuh pada An, dan tak memikirkan hal-hal yang tidak penting." Agam menasihati Senja. Lalu mengambil sebuah map berisi berkas dari dalam lemari kerjanya.
"Ini ada surat persetujuan operasi transplantasi mata, kamu harus segera tanda tangan. Jika kamu sudah tanda tangan, operasinya akan dilaksanakan seminggu lagi."
"Apa?! Operasi?"
Senja terkejut. Operasi mata mengingatkannya pada Exam yang memang pernah berjanji ingin membuatnya bisa melihat kembali.
"Ada orang yang kornea matanya cocok dengan mata kamu. Sebelum meninggal, orang itu sudah bersedia mendonorkan seluruh organ tubuhnya. Dua hari yang lalu, orang tersebut telah meninggal dunia. Jadi, transplantasi matanya bisa segera dilakukan."
"Apa Pak Agam yang memersiapkan semuanya? Dari mana Bapak menemukan orang yang kornea matanya identik denganku? Sementara aku, aku tak pernah merasa melakukan pemeriksaan apapun pada mataku."
"Sekali lagi, saya punya hak untuk tak menjawab pertanyaan kamu. Kamu tanda tangan saja. Formulirnya berisi huruf latin. Nanti, An yang akan membaca isinya. Kamu cukup mendengarkan, lalu menyutujuinya dan tanda tangan."
"Aku tidak mau operasi sebelum Pak Agam menjelaskan semuanya dan memberitahuku tentang kak Exam. Ini mataku, aku adalah orang yang paling berhak atas mataku sendiri," tegas Senja.
"Hahaha, saya justru baru akan menjelaskan semuanya setelah kamu melakukan transplantasi mata. Sebelum tanda tangan dan setuju operasi, kamu jangan berharap bisa mendapatkan informasi yang kamu inginkan. Sekarang, pilihan ada di tangan kamu. Oiya, apa kamu tak ingin melihat seperti apa rupa keluargamu dan melihat bagaimana indahnya dunia? Jika saya menjadi kamu, saya yakin akan segera menandatanganinya."
"Ya Nona, Pak Agam benar," sahut An.
Senja merenung. Dengan bisa melihat, ia pasti sangat bahagia dan bersyukur. Bisa melihat dunia adalah cita-citanya sejak kecil. Namun, setelah ia memahami sedikit demi sedikit tentang makna kehidupan, lambat laun, ia jadi tak terobsesi untuk bisa melihat dunia. Ia justru berharap agar di kehidupan akhirat, mata butanya bisa menolongnya. Yaitu, bisa meringankan hisabnya.
"Senja, dengan bisa melihat, kamu bisa melakukan banyak hal yang bermanfaat. Baik bermanfaat untuk kamu, ataupun orang lain. Ya, kita memang harus bersyukur dengan apapun yang didapatkan. Saya yakin kamupun tetap bersyukur dengan keadaanmu saat ini. Tapi, semua orang punya pilihan dan kesempatan untuk berikhtiar agar bisa memperbaiki takdir hidupnya."
"Saya yakin, Tuhan telah menyiapkan pendonor mata itu untuk kamu. Boleh jadi, setelah bisa melihat, kamu akan mendapatkan anugerah yang lebih besar lagi." Agam kembali memberi pencerahan pada Senja.
"Coba bacakan isi formulirnya, An," lirih Senja setelah ia merenung cukup lama.
Kemudian, An membacakan poin perpoinnya. Awalnya, Senja berpikir tak ada yang janggal dengan isinya. Namun, tiba-tiba ada poin yang isinya membuat ia kebingungan.
"Ulangi," kata Senja.
"Penerima donor atau pasien, bersedia dilakukan pemasangan sistem robotik pada area mata ataupun daerah lain, sesuai dengan indikasi medis."
"Sistem robotik? Apa itu, An?"
"Saya juga tidak tahu, Nona," kata An sambil melirik pada Agam. Yang berarti, wanita itupun sama sekali tak faham maksudnya.
"Saya sebenarnya faham tentang sistem robotik, namun untuk sistem robotik yang akan digunakan pada prosedur operasi mata, saya rasa tidak memiliki kapasitas untuk menjelaskannya. Prosedur ini harus dijelaskan oleh dokter."
Saat mengatakan kalimat itu, alis Agampun mengernyit. Jujur, ia juga baru mengetahui isinya. Berkas itu amanat dari pangeran Enver. Ya, pak Dirut pasti tak akan membukanya.
"Pak Agam, apa prosedur sistem robotik itu berbahaya?"
"Seluruh tindakan medis, baik yang manual maupun menggunakan sistem robotik, pasti ada efek sampingnya bagi tubuh. Entah itu efek samping jangka pendek, ataupun jangka panjang. Namun, prosedur itu pastinya sudah dipertimbangkan oleh para ahli dengan meminimalisir risikonya. Jadi, kamu tak perlu khawatir," jelas Agam.
"Begitu ya. Ya sudah, aku setuju. Tapi, aku hanya ingin dilakukan transplantasi pada satu mata saja." Lalu, dengan bantuan An, Senjapun menandatanganinya.
...❤...
...❤...
...❤...
Dalam kehidupan, waktu adalah sesuatu yang sedang berada didalamnya. Berarti, ketika manusia berada di dunia ini, maka dunia itulah waktunya.
Jika manusia sedang bergembira, berarti bergembira itulah waktunya. Jika manusia dalam keadaan sedih, berarti kesedihan itulah waktunya. Ketika manusia berselisih dan bermusuhan, maka berselisih dan bermusuhan itulah waktunya. Demikian seterusnya. Waktu merupakan sesuatu yang mengalahkan dan menguasai manusia.
...❤...
...❤...
...❤...
Begitupun dengan kehidupan di dunia AGAPE, waktu menguasai setiap pemerannya.
Agam dan Linda hidup makmur dan bahagia bersama putra putrinya. Terbaru, Agam terpilih menjadi komisaris eksekutif HGC. Di luar pekerjaannya sebagai komisaris, Agam menggandeng investor asing untuk membangun perusahaan di bidang robotik. Ia juga memberi kesempatan pada anak bangsa yang berbakat di bidang robotik untuk bergabung di perusahaannya.
...❤...
...❤...
...❤...
Sementara itu, Freissya memutuskan untuk mengikuti Gama tinggal sementara waktu di luar negeri. Karena kejeniusannya menyelesaikan kasus-kasus di BRN, Gama mendapat beasiswa kuliah di luar negeri di bidang intelijen, dan Freissya menunda studinya karena hamil. Kandungan Freissya sedikit lemah. Jadi, dokter menyarankan agar Freissya banyak istirahat.
Gama dan Freissya menjalani hari dengan penuh cinta dan suka cita. Di negara ini, Freissya bisa mendampingi suaminya sekaligus berlibur. Menikmati musim semi, bermain salju, ataupun berendam seharian di dalam bathup saat musim panas melanda.
Musim panas di negara ini, adalah musim paling dinanti oleh Gama. Kenapa demikian? Karena di musim panas, saat berada di rumah, Freissya sering menggunakan busana terbuka. Keadaan ini membuat Gama dan Freissya sering mandi wajib.
Dan bercinta di dalam bathup, adalah hal yang paling disukai Gama. Ya, namanya juga crocodile. Pastilah lebih menyukai dunia air. Hehe, hanya guyonan. Tolong jangan diambil hati, apalagi dilaporkan pada ketua BRN. Oiya, Gama dan Freissya juga pernah bercinta di atas kereta salju yang sedang menjelajahi gunung es.
Yang paling sering adalah, bermesraan dan menautkan bibir di bawah pohon yang hanya berbunga pada musim semi. Keanggotaan Gama sebagai anggota BRN ditangguhkan sampai ia menyelesaikan studinya.
...❤...
...❤...
...❤...
"Hasil penelitian menunjukkan bahwa manusia melewati beberapa fase kehidupan. Siklus dan fase perjalanan hidup manusia berlangsung lima fase. Yaitu, alam ruh, alam rahim, alam dunia, alam kubur, dan alam akhirat," ucap guru spiritual Yohan.
"Fase pertama dimulai ketika nabi Adam diciptakan. Fase kedua dimulai dari lahirnya manusia ke dunia sampai datangnya waktu kematian. Fase ketiga dimulai dari keluarnya manusia dari kehidupan alam dunia sampai dibangkitkan dari kematiannya."
"Aku sangat senang dengan materi ini, kamu juga senang 'kan istriku?" Sambil melirik pada Sea.
"Ya Tuan." Sea yang malam ini mengenakan jibab warna hijau muda langsung mengangguk dan tersenyum.
"Baik, saya lanjutkan ya. Fase ke empat dimulai dari bangkitnya manusia dari alam kuburnya, sampai dikumpulkannya di padang Mahsyar untuk menjalani proses hisab atau perhitungan amal. Sementara fase kelima dimulai dari masuknya ahli surga ke dalam surga, dan masuknya ahli neraka ke dalam neraka. Selanjutnya, manusia akan menjalani kehidupan kekal atau tiada akhirnya. Wallahu a'lam bishawab," tutupnya sambil melirik jam di tangan kanannya.
"Akan ada yang mengantar Bapak pulang. Terima kasih ilmunya, Pak. Jangan sungkan kalau sewaktu-waktu aku mengundang Bapak lagi." Yohan mencium tangan guru spiritualnya.
"Sama-sama Tuan Yo. Saya juga masih belajar, 'kok. Jadi, kita sama-sama belajar." Ia mengusap bahu Yohan.
Setelah pak ustadz pergi, Yohan langsung memeluk Sea.
"Terima kasih istriku, kehadiran kamu laksana pelita di dalam hidupku."
Lantas Yohan mengecup bibir Sea berulang-ulang. Sea tersenyum. Ia menatap Yohan dengan tatapan bertabur cinta. Lalu merangkul pria berkulit sangat putih itu sambil melepas jilbabnya. Yohan mengeratkan dekapan pada pinggang Sea. Lanjut menyambar bibir mungil istrinya yang selalu terlihat lembab, basah, dan manis. Pertautan itu terus terjalin hingga keduanya memasuki kamar.
Seperti itulah sepenggal kisah Yohan dan Sea. Mereka tak pernah melewati hari tanpa belajar ilmu agama. Yohan dan Sea tinggal di Pulau Jauh. Yohan membangun dan mengembangkan bisnisnya di Pulau Jauh. Sementara bisnisnya yang berada di pusat kota, pengelolaannya ia serahkan kepada tuan Deanka yang saat ini semakin berbahagia karena nona Aiza tengah mengandung anak kedua.
...❤...
...❤...
...❤...
Bagaimana dengan pangeran Enver?
Kehidupan pangeran Enver sukar dijamah. Kasta tinggi yang mengalir di darahnya, membuat kehidupannya begitu pelik. Tak bisa sembarangan mengungkap aktivitas sang pangeran sebelum mendapat izin dari otoritas kerajaan.
Kehidupan pangeran Enver dan Senja, insyaaAllah akan diungkap pada proyek pengintaian selanjutnya dalam agenda pengintaian berjudul ....
"PERAWAN MILIK PANGERAN."
...❤...
...❤...
...❤...
...Terima Kasih....
...TAMAT...
NB: Terima kasih atas segenap dukungan. Baik itu vote, like, maupun komentar. Semua kebaikan, pasti akan dibalas oleh kebaikan jua. Terima kasih karena sudah berkenan membaca novel remahan, karya author remahan yang selalu bermimpi jadi penulis yang diminati dan bisa masuk ranking. 'nyai ambu.'
Spesial terima kasih untuk fans gold dan silver. nyai sayang semuanya. 🥰🥰🥰