AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Filosofi Cinta; Tidak Terucap, Namun Terungkap



...*...


...*...


...*...


...*...


"Siapa pemeran asli prianya, Pak? Apa Bapak tahu?"


"Jika Bapak tahu FY seperti itu, kenapa tidak dari dulu melaporkannya ke bagian etik perusahaan?"


"Itu kasus lama, berati selama ini HGC telah melakukan pembiaran pada prilaku asusila, apa benar?"


"Kenapa tuan Deanka membiarkan dia tetap bekerja?"


"Ya benar, kredibilitas HGC diragukan."


Saat Agam tiba di HGC, ia ternyata langsung dikerubuti wartawan dan diberondong pertanyaan.


"Maaf, Pak. Sejak pagi mereka sudah menunggu Bapak," jelas petugas keamanan.


Dan Agam memilih no comment, ia sudah lelah, malas berbicara untuk hal yang sebenarnya sudah dijelaskan oleh tuan Deanka.


"Pak, Pak, Pak Agam," panggil wartawan. Mereka kembali merangsek dan menghadang Agam.


"Saya lagi pusing, kurang tidur, belum mandi, minggir!" bentaknya. Agam menepis para wartawan yang mendekat.


"Tidak apa-apa belum mandi juga Pak, saya lihat Bapak tetap ganteng, gagah, dan wangi, kok. Ya kan teman-teman?" kata seorang wartawan wanita.


"Ya, betul Pak." Sahut yang lainnya.


"Kalian ini bagaimana sih? Dengar ya, saya tidak mau berkomentar, kasus ini sudah masuk ke ranah hukum, dewan direksi HGC juga sudah memberikan keterangan, apa lagi yang kalian mau tahu?" Agam geram.


"Pak, kita ingin tahu pemeran prianya, apa benar masih ada hubungan dengan keluarga Haiden dan HGC?"


"Saya tidak memiliki wewenang dan kapasitas untuk mengungkap identitasnya, tanyakan saja pada pihak kepolisian, atau kalian tunggu saja sampai kasus ini selesai diselidiki dan disidangkan," tegas Agam.


Lalu ia masuk ke dalam lift disusul oleh Pak Yudha dan stafnya. Para wartawan akhirnya terpaksa membubarkan diri.


"Kita ke kantor polisi," kata salah satu dari mereka.


.


.


.


.


"Saya permisi," kata Pak Yudha setelah sampai di lantai 88.


"Baik, terima kasih Pak Yudha," ucap Agam.


Agam bergegas ke ruangannya. Langsung ke kamar dan mulai melucuti pakaiannya.


Yang tersisa saat ini hanya handuk sebatas lutut. Terpampanglah tubuhnya yang sempurna itu. Agam becermin, menatap pantulan dirinya dengan seksama.


Ia berpikir, apakah tubuhnya akan disukai oleh Linda?


Tipe seperti apakah Linda?


Apakah suka dengan kelebatan?


Atau justru suka dengan kegundulan?


Agam mengulum senyum. Spontan menepuk keningnya sendiri, ia merasa malu dengan apa yang ia pikirkan. Lalu muncul perasaan menyesal karena tadi tidak mencium bibir Linda. Padahal, Lindanya sudah pasrah.


"Sayang, maaf. Harusnya aku cium kamu saja. Toh, kita sudah halal. Aaargh! Kenapa aku jadi bodoh sih?" Agam menyesalinya.


Lalu barulah ia teringat pada ponsel Linda yang ada disakunya. Cepat-cepat Agam mengambil dan menchargnya.


Ponsel Linda sudah terisi daya 65 % saat Agam memasuki jadwal rapat. Untuk sementara ponsel itu ia abaikan.


.


.


.


.


Agenda rapat hari ini salah satunya adalah untuk membahas rekrutmen sekretaris HGC yang akan menggantikan posisi Fanny.


Hasilnya disimpulkan jika HGC akan membuka lowongan dengan pendaftaran secara online khusus untuk merekrut sekretaris.


Selanjutnya adalah rapat tentang perkembangan saham HGC serta obligasi bersama kreditur dan para investor.


Sangat melelahkan, Agam baru kembali ke ruangannya menjelang pukul lima sore. Agam bahkan tidak sempat memegang ponsel untuk menanyakan kabar Linda pada bu Ira.


.


.


.


.


"Pak, saya minum kopi duluan," kata Pak Yudha yang ternyata sudah menunggu di ruangannya.


"Lanjutkan, Pak. Saya mau mandi dan shalat Asar dulu, baru kita pulang. Maksud saya pulang ke rumah sakit," ucapnya.


"Mau dibuatkan kopi?" tawar Pak Yudha.


Agam memang suka kopi, tapi intensitasnya sangat jarang, bisa dihitung dengan jari. Agam lebih suka minum susu hangat daripada kopi.


"Tidak, Pak. Terima kasih." Ia bergegas ke ruangan kamar.


Setelah selesai mandi dan shalat, Agam langsung menyalakan ponsel Linda.


"Linda kan sudah mengganti kunci polanya." Agam baru ingat dan ia kesal sendiri.


Sementara waktu, ia hanya berharap nomor itu menghubungi lagi atau memberi pesan. Tapi sayang, tidak ada lagi pesan ataupun panggilan yang masuk.


Bahkan hingga Agam pulang, dan saat ini sudah berada di dalam mobil menuju rumah sakitpun, ponsel Linda tetap sepi.


"Saya mau turun dulu di sana. Mau beli buah-buhan segar dan camilan organik untuk Linda," kata Agam.


"Saya saja yang turun, Pak. Takut ada wartawan," kata Pak Yudha.


Setelah berpikir sejenak, akhirnya Agam setuju. Ia menunggu di dalam mobil dan Pak Yudha yang belanja.


...*...


...*...


...*...


...*...


Pada akhirnya, istri yang ia rindukan itu kini tampak di depan mata, Linda sudah cantik dan rapi, yang terpasang di tubuhnya hanya cairan infus. Oksigen dan monitornya sudah dilepas. Linda menyambut Agam dengan senyuman.


Lagi, Bu Ira dan Pak Yudha selalu memahami. Mereka berdua keluar dengan alasan Bu Ira tiba-tiba ingin makan malam di kantin.


Agam bahkan melanggar SOP kamar rawat, ia mengunci pintunya tanpa sepengetahuan Linda.


.


.


.


.


"Apa penawaran yang tadi masih berlaku?" tanya Agam, ia mencium tangan Linda yang wangi.


Tadi setelah mandi, ia dilulur oleh Bu Ira dengan pelembab tubuh aroma lavender dan roseberry.


"Maksudnya?" tanya Linda.


Linda tahu sih, tapi ia pura-pura tidak tahu dan lupa. Bola matanya berputar-putar.


"Saya mau mencium kamu, El .... Saya lelah, harus mendapatkan nutrisi, dan kamu adalah nutrisinya," goda Agam.


"Hahaha, Pak Agam menggombal? Belajar dari mana?" Linda malah terkekeh.


"El, serius. Saya mau menagih yang tadi pagi."


Sekarang Agam sudah meraup pipi Linda dengan kedua tangannya.


"Tidak mau."


Linda menepis tangan Agam. Lalu bergeser, dan menjauh.


Agam menghela napas, tidak bisa begini. Ia tidak bisa berlama-lama menahannya. Kondisi Linda sudah membaik, sentuhan-sentuhan kecil, pastinya tidak akan berdampak buruk pada bayi mereka.


"Kalau kamu tidak mau, saya akan memaksa," ancam Agam sambil menarik selimut Linda.


"Kita belum menikah, Pak. Aku tidak mau menumpuk dosa," sergah Linda. Ia berbohong.


"El, sebenarnya ...."


Agam kembali menghela napas, sepertinya ia tidak bisa berlama-lama merahasiakannya dari Linda.


Deg, Linda berdegup.


Apa Agam akan jujur sekarang?


Lalu ... saat Agam jujur, Linda harus bagaimana?


Harus terlihat bahagia?


Atau langsung menangis tersedu-sedu?


Apa langsung mencium tangan Agam?


Apa Linda jujur saja kalau sebenarnya ia sudah tahu?


Serius, saat ini Linda benar-benar bingung.


"El, begini. Duduk ya," kata Agam.


Agam memegang tangan Linda. Ia duduk di sisi tempat tidur. Lalu perlahan membantu Linda untuk duduk dan bersandar pada bantal. Linda menunduk saja, ia sedang memikirkan bagaimana responnya nanti tatkala Agam mengatakannya.


.


.


.


.


"Saat kamu tidak sadar, sebenarnya ... ayah Berli, Paman Yordan dan saya sempat terlibat negosiasi sengit. Saat itu ... saya tidak tahu kalau kamu belum sadar dan masuk ruang ICU."


Agam menghela napas sejenak, mengingat kembali kejadian melankolis itu, hatinya berdesir. Ia tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau Linda sampai tidak tertolong.


"El ...," lirihnya.


Kali ini, Agam berbicara seraya mendekap tangan Linda di dadanya.


"Saat kamu tidak sadar, hari itu ... saya melewati hari yang teramat menegangkan dalam hidup saya. Sampai-sampai saat rapatpun saya tidak bisa berpikir jernih."


Linda semakin tertunduk, luapan keharuan sudah menyesakan dadanya. Airmatanya mulai menggenang, apalagi saat ia mengingat kembali cerita dari pak Yudha.


"Malam kemarin, pak Agam menjadi sosok yang sangat berbeda. Dia sangat terpuruk saat tahu kalau Anda dirawat di ICU. Saya baru kali itu melihatnya menangis."


"Ayah Anda ingin segera menikahkan Anda dengan pak Agam karena khawatir Anda tidak selamat dan meninggal dalam keadaan terbebani."


"Selain itu ... pak Berli juga ingin menunaikan kewajibannya sebagai seorang ayah dengan menikahkan kamu dengan pria pilihanmu."


"Pak Agam ...."


Linda memberanikan diri menatap Agam. Dan untuk beberapa saat keduanya hanya saling menatap.


"Pak Agam sangat tampan dengan setelan tuxedo baju pengantin termahal dan terbaik. Dia bahkan membeli pin swarovski dan baju pengantin untuk Anda. Saat itu ... pak Agam belum tahu kalau Anda dirawat di ICU."


'Tes ....'


Gugurlah sudah pertahanan Linda. Ia tidak bisa menahan buliran airmatanya.


"Kenapa?"


Agam terkejut, lalu mengusap air mata Linda dengan jemarinya.


Linda tidak bisa berkata-kata, bibirnya malah mengatup dan bergetar.


"Pak Agam menginginkan ijab kabul di samping Anda. Sebenarnya, saat itu sudah mendapat izin, namun tiba-tiba ada pasien baru yang harus segera masuk ruang ICU."


Ucapan pak Yudha terus melintas dan membekas di hati Linda, bersamaan dengan itu, Agampun melanjutkan ucapannya.


"Saya akan mengatakan sesuatu yang mungkin membuat kamu sedikit kaget. Awalnya, saya ingin merahasiakannya sampai saya menyelesaikan urusan saya sebagai Maga. Emm, maksud saya ... Maga dan BRN."


"Tapi ...."


Agam menjeda, ia kembali mengusap air mata Linda.


"Saya sampai meneteskan air mata saat pak Agam menyelimuti Anda dengan baju pengantin di ruang ICU," kata Pak Yudha.


"Apa yang dia katakan, Pak?" tanya Linda pada saat itu.


"Pak Agam mengatakan ...."


"El, ini gaun untuk kamu, kita akan menikah. Kamu ikhlas kan menikah dengan saya? Kamu sangat cantik, sayang ...."


"Sayang ... tidak bisakah kamu bangun? Lihat saya, El. Saya sudah memakai baju terbaik demi kamu, saya juga sudah membeli baju spesial untuk kamu."


"Pak Agam juga mencium perut Anda sambil mengatakan ....


"Kamu yang di sana, tolong bantu mama kamu untuk bangun, saya meminta izin untuk menjadi ayahmu ... saya meminta izin untuk menikahinya. Sayang ... kita sudah direstui, kamu tidak boleh takut lagi. Apa yang kamu takutkan, El? Bangun Linda ... bangun ...."


"Begitu kira-kira." Pungkas pak Yudha.


Semua kalimat Pak Yudha memenuhi relung hati dan pikiranya. Linda kembali menatap Agam yang saat ini tengah berpikir untuk mengatakan dan menata kalimat terbaik.


Ya, tekad Agam sudah bulat, ia akan mengatakan pada Linda jika mereka sudah menikah secara agama.


"Linda ...." Agam membalas tatapan Linda.


"Sebenarnya .... sa-saya dan ka-kamu su-su-sudah ---."


Agam tidak melanjutkan kalimatnya.


Kenapa?


Karena jari telunjuk Linda sudah terlebih dahulu menempel di bibirnya.


"Ssstt .... Pak ... a-aku su-sudah ta-tahu semuanya, huuuks ...."


"A-apa?" Agam terlonjak.


Agam yang kaget langsung memeluk Linda, ia membiarkan Linda terisak di dadanya. Alis Agam bertaut.


Siapa gerangan yang membocorkan rahasia ini?


Apa Gama? Pak Yudha? Paman Yordan? Atau ... ayah Berli?


"Te-terima kasih," lirih Linda.


Badannya masih gemetar karena manangis, sementara kepalanya perlahan menengadah menatap Agam.


Agam menahan bahu Linda. Bibirnya tiba-tiba kelu. Agam jadi bingung mau berkata apa, bahkan untuk menjawab kata 'Sama-sama' pun, ia seolah lupa.


Parahnya, Linda juga sama bingungnya, Linda kesulitan untuk mengatakan kalimat lain setelah kata 'Terima kasih.'


Keduanya sama-sama terjebak dalam pusaran rasa yang sulit terurai dan didefinisikan. Seolah terpenjara dalam luapan emosi yang rumit nan sulit.


Jika dengan kata tidak bisa diurai, apa harus dengan tindakan? Entahlah.


.


.


.


.


Lagi, Agam dan Linda hanya bisa saling menatap seraya menikmati keindahan yang terukir di wajah mereka masing-masing.


Dan ya ... dari mata turun ke hati, itulah cinta.


Marlyn Monroe mengatakan, kekasih sejati adalah orang yang bisa menggetarkan hatimu dengan mencium kening atau tersenyum ke matamu.


Agampun lalu mencium kening Linda.


Kata Lao Tzu, cinta adalah yang paling kuat, karena cinta serentak menyerang kepala, hati, dan indera.


Dan benar saja, seluruh indra Agam dan Linda seolah terkoneksi secara bersamaan. Saat Agam mencium keningnya, Linda spontan memegang bahu Agam.


Lalu Tom Bodett mengatakan, seseorang hanya perlu tiga hal untuk benar-benar bahagia di dunia ini. Apa saja? Yaitu seseorang untuk dicintai, sesuatu untuk dilakukan, dan sesuatu untuk diharapkan.


Agam dan Linda telah mendapatkan cinta seseorang.


Dan saat ini, keduanya jelas ingin melakukan sesuatu.


Apa itu?


Deg.


Linda kaget dan gugup. Setelah mencium keningnya, Agam ternyata lanjut mencium pelipis, pipi, kelopak mata, dan hidungnya.


"El ...."


Agam memanggil Linda sambil menyatukan keningnya dengan kening Linda.


"Pak ...."


Linda tersentak, Agam mengelus ceruk dan meremas perlahan cuping telinganya. Rasanya geli dan ....


Dan apa ya? Linda juga bingung.


"Linda ...."


Agam menarik dan mendekap Linda ke dadanya, lalu perlahan menciumi leher Linda. Bibir Agam terasa hangat, atau ... hampir terasa panas.


"P-Pak ...."


Perasaan Linda kian tidak menentu, ia takut. Takut Agam kehilangan kendali dan membahayakan kandungannya.


Serius, Linda sudah berpikir jauh ke depan. Namun saat ini, ia sendiri tidak memahami tubuhnya. Hatinya ketakutan, tapi tangan Linda perlahan melingkar jua di leher Agam.


"Ja-jangan panggil saya bapak atau pak lagi, oke?" bisiknya.


"Lalu ... aku harus memanggil a-apa?" tanya Linda saat tangan Agam tengah menelusuri bibirnya.


"Boleh Agam, Ben, Buana atau ...."


"Uuhhhmm ...." Linda terbekap dan tercekat.


Agam memagut bibirnya dengan cepat-cepat, namun memainkannya dengan lambat-lambat.


Ohh, n i k m a t .... Batinnya.


Entah batin siapa yang berbicara, tidak terditeksi.


Lalu, Linda terseok-seok, dan terombang-ambing di dalam arusnya.


Mata keduanya terpejam, mereka sedang mendalami peran perdana sebagai pasangan yang halal.


Atau apa? Aku harus memanggilmu apa? Tanya batin Linda, seraya menikmati g e l e n y a r aneh yang tiba-tiba mendera tubuhnya.


Atau ... kamu panggil saja aku ... 'Maga.'


Lanjut Agam dalam hati, sambil terus meluapkan asa itu. Sampai apa yang ia inginkan diraihnya, hingga suara k e c a p a n - k e c a p a n intim itu perlahan terdengar, memanaskan telinga mereka, dan memantik gairah.


"El ...."


Setelah keduanya hampir kehabisan napas dan mati rasa, perlahan ... Agam membaringkan Linda.


Linda yang masih tersenggal-senggal hanya bisa pasrah saat pria itu menyingkap bajunya.


Agam menatap lekat-lekat perut yang cantik itu sambil mengusapnya. Lalu perlahan mengecupnya beberapa kali.


Linda bahagia, ia menutup bibirnya yang terasa kebas, dan meneskan air mata. Momen ini sangat ia nantikan. Setelah sekian lamanya merasa terkurung dalam kekhawatiran, keraguan dan ketakutan.


"Ja-jangan menangis lagi sa-sayang."


Agam mengurung Linda, lalu membersihkan air mata Linda dengan bibirnya.


"Pak ... ja-jangan ... jijik ...."


"Jijik? Tidak dong," sanggahnya.


Dan ia terus membersihkan air mata itu hingga ke leher Linda.


"Emmh ... Pak ... a-air matanya ti-tidak sampai situ."


Sambil merengkuh bahu Agam, Linda mengingatkan.


"A-aah," Linda menjerit.


Agam mengencupnya dengan kuat, pastinya akan meninggalkan jejak cinta yang susah dihilangkan.


"Sa-sakit, Pak ...," keluhnya sambil membelai rambut Agam.


Rambut yang sebenarnya sudah sejak lama ia kagumi.


"Maaf ... oiya jangan panggil saya bapak, bisa?" tanya Agam.


Sekarang ia sedang menghirup aroma tubuh Linda. Kepala Agam terbenam di ceruk dada Linda yang menggairahkan.


Dan sebelum Linda mengatakan apapun, tangan Agam perlahan tapi pasti telah membuka kancing baju Linda.


'Trek.'


Satu telah terbuka, dada Linda spontan naik turun.


"Pak ... ja-jangan ... cukup ... emmh ...."


Linda tersentak kaget dan sedikit melenguh saat Agam perlahan memasygulnya.


"Ja-jangan ...."


Linda masih berusaha menolak saat Agam menatapnya sambil tersenyum. Mungkin merasa lucu melihat ekspresi Linda yang sedikit hiperbola.


"Ka-kamu sangat sensitif sa-sayang ...," bisik Agam di telinga Linda.


"Nn-no ...."


Linda mengelak, padahal aslinya 'Yes.'


Linda memang hipersensitif terhadap sesuatu yang dapat mempengaruhi indra pencium, peraba, perasa, dan sebagainya.


Linda sensitif pada sesuatu yang dapat membangkitkan perasaan tertentu seperti kegembiraan, kesedihan, keberanian, kehangatan dan kenikmatan.


"Tidak boleh berbohong," tuduh Agam sambil kembali berbisik lembut di telinga Linda.


Ia membisikan kalimat yang hampir mengakibatkan jantung Linda berhenti berdegup saat itu juga.


Agam benar-benar nekad. Ia berani mengambil risiko. Padahal, Linda baru saja dinyatakan stabil.


"Sa-saya ingin menjadi ba-bayi kamu, se-sebentar saja, a-pa boleh?" bisiknya dengan suara tersendat-sendat namum terdengar seksi.


"A-apahhh ....?"


Serius, Linda tidak faham.


Bayi???


"Kamu tidak tahu? Apa pura-pura polos? Bayi biasanya suka apa, hmm?" goda Agam sambil menyatukan cuping hidung mereka.


"Hahh?" Emm ...."


Mata Linda mengerjap. Bola matanya berputar-putar.


"Faham?" tanya Agam sambil kembali melanjutkan membuka buah baju Linda.


Buah baju adalah istilah lain dari 'Kancing.' Tolong jangan dipersepsikan sama dengan b u a h d a d a.


"Boleh?"


Agam bertanya lagi dengan tatapan mata yang mulai membara.


Linda kian panik apalagi saat Agam melepas kacamatanya. Jika Agam telah melepas kaca mata, itu artinya ia serius.


Linda menggigit bibirnya erat-erat, ia tidak bisa menjawab.


Harus menolak?


Atau harus mengiyakan?


Satu hal yang pasti adalah ... ini bukan tempat yang tepat.


"Diam berarti iya."


Kata Agam dengan suara yang berubah parau, dan saat ini ia telah berhasil membuka seluruh buah baju milik Linda.


Agam menatap keindahan itu dengan nanar, tangannya gemetar saat hendak merabanya, dan ....


'Ding dong.'


'Ding dong.'


Bel berbunyi.


Sontak keduanya terkejut. Linda cepat-cepat menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Agam loncat dari tempat tidur.


Oh! Shit! Damn it!


Umpat Agam dalam hati. Sedikit kesal dan marah.


Tapi, ini memang rumah sakit. Mungkin suster atau dokter akan memeriksa Linda. Bu Ira dan pak Yudha pasti tidak akan berani menekan bel saat pintu terkunci.


Agam bergegas membuka pintu, Linda bersembunyi di bawah selimut.


"GAMA?!" teriak Agam saat pintu sudah terbuka.


Ternyata bukan dokter atau suster.


"Sini kamu!"


Gama kaget saat Agam tiba-tiba menariknya ke dalam namun dengan cara menjewer telinganya.


"Ah ah ah aww, Kak! Sakiiit tahu!"


Linda perlahan mengintip dengan napas yang masih berkejaran.


"Kenapa malam-malam ke sini, hahh? Kamu tidak ada les?!" teriaknya lagi sambil mendorong Gama ke sofa.


"Nanyanya tidak perlu marah-marah kali, Kak. Memangnya aku tidak boleh menjenguk kakak ipar?" kilahnya.


Padahal, Gama malam-malam kesitu karena ingin bertemu lagi dengan suster Nette.


"Sudah Kakak bilang kamu di rumah saja temani paman Yordan." Agam kesal, ia masih menatap tajam pada Gama.


"Kak, Paman dan pak Berli masih di rumah sakit, di rumah tidak ada siapapun! Kenapa bentak-bentak, sih?! Aku tidak suka dibentak, aku tidak melakukan kesalahan."


Akhirnya Gama naik pitam juga, ia berdiri dan mensejajarkan tinggi badannya dengan Agam.


"Huft, cukup Gama, jangan teriak. Ini kamar pasien."


Agam melembut. Ia menepuk halus bahu Gama.


"Begitu dong."


Gama menepis tangan Agam lalu melangkah mendekati Linda yang masih bersembunyi. Namun kepalanya menyembul di balik selimut.


"Kakak ipar sudah baikan?" tanya Gama.


"Su-sudah," cicitnya pelan.


Lalu perlahan Linda keluar dari selimut, namun masih menutupi tubuhnya sampai batas leher.


"Hahaha," Gama terbahak tiba-tiba.


Agam dan Linda saling menatap.


"Rambut Kak Linda kusut, Kak Agam marah-marah, terus Kak Linda bersembunyi di dalam selimut, jangan jangan kalian ---."


"Gama!" sentak Agam.


"M e s u m? Hahaha," lanjut Gama.


Linda kembali masuk ke dalam selimut karena malu, dan Agam segera memiting leher adiknya sambil mengatakan hal yang mengagetkan Gama.


"Kamu belajar dari mana menguntit anak gadis orang, hahh? Siapa yang mengajari kamu pura-pura sakit perut dan terlambat ke sekolah? Bukankah kamu sudah punya pacar?"


"A-pa? Em ... eu ...."


Gama mati kutu.


___


Sudah nyai kasih episode terpanjang 2864 kata. Semoga tidak pusing saat membacanya. Jika berkenan, tolong berikan komentarnya. Komentar terpendekpun boleh, katakan next misalnya, hehehe.


Terima kasih ....