
Agam dan Linda saling menatap. Tubuh Linda sudah terhimpit di antara tubuh Agam dan wastafel, napas Agam tidak lagi stabil, pun dengan Linda.
Serius, bagi Linda, ini sangat membingungkan. Ia menatap mata sendu yang begitu mengiba. Agam sudah melepas kacamatanya, dan pria ini semakin memesona saja.
Tampan sekali, (masyaaAllah). Dalam hal ini Linda tidak bisa mengelak.
"Tu-tunggu ya," kata Linda. Ia berharap suster itu segera pergi dari depan kamarnya.
Agam tesenyum, lalu mengecupi jemari Linda sebelum menuntun tangan indah nan lentik itu untuk menari-menari di sana. Agam menatap gemas pipi Linda yang bersemburat merah. Tangan Linda gemetar saat menelusuri bagian demi bagian dari tubuh Pak Dirut yang sempurna itu.
"S-sayang, tunggu," Agam menahan tangan Linda.
"Saya rasa cukup sekian dan terima kasih," ucap Agam.
"Hah?" Cukup sekian dan terima kasih?
Kalimat itu membingungkan Linda. Apalagi saat Agam menahan tangannya dan memakaikan kembali piyama milik Linda seraya menghela napas.
"Pak ... kenapa? Apa yang salah? Apa ada kalimatku yang melukai hati Pak Agam?" Linda keheranan.
Agam malah tersenyum, lalu mengecup bibir Linda.
"Tidak ada yang salah sayang, sungguh."
"Terus kenapa tidak dilanjutkan? A-aku bisa membantu," kata Linda.
Linda tidak ingin Agam merasa tersisih dan dilupakan karena ia memilih Keivel. Linda takut jika ujung-ujungnya mereka akan bertengkar dan berselisih faham karena Agam menganggap ia tidak mampu menjalankan perannya.
"Sayang, untuk menjadi seorang paren atau momca yang baik, harus dimulai dengan menjadi seorang istri atau suami yang baik pula. Saya ingin menjadi paren yang baik. Saya tidak mau membuat Keivel kecewa." Ia yang sudah terjerat hasrat melepaskan Linda dana berjalan gontai menuju bathup.
"Pak Agam, tunggu. Banyak konflik keluarga muncul karena masalah seperti ini. Aku tidak mau menempatkan Keivel dalam lingkaran konflik yang mungkin saja terjadi di antara kita. Lalu menuduh anak kita sebagai penyebabnya," jelas Linda sembari memeluk punggung polos milik Pak Dirut.
"Pak ... adakalanya kepentingan Keivel tak selalu didahulukan. Aku ingin menghabiskan waktu berdua di kamar mandi ini, be-bersama suamiku, apa itu salah?" Entah apa yang ada dipikiran Linda, wanita itu semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku mau menjadikan Pak Agam sebagai prioritas. A-aku merasa ini baik untuk hubungan kita kedepannnya. I love you."
Rupanya si cantik telah terperangkap oleh pesona Agam Ben Buana. Linda berjinjit, lalu mengecup perlahan punggung Pak Pak Dirut dari mulai tengkuk lanjut ke arah bawah, dengan lembut dan penuh cinta pastinya. Kulit Agam begitu halus, Linda terpukau.
Agam meringis, menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia merasa punggungnya seperti disengat listrik perlahan-lahan dengan tegangan yang pas namun mematikan, hingga tubuhnya kaku dan tak mampu berkutik.
Ahh ... sayang ... kamu sangat gegabah, rutuk Agam dalam benaknya.
"El, cu-cukup sayang, cukup."
Agam berbalik badan, lalu mecekal tangan Linda. Linda terkejut, matanya mengerjap berulang seperti kelilipan.
"Cepat pergi sayang, temui Keivel," titahnya.
"Ta-tapi ... Pak ... a-aku mau berbakti," cicit Linda sambil menunduk.
"El, apa kamu melupakan sesuatu?"
"Ma-maksud Pak Agam?" Linda sungguh tidak mengerti.
Lalu Agam membisiki Linda.
"El, kamu lupa kalau saya ...." Agam masih berbisik.
"Berapa lama durasi rata-rata saat kamu memberi ASI?" tanya Agam sambil menangkup pipi Linda.
"Durasi?" Linda masih berpikir.
"Terus berapa lama durasi saya? Apa kamu masih ingat?" bisik Agam.
Deg, Linda tersadar.
"Oiya, ya. A-aku baru ingat," kata Linda.
Dengan gugup, Linda akhirnya bergegas meninggalkan Agam setelah merapikan piyamanya. Linda menyesali kelalaiannya, bisa-bisanya ia melupakan poin itu. Tidak mungkin kan ia membiarkan Keivel terlalu menunggu lama?
Ya ampun, malu sekali, aku tadi menggodanya. Kalimatku juga berlebihan. Bagaimana kalau pak Agam tidak suka?
.
.
.
.
"Keivel?"
Setiba di kamar putranya, Linda terkejut. Ia panik melihat Keivel menangis kencang. Tangisan ini tidak seperti biasanya.
"Maaf Bu, Keivel tadinya tidak nangis, hanya tidak mau minum susu botol saja, tapi saat dipangku sama asisten yang baru itu, Keivel tiba-tiba nangis," terang dokter Rita.
"Asisten rumah tangga baru? Maksudmu Yuli?" tanya Linda.
"Iya Bu, dari sebelum Subuh dia ke sini, mengetuk kamar Keivel, saya kira Bu Linda, jadi saya bukakan pintu. Katanya rindu sama Keivel, sebelum memasak mau lihat Keivel dulu."
"Oh begitu? Mungkin karena Keivel belum mengenalnya." Linda memangku Keivel, lalu membawanya keluar.
"Mau diberi ASI di mana?" Dokter Rita menguntit.
"Hehehe, di kamarku saja, Dok. Pak Agam kan pulang," terang Linda. Dan tentu saja membuat para suster terkejut.
"Apa?! Pantas saja semalam ada riwayat panggilan dari pak Agam, tapi tidak sempat saya angkat," dokter Rita sedikit panik.
"Tidak apa-apa, Dok. Tenang saja," Linda tersenyum, ia tahu jika dokter Rita ketakutan.
"Bu Linda tunggu," dokter Rita memegang tangan Linda.
"Kenapa Dok?"
"Apa Anda yakin yang pulang itu Pak Agam?"
"Hahaha, lelucon apa itu, Dok? Ya yakinlah."
Linda geleng-geleng kepala sambil sesekali menatap Alf yang saat ini sudah tenang. Bayi itu terlihat nyaman berada di pangkuan momcanya. Padahal belum diberi ASI.
"Saya becanda, Bu LB, hahaha," dokter Rita tergelak sambil melambaikan tangan saat Linda memasuki kamarnya.
"Ayo, jangan ada yang masuk ke kamar LB tanpa ada perintah," kata dokter Rita pada suster.
Setibanya di kamar, Linda melihat suaminya masuk ke ruang ganti. Linda memberi ASI sambil menunggu Agam melaksanakan shalat Subuh.
Setelah melaksanakan kewajibannya, Agam menghampiri Linda. Segera mendaratkan banyak ciuman untuk bayi Alf.
Agam menciumi pipi, kening dan tangan bayi Alf berulang-ulang. Mencium anak atau saudara yang masih kecil sebagai tanda sayang, hukumnya memang sunnah. Baik anak kecil laki-laki maupun anak kecil perempuan.
Ya, seorang ayah atau lainnya baik yang termasuk mahram atau bukan, saat mencium seorang anak kecil tentu saja HARUS karena kasih sayang, bukan karena *****, demikian pula dengan merangkul ataupun memeluk seorang anak kecil.
Adapun dari sisi medis, mencium anak kecil ada aturannya. Terutama untuk bayi baru lahir. Pada bayi baru lahir, imunitas yang dimiliki masih belum matang. Mereka rentan terserang penyakit.
Jadi, baiknya adalah ... senantiasa mencuci tangan sebelum menyentuh bayi, membatasi menyentuh atau menciumnya, dan cukup mencium area di sekitar kaki bayi saja demi menjaga kesehatan sang bayi.
"Sekarang giliran momcanya," kata Agam.
"Gi-giliran apa?" Linda sedikit bingung.
"I wana kiss you," bisik Agam.
Lalu Agam memagut Linda tanpa permisi lagi. Linda refleks menghalangi mata bayi Alf agar putranya itu tidak mengintip sindrom kebucinan mereka.
Aroma mint itu menjerat Linda, kembali mengobrak-abrik pertahanannya. Linda terlena, Pak Dirut menggila. Serius, gaya Pak Dirut nakal sekal sekali, dan Linda terlihat mulai terbiasa.
Lalu ada yang mengetuk pintu, Linda spontan mendorong dada Agam.
"Pak, pi-pintunya," kata Linda.
"Haish, siapa sih? Jam lima juga belum," rutuk Agam. Tapi beranjak jua membuka pintu.
"Kamu? Ada apa?" tanya Agam.
"Yuli?" Lindapun terkejut.
"Sa-saya mau mengepel kamar, Bu, Pak," sambil menunduk sopan.
"Oh, silahkan," kata Linda.
"Tidak, tidak sekarang," tolak Agam.
"Pak Agam, kenapa? Yuli pekerja baru di rumah ini." Linda memperkenalkan.
"Sini kain pelnya, biar saya yang mengepel." Agam merebut seperangkat alat pel dari Yuli. Lalu menutup pintu kamar.
"Pak, kenapa sih?" Linda jelas heran.
"Saya sedang pesan mesin pel otomatis tapi belum datang, kedepannya dia tidak perlu mengepel lagi" katanya.
"Ya, Pak. Aku tahu, terus selagi menunggu mesin-mesin itu, apa salahnya kalau dia mengepel?"
"Sayang, saya mau dia diganti."
Agam duduk di sisi Linda. Dilihatnya Alf sudah terlelap, tapi bibirnya masih melekat di sana.
Agam menghela napas, meraih dagu Linda, lalu mengatakan alasannya.
"Semalam, saya sudah bertemu dia, di berani memakai baju tidur yang sangat terbuka di depan saya. Maksudnya apa coba?" jelasnya.
"Apa? Hahaha," Linda malah tertawa.
"Sayang, kok malah tertawa?"
"Aku tertawa karena mendengar alasan Pak Agam. Setelah aku shalat Subuh, nanti kita bicara. Aku mau mengantar Keivel dulu ke kamarnya."
"Oke," jawab Agam.
Dia serius kali, mau bicara apa kira-kira ya? Agam berpikir.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Linda lumayan lama berada di kamar Alf. Ternyata, Linda melaksanakan shalat Subuh berjamaah di kamar Alf bersama suster. Agam mendapatakan informasi itu dari dokter Fatimah.
Hanya ditinggal sejenak, Agam sudah gelisah. Mondar-mandir di dalam kamar seperti naga kepanasan.
"El, lama sekali sih, kamu," gumamnya sambil menunggu Linda di depan pintu kamar.
'Tok, tok, tok.' Pintu kamarnya diketuk.
"Linda," Agam sumringah segera membuka pintu dengan antusiasnya.
"K-kkamu?" Hampir saja Agam memeluk sosok itu, untung saja ia sadar jika itu bukan Linda.
Sosok yang di depan pintu membelalak, melihat rambut Pak Dirut yang basah, air liurnya hampir terjatuh. Gila, wanita ini benar-benar benalu.
"Ada apa lagi?!" teriak Agam. Ia kesal, sangat sadar jika wanita tak tahu diri itu sedang mencari perhatiannya.
"Mm-maaf Pak, saya hanya mau memberitahu kalau sarapan untuk Anda dan Bu LB sudah siap," jelasnya.
"Baik, sudah selesai kan? Silahkan pergi," usir Agam.
"Ya, Pak, permisi." Ia berbalik badan, dan entah kenapa kakinya mendadak tersandung, hingga terpuruk di lantai.
"Aduh ...," rintihnya. Agam tidak merespon, tidak peduli, ia segera menutup pintu kamar, tapi ....
"Kamu tidak apa-apa, kan?" Terdengar suara Linda.
Agam tidak jadi menutup pintu, saat berbalik, Agam melihat Linda sedang membantu membangunkan Yuli.
"Terima kasih, Bu LB. Sa-saya tadi kram," jelasnya.
"Lain kali lebih hati-hati ya, kalau lelah, kamu istirahat saja," kata Linda.
"Ck ck ck."
Sudut bibir Pak Dirut yang merah alami itu terangkat ke atas. Sungguh, ia sudah kenyang memakan asam garam gaya dan trik ala-ala wanita penggoda dari semenjak bekerja sebagai sekretaris HGC.
"Sayang, kamu sudah membuat saya menunggu lama."
Agam menarik Linda dalam dekapannya. Dan tanpa ampun segera menyambar bibir Linda. Yuli tentu saja melihat adegan itu. Tangan ART itu mengepal, entah apa yang ia pikirkan.
Linda berontak, pikirnya Agam sudah melampaui batas. Linda malu, Yuli masih berdiri di dekatanya. Tapi, kekuatan Pak Dirut jangan ditanya. Tuan Deanka saja kalah telak, apalagi Linda.
"HMPH ... MMHH ...."
Lenguhan Linda terdengar e r o t i s. Agam nenekan tubuh Linda ke dinding, sambil mencekal tangan Linda di sisi kepalanya.
Dengan sudut matanya, Agam melihat Yuli pergi, barulah ia melembutkan aksinya, lalu menarik Linda ke pangkuan tanpa ada niatan melepaskan pertautan itu. Linda kewalahan, bibirnya terasa kebas. Hanya bisa pasrah dan melilitkan kedua kakinya di pinggang Agam agar tidak terjatuh.
Posisi ini begitu nyaman bagi Linda, tapi tidak bagi Pak Dirut, lagi tubuh Agam bereaksi.
Apakah kali ini Agam Ben Buana mampu menahan hasratnya? Semoga saja.
Tapi ... saat ia membaringkan Linda dan melepas jalinan itu, Agam berbisik ....
"Se-serius sayang ... saya tidak bisa menunggu lagi, malam ini kita ke hotel ya, kita akan pergi tanpa Keivel. Hanya kita berdua saja. Mau ya?" Menatap Linda, mengiba, memelas, bak seorang pengemis cinta.
Linda tidak menjawab, tapi ... kepalanya menggangguk.
Kepala bodoh, kenapa mengangguk sih? Aku kan belum siap. Linda sedikit menyesal.
"Terima kasih, sayang."
Agam sangat bersyukur, mengecup puncak kepala Linda, lalu mencium tangannya. Linda lemas. Serius, masih tidak percanya dengan keputusannya. Kenapa ia menyetujuinya? Pak Dirut itu gagah perkasa, apa ia bisa mengimbanginya?
Linda sedikit ragu, tapi ... melihat ketampanan yang paripurna itu, sisi hormonal, biologis, dan manusiawinya bergejolak hebat. Di lubuk hatinya yang terdalam, ia ternyata begitu memujanya dan merindukannya.
"Sama-sama," ucap Linda, sambil membelai rambut Agam.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
"Kenapa, Pak?"
Di ruang makan, Linda mengusap tangan suaminya. Entah kenapa, Linda merasa Agam tidak berselera makan.
"Jujur sayang, saya lebih suka masakan ibu kamu, ini terlalu gurih," keluhnya.
"Maaf ya Pak, harusnya aku yang masak untuk Bapak."
"Hehehe, sayang ... melakukan pekerjaan rumah, seperti mencuci, memasak, menyapu, dan lain sebagainya, bukanlah kewajiban kamu. Kewajiban kamu itu, taat pada saya, bisa menyenangkan saya, menjaga nama baik saya, bisa meredakan amarah saya, dan emm ... mahir melayani saya di atas ranjang," jelasnya.
"Apa?!"
Linda tersenyum-tersenyum, poin terahkir membuatnya berdesir.
Lalu Ayah Berli datang, Linda mencubit paha Agam agar suaminya itu tidak berbicara yang aneh-aneh.
"Sarapan, Ayah," sapa Agam. Berdiri menyambut ayah mertuanya.
"Ayah sudah sarapan dari tadi," jawab Ayah Berli.
"Oiya Dirut, ini destinasi wisata dan hotel terbaik di Pulau Jauh, Dirut tinggal pilih saja."
Ayah Berli menyerahkan lembar balik pada Agam. Sebenarnya, destinasi itu bisa dicari di mesin pencarian, tapi jaringan di Pulau Jauh terkadang tidak stabil.
"Wah, terima kasih, Ayah," Agam meraihnya.
"A-Ayah sudah tahu kalau ki-kita ma ---." Linda gugup.
"Tahulah, tadi Pak Dirut kirim pesan pada Ibu dan Ayah," timpal Bu Ana yang baru tiba dari arah dapur.
Linda kikuk, tapi juga bahagia karena merasa ayah dan ibunya semakin dekat dengan Agam.
"Terima kasih atas izinnya Ayah, Ibu."
Agam menunduk, tersipu juga, lalu memainkan sumpit agar tidak gugup menggunakan teknik middle sround harmonic level tinggi. Terlihat keren, hingga menjadi pusat perhatian Ayah Berli, Bu Ana, Linda dan Yuli yang berada di pojok dapur.
Dan saat Agam selesai, Ayah Berli spontan tepuk tangan. Pun dengan Linda dan Bu Ana. Yuli diam saja.
"Jangan lupa pakai pengaman. Hehehe, Keivel masih kecil, kamu juga kan operasi, harus ada jarak dulu untuk kehamilan berikutnya." Bu Ana memberi nasihat sambil mengulum senyum.
Linda semakin malu saja, ia tidak menyangka kalau Agam akan meminta izin pada kedua orang tuanya untuk masalah seintim ini.
"Mau berangkat kapan?" tanya Ayah Berli.
"Rencananya habis Dzuhur, Yah," jawab Agam.
"Ya sudah, Ibu bekali manisan kering dan kacang almond kesukaan kamu ya, Nak. Jangan lupa bawa seperangkat pumping dan box ice-nya," sela Bu Ana.
"Ya, Bu. Pasti," kata Linda.
"Apa perlu ada yang menemani? Nanti Ayah carikan supir, atau sama Hikam saja?"
"Tidak, Ayah. Hanya saya dan Linda saja," kata Agam.
"Ya Ayah, kalau Pak Agam lelah, aku juga kan bisa mengemudi," kata Linda.
Linda dan Agam bahagia. Di kolong meja, tangan mereka saling menggenggam.
Beruntung sekali hidup kamu, LB. Batin Yuli.
...~Tbc~...