
Buana's VOP
Aku menangis dalam diamku, walau air mataku ini tidak berurai, tapi ... di dalam dadaku ... aku sangat-sangat terluka.
Aku memeluk hampa, aku dirundung dosa, batinku terkoyak nestapa.
Semua harapan untuk memperbaiki semuanya kandaslah sudah. Padahal, besok seharusnya aku pergi ke Pulau Jauh untuk meminta restu pada ayah dan ibunya. Aku memeluk lututku sambil memegang pistol. Rasanya ingin kuledakan kepalaku detik ini juga, tapi ... aku ingat pada-Mu.
Benar kata orang-orang jika kebanyakan orang yang bunuh diri itu alasannya karena urusan cinta, keluarga dan ekonomi. Jika itu terjadi padaku, motifku adalah cinta.
Banyak orang yang melakukan tindakan tersebut karena menganggap jika bunuh diri adalah jalan terbaik untuk melepaskan semua beban hidup yang tengah didera.
Namun dalam agamaku, bunuh diri merupakan tindakan terlarang yang sangat dibenci oleh-Nya. Ancaman dosanya pun tidak tanggung-tanggung dan begitu merugikan pelakunya. Pelaku bunuh diri akan kekal mendekam di neraka jahanam, selamanya.
Jadi ... bunuh diri dengan alasan apapun adalah haram, titik. Aku menyadari akan hal itu. Akhirnya kumasukkan kembali pistolku ke dalam tas.
.
.
.
"Linda .... kenapa nasib percintaan kita seperti ini? Ini terlalu menyakitkan."
Bagiku, Linda Berliana adalah cinta pertamaku, sebelumnya aku tidak menyatakan cinta pada siapapun.
Ya, sewaktu sekolah dan kuliah aku memang pernah dekat dengan beberapa wanita, tapi ... aku hanya menganggap mereka sebagai teman.
Beberapa gadis pernah salah mengartikan kebaikanku. Mereka menganggap aku menyukainya hanya karena aku baik, padahal ... aku hanya menganggap mereka sebagai teman.
Aku pernah dihajar habis-habisan sampai masuk rumah sakit oleh sekelompok pria karena dituduh sebagai play boy yang sering mempermainkan perasaan wanita.
Sejak saat itulah aku tidak pernah lagi mendekati wanita, dan selalu bersikap dingin saat bertemu mereka. Aku takut kebaikanku disalah artikan lagi.
Kenapa aku tidak pernah menyatakan cinta? Alasanku saat itu adalah ... aku ingin menemukan gadis yang cuek terhadapku atau biasa saja saat bertemu denganku. Tapi ... tidak jua aku temukan.
Semua wanita yang melihatku langsung tersenyum ramah, padahal baru juga bersitatap untuk pertama kalinya. Setelah itu, mereka akan cari perhatian dengan mendekatiku, menanyakan nomor ponsel, memberiku hadiah-hadiah, bahkan ada juga yang sampai datang ke rumahku bersama orang tuanya.
Kenapa ya?
Aku tidak faham kenapa mereka seperti itu. Setelah aku bekerja di HGC dan fitnah itu menyebar ke publik, anehnya para wanita tetap mendekat dan sering menggodaku.
Aku kira mereka tidak akan menyukaiku setelah berita yang mengatakan aku sebagai penyuka sesama jenis tersebar ke khalayak. Pada akhirnya aku tahu jika mereka berusaha mendekatiku karena alasan uang.
Hingga pada suatu hari aku benar-benar menemukan wanita yang menatapku tidak suka. Wanita itu tidak munafik dengan berpura-pura baik, tidak cari perhatian, tidak genit, dan tidak sok cantik. Linda Berliana.
Saat pertama kalinya bersitatap, dia sudah menunjukkan kebenciannya padaku. Tak ku sangka jika dia adalah wanita yang akan mengambil semua hal dariku, hatiku, dan kesucianku. Dia adalah satu-satunya wanita yang mampu membuatku meneteskan air mata selain ibuku.
"Linda Beliana ...."
Aku mengintip di balik tirai mobil, kulihat hujan sudah mereda, kabut sudah menghilang, petir telah pergi, dan angin lebat telah berlalu. Jalur tol ini masih lenggang, namun sudah ada satu dua kendaraan yang melintas dengan kecepatan tinggi.
.
.
.
Jam di tanganku menunujukkan pukul 03.14 dini hari. Kembali kupeluk kakiku sambil memainkan ponsel miliknya yang masih dalam keadaan non aktif.
Apa kalian ingin tahu apa yang terjadi padaku dan Linda sebelumnya?
Apa harus kuceritakan pada kalian?
Lalu, kalian yang aku maksud itu siapa?
Selain pada Tuhanku, pada siapa lagi aku mengatakan kepedihan ini?
Atau ... aku endapkan dan lupakan saja kejadian tadi di dasar hatiku yang terdalam tanpa mengatakannya pada siapapun.
Tapi ... aku tidak bisa, aku tidak bisa melupakan bagaimana tadi dia mencium bibirku sambil menangis, dan menciumi seluruh wajahku sambil berurai air mata.
"Aku pasti akan merindukan mata ini, hidung, pipi, alis, telinga dan bibir ini."
Itu yang dia katakan saat menciumi wajahku. Aku diam saja, aku tidak sanggup mengatakan apapun, karena yang akan dia bahas adalah tentang perpisahan.
Lalu dia membelai rambutku, sementara aku terus menatapnya dan memeluk tubunya erat-erat. Wajahnya memerah karena terus menangis, matanya sembab, dan dia ... dia tetap cantik dalam keadaan apapun.
"Apa yang harus saya lakukan, agar kamu tidak menangis lagi, Linda?"
Aku bertanya sambil mengelus kulit punggungnya yang sehalus sutra. Saat itu, dia membiarkan aku menyentuh perut dan punggunggnya.
"Pak Agam, jika Pak Agam mencintaiku, tolong biarkan aku pergi, aku ingin hidup dengan caraku sendiri, tanpa membebani siapapun, tanpa mengganggu Pak Agam, apalagi sampai mengganggu kestabilan saham HGC." Sambil terus membelai rambutku.
"Linda, kenapa kamu mengatakan hal seperti itu? Saya tidak merasa terbebani. Katakan, siapa orang yang telah menyakiti perasaanmu? HGC tidak ada urusan dengan kamu. Apa saya tidak pantas mencintai kamu? Apa saya terlalu hina? Apa tidak layak jika saya ingin menjadi papa dari bayi yang kamu kandung? Toh, dia adalah anak saya. Apa kamu tidak bisa memaafkan saya gara-gara kematian pamanmu?"
"Sssttt ...."
Dia malah menempelkan jari telunjuknya di bibirku, lalu kembali mencium bibirku.
Sebenarnya dia hanya mengecup saja, tapi ... responkulah yang berlebihan. Aku langsung mengekplorasi bibirnya sesukaku sampai titik-titik terdalam yang bisa aku raih. Sampai dia kehabisan napas, sampai dia merintih-rintih, dan menjambak rambutku. Aku baru bisa berhenti setelah dia menggigitku.
"Maaf ...." Kataku.
Tapi dia tidak marah, malah menangis lagi di dadaku.
"Orang yang telah menyakitiku adalah diriku sendiri, Pak Agam layak untuk dicintai, Bapak tidak hina. Bapak adalah papa dari anakku, itu takdir. Aku telah memaafkan semua hal yang telah dilakukan Pak Agam padaku."
"Lalu apa masalahnya Linda? Kenapa kamu ingin kita berpisah? Kenapa, hahhh?" Aku menggerak-gerakan bahunya.
"Itu karena ... aku selalu merasa bersalah saat ingin melanjutkan kebersamaan dengan Pak Agam, aku merasa bersalah pada ibu, ayahku, pamanku dan juga pada diriku sendiri. Pak Agam ..., tolong beri aku kesempatan untuk menata hati dan jalan hidupku sendiri."
"Aku akan merenungi kesalahanku dengan caraku. Pak Agam ... aku lelah hidup seperti ini, bersembunyi dari orang-orang, menyembunyikan kehamilanku, dijauhi oleh keluargaku, lalu berpura-pura bahagia dihadapan para fansku."
"Linda, maka dari itu ... mari hiduplah bersama saya ... saya akan membahagiakan kamu."
Aku mengecupi setiap tetes airmatanya yang jatuh. Aku bahkan mengecupi kembali lehernya penuh kasih-sayang, aku ingin membuktikan bahwa aku sangat mencintainya. Aku juga meraba bagian tubuhnya yang aku rindukan, awalnya dia tidak menolak, tapi ... selanjutnya dia menepis tanganku.
"Saya bisa membahagiakanmu, Linda ...."
Lagi-lagi aku berusaha meyakinkannya, aku bangun, aku mengurung tubuhnya, lalu kubuka perlahan gaun bagian atasnya.
"Pak Agam ...tolong jangan seperti ini." Dia menahan tanganku.
"Linda saya mau mencium calon anak saya." Sanggahku dengan sedikit ketegasan.
Dia akhirnya pasrah saat aku mengecupi bagian perutnya. Rasanya begitu nyaman, wangi, lembut dan ... dan aku hampir saja kehilangan kendali. Namun Linda segera menyadarkanku dengan cara menamparku kuat-kuat.
"Maaf ...." Aku kembali memeluknya.
"Saya bisa membahagiakanmu, Linda ...." Kalimat itu kembali terucap.
"Bagaimana aku bisa bahagia jika saat menatap Bapak, hatiku terasa sakit."
"Apa?!" Aku terkejut.
"Saat melihat Bapak, aku tiba-tiba teringat bagaimana ayah dan ibuku membenciku, bagaimana artis Ririn, dokter Cepy, bu Fanny menghinaku, bagaimana tuan Yohan mengancamku, dan aku mengingat tatapan semua orang yang meremehkanku."
Aku langsung bangun, sesakit itukah perasaannya?
"Dan aku juga mengingat pamanku. Maafkan aku Pak Agam ... aku janji tidak akan mengatakan apapun pada polisi. Dengan keberadaanku, Pak Agam juga merasa tidak tenang, kan? Keberadaanku di sisi Pak Agam sering membuat Pak Agam tidak konsentrasi dalam bekerja. Sedangkan keberadaan Pak Agam untuk perusahaan sangatlah penting."
"Percayalah padaku, Pak. Aku janji bisa menjaga diriku dan bayi kita. Aku akan menjaganya dengan nyawaku. Pak Agam bekerjalah dengan benar, perjuangkan apa yang ingin Bapak perjuangkan untuk kesejahteraan orang banyak."
"Kamu tega sekali Linda, apa kamu akan menikah dengan pria lain, hahh?"
Aku marah, aku kesal, aku menggigit kembali lehernya. Tapi dia sama sekali tidak menjerit apalagi marah. Dia hanya menggigit bibirnya.
"Tidak, aku tidak akan menikah dengan siapapun."
"Kecuali dengan saya?" desakku.
Tapi dia tidak menjawab. Malah menangis lagi di dadaku.
"Apa kamu akan ke luar negeri? Bagaimana kalau saya sangat merindukan kamu, Linda? Tolong jangan meninggalkan saya ke luar negeri. Jikapun kamu ingin mengambil jalan hidupmu sendiri, setidaknya ... tolong beri saya kesempatan untuk bisa melihatmu, walaupun saya tidak bisa menyentuhmu."
Aku meratap, aku mengiba, aku menatapnya, aku menciumi lagi tangannya. Aku ... aku mengemis cinta dan belas-kasihnya.
"Pak Agam .... Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Bagiku, bagaimanapun senangnya hidup di negeri orang, masih lebih senang hidup di negeri sendiri."
"Pribahasa itu bisa aku terima setelah aku tahu bagaimana Pak Agam berjuang mati-matian untuk menjaga HGC dari campur tangan asing. Sama halnya dengan Pak Agam, walaupun mungkin sulit, aku juga akan berjuang di negeriku sendiri."
Aku terharu mendengar ucapannya.
"Linda ... izinkan saya menafkahi kamu, biar bagaimanapun kamu itu mengandung anak saya."
Saat itu aku langsung meraih tas untuk memberikan kartu tanpa batas padanya. Tapi apa yang dia katakan?
"Pak Agam, untuk sementara, aku merasa belum membutuhkan uang itu, aku ikhlas mencintai Pak Agam. Aku ikhlas menjaga buah cinta kita, walaupun tanpa bantuan Bapak, aku merasa mampu. Lagipula HGC telah mengontrakku satu miliar per tahun, uang itu sudah cukup, Pak."
"Dan aku bisa dikontrak juga kan gara-gara Pak Agam. Anggap saja Pak Agam telah memberikan nafkah padaku melalui iklan itu."
Aku tidak bisa berkata-kata lagi, hanya bisa memeluknya dan mengatakan sebuah hal gila secara spontan.
"Baiklah jika itu maumu, pergilah. Semoga kamu bahagia. Tapi ... sebelum kita berpisah, bisakah kita melakukannya? Saya merindukannya, berikan saya kenikmatan itu lagi. Linda ... kumohooon." Bisikku.
Ya, saat itu aku memang sudah gila, aku pria yang hilang akal dan minim iman.
"A-apa? Kenikmatan apa?"
Dia sangat terkejut.
"Tubuhmu Linda ..., dan saya juga akan memberikan hal yang sama. Saya akan memberimu kenikmatan. Mau ya ...?"
Aku sudah di luar batas. Setan dan nafsu telah merasuki dan mengusai tubuhku.
"A-apa? Jadi ... sebatas itukah Pak Agam mencintaiku? Sebatas nafsu? Baik, ayo lakukan sesukamu, tapi setelah ini ... Pak Agam jangan berharap bisa melihatku lagi, mari kita saling melupakan, anggap kalau kita tidak pernah saling mengenal."
Dia mendorong dadaku, lalu memeluk lututnya dan menangis lagi. Tangisannya lebih kencang dari sebelumnya.
Aku terhenyak, aku meremas kepalaku. Aku sangat menyesal dan merasa bersalah.
"Linda, maafkan saya ... saya menyesal. Saya tidak akan meminta itu lagi sebelum kita sah dalam ikatan pernikahan."
Aku menarik tubuhnya, aku merebahkan kepalanya di lenganku.
"Aku hanya ingin tidur sambil memelukmu dan memegang perutmu, apa boleh?"
Linda tidak menjawab, tapi kepalanya mengangguk. Dia juga memelukku erat. Dan beberapa saat kemudian, dia terlelap jua dalam dekapanku. Mungkin lelah karena menangis terus-menerus.
Aku menatapnya berlama-lama, aku menelusuri wajahnya, dan membelai rambutnya saat dia tertidur. Kantukpun datang, dan akupun tertidur seraya mendekapnya.
.
.
.
Dan saat aku membuka mata lagi, Linda telah pergi, yang kupeluk bukan Linda, tapi kemejaku. Aku berteriak memanggil namanya dan mencarinya ke kolong kursi, tempat yang sebenarnya tidak mungkin bisa digunakan untuk bersembunyi.
Dia meninggalkan ponsel pemberianku. Dia meninggalkan kerinduan dan menorehkan luka di hatiku.
Kini ... di dalam mobil ini ... aku hanya sendiri, tanpa dia.
Lalu kunyalakan ponselku untuk mencoba menghubunginya melalui nomor pemberian Yohan. Namun tiba-tiba sebuah artikel melintas di berandaku. Berjudul ....
"Fakta Teranyar Tentang Artis Pendatang Baru, LB. Nomor 1 Sampai 3 Biasa Saja, Nomor 4 dan Nomor 5 Sangat Mencengangkan, Nomor 6 Membuat Kita Geleng-geleng Kepala."
Aku menghela napas dalam. Aku berjanji akan melindunginya dengan cara apapun tanpa dia ketahui.
Walau tidak bisa menyentuhnya, setidaknya ... aku bisa melihatnya.
❤❤ Bersambung ....