
"Kamu diberi izin oleh BRN berapa lama? tanya Freissya. Kepalanya bersandar pada bahu Gama, sementara tangan Gama terlihat melingkar di pinggang ramping milik Freissya.
"Sampai jam 10 malam, lumayan lama, kan? Tapi ini sebenarnya tak cukup untuk berkencan. Aku maunya sebulan, hahaha," katanya.
"Sebulan? Tak sekalian saja kamu mengundurkan diri jadi anggota BRN!"
"Kontrak kerjaku sepuluh tahun, belum bisa mengundurkan diri, Ice." Tangan Gama yang di pinggang Freissya mulai merambah ke bagian lain.
"Val! Kamu gila ya?! Ini di dalam mobil, bagaimana kalau mereka melihat," bisik Freissya. Matanya melirik ke arah pengemudi dan pendampingnya.
"Aku tak kuat Ice, mau meraba. Sebentar saja, boleh ya?" Entahlah bagian apa yang ingin diraba oleh Gama.
"Isshh, aku tidak mau!" tolak Freissya sambil begeser dan menjauh dari Gama.
"Ya sudah, kalau tidak mau aku akan tidur di pangkuan kamu.
Lalu Gama merebahkan kepalanya di pangkuan Freissya. Kakinya ditekuk. Kali ini, Freissya tak menolak. Ia lantas membelai rambut Gama. Lalu mencari-cari sesuatu.
"Hmm, enak sekali, aku jadi ngantuk. Terus telisik ya Ice sampai kita sampai ke villa."
"Tak seru tahu, Val. Kulit kepala dan rambut kamu bersih. Kalau ada kutu, ketombe, atau uban menelisiknya lebih asyik," ungkap Freissya.
"Hahaha, aku pria tampan yang sangat menjaga kebersihan dan penampilan, Ice. Mana ada ketombe atau kutu di kepalaku. Apa lagi uban. Aku masih muda, baby," sambil mencubit gemas dagu Freissya.
"Kamu bilang apa tadi? Baby? Maaf ya Val, aku tak suka dengan panggilan itu."
"Lho kenapa? Padahal panggilan itu sangat sesuai dengan wajah kamu yang lucu, cantik, dan imut seperti bayi," kata Gama sambil mengulum senyumnya.
"Pokoknya aku tak suka, terdengar menggelikan," sambil bergidik.
"Panggil Ice saja," tambahnya.
"Oke, nanti aku cari panggilan yang lain. Hmm, apa ya?" katanya. Kemudian Gama memejamkan mata dan tertidur.
...***...
Tak terasa, villa yang dituju telah tampak di depan mata. Freissya mengangkat pelan kepala Gama.
"Val, sudah sampai. Pahaku pegal tahu," keluh Freissya.
"Maaf ya," jawab Gama singkat.
Setelah turun dari mobil dan berada di area parkiran, Freissya mematung.
"Kenapa? Kok bengong?" tanya Gama.
"Val, ini di parkirannya 'kok banyak mobil 'sih? Mobil yang hitam itu perasaan sangat mirip dengan mobilnya pak Agam. Sayangnya aku tak hafal nomor polisinya. Bukan 'kah ini villa pribadi pak Vano? Kok ramai ya?" Freissya keheranan.
"Tak perlu dipikirkan, Ice. Kita masuk saja yuk!" ajak Gama.
Kemudian ia menuntun tangan Freissya menuju ke dalam villa. Walaupun merasa aneh dengan suasana villa, Freissya tetap patuh.
Di dalam villa, Freissya terkejut luar biasa. Matanya membelalak. Ia menutup bibir mungilnya karena teramat kaget.
"Mama?! Bapak?!" pekiknya. Lalu mengucek matanya berulang kali karena merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Kamu terkejut?" Gama malah tersenyum bahagia.
"Kenapa bapak dan mamaku ada di sini, Val?"
Freissya segera menghampiri orang tuanya seraya menunduk. Sebab di antara orang tuanya, ada orang lain juga. Mereka adalah Agam, Linda, bu Nadia dan pak Yudha. Gamapun melangkah mendekati bu Nadia dan Agam. Lalu bersalaman dengan semua orang yang berada di ruangan tersebut.
"Silahkan duduk," kata Agam. Tangannya dan tangan Linda terlihat saling menggenggam. Di ruangan ini tidak ada Keivel. Sepertinya, Keivel tak diikut sertakan.
"A-ada apa ini? Sungguh, aku tak menyangka kalau orang tuaku bisa berada di sini." Freissya menggulirkan pandangan pada mama dan bapaknya.
"Frei, Mama dan Bapak berada di tempat ini karena ada urusan penting. Kami baru saja membahas dan menyelesaikan masalah kesalahfahaman yang terjadi di masa lalu," terang bapaknya Freissya. Nama bapaknya Freissya belum diketahui.
"A-apa?! Ja-jadi sekarang bagaimana? Apa Mama dan Bapak masih menganggap Pak Agam dan keluarganya sebagai musuh bebuyutan? Atau ... a-apa kalian sudah berdamai?" Mata Freissya berkaca-kaca saat melontarkan pertanyaan itu.
"Saya dan orang tua kamu sudah berdamai. Lahan gusuran yang dulu sempat mengalami sengketa dan dimenangkan oleh keluarga Haiden, dua hari yang lalu telah saya beli. Kedepannya, jika sertifikat hak miliknya sudah selesai, pengelolaan lahan tersebut akan saya serahkan sepenuhnya pada warga yang dulu merasa dirugikan," jelas Agam.
"Jadi ... Bapak dan Mama sudah sadar kalau dendam di masa lalu itu adalah sebuah kesalahan? Pak Agam tidak salah, apa Bapak dan Mama sudah tahu?" tanya Freissya dengan suara lirih. Bapak dan mamanya mengangguk seraya menunduk.
"Semua masalah antara Pak Agam dan keluargamu sudah selesai suster Ice. Ice, Bapak dan Ibu tak perlu canggung ataupun merasa bersalah lagi. Bagaimana kalau kita lanjut ke acara yang membuat kita bahagia saja?" komentar Linda.
"Nak Linda benar," sahut bu Nadia yang saat ini sedang menyuapi Gama. Hubungan Gama, bu Nadi, dan Agam sudah kembali harmonis. Jadi, Gama telah berubah kembali menjadi pria manja dan sedikit mengesalkan saat ia berada di sisi Agam ataunpun ibundanya.
"Memangnya mau ada acara apa?" tanya Freissya.
"Kami berencana menikahkan kamu dan Gama," kata Linda sambil tersenyum lebar.
"APA?!" teriak Freissya. Serempak dengan suara teriakan Gama.
"WHATS?!" pekik Gama. Kudapan yang berada di mulutnya sampai tersembur keluar saking kagetnya.
"Uhhuuk uhhuk."
Gama lanjut terbatuk-batuk. Bu Nadia sigap menyodorkan air minum. Freissya mematung bingung. Apa yang dikatakan Linda terdengar bak petir di siang bolong.
"Gama, kami serius. Kamu dan Ice jangan menganggap kalau ini hanya sebagai lelucon," tegas Agam.
Ya, sebagai kakak kandungnya, pak Dirut jelas menjadi bagian dari orang yang paling bertanggung jawab atas masa depan Gama. Termasuk masa depannya dalam hal berumah tangga.
"Kakak tidak serius, kan? Ya, aku memang sangat mencintai Ice, tapi aku tak mungkin menikah secepat ini, Kak. Pertama, aku masih muda. Kedua, peraturan di BRN untuk masalah pernikahan sangat ketat dan rumit. Kakak tahu 'kan sebagaimana rumitnya?" Gama melontarkan argumennya.
"Gama, dengar ya. Ini bukan masalah dewasa atau tidaknya, bukan pula masalah BRN dan segunung peraturannya. Tapi ini tentang moralitas dan etika kamu sebagai manusia. Sekarang, jujur pada Kakak. Apa saat kamu bertemu dengan Ice hanya bersalaman lalu pergi?"
"Maksud, Kakak?"
"Maaf, apa kamu yakin tak pernah menyentuh suster Ice?"
"Tak yakin 'lah, Kak." Gama spontan menjawab demikian.
"Hahaha." Disambut tawa Linda. Freissya langsung menunduk malu.
'Peletak.' Kening Gama tiba-tiba dijitak kuat oleh bu Nadia sampai membekas merah.
"Aduh Bu. Sakit, tahu." Gama mengaduh.
"Kamu tahu 'kan kalau berpegangan tangan saja tak boleh? Sekarang kamu ingat-ingat lagi! Hal apa saja yang sudah kamu lakukan pada suster Ice, hahh?!" bentak bu Nadia.
"Ba-banyak hal," jawab Gama singkat dan ambigu.
"Biar tak menambah dosa, akan lebih baik kalau kalian menikah saja. Bapak dan Mama sudah setuju," sela bapaknya Freissya to the point.
"Tapi, kalau Nak Gama menolak pernikahan ini, saya pribadi meminta izin agar hubungan kalian diakhiri saja," sela mamanya Freissya.
"Diakhiri? Tidak bisa!" tolak Gama.
"Nak Gama, saya berniat menjodohkan Freissya dengan pria yang serius mencintai dan bersedia menikahinya," tambah bapak Freissya.
"Kata siapa aku tak ingin menikahinya?! Aku hanya perlu waktu untuk menyelesaikan masa percobaan dan masa pelatihan!" teriak Gama. Ia tak bisa mengontrol emosinya setelah mendengar kalimat Freissya akan dijodohkan.
"Gama! Jaga sikapmu! Tak sopan kamu beteriak seperti itu! Lihat dirimu! Di ruangan ini, kamulah yang paling muda! Tapi kamu juga yang paling congkak! Sekarang cepat putuskan! Mau tidak kamu menikah siri dengan suster Ice?! Kalau tidak, segera akhiri hubungan ini!" Pak Dirut menunjukkan taringnya. Ia berdiri sambil bertolak pinggang dan menunjuk Gama.
"Pak, tenang 'dong."
Linda memeluk punggung Agam. Setelah dijinakkan oleh pawangnya, pak Dirutpun luluh. Ia kembali duduk, mengatur napasnya dan terlihat lebih tenang.
"Aku setuju!" tegas Gama. Siapa 'sih yang rela kehilangan wanita cantik dan menggemaskan? Ingat, buaya tak pernah melepaskan mangsanya.
"Alhamdulillah, tunggu apa lagi? Yuk, kita segerakan." Pak Yudha yang sedari tadi hanya menyimak, akhirnya bersuara juga.
"Bagaimana dengan BRN?" tanya Gama sambil menatap pada Agam.
"Kamu tenang saja, pernikahan siri ini akan dirahasiakan. Hanya diketahui oleh orang-orang yang berada di ruangan ini. Pengajuan pernikahan secara resminya akan dilakukan setelah kamu lulus masa percobaan," terang Agam.
Lalu Gama dan Freissya saling berpandangan.
"Mau menikah muda denganku?" tanya Gama. Ia menghampiri Freissya, kemudian berlutut sambil mengulurkan tangannya. Buaya sedang merayu.
"Emm ...." Freissya belum memberi jawaban.
"Tolak saja, Ice. Tolak," canda pak Dirut.
"Pak Agam bagaimana 'sih? Harusnya diterima 'dong," sahut Linda.
"A-aku me ---." Freissya menjeda kalimatnya sendiri. Hal ini tentu saja membuat Gama sedikit was-was.
"Ice, tolong jangan menyiksa perasaanku. Ingat Ice, aku adalah pria tampan yang kaya-raya, jenius, aset negara, gagah perkasa, dan juga berstamina tinggi," rayu Gama. Kalimat rayuan Gama berhasil membuat semua orang yang hadir di ruangan ini tersenyum.
"A-aku ... me --- me-menerimanya," jawab Freissya. Pipinya merona, matanya berkaca-kaca.
"Alhamdulillaah," sahut semuanya. Lalu Freissya berhambur ke pelukan mama dan bapaknya. Sementara Gama, langsung dipeluk oleh Agam dan bu Nadia.
Semua orang yang berada di ruangan ini tampak bahagia.
Setelah shalat Magrib, pernikahan siripun dilakukan. Pak Yudha dan pengacara Vano menjadi saksi pernikahan. Karena Vano datang terlambat, ijab kabulpun molor dari jadwal sebelumnya. Namun pada akhirnya acara sakral itu terlaksana jua.
Ahamdulillah, pada pukul 19.19 waktu setempat, Gamayasa Val Buana telah menjadi suami sah dari suster cantik Freissya Shaenette Leteshia.
Usah shalat Isya berjamaah. Lanjut acara makan malam. Gama tampak resah dan gelisah. Kenapa demikian? Karena Gama tak ingin menyantap makanan. Yang ia inginkan adalah menyantap Freissya. Berulang kali Gama juga melihat jam tangannya. Waktu telah menunjukkan pukul 20.41. Itu artinya, kebersaman ia dan Freissya hanya menyisakan waktu sekitar 49 menit lagi.
Sebab pada pukul 21.30 Gama harus kembali ke markas BRN yang jaraknya sekitar 30 menit dari villa ini.
"Ice, ikut denganku," ajak Gama.
Lalu Gama tiba-tiba saja menarik tangan Freissya yang hendak mengambil nasi. Sontak hal itu membuat semua orang yang berada di meja makan terkejut hingga menghentikan sejenak aktivitas mereka.
"Val a-ada apa?" Freissya keheranan.
"Ayo makan di kamar saja. Aku bantu bawa nasi dan ikannya ya. Cepat!" desaknya. Seolah tak memedulikan seluruh mata yang menatapnya.
"Ba-baik." Freissya patuh.
Yang lainpun hanya bisa jadi penonton sambil berpandangan saat mereka melihat Gama dan Freissya meninggalkan dan melewatkan acara makan malam bersama.
"Dasar crocodile," gumam Agam sambil mengulum senyum.
"Pak Agam mau juga? Setelah makan, ayo kita lakukan Pak," bisik Linda.
"Kamu serius? Baik, pulang dari sini, kita ke hotel ya. Hehehe, karena Keivel tidak ikut, ini kesempatan emas, sayang. Mari kita bercocok tanam sepuasnya," bisik Agam. Linda mengangguk pelan. Yang lain tampak asyik menikmati menu.
...***...
Sementara itu, di kamar pengantin ....
"Val ... a-apa ki-kita tidak makan dulu?"
Freissya terkejut karena ia langsung dihempaskan ke tempat tidur hingga tubuhnya kini telah berada di bawah kuasa dan kendali Gama.
"Mana sempat, aku tak kuat, ayo cepat," bujuk Gama.
"K-kamu tak lapar?" Freissya gugup.
"Ssst ... jangan banyak protes, cukup ikhlaskan, resapi dan nikmati," bisik Gama.
Lalu, beberapa saat kemudian ....
Freissya menangis dan merintih perlahan-lahan. Sedangkan Gama, pria itu tampak sibuk dengan aktivitasnya. Ya, Gama memang sibuk, namun anehnya, bibirnya yang beraroma vanila itu tak henti menyunggingkan senyuman.
Wajah Gama berseri-seri saat Freissya berulang kali menyebut namanya dengan alunan suara yang lembut. Gamapun tak mau kalah, ia jua memanggil nama Freissya dengan nada suara yang meresahkan telinga, hingga berhasil membangunkan si bulu roma.
Saat ini, Gama dan Freissya merasa jika dunia ini hanya milik mereka berdua. Di balik deruan napas yang bersahutan, di antara badai rasa yang sulit didefinisikan, batin mereka berharap ....
Semoga pernikahan ini menjadi pernikahan yang sakinah mawaddah warohmah. Biarlah maut saja yang mampu memisahkan. Biarlah cinta ini tetap bersemi selamanya. Karena cintaku padamu, adalah cinta sejati yang disebut sebagai 'Cinta sehidup sesurga.'
"Our love will continue to blossom until we are both in heaven (cinta kita akan tetap bersemi hingga kita berdua berada di surga)," bisik Gama.
"I love you, Val ...," lirih Freissya.
"I love you too, my Ice ...," jawab Gama.
Kemudian, Gama merenggut dan meraih kembali segenap hal yang saat ini telah halal menjadi hak miliknya.
Freissya memejamkan mata. Andai ia bisa menghentikan waktu ... ingin rasanya tetap berada di dalam rasa manis, melenakan, dan nikmat ini ... selamanya.
Namun ... itu hanyalah angan belaka. Karena faktanya, saat Freissya membuka mata, Gama tak lagi di sisinya. Ya, saat Freissya tertidur karena kelelahan, Gama kembali ke markas BRN.
Setelah merapikan selimut yang melindungi tubuh polosnya, tangan Freissya terulur. Ia mengusap lembut bantal yang tadi digunakan oleh Gama dengan tangan gemetar. Lalu ia menghidu bantal tersebut sambil menitikkan air mata. Aroma tubuh Gama masih menempel di bantal ini.
Lalu ....
Kerinduan itu datang dengan cepat dan kembali menyesakkan dadanya. Freissya terisak-isak, ia tak tahu kapan kerinduan ini akan berakhir. Sebab, hanya dengan kehadiran Gama kerinduan ini bisa disembuhkan.
"Huuu ... Val ...."
...❤...
...❤...
...❤...
"Bu Lela, Bu ... Ibu ada di mana?" gumam Senja seraya meraba-raba tempat tidurnya. Maksud hati ingin membangunkan bu Lela lantaran ia tiba-tiba ingin pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil.
Entah ini jam berapa, Senja tentu saja tidak mengetahuinya. Yang jelas, ia merasa sudah tidur cukup lama. Deburan ombak terdengar jelas. Ya, rumah impian masa kecil nona Aiza memang terletak di pesisir pantai.
Senja ingat benar jika beberapa jam yang lalu ia tidur bersama dengan bu Lela. Namun saat ia terbangun, bu Lela sudah tidak ada di sampingnya. Untungnya letak kamar mandi berada di dalam kamar. Jadi, Senja tak kesulitan menemukannya.
Setibanya dari kamar mandi, ia kembali memanggil nama bu Lela.
"Bu Lela, Bu."
Kembali meraba tempat tidur dan seluruh sudut kamar, namun ia tak mendengar sahutan. Senja kebingungan, ini adalah kali pertama bu Lela tak mengindahkan panggilannya.
Karena bu Lela tak jelas rimbanya, Senja keluar dari kamar. Ia memutuskan untuk mencari bu Lela. Saat ia merasakan lututnya menyentuh ujung sofa, Senja menyadari jika dirinya sudah berada di ruang tamu.
"Bu Lela," memanggil lagi. Tapi tetap sama, bu Lela tak menyahut. Senja akhirnya duduk merenung di sofa. Kini, ia tak tahu harus melakukan apa.
"Biasanya, kalaupun mau meninggalkanku, bu Lela selalu izin dulu," gumamnya.
Sebelumnya, Senja dan bu Lela memang tinggal di rumah itu bersama putri bu Lela yang sudah menikah. Namun tiga hari yang lalu, putri bu Lela tersebut pergi meninggalkan rumah itu karena ingin menginap beberapa hari di rumah ibu mertuanya yang terletak di kampung sebelah.
Sambil menunggu, Senja terkantuk-kantuk. Hingga akhirnya, gadis itupun kembali tertidur dalam posisi duduk. Kepalanya menengadah dan bersandar pada sandaran sofa.
Senja tidur pulas, ia baru terbangun tatkala adzan Subuh berkumandang. Suara adzan terdengar sayup-sayup, sebab letak antara surau dan rumah ini cukup jauh. Panggilan nan merdu itu seolah bersahutan dengan gemuruhnya suara ombak.
Setelah menggeliat, Senja beranjak. Ia akan pergi ke mushola kecil yang ada di rumah ini. Senja telah hafal tata letaknya. Jadi, ia tak kesulitan menemukannya.
...***...
Senja langsung menyalakan keran air untuk berwudhu. Setelah berwudhu, ia meraih mukena yang letaknya sudah ia ketahui jua. Lalu ia mencari meja yang berada di sudut tembok. Meja ini menjadi patokan untuk memastikan agar ia tidak keliru saat menghadap arah kiblat.
Ketika Senja bersujud, tangannya tak sengaja menyentuh sesuatu yang dingin. Ya, Senja tak tahu itu benda apa. Iapun melanjutkan shalat Subuhnya hingga usai dan tak memedulikan benda tersebut.
Saat hendak menyimpan mukena, Senja terkejut sebab kali ini kakinya tak sengaja menyentuh benda dingin itu. Karena penasaran, Senjapun bersimpuh dan meraba benda tersebut.
'Tap.' Tangannya menggenggam benda itu.
Deg.
Jantung Senja seolah akan melompat dari serambinya. Senja mematung, tangannya gemetar. Senja tahu jika dirinya tengah memegang sebuah kaki yang terasa dingin dan kaku. Ia yakin jika benda yang tadi sempat tersentuh itu adalah benda ini.
Bibir Senja berkomat-kamit melantunkan doa. Walau ia gemetaran dan ketakutan, tangannya lanjut meraba seluruh tubuh pemilik kaki dingin tersebut.
"Bu-Bu Lela? Ke-kenapa Ibu tidur di sini?" tanyanya. Napasnya naik-turun karena panik.
"I-Ibu tidur memakai mukena?" Senja meraba bagian badannya. Ternyata benar, bu Lela memang menggunakan mukena.
"Bangun Bu, sudah Subuh."
Senja mengguncang bahu bu Lela. Tapi, bu Lela bergeming, seluruh tubuhnya terguncang semua. Senja merasakan pergerakannya.
"Bu, ja-jangan bercanda, Bu. Jangan membuatku panik. Kumohon bangunlah."
Senja semakin gemetaran. Wajahnya memucat dan bekeringat karena memikirkan hal yang bukan-bukan. Lalu ia memberanikan diri meraba nadi di pergelangan tangan bu Lela. Hasilnya ... sepi. Tak ada denyutan sedikitpun.
"Ti-tidak mungkin, a-aku pasti salah," elaknya.
Lalu kembali memberanikan diri menempelkan telinganya di bagian dada bu Lela. Bola mata Senja mulai berkaca-kaca. Napasnya kian memburu karena teramat panik dan ketakutan.
"Ti-tidak mungkin. I-ini tidak mungkin! Huuaaa, Bu Lelaaa," jeritnya.
Senja meraung-raung sambil memeluk tubuh bu Lela. Ia baru saja yakin sepenuhnya jika bu Lela telah tiada. Saat Senja mendengarkan detak jantung bu Lela, telinga Senja tak mendengar apapun. Senja bahkan melakukan pengecekan berulang-ulang untuk meyakinkan dirinya.
"Huuuaaa, huuu, huaaa, Bu Lelaaa, jangan meninggalkan aku, Bu. Kenapa Ya Rabb? Kenapa Engkau selalu mengambil dan memisahkan aku dari orang-orang yang kucintai dan mencintaiku? Huuu, Bu Lelaaa, huuuaaa, huuu, Buu, huks, huks ...," ratapnya.
Karena tak kuasa membendung duka dan nestapa, tubuh Senjapun ambruk di sisi tubuh bu Lela yang terbujur kaku. Senja pingsan seorang diri sesaat setelah bibir mungilnya yang merah delima itu mengucapkan ....
"Innalillahiwainnailaihirojiun ...."
Kini, dua tubuh wanita berbeda usia itu sama-sama tergeletak tanpa ada seorangpun yang mengetahui.
Rumah masa kecil nona Aiza letaknya memang terpencil. Dari rumah ini harus menempuh jarak kurang lebih dua kilometer untuk mencapai dusun warga atau tiga kilometer lagi untuk sampai ke pemukiman suku adat Waroulaut.
Sebenarnya, sekitar 300 meter dari bibir pantai, ada kerumunan nelayan yang baru pulang melaut. Jika saja Senja tak pingsan, ia bisa berjalan ke sana dan meminta tolong pada mereka.
Entah berapa lama Senja pingsan, ia tersadar dari pingsannya ketika ponsel milik bu Lela bedering. Senjapun bangun, lalu ia beranjak mencari asal suara. Senja merangkak seraya berurai air mata. Hatinya hancur lebur berkeping-keping.
"Kumohon, teruslah bedering," harapnya.
Sayang seribu sayang, sebelum Senja berhasil menemukan ponsel itu, dering ponsel telah terhenti. Senja lantas menggusur kakinya menuju pintu keluar. Setelah berhasil membuka pintu, ia berjalan menuju teras dan beteriak sekuat tenaga.
"Tolooong, tolooong," teriaknya.
Karena tidak ada yang merespon, Senjapun berjalan menuju bibir pantai. Kenapa ia ke bibir pantai? Karena hanya daerah bibir pantai yang ia kenali arahnya. Padahal, hari masih gelap, namun gadis itu tak patah semangat. Senja yakin jika di tepi pantai sana akan ada orang yang bisa menolongnya.
"Tolong, huuu ...." Ia terus meminta tolong sambil menangis. Dunianya yang gelap, kini ... semakin gelap-gulita.
...~Tbc~...