
Setelah kepergian Linda, Yohan berpikir akan memberi kesempatan pada Linda selama 1×24 jam. Berharap Linda mau kembali lagi ke mansion sebelum ia memutuskan untuk mengundang media dan menjual berita kehamilan Linda.
Namun anehnya, sebelum Yohan merilis berita kehamilan Linda, sebuah tabloid online telah terlebih dahulu membeberkan fakta tentang Linda.
"Fakta Teranyar Tentang Artis Pendatang Baru, LB. Nomor 1 Sampai 3 Biasa Saja, Nomor 4 dan Nomor 5 Sangat Mencengangkan, Nomor 6 Membuat Kita Geleng-geleng Kepala."
"Apa-apaan ini?! Siapa yang berani membuat berita tentang dia tanpa seizinku?! Sialan!" geramnya.
Ternyata, Yohan masih menganggap jika Linda adalah artis di bawah manajemen miliknya. Padahal, sudah jelas-jelas Linda telah mengundurkan diri dan mengatakannya secara lisan.
Yohan lalu membaca garis besar berita tersebut.
"Fakta satu, LB bercita-cita menjadi artis sejak usisa dini."
"Fakta dua, LB adalah warga kepulauan Pulau Jauh."
"Fakta tiga, di sekolahnya LB termasuk siswa berprestasi terutama dalam bidang seni."
"Fakta empat, LB dikontrak sekitar satu miliar pertahun oleh HGC untuk iklan berdurasi 45 detik."
"Fakta lima, LB termasuk artis yang sangat hemat, cenderung pelit. Bahkan saat masih jadi penyiar berita di stasiun TV KITA, dia dikabarkan tinggal di apartemen kelas bawah.
"Fakta enam, LB dikabarkan memiliki hubungan khusus dengan pejabat tinggi HGC. Hal ini disinyalir menjadi sebab didapuknya ia menjadi brand ambassador untik produk baru HGC."
Begitulah poin-poin berita tentang LB yang dibaca oleh Yohan. Pria itu lalu menghubungi kepala redaksi tabloid online tersebut untuk melakukan negosiasi dan menjual berita tentang fakta lain dari seorang Linda Berlina.
"Aku punya berita bagus tentang LB, jika kalian sepakat dengan harga yang aku tawarkan, kalian boleh datang menemuiku dalam waktu 24 jam dari sekarang." Begitulah salah satu isi percakapan yang dilakukan Yohan.
Bukan hanya satu media yang ia hubungi, Yohan ternyata menghubungi banyak media. Ia akhirnya menggunakan sistem lelang berita untuk mendapatkan harga tertinggi dari berita tersebut.
***
"Ya ampun, ARGH ...."
Di kamarnya, Agam menyembunyikan kepala di balik bantal. Rasa malu sampai ubun-ubun itu masih terasa hingga saat ini. Bagaimana tatapan orang-orang itu, senyuman itu, dan bahu mereka yang terkikik saat membelakangi Agam. Untung saja, tidak ada yang menyadari kalau dirinya Dirut HGC.
Ternyata oh ternyata, lisptik Linda Berliana berpindah semua ke bibirnya. Berantakan sampai dagu dan bawah hidung. Apa yang dikatakan bocah laki-laki itu benar adanya. Ia seperti habis makan buah naga, belepotan. Oh, malunya.
Dan detik itu juga wajahnya memerah lagi. Namun kerinduannya pada bibir itu makin menyeruak. Bibir itu sangat uhuy, lembut, hangat, lengket, wangi, dan manis. Gulali kali ah.
Lanjut pria itu bersiap, untuk bekerjas pastinya.Di basement, pak Yudha bahkan telah menunggunya sejak sepuluh menit yang lalu.
"Bagaimana kabar dia? Sedang apa? Apa dia sudah makan? Sudah mandi? Pakai baju apa sekarang? Tolong ambil fotonya tanpa sepengetahuan dia. Tanyakan juga apa lehernya masih sakit, apa bibirnya tidak bengkak? Apa yang akan dilakukan dia hari ini?"
Agam memberikan pertanyaan beruntun, ponselnya dijepit diantara telinga dan bahunya. Kepalanya sampai miring sempurna. Sedangkan kedua tangannya sibuk mengancingkan kemeja kerja, menutupi bagian dada dan perutnya yang aduduh.
Tidak bisa dibayangkan betapa bingungnya orang yang saat ini ditelepon oleh Agam. Pasti membulatkan mata, atau ... membanting ponselnya mungkin?
Eits, tunggu.
Di dada kiri pria itu seperti ada tanda cinta lho. Kecil sih. Sekitar dua centi, tapi begitu merah dan nyata. Aih, siapakah pelakunya? Agam bahkan mengusap tanda cinta itu penuh suka cita sambil menyunggingkan senyuman.
"Apa?! Dia tidur di mushola?" Agam tampak kaget.
Lalu terdengar suara gemetar di balik telepon. Agam meloundspeaker ponselnya sebelum diletakkan di atas nakas.
"Pak, LB menolak seluruh bantuan yang saya tawarkan. Dia hanya menerima masker saja. LB belum makan, Pak. Kalalu tidak salah dia mau pergi ke rumah seseorang bernama Bagas. Tapi, selepas shalat Subuh malah tidur. Masih memakai mukena."
"Saya tidak mau tahu! Pokoknya cepat bangunkan dia, belikan sarapan, dan segera antar ke rumah yang dia maksud." Agam bersungut-sungut. Dadanya naik-turun karena menahan amarah.
"Ini hampir jam 8 pagi, berani sekali dia belum makan. Kamu membahayakan calon anakku, Linda," katanya. Sesaat setelah menutup telepon.
Saat ini, ia sudah berada di dalam lift dan kembali lagi dengan mimik dinginnya.
Sesampainya di basementpun, Agam sama sekali tidak menyapa Pak Yudha. Agam kembali menjadi sosok yang berbeda saat Linda tidak ada di sisinya.
***
Linda masih tertidur nyaman berkurung mukena di sebuah mushola kecil di tepi jalan. Ia terbangun saat seorang pria muda membangunkannya.
Ya, di negara ini, mushola dan masjid memang tidak sulit untuk ditemukan keberadaannya. Dari mulai kampung kecil, desa, dusun besar, apalagi kota, masjid-masjid dengan berbagai arsitektur banyak berdiri.
Bahkan di kota-kota besarnya, masjid banyak digunakan sebagai destinasi wisata karena kemegahan dan keunikannya.
.
.
.
"Nona, Nona, bangun Anda harus sarapan," katanya. Dia melongokan kepala di balik tirai yang menjadi penghalang antara shaf laki-laki dan perempuan.
"Kak LB," panggilnya lagi. Ya, memanggil kakak ia rasa lebih akrab.
"Hmm ...." Linda terbangun. Setelah menggeliat, barulah duduk dan celingak-celinguk.
Pandangannya langsung terfokus pada jam dinding.
"Ya ampuuun," teriaknya. Setelah merapikan mukena langsung beranjak cepat tanpa peduli pada pria muda yang terus menguntitnya.
"Kak LB, tungguuu, mau kemana?"
Tapi Linda seolah tidak mendengar.
Akhirnya, ia memutuskan untuk bekerja sedikit tegas. Kali ini memegang tangan Linda.
"Ish, sudah aku tegaskan, jangan mengikutiku, faham? Lepaskan!"
"Kak, tolong tenang. Oke, saya mau jujur, saya memang bekerja untuk pak Agam, nama saya Herru," jelasnya.
"Sudah aku duga, lepas!" Linda masih bersikeras.
"Kak, tolong ... pak Agam hanya ingin Anda baik-baik saja. Kata beliau, dia memiliki kewajiban menjaga Anda karena separuh jiwa pak Agam sudah beredar di dalam diri Kak LB."
"Apa?! Dia mengatakan seperti itu? Sudahlah Herrru, kamu tidak tahu apa-apa." Linda berhasil menepis tangan Herru.
"R-nya hanya ada dua, Kak. Tidak sebanyak itu," protesnya sambil tersenyum.
"Sudahlah aku tidak peduli mau R-nya banyak atau sedikitpun bukan urusanku. Kamu pulang saja." Linda bergegas menuju jalan raya, lalu melambaikan tangan pada taksi yang melintas.
"Kak, tunggu."
Herru mengejar, namun Linda tidak menoleh lagi. Ia sudah berjanji pada dirinya jika ia ingin menata diri tanpa ada bayang-bayang Agam lagi. Untungnya Linda sudah memakai masker, jadi pengemudi taksi tidak mengenalinya.
Dan Herru pun menaiki taksi lain untuk mengikuti Linda. Sementara tangannya sibuk mengetik pesan di ponselnya. Kemungkinan sedang memberi informasi pada Agam.
Tujuan Linda saat ini adalah rumah Bagas. Ia yakin Bagas adalah satu-satunya orang yang bisa menerimanya. Bagas masih memiliki banyak hutang padanya. Linda berpikir mungkin tidak ada salahnya jika ia tinggal untuk sementara waktu di rumah Bagas, sampai ia mendapatkan kembali tasnya yang disita oleh Yohan.
"Pastikan dia sampai dengan selamat di rumah Bagas." Bunyi pesan yang tertera di layar ponsel milik Herru.
"Baik, Pak." Balas Herru.
Mata Herru kini tidak luput dari mobil yang ditumpangi Linda. Hingga sampailah mereka di sebuah rumah permanen sederhana namun halamannya luas. Rumah ini diduga adalah rumah milik Bagas.
Linda turun dari mobil.
"Pak tunggu ya, dompetku ketinggalan. Ini rumah saudaraku," kata Linda.
"Baik, Nona." Pengemudi taksi hanya bisa mengiyakan.
Linda beberapa kali mengucap salam, dan pada salam ketiga, Bagas muncul. Alangkah kagetnya Bagas saat melihat kedatangan Linda.
"El, k-kamu?" Berlari menghampiri. Mereka langsung berpelukan, sebagai sahabat tentunya.
Mereka tidak tahu jika mereka dipotret oleh Herru.
Dan saat ini percayalah jika di HGC sana, Agam langsung membanting ponselnya ke sofa setelah melihat Linda dan Bagas berpelukan.
"Bagas, ceritanya nanti ya. Aku minta uang untuk bayar taksi. Kamu punya, kan?" tanya Linda.
"Punya dong El, berapa?"
Setelah Bagas membayarnya, Linda dan Bagaspun masuk ke dalam rumah. Dan Herru baru berani meninggalkan tempat itu setelah ada perintah dari Agam.
❤❤ Bersambung ....