
"Polisi?"
Linda memucat, spontan memeluk Agam dan bersembunyi di dadanya.
"Sepagi ini mereka datang? Ini aneh sekali. El, tunggu sebentar saya mau menjawab Bu Ira. Kamu tenang, oke?"
Agam menatap mata Linda. Mata sayunya menyiratkan agar Linda tetap tenang. Agam yang hanya mengenakan boxer mendekati interkom untuk mengatakan sesuatu pada Bu Ira. Linda terus menatapnya. Entah kenapa hatinya tiba-tiba gundah.
"Bu Ira jangan panik, jamu mereka sebaik mungkin. Suruh Pak Yudha menemui mereka selagi menunggu saya. Oiya, jangan lupa suruh Gama pergi dulu ke rumah temannya. Katakan pada Gama jangan sampai ada polisi yang melihat wajahnya."
"Baik, Pak," sahut Bu Ira dengan suara yang terdengar gemetar.
Lalu Agam kembali ke tempat tidur dan memeluk Linda, ia bertanya pada Linda ....
"Masih takut?"
Linda mengangguk, dan wanita itu mempererat dekapannya.
"Saya harus menemui mereka, kamu tetap di kamar ini. Jangan sekali-kali membuka pintu selain saya yang menyuruhnya. Keisengan Gama memindahkan kamarmu ke sini ternyata ide bagus. Sistem keamanan di kamar ini adalah yang terbaik dari semua sistem yang ada di rumah ini."
Karena pernah ditangkap polisi dan dikurung di sel, mendengar kata polisi, Linda sering ketakutan. Mungkin, pengalamannya saat tiba-tiba ditangkap, membekaskan sedikit trauma di hatinya.
"Mereka tidak akan menangkapku, kan? Atau tidak menangkap Bapak, kan? Aku takuuut."
"Sssshhh, sayang ... hei lihat saya. Mereka tidak akan menangkapmu, tidak akan menangkap saya juga."
Perasaan menyesal kembali mendatangi hati Agam. Ia sadar jika Linda seperti itu karena dirinya. Iapun menciumi wajah istrinya dan mengatakan ....
"Maafkan perbuatan saya yang dulu. Jangan takut lagi ya, saya dan kamu bukan penjahat. Semua bermula dari kesalahan saya, kamu tidak salah sayang. Dan sekarang kita hadapi bersama-sama."
"Kak, Kakaaak, Kak, buka pintunya," tiba-tiba ada suara Gama memanggil.
"Anak itu," gumam Agam.
"Tunggu," sahut Agam.
Agam segera membuka pintu setelah menyelimuti Linda, dan berkata ....
"Jangan sampai Gama melihat kamu memakai baju ini. Dia itu buaya. Bisa-bisa meminta nikah muda kalau sampai melihat kamu yang seseksi ini, hehehe," candanya.
Sebuah candaan yang sama sekali tidak lucu. Bahkan cenderung garing. Linda hanya tersenyum kecut, ia bersembunyi di bawah selimut.
"Wahh, hahaha, kalian tidur bersama? Apa kakak ipar sudah tahu kalau Kakak suami sirinya?"
Setelah masuk ke kamar Agam, Gama langsung to the point dan mengoceh. Matanya sibuk memperhatikan penampilan Agam.
"Ssstt, jangan berisik. Ya, dia sudah tahu, sembarangan kamu bilang suami siri." Agam terlihat kesal.
"Kan kakak ipar istri siri, jadi Kakak suami siri dong. Apa sudah kiw-kiw? Hahahah, ini Kak Agam hanya pakak boxer? Wah, apa ini? Kissmark? Hahaha."
Gama tergelak sambil memeriksa tubuh Agam. Ya, jelas sekali memang di leher Agam ada kissmarknya. Dan pelakunya yaitu Linda, semakin membenamkan dirinya ke dalam selimut. Hingga ujung kepalanya tidak terlihat.
Mendengar ucapan absurd dari Gama, membuatnya teringat kembali akan kejadian mendebarkan beberapa jam yang lalu.
Kejadian di mana ia bermain peran untuk memanjakan suaminya. Walaupun tanpa adegan pemersatu bangsa, namun ia bangga karena sudah berhasil membuat Dirut HGC bertekuk lutut dan mengiba padanya.
Jadi terbayang bagaimana seorang Agam Ben Buana berusaha keras untuk tidak mengeluarkan suara dengan cara menggigit selimut. Agam bahkan membekap mulutnya sendiri agar tidak berteriak saat ia sedang memanjakannya.
Perspektif Linda, apa yang dilakukan Agam terkesan lucu dan menggemaskan. Sampai-sampai Linda yang kala itu gugup pun memberanikan untuk bertanya.
"Ke-kenapa tidak dikeluarkan saja suaranya, Pak?"
Namun Agam tidak menjawab, suaminya malah menggigit bibir kuat-kuat sambil memejamkan matanya.
Ya ampun, Pak Dirut ternyata lucu sekali.
Lalu Linda menggodanya dengan kalimat yang menantang. Kalimat yang membuat Linda kaget sendiri. Bahkan tidak menyangka jika dirinya akan seberani itu.
"Aku ingin mendengar suaramu ... Maga .... Katakan sesuatu. Please ...."
"Ti-tidak sayang, su-suaranya akan disimpan untuk nanti," ucap Agam dengan wajah yang memerah.
"Untuk nanti? Kapan?"
Kala itu, Linda semakin penasaran. Agam yang seperti itu membuatnya semakin jatuh cinta, lumer dan meleleh. Parahnya, Pak Dirut juga semakin tampan.
"Nanti saja ... sa-saat sa-saya dan kamu bisa berteriak bersama-sama," jawab Agam pada saat itu.
Linda juga teringat akan kebodohannya yang membuatnya malu setengah mati.
Tadi, saat ia memanjakan Agam, pada awal dan akhirnya bukannya Agam yang bersuara tapi justru dirinya.
Di awal, Linda berteriak histeris karena kaget. Dan di akhir, Lindalah yang spontan menimbulkan suara e r o t i k karena terbawa suasana.
Oh ya ampuuun, malunya.
Linda baru tersadar dari lamunan liarnya saat Gama berteriak pada Agam.
.
.
.
.
"Kenapa, Kak? Kenapa harus bersembunyi dari polisi? Aku bukan buronan!" teriak Gama.
Linda mengintip, ia terkejut. Suara Gama saat berteriak ternyata bergema juga.
"Gama, dengar ya! Ini demi kebaikan kamu, yang penting polisi tidak mengenali wajah kamu, itu saja. Alasannya karena Kakak tidak tahu mana polisi yang baik dan mana yang tidak, ini hanya jaga-jaga dan waspada saja, fahaaam!"
Kini Agam yang berteriak. Uh, suara Pak Dirut mengaum bak si raja rimba. Linda sampai menutup telinganya.
"Memangnya kenapa kalau polisi melihat wajahku, kenapaaa? Jangan sangkut pautkan aku dengan kepentingan Kak Agam ya! Aku berbeda dengan Kakak! Aku adalah aku! Bukan orang lain!" dengusnya.
Lalu membalikan badan untuk pergi dari kamar itu.
"Gama!" bentak Agam.
Sebelum Gama melangkah. Agam telah terlebih dahulu mencekal tangannya.
Terjadilah drama tarik-menarik, namun apadaya, Agam Ben Buana bukan tandingan Gamayasa Val Buana.
"Gama, kita yang berbeda. Kita dilahirkan sedikit berbeda dari orang lain. Kakak tidak mau nasibmu seperti Kakak, mengerti?!" sentaknya.
"Tidak! Aku tidak mengerti! Aku merasa tidak berbeda! Jangan mengada-ada ya Kak! Cukup Kakak saja yang berbeda! Jangan bawa-bawa aku!"
Dan Gama melawan, ia hendak melayangkan tonjokan pada wajah tampan kakaknya. Linda yang mengintip kaget. Ia spontan berteriak.
"Gama, jangan!"
Linda tidak terima, ia spontan berlari untuk memeluk Agam. Gama terkesiap, sekelebat ia melihat sosok cantik keluar dari balik selimut. Sebelum akhirnya Gama merasakan matanya gelap gulita.
"Jangan melihat istriku buaya!" teriak Agam sambil memiting leher dan menutup mata Gama.
"Jangan bertengkar, please. Apa yang kalian permasalahkan?"
Di hadapan Agam, Linda bertanya. Sementara Gama terlihat masih meronta untuk berusaha melepaskan diri dari cekalan Agam.
"Nanti saya jelaskan," ucap Agam.
"Lepaskan, Kak! Lepas!" teriak Gama.
"Gama, kakak kamu pasti memiliki alasan, kamu nurut ya ...," lirih Linda.
"Sayang, cepat pakai auternya, saya tidak mau buaya kecil ini melihat kamu, cepat!" desak Agam.
Mendengar ucapan Agam, walaupun sedang marah, Gama sedikit tersenyum. Linda segera meraih auter dan memakainya. Agam melepaskan Gama setelah memastikan Linda telah rapi.
Gama menunduk, kembali sadar jika dirinya sangat bergantung pada Agam. Akhirnya, ia mengatakan ....
"Oke, aku pergi, tapi ... aku meminta sesuatu."
"Minta apa? Bulan ini sudah ditransfer, kan?" kata Agam sambil membuka nakas.
Nakas itu di dalamnya berisi puluhan kimono dan handuk mandi berbagai warna Sepertinya Pak Dirut akan segera mandi. Kemungkinan plus mandi besar juga.
"Ini bukan masalah uang, Kak. Aku janji tidak akan membangkang lagi, asalkan Kakak bisa membantuku untuk bisa dekat dengan seseorang."
"Apa? Maksudmu?"
Agam menatapnya tajam. Linda tersenyum. Ada praduga di hati Linda.
"Apa kamu ingin dekat dengan suster imut itu?" sela Linda.
"Lho kok, kakak ipar tahu, sih?"
"Kakak sudah menyelidi dia, dia sudah punya pacar, urungkan niatmu," tegas Agam.
"Ya sudah, kalau Kakak tidak mau bantu, aku akan membiarkan polisi melihat wajahku."
"Gama! Dengar ya! Masalah identitas kamu dan gadis itu berbeda. Jangan disangkutpautkan. Dia sudah punya kekasih. Kalaupun dia belum memiliki kekasih, harusnya kamu berjuang sendiri untuk mendapatkan dia."
"Oke, kamu boleh tetap di rumah, tapi usahakan agar tamu-tamu itu tidak sampai melihat wajahmu. Jangan ke lantai satu dulu. Kakak mau mandi. Kamu boleh pergi."
Kemarahan Agam meredam, ia masuk ke kamar mandi meninggalkan Linda yang menatapnya karena terpikat, sedangkan Gama menatap Agam tanpa ekspresi.
.
.
.
.
"Tidak mandi bersama?" goda Gama pada Linda.
"Apaan sih Gama, kamu cepat keluar, sana," usir Linda dengan wajah merona.
"Oh, Kak Linda sudah mandi duluan ya? Hahaha, itu rambutnya basah. Ciee ...."
"Gama! Cukup! Kamu tidak sopan." Linda merajuk.
"Oke, aku pergi. Tolong sampaikan pada kakak, aku mau pergi ke rumah teman sekalian menginap dalam beberapa hari, aku bawa motor," kata Gama sembari berlalu.
"Gama, tunggu. Kenapa harus beberapa hari? Kamu kan sekolah," Linda menatap khawatir.
"Aku membawa baju sekolah, Kak. Tenang saja, aku sudah besar kok. Hahaha, permisi kakak ipar yang cantik, jaga baik-baik kakakku ya," kata Gama saat tubuhnya benar-benar menghilang di balik pintu.
.
.
.
.
"Pak, kok mandinya lama sekali? Cepat. Aku mau shalat Subuh berjamaah," kata Linda di depan pintu kamar mandi.
Setelah berhasil membuat Agam lemas dan tertidur pulas, Linda memang langsung mandi. Sengaja mandi duluan agar tidak terganggu oleh keberadaan Agam.
Karena Agam tidak menyahut, Linda akhirnya shalat sendirian. Selesai shalat, ia kaget karena Agam belum juga keluar dari kamar mandi.
"Pak Agaaam, maaf, kenapa lama sekali?"
Linda gelisah. Ia mau membuka pintu tapi takut diartikan tidak sopan atau lancang. Namun ia benar-benar penasaran. Apa Agam Ben Buana mandi selama itu?
"Pak, kan belum shalat Subuh, ini jam lima lewat 10," kata Linda. Ia kembali mengetuk pintu.
Perlahan Linda mencoba membuka pintu, namum rupanya terkunci dari dalam. Karena panik, Linda bermaksud meminta bantuan pada pak Yudha. Ia menelepon ke lantai satu menggunakan telepon paralel.
Diangkat oleh Bu Ira.
"Hallo, ada apa, Pak?"
"Bu Ira, ini aku. Pak Agam memang mandinya lama sekali. Dari tadi belum selesai-selesai. Sekitar dua puluh lima menitan, dipanggil-panggil tidak menyahut. Pintu kamar mandinya terkunci dari dalam," jelas Linda.
"Oh ya ampun, nanti Ibu kasih tahu Pak Yudha dulu ya, Ibu jarang masuk kamar Pak Agam. Yang rapi-rapi, ngepel, dan mengambil baju kotor pak Agam bukan Ibu."
"Lho memang sama siapa biasanya? Cepat Bu, cepat suruh Pak Yudha ke sini."
"Sama si Jessie."
"Jessie?"
Linda kaget. Ia baru tahu kalau di rumah itu ada orang lain yang bekerja selain pak Yudha dan bu Ira.
"Jessie itu robot, bentuknya mirip bantal, segi empat, tapi ada rodanya. Warnanya merah, kalau malam menyala, ada lampunya."
"Oh," kata Linda.
Ia segera menutup telepon saat sadar jika tirai kamar mandi terbuka perlahan.
"Pak Agam," teriaknya. Segera menghampiri.
"El ...."
Agam keluar sambil memegang pintu, ia memakai kimono, sudah mandi, dan harum. Rambutnya basah. Namun Linda terhenyak karena wajah Agam putih sekali. Bibir merahnya memupucat dan napasnya cepat.
"Pak Agam kenapa? Ya Rabb, kenapa?"
Linda panik. Ia mau memegang tangan Agam, tapi ditolak.
"Saya sudah wudhu sayang, jangan pegang dulu ya."
Suara Agam terdengar pelan, ia berjalan sangat perlahan menuju ruang shalat sambil memapahi dinding.
"Pak Agam kenapa sih? Pucat sekali, Pak. Sakit?"
Linda menatapnya. Airmatanya langsung berurai. Sedih rasanya, ia yakin suaminya menyembunyikan sesuatu.
Saat Agam menutup tirai ruang shalatnya. Linda bergegas ke kamar mandi untuk mencari barang bukti. Semoga menemukan jawaban.
"Astaghfirullahaladzim."
Mata Linda membelalak, di kamar mandi mewah itu, ia melihat handuk Agam berwarna merah. Merah darah. Padahal warna sebelumnya putih.
Ia yakin Agam sudah berusaha menghilangkan jejak. Namun darah di handuk tidak bisa dihilangkan dengan mudah. Linda segera keluar kamar untuk mengabari pak Yudha. Linda sampai lupa jika dirinya dilarang keluar oleh Agam.
.
.
.
.
Agam shalat Subuh sambil duduk. Mimisannya kambuh lagi. Rasanya menyakitkan. Ia merasa pusing dan lemas. Selesai shalat, Agam menyandarkan tubuhnya ke dinding. Agam menyadari kesalahannya. Bibirnya tersenyum getir.
Ia sudah terlalu banyak beraktivitas. Dari mulai menyerang samsak sampai bercucuran peluh, mencumbui Linda beberapa kali, mengerjakan beberapa pekerjaan yang berhubungan dengan HGC, dan terakhir, ia sudah mengeluarkan banyak energi saat Linda memanjakannya dengan cara yang luar biasa dahsyat.
Ini gila, memalukan. Aku jadi lemah. Keluhnya dalam hati.
Ah, sudahlah.
Agam benar-benar malu pada dirinya sendiri. Pikirnya, semua ini adalah balasan karena ia banyak tingkah.
"Penyebab utamanya kamu sayang," gumamnya. Sambil memaksakan diri untuk berdiri. Berniat naik ke tempat tidur sambil memanggil istrinya.
"Linda. El, sayang."
Matanya mengitari kamar mencari keberadaan Linda. Ingin memanggilnya lagi namun Agam lemas. Ia ambruk di tempat tidur dalam keadaan masih memakai kimono.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
"E-Elbi!"
Dua orang orang petugas kepolisian tercengang dan kaget manakala ia melihat kedatangan Linda dengan wajah paniknya.
"Pak Yudha cepat! Pak Agam pucat, dia sakit," desaknya.
"Bu Linda? Iya, saya ini baru mau ke atas." Pak Yudhapun turut kaget.
"Ini Linda Berliana, kan? Kenapa ada di sini?"
Polisi itu masih bertanya. Sementara dua tamu yang lain hanya menatap Linda tanpa suara. Linda tidak menjawab, ia tidak peduli, dan berlalu begitu saja setelah memastikan Pak Yudha turut serta. Empat orang tamu Agam saling menatap.
Satu orang tamu yang tidak berseragam polisi langsung keluar dari ruang tamu dan menelepon seseorang.
.
.
.
.
"Kenapa Anda keluar kamar? Kan saya juga mau ke atas."
Di dalam lift, Pak Yudha seolah menyesalkan sikap Linda.
"Pak Agam mengkhawatirkan, Pak. Pak Yudha datangnya lama. Nanti kalau mereka bertanya lagi katakan saja aku kerabatnya Pak Agam," jawab Linda.
"Ya, kita bisa saja mengelak Bu, tapi kita tidak tahu identitas tamu-tamu itu. Bisa jadi salah satu dari mereka adalah orang jahat atau musuh pak Agam."
Mendengar kalimat itu, Linda tertunduk. Dalam hatinya, wanita hamil yang tulus mencintai Agam itu, berkata ....
Kalaupun publik mendesakku, aku berjanji tidak akan melibatkan kamu. Dari awal, akulah yang salah. Pak Agam seperti itu karena aku memfitnahnya.
Linda kembali menangis, di dalam lift ia terisak.
"Maafkan saya, Bu Linda. Saya seperti ini karena sangat mengkhawatirkan Anda dan Pak Agam."
"Ti-tidak apa-apa Pak Yudha. Aku memang salah, pak Agam juga sebenarnya melarangku keluar kamar, tapi ... aku terlalu khawatir," keluhnya.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
"Pak Agam, kenapa jadi begini? Pak Agam, ya ampun."
Pak Yudha panik, Linda mematung tidak percaya, Agam tertelungkup di kasur, kepalanya menyamping, matanya terpejam dan dari hidungnya mengalir darah segar.
"Pak ...."
Linda lemas, ia bersimpuh di lantai.
"Ya Allah, Pak Agam kenapa?" teriak Bu Ira yang baru saja datang.
"Cepat panggil Gama, Bu!" teriak Pak Yudha sambil melakukan panggilan telepon dengan tangan gemetar.
"Gama sudah pergi, Pak. Kan disuruh pergi oleh Pak Agam," terang Bu Ira.
"Pak Yudha, saat ini tidak perlu telepon siapapun, kita bawa saja Pak Agam ke rumah sakit terdekat. Setelah itu baru menghubungi Gama atau yang lainnya," kata Linda sambil menangis.
Ia memberanikan diri naik ke tempat tidur lalu memeluk Agam yang bersimbah darah.
"Pak Agam, kamu kenapa? Kamu sakit apa?" ratapnya. Linda memeluk punggungnya.
"Bu Ira, cepat kemasi barang-barang yang sekiranya dibutuhkan oleh Pak Agam. Saya terpaksa harus meminta bantuan polisi untuk membawa Pak Agam ke dalam mobil. Saya tidak biasa membawanya sendirian."
Pak Yudha berlari keluar kamar, Bu Ira sibuk berkemas, Linda masih terus memeluk Agam. Ia sangat kebingungan dan sedih.
Beberapa saat kemudian ....
Dua orang tamu berseragam polisi yang datang ke kamar megah itu mematung sejenak. Entah terkesima dengan kemegahan kamar itu, atau karena melihat adegan di atas tempat tidur.
"Pak, cepat tolong!" teriak Linda.
"Ya, Pak. Tolong bantu saya membawanya ke dalam mobil," timpal Pak Yudha.
Akhirnya mereka mengangkat tubuh Agam. Dari kondisinya terlihat jelas jika Dirut HGC ini benar-benar sedang berada di fase kritis. Polisi itu melihat dengan jelas bagaimana darah segar mengalir dari hidung Agam.
.
.
.
.
"Pak polisi, ada perlu apa yang dengan Pak Agam? Apa saya boleh tahu?" tanya Pak Yudha saat Agam sudah berada di dalam mobil dan kepalanya direbahkan di pangkuan Linda.
"Jika ada keperluan, mohon ditunda dulu, Pak. Tunggu sampai Pak Agam pulih," timpal Linda.
Kedua polisi itu mengangguk dan membiarkan mobil yang dikemudikan Pak Yudha pergi ke rumah sakit.
"Sakit apa dia? Bukankah dia kuat?" tanya salah tamu yang tidak memakai seragam polisi. Mereka berempat sudah berada di depan rumah Agam.
"Saya sudah merekam semuanya, kebetulan sekali kita diajak masuk ke kamarnya. Hahaha, tangkapan bagus. Kita akan mendapatkan hadiah untuk berita besar ini. Ayo kita kembali ke markas dan laporan kepada bos," ujar salah satu polisi yang tadi masuk ke kamar Agam.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
"Huuu ... huuks .... Bapak kenapa? Kenapa tidak cerita? Perasaan semalam baik-baik saja."
Linda tidak berhenti memeluk lengan Agam yang saat ini tengah diinfus dan dilakukan pemeriksaan.
Setelah Pak Yudha melaporkan kondisi Agam pada pengacara Vano, Vano menyarankan agar Agam dibawa ke klinik pribadi tuan Deanka. Awalnya Pak Yudha menolak, namun setelah tuan Deanka menelopon, Pak Yudha akhirnya mengikuti saran Vano.
.
.
.
.
Agam sudah sadar, ia membelai rambut Linda setelah darah di wajahnya dibersihkan dan terpasang infus.
"El, saya baik-baik saja," lirihnya.
Namun tangisan Linda malah semakin kencang. Ia meraung-raung. Linda baru berhenti menangis setelah tuan Deanka dan istrinya datang ke ruangan itu.
"Semuanya harap di luar," perintah Juan. Juan adalah asisten pribadi Tuan Deanka.
"Ya ampun Gam, memangnya apa yang kamu lakukan sampai mimisan lagi, hahh? Lihat dirimu! Miris sekali. Ck ck ck, masih memakai kimono, rambutmu basah. Dan ini, ini apa? Kissmark? Hahaha," ledeknya.
"Kak Dean, cukup. Pak Agam sedang sakit. Kak Linda, maafkan suamiku ya, dia memang tidak berprikepakagaman," kata Aiza.
Suami istri ini sedikit aneh, batin Linda.
"Maaf, tidak dimaafkan Nona, aku tidak terima suamiku diledek," kata Linda.
"Apa?! Berani sekali kamu menolak permintaan maaf istriku," bentak Deanka.
"Kak Dean, sssttt ... jangan marah-marah. Pak Agam lagi sakit, Kak Linda lagi hamil. Nanti bayinya kaget." Aiza kembali mengingatkan.
"Aiza, kamu ya, kenapa membela dia terus, hahh? Bibirmu harus dihukum."
Tanpa ampun dan permisi, Tuan Deanka menyeret Aiza ke dinding, mencekal kedua tangan Aiza ke atas kepalanya. Lalu menyambar bibir mungil istrinya saat itu juga. Sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Agam dan Linda.
Linda terkejut, ia sampai menutup mulutnya karena kaget.
"Jangan melihat mereka El. Lihat saya saja." Agam meraih dagu Linda untuk menghadap ke arahnya.
Agam dan Linda bersitatap, Linda tersenyum. Setelah mendapatkan infus cairan gelofusal 500 ml, bibir Agam berangsur memerah kembali.
"Kenapa menatap bibir saya? Mau?" tanya Agam.
"Mau apa? Aku tidak mau apa-apa, Pak. Aku maunya Bapak sembuh," jawab Linda.
Sementara itu, Tuan Deanka masih menghukum Nona Aiza.
"Hmm, saya pikir kamu mau bibir saya, kalau mau, boleh kok," kata Agam.
"Tidak lucu, Pak. Aku lagi panik," protes Linda.
"Kalau sayanya yang mau?" tanya Agam.
"Apa?" Linda tersipu, dan Tuan Deanka baru selesai menghukum istrinya.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
"Bagaimana? Nak tampan suka kamarnya, kan?" tanya seorang ibu kost pada Gama.
"Suka sekali Bu, yang penting bagiku adalah viewnya, hehehe." Gama sumringah.
Ia melongokan kepala ke jendela melihat dan view yang ia maksud.
"Oh, Nak tampan suka sama view gang sempit? Hahaha, unik sekali." Alis ibu kost mengernyit bingung.
"Ya Bu, aku suka view gang sempit, terlihat bersahaja, hehehe."
"Baiklah, kalau begitu, Ibu tinggal dulu ya Nak tampan. Jangan hanya seminggu dong kost nya. Selamanya juga Ibu ikhlas kalau dibayar semahal ini."
Ibu kost pergi sambil mengkibas-kibaskan puluhan lembar uang berwarma merah di depan wajahnya.
Sepeninggal ibu kost, Gama kembali membuka jendela. Ia mengeluarkan mini teleskop sambil tersenyum-senyum.
Teleskop dibidikkan.
Deg, deg.
Gama mengusap dadanya. Di balik hasil pencitraan lensa teleskop, ia dapat melihat dengan jelas gadis yang dikaguminya. Freissya sedang memandikan ayam jantan berwarna merah dan kuning keemasan.
Ternyata, view yang dimaksud Gama adalah ... rumah Freissya.
"Ice, i see you, my sweety," gumam Gama.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
"Kok bisa kalian kehilangan jejak Pak Berli?! Dasar amatiran!" teriak Pamam Yordan pada Maxim, dan Enda.
Vano menunduk. Berita ini sungguh di luar dugaan.
"Jangan sampai Ben tahu masalah ini. Pak Vano, Anda cepat tangani dan temukan segera pak Berli secepatanya. Dia harus ditemukan sebelum Ben menyadari kalau ayah mertuanya hilang," tegas Paman Yordan.
"Baik," sahut Vano, Maxim, dan Enda. Serempak.
___
3050 kata 🤭
Next. Jika berkenan, vote nya ya, terima kasih.