AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Kabar yang Janggal




"Ini kamarku?" tanya Gama pada Vano.



"Ya, bagaimana? Besar bukan? Saya harap Anda kerasan."



"Ya, lumayan lah," jawab Gama.



"Ini pintu apa?" tanyanya lagi. Menunjuk pada dua pintu yang berjejer di samping kamarnya.



"Ini pintu ke kamar mandi, ini gudang." Vano membuka kedua pintu tersebut.



"Kok itu seperti barang-barang Kakak."



"Ya, kemarin kan Pak Agam ingin seluruh barangnya yang ada di HGC dibereskan. Padahal berdasarkan keputusan rapat terbaru, forum tetap ingin mempertahankan pak Agam menjadi Dirut."



"Apa? Wah, hahaha, padahal kakak sudah mencoreng nama baik HGC, luar biasa, kok masih bisa dipertahankan ya?" Gama geleng-geleng kepala.



"Nah, itu dia hebatnya kakak Anda, sementara waktu mereka akan memberi kesempatan pada pak Agam untuk menghadapi kasusnya. Selama kekosongan itu, tuan Deanka bersedia menggantikan pak Agam."



"Nah begitu dong, tuan Deanka memang harusnya seperti itu. Setahuku, kak Agam sudah banyak berkorban untuk dia, termasuk berkorban nyawa," kata Gama



"Ya, saya juga tahu. Ya sudah, saya pergi. Anda istirahat ya." Vano bergegas.



"Pak Vano, tunggu."



"Ada apa lagi?"



"Pinjam laptop dong, aku mau mengerjakan tugas, laptopku kan di rumah."



"Em, baik nanti saya bawakan."



Gama hendak kembali ke kamar, namun melihat tas laptop tergeletak di gudang, ia inisiatif mengambil dan membawanya ke kamar.



Beberapa saat kemudian, Vano datang dan meminjamkan laptop miliknya.



"Ini, sudah saya buka kuncinya."



"File-file, aman?" tanya Gama.



"Maksudmu?"



"Hahaha, tidak apa-apa sih Pak Vano, aku hanya bertanya," kata Gama.



"Kok, laptop Pak Agam ada di sini? Kamu yang bawa dari gudang?"



"Ya, Pak."



"Oh, ya sudah saya permisi."



Vano keluar lagi. Ia tidak mempermasalahkan laptop Agam ada pada Gama, toh sudah terkunci, pikirnya.



Setelah Vano pergi, Gama mengunci pintu. Bukan Gama namanya kalau tidak *kepo*. Karena merasa bosan, setelah mengerjakan tugas sekolah, ia iseng membuka laptop milik Agam. Hanya ingin mengetahui seperti apa kinerja kakaknya hingga dewan komisaris dan direksi mempertahankannya.



Laptop terkunci, tapi ... bukan masalah bagi Gama. Dalam percobaan kedua, ia berhasil membukanya.



Ia membuka beberapa file, tidak ada yang menarik, pikirnya. Dunia kerja Agam membosankan. Isi di dalamnya rata-rata adalah program, kurva-kurva, neraca ekonomi, laporan, dan lain-lain.



Tapi entah dari mana awalnya. Gama tiba-tiba menemukan sesuatu yang membuatnya penasaran.



Kenapa penasaran?



Karena nama file itu identik dengan nama inisialnya.



File itu bernama, 'G.' Ia mencoba membukanya, tapi file terproterksi. Gama menggunakan kemampuannya untuk membuka file, tapi tetap tidak bisa. Semakin penasaran. Ia pindahkan file itu ke laptop Vano, dan berusaha lagi.



"Berhasil." Ia girang.



Ternyata file di dalamnya berisi pesan suara dan seperti rekaman percakapan. Gama membukanya dengan kening megkerut.



"*Sekal lagi saya katakan, mau saya memiliki adik ataupun tidak, itu hak saya. Kalaupun ya, percayalah, adik saya tidak memiliki kemampuan apapun*." Suara Agam.



"*Harusnya Anda bangga jika kemampuan adik Anda bisa digunakan untuk kepentingan bangsa dan negara. Selain itu, masa depan adik Anda akan terjamin*." Entah suara siapa Gama tidak tahu.



"*Tidak, kata saya tidak, ya tidak. Cukup saya saja yang kalian eksploitasi. Ya, saya juga bangga menjadi anggota BRN, tapi peraturan yang mengikat di sana, ada yang tidak manusiawi. Saya tidak ingin adik saya menderita dan tertekan seperti saya*."



Deg, Gama terkejut.



"BRN?" gumamnya. Alisnya semakin mengkerut.



Ia membuka file lainnya. Ini berisi rekaman. Suaranya terdengar samar, namun masih bisa didengar jika diperhatikan dengan seksama.



"*Pak Ketua, mundur dari BRN adalah hak dari setiap anggota. Begitupun dengan Maga, kenapa kita tidak merelakan Maga saja*?"



"*Saya sependapat dengan Anda, namun kita tidak bisa melakukan apa-apa sebelum memiliki kandidat pengganti Maga. Maga berbeda, dia bukan anggota biasa. Dia spesial. Kemampuan dia belum ada tandingannya*." Suara pria.



"Maga? Siapa Maga?" Gama semakin bingung.



"*Ya, dan tega sekali pak wakil menyakiti dia. Padahal, jika Maga tidak diserang, Maga bisa saja memberikan informasi tentang kandidat yang bisa menggantikan posisinya*."



Rekaman lain dibuka.



"*Saya jamin kita tidak akan ditekan lagi oleh federasi internasional. Lakukan saja sidang etik pada Maga*."



"*Maksud Anda apa? Jangan memperkeruh suasana*."



"*Hahaha, Pak Ketua, saya memiliki kandidat calon pengganti Maga*."



"*APA*?!"



"*Siapa? Kenapa Anda bisa cepat menyimpulkan? Setahu saya, selama ini kita selalu gagal merekrut anggota yang setara dengan Maga*."



"*Kali ini kita tidak akan gagal lagi Pak Ketua, karena dia memiliki ikatan darah dengan Maga*."



"*Orang yang selama ini kita suruh untuk mengintai Maga menemukan fakta bahwa Maga memiliki seorang adik*."



"*Hahhh*?!" Terdengar keriuhan.



"*Laki-laki apa perempuan*?"



"*Usia berapa*?"



"*Apa dia memiliki kemampuan di bidang bahasa juga*?"



"*Sekolah di mana*?"



"*Apa sudah kuliah*?"



"*Apa info ini valid*?



"*Cukup! Diam semuanya*!"



"*Anda ke ruangan saya sekarang. Rapat selesai*."



"Apa?!" Gama cepat-cepat menghapus file dan menutup laptop.



Lalu ia teringat ucapan Agam.



"*Gama, kita yang berbeda. Kita dilahirkan sedikit berbeda dari orang lain. Kakak tidak mau nasibmu seperti Kakak, mengerti*?"



Dan Gama teringat lagi saat ia tidak sengaja mendengar Linda memanggil Agam dengan nama Maga.



Rasa penasarannya semakin meningkat, ia mengunjungi situs BRN, namun situs itu sulit dibuka. Sepertinya telah dilindungi oleh sistem keamanan berlapis. Ia memijat kepalanya yang tiba-tiba pusing.



"Aku harus menyelesaikan masalah ini dengan caraku sendiri," katanya.



...❤...


...❤...


...❤...


...❤...



~~~*Saat ini* ....



Agam melangkah cepat setiba di rumah barunya. Langsung naik ke lantai dua dengan perasaan tak menentu. Tidak ada cara lain dalam masalah ini kecuali ia harus berbuat nekad dan berani mengambil risiko.



Siapa lagi pikirnya yang mampu melacak keberadaannya selain Mister dan BRN. Namun kali ini BRN telah melewati batas karena berani menyentuh putranya.



"Bagaimana kabar cucuku?" Ayah Berli menatapnya cemas.



"Tenang Ayah, berdoa saja, semuanya pasti akan baik-baik saja," jawab Agam. Sementara kakinya tetap melangkah menuju kamar Linda diikuti Pak Yudha.



"Bagaimana aku bisa tenang?! Pak Dirut, Anda bagaimana sih? Anda kembali tanpa membawa cucuku! Harusya Anda tidak pulang sebelum mendapatkannya!" teriak Ayah Berli.



"Pak Berli, tenang. Pak Agam sedang berusaha, jangan memperkeruh keadaan, Pak Agam akan menyelesaikan masalah ini dari jarak jauh," terang Pak Yudha, Agam diam saja, tidak mungkin juga ia bertengkar dengan mertuanya.



"Pak Dirut!" teriak Ayah Berli.




"Aku menyesal merestui Anda!" teriaknya.



Deg, teriakan itu bak sembilu. Sejenak langkah Agam terhenti. Pak Yudha mengepalkan tangan.



"Harusnya putriku menikah dengan orang yang biasa saja, tidak misterius dan memiliki banyak musuh seperti Anda, aku menyesaaal!" Berteriak lagi.



Agam membalikan badan. Dari puncak tangga tertinggi ia berkata ....



"Silahkan Ayah benci saya, marahi saya, tapi ingat Ayah, Linda hanya mencintai saya. Dan kalaupun Linda sendiri yang ingin meninggalkan saya, dia tidak akan bisa. Karena saya tidak akan membiarkan apapun yang saya sukai dan sudah sudah saya genggam lepas begitu saja. Camkan itu Ayah," tegas Agam, tapi ia menunduk saat berbicara.



"Anda lancang pada mertua Anda sendiri!" teriak Hikam yang baru saja datang dari taman setelah menjaga Yolla dan Yolli.



"Diam kamu!" teriak Pak Yudha.



Agam melanjutkan perjalanan. Ia harus memastikan Linda baik-baik saja.


.


.


.


.


"Bagaimana Bu?" tanya Agam pada Bu Ana yang kebetulan berpapasan dengannya.



"Dia sudah sadar, tapi masih nangis-nangis," jelasnya.



"Saya ke sana," kata Agam.



Pak Yudha hanya menunggu di depan kamar.



"Linda, saya di sini," Agam membalikan perlahan tubuh Linda yang tidur menyamping memeluk guling.



"Huuu ... mana anakku?" kata Linda. Tapi ia tidak mau berbalik, masih memunggungi Agam.



"El, saya sedang berusaha. Saya sudah tahu dalangnya. Lihat saya sayang, saya ingin melihat wajahmu," kata Agam.



"Apa aku lebih penting daripada anak kita? Apa karena aku bisa memuaskanmu, jadi Pak Agam lebih memilihku?"



"Apa? El, apa yang kamu bicarakan sayang? Saya tidak mengerti," kata Agam, sambil membelai rambut Linda.



"Huuu ... huuu ... kenapa Anda pulang tanpa anak kita? Bukankah Anda berjanji akan menyelamatkannya? Anda tidak boleh melihatku sebelum menemukan anak kita, huuu," teriak Linda.



"Linda ... tolong fahami keadaan saya. Saya sedang berusaha, dan saya ... saya membutuhkan dukungan kamu. Serius El, saya juga lelah dengan semua ini. Saya juga ingin bahagia dan tentram, sayang ... saya membutuhkan kamu, *please* Linda, lihat saya," ratap Agam.



"Tidak mau! Aku lelah, Pak .... Aku putus asa, aku takut kehilangan putraku lagi. Huuu, sebenarnya apa yang mereka inginkan? Dan kenapa? Kenapa anakku harus terlibat dalam masalah ini? Dia masih kecil."



"Sayang ... maafkan saya, seperti inilah kehidupan saya, maafkan saya El, maaf ...." Agam menarik Linda dan memeluknya.



Di luar dugaan Linda malah menolak. Ia mendorong dada Agam, dan kembali memunggungi.



"Huuu huuu ... apa jika kita berpisah putra kita akan baik-baik saja?" tanya Linda dengan suara gemetar.



Deg, bagaikan tersambar petir di siang hari, pertanyaan Linda begitu melukai perasaan Agam.



"Apa kamu bilang?"



"Apa jika berpisah putra kita akan baik-baik saja? Pak Agam, aku sangat mencintaimu, tapi ... jika kebersamaan kita membuat banyak orang yang tidak berdosa dalam bahaya, bahkan anak kitapun dalam bahaya, lalu kenapa kita tidak berpisah saja?"



"Mungkin ... dengan kita berpisah permasalahan ini akan selesai, dan tidak ada lagi pihak yang merasa dirugikan. Aku tidak ingin putra kita dalam bahaya. Jika perpisahan itu lebih baik, kenapa kita tidak mencobanya?"



"A-apa? Linda, jangan berbicara seperti itu sayang ...." Agam menatap punggung Linda. Hatinya hancur.



"El, jikapun kita berpisah, itu tidak akan menjamin masalah kita akan selesai. Linda, tolong jangan berpikiran seperti itu, lihat saya Linda. Saya sangat mencintai kamu, saya tidak ingin kita berpisah. Kamu sendiri yang mengatakan kita akan melewatinya bersama-sama, tapi kenapa? Kenapa kamu mengatakan itu sayang? Kamu tidak serius, kan?"



Agam kembali memeluk Linda, semua hal yang telah dilakukan Linda untuknya, membuat cintanya pada Linda semakin hari semakin mendalam. Kali ini Linda tidak menolak, Linda membiarkan Agam memeluk tubuhnya.



"Tapi ... bagaimana dengan anak kita? Aku akan membenci Anda seumur hidupku jika Pak Agam tidak bisa menyelamatkan anak kita," lirih Linda. Ia kembali pasrah saat Agam membalikan tubuhnya. Mereka berhadapan.



"Lihat saya El, pertama ... saya memohon dengan sangat, jangan meminta berpisah lagi ya, karena hanya ada kamu di dalam hati saya, El. Saya ingin mencintai kamu hingga di ujung waktu. Hanya kematian saya yang akan memisahkan kita, El. Saya tidak ingin berpisah dari kamu. Saya rela menjadi mengemis cinta demi kamu," ucapnya.



Linda tersentuh, perlahan menengadahkan kepala demi melihat pria ini. Jelas terlihat *retina* bening Agam memerah. Tatapannya begitu sendu, dan bibirnya yang mahir dan memabukkan itu terlihat gemetar.



Perlahan Linda mengusap bibir itu dan berkata ....



"Ba-baiklah, aku akan memberikan kesempatan padamu, Pak. Tapi ... tolong selamatkan putra kita. Jika tidak, maka ... jangan salahkan aku jika aku pergi dari sisi Pak Agam," katanya sambil mengecup lembut bibir Agam yang masih gemetar.



Agam terkejut, apa yang dilakukan Linda membuat semangat hidupnya kembali berkobar.



"Terima kasih sayang, pegang janji saya ya. Beri saya waktu sampai malam ini, jika malam ini saya tidak berhasil menyelamatkan putra kita, jangan panggil saya Agam Ben Buana lagi," tegasnya.



"Lalu, panggil apa?" tanya Linda.



"Tidak ada jawabannya sayang, sebab ... saya yakin bisa menyelamatkan anak kita," katanya.



Agam menatap Linda untuk memastikan agar istrinya percaya.



"Baik, aku percaya, ta ---."



Sebelum mengatakan hal lebih lanjut, bibir yang selalu terlihat merah alami itu telah membungkamnya dengan gerakan cepat.



"Umph ...." Mata Linda membulat.



Di tengah ketegangan ini, Agam Ben Buana masih saja m e s u m. Bibirnya mahir menjelajah, sementara tangannya berkelana meraih ini dan itu. Memberikan sentuhan yang membuat jantung Linda berdegup kencang.



Setelah Linda menggigitnya, barulah Agam berhenti.



"Maaf sayang."



"Bisa-bisanya Bapak begitu," ketus Linda.



"Itu vitamin El, semoga saja saya semakin cerdas. Saya akan segera beraksi," kata Agam.



"Mau berangkat sama siapa?" tanya Linda sambil meringis, tangan Pak Dirut sedikit menyakiti bagian tubuhnya.



"Saya tidak kemana-mana, saya akan menyelamatkan anak saya dari sini, di kamar ini," katanya sambil membuka tirai dan sabuk yang dipakainya.



"Anda mau apa?" Linda jelas kaget karena Agam membuka sabuknya.



"Tenang sayang, saya akan bekerja menggunakan sabuk ini, kamu lihat ya, hari ini saya bisa saja membunuh seseorang dari jarak jauh," tegasnya.



"Apa?!" Linda geleng-geleng kepala tidak percaya.



'Tok, tok, tok.'



Pak Yudha mengetuk pintu.



"Masuk," kata Agam.



"Pak Agam, ponsel Anda tertinggal di mobil, ini ada panggilan dari nomor tidak dikenal," kata Pak Yudha.



"Terima kasih Pak Yudha," Agam mengambil ponselnya.



Pak Yudha cepat-cepat meninggalkan kamar, merasa risih melihat Agam membuka sabuk dan bajunya. Padahal, maksud Agam akan ganti baju dulu sebelum beraksi.



Agam terkejut melihat nomor yang memanggilnya. Ia sengaja tidak menyimpan nomor tersebut, tapi ... ia tahu identitas pemilik nomor itu.



"Hallo," Agam menjauh dari Linda. Masuk ke kamar mandi.



"*Selamat untuk Anda, Maga. Anda dibebaskan dari sidang etik, surat pengunduran Anda telah diACC federasi. Dan satu hal lagi, putra Anda dan LB tidak akan diganggu lagi. Maaf jika kami mengagetkan Anda. Tenang saja, putra dan para pegawai Anda akan baik-baik saja. Mereka akan dibebaskan dalam keadaan sehat*."



Panggilan terputus.



"Apa?"



Agam keheranan. Ya, ini memang sesuai harapannya, tapi ... keteragan itu terlalu janggal. Pasti ada alasan lain yang menjadi penyebabnya. Agam berpikir keras. Ia keluar dari kamar mandi dan kebingungan.



"Ada apa?" tanya Linda.



"Peluk saya sayang ... saya dilema," katanya sambil merentangkan tangan menyambut tubuh Linda yang berhambur ke arahnya.



Ia menunduk, menelusupkan kepalanya di pundak Linda.



"Kenapa?"



Linda mengusap punggung kokoh Agam yang polos. Kulit Agam terasa halus, Linda mengakui hal itu.



"Saya akan terbebas dari sidang etik, putra kita juga akan kembali dengan selamat," jelasnya.



"Be-benarkah?"



Mata Linda berkaca-kaca, ia memeluk Agam semakin erat. Linda bahagia. Tapi tidak dengan Agam, pria itu masih penasaran.



*Pasti ada sesuatu*, kata Agam dalam benaknya.