
Kediaman Agam
Agam tengah menatap gundukan kecil tanah merah bertabur bunga segar yang berada di taman belakang basement.
Agam belum memberinya nama, ia akan memberikan nama pada putranya itu nanti setelah ia menemukan Linda.
Memberi nama kepada anak memang disunnahkan meskipun anak tersebut meninggal dunia baik ketika masih dalam kandungan, keguguran, ataupun setelah dilahirkan.
Bahkan, meskipun anak tersebut belum diketahui jenis kelaminnya. Apalagi putra Agam, janin itu sudah berusia 18 minggu dan jenis kelaminnya sudah terlihat jelas.
Tadi saat seorang ustadz datang ke rumah untuk membantu mengebumikan, Agam hanya mengatakan, "Ini cucunya bapak Berli."
Agam tahu jika nasab anak di luar nikah Menurut Keputusan Mahkamah Konstitusi hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya.
Sedangkan hubungan nasab dalam agamanya jelas berbeda dengan perdata. Sekalipun anak di luar nikah mempunyai hubungan perdata dengan Agam selaku ayah biologisnya, tapi ... Agam tetap tidak punya hubungan nasab dengan putranya itu karena Linda hamil di luar kawin.
Berbahagialah di taman surga, my baby little boy .... Jadilah bunga berharga yang kelak bisa menolong mamamu, maafkan Papa sayang ....
Ada yang bening di sudut mata sayunya saat ia menyirami pusara kecil mungil itu dengan air jernih yang berasal dari kendi berbahan perak.
Pak Yudha dan Bu Ira tampak masik khusyuk berdoa dan membaca ayat suci. Mata Bu Ira terlihat sembab.
Bu Ira mengenal Agam sejak pria itu masih berusia 12 tahun. Ia tahu benar bagaimana Agam berperan sebagai kepala keluarga setelah ayahandanya meninggal dunia saat Agam berusia 19 tahun.
"Pak Agam, ayo makan dulu. Jangan sampai Anda sakit," ajak Bu Ira.
"Aku belum lapar, Bu. Nanti saja." Sambil mengelus batu nisan putranya.
"Pak Agam yang saya kenal tidak lemah seperti ini," tambah Pak Yudha.
Agam diam saja, ia malah tertunduk menyembunyikan kepala di antara kedua lututnya.
"Pak Agam, saya tahu Anda panik dan khawatir, tapi kesehatan Anda jauh lebih penting. Bagaimana bisa Anda menolong nona Linda kalau Andanya sakit," tambah Bu Ira.
"Bu Ira benar Pak Agam, kembali lagi pada motivasi Pak Agam yang dulu sering diucapkan pada tuan Deanka. Masih ingat, kan?"
"Iya, Pak." Kata Agam.
"Coba katakan lagi dengan lantang," titah Pak Yudha seraya mengelus punggung Agam.
"Tuhan menguji hamba-Nya sesuai dengan kemampuannya, dan sesungguhnya sesudah kesulitan pasti akan ada kemudahan," jawab Agam dengan suara lirih.
"Nah, itu Pak Agam tahu. Bapak pasti kuat, kok. Apalagi sekitar enam bulan lagi mau jadi ayah, kan? Hehehe."
Pak Yudha berusaha menghibur, pria itu tertawa, padahal ia sendiri sadar betul jika tawanya itu dipaksakan.
"Terima kasih untuk Pak Yudha dan Bu Ira." Agam beranjak, menyingsingkan lengan bajunya dan berlari menuju lift.
Lalu Pak Yudha menyusul Agam meninggalkan Bu Ira yang masih terisak.
"Pak Agam, saya siap menerima tugas," teriak Pak Yudha.
***
Mansion
"K-kamu?!! K-kenapa? Kenapa kamu menculikku?!" teriaknya.
"Kamu, kan?" Mata Linda membelalak tidak percaya.
"Hahaha, supri~~se aku kembali, wuahahaha." Pria itu duduk di kursi goyang yang berada tepat di depan tempat tidur.
"Bu-bukankah, k-kamu dipenjara?!" Masih dengan mata membulat dan syok.
"Hai seksi, apa kamu lupa? Aku ini Yohan Nevan Haiden, tidak ada dalam kamusnya aku harus berada di penjara lama-lama. Hahaha, aslinya kamu lebih cantik dan seksinya ternyata ya." Pria itu menatap Linda, nyaris tidak berkedip.
"Tu-Tuan Yohan, apa urusannya kamu menculikku, hahh? Aku sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan Anda. Aku juga merasa tidak mempunyai kesalahan apapun pada Anda," ucap Linda sambil memalingkan wajah.
"Hahaha, ya kamu memang tidak salah, tapi kamu itu bagai kacang lupa kulitnya." Sambil mendekati Linda.
"Jangan dekat-dekat denganku Tuan Yo. Pergiii!"
"Tidak perlu galak-galak dong, seksi. Tenang saja, aku tidak akan menodai kamu, kok. Tapi kalau kamu mau, dengan senang hati." Semakin mendekati. Ia menarik kursi untuk berada di samping Linda.
"Apa maksud Anda kacang lupa kulitnya, hahh?!"
"Hahaha, kenapa ya wanita hamil itu auranya selalu menggemaskan? Aku lihat nona Aiza menggemaskan, dan tenyata nona Linda juga menggemaskan, hahaha."
"Cukup, Tuan Yohan! Cukuuup! Katakan apa maumu?! Apa alasanmu, menculikku?!"
"Wih, galak sekali, agresif nih sepertinya. Ck ck ck. Kamu cocok jadi ja lang bayaran, Nona. Hahaha."
"Apa?! Jaga ucapan kamu, pembunuh! Kamu laknat! Kamu membunuh ibu kamu sendiri. Harusnya, jika Anda manusia sehat, Anda punya rasa malu untuk menampakkan diri di dunia ini!"
"Binatang saja tidak ada yang membunuh ibu kandunngnya. Sedangkan, kamu?!" Linda tampak berani, ia bersungut-sungut seolah tidak ada rasa takut.
"Hahaha, mulut ja lang memang beda. Aku tidak membunuh mamaku. Itu kecelakaan," elaknya.
"Aku bukan ja laaaang!" teriak Linda.
Ia menatap tajam pada Yohan, airmatanya kembali berjatuhan. Tuduhan wanita ja lang adalah hal yang paling menyakiti perasaannya.
"Hahaha, munafik sekali kamu Nona seksi. Dengarkan baik-baik, ada artis tiba-tiba datang ke klinik kandungan, belum menikah, dan hamil. Apa namanya kalau bukan ja lang? Kamu ke sana untuk aborsi, kan? Hahaha," sambil menyelimuti kaki Linda yang sedikit terbuka.
"Apa?! Tuan Yohan! Cukuuup! Anda tidak tahu apa-apa tentangku. Aku ke klinik itu bukan untuk aborsi!"
"Hahaha, mana ada maling ngaku. Kalaupun ada, pastinya juga langka."
"Diaaam!"
Linda menutup telinganya, lalu menagis sejadi-jadinya.
"Puas-puaslah menangis Nona seksi, nanti-nanti berpuas-puaslah bersamaku, hahaha."
"Cukuuup!"
Linda lalu diam. Memalingkan wajah dan kembali terisak.
"Hei, jangan menangis seksi, harusnya kamu berterimakasih dong. Karena kamu aku culik, setidaknya aku sudah menyalamatkan kamu dari perbuatan dosa aborsi."
Linda diam saja, dia malas berdebat dengan pesakitan itu. Sengaja juga terdiam untuk memberikan kesempatan agar pria itu mau menjelaskan motif menculiknya.
"Baiklah, aku akan jelaskan maksudku menculik kamu. Motif utamanya aku butuh uang."
"Bukankah Anda sudah kaya-raya? Mansion mewah ini?" tanya Linda. Tanpa menatap Yohan.
"Hartaku hampir habis untuk membayar sisa tahanan, aku bebas bersyarat. Ini bukan mansion milikku. Mansion ini namanya Haiden's Mansion. Dulu, sebelum identitas si Deanka terbongkar ke publik, hanya petinggi Haiden saja yang berhak atas mansion ini."
"Sekarang pengadilan sudah memutuskan jika Tuan Besar dan si Denkapun memiki hak milik atas mansion ini. Termasuk si Dirut sialan Agam Ben Buana ada hak juga di mansion ini. Aku tidak habis pikir kenapa pengadilan mencantumkan nama si brengsek itu di sertifikat kepemilikan mansion."
Deg.
Mendengar nama Agam Ben Buana, jantung Linda spontan berdegup kuat. Tiba-tiba langsung rindu. Rindu, serindu-rindunya pada pria itu. Ada keinginan hebat untuk menciumnya lagi.
'Tuk tuk.' Linda memukul kepalanya.
"Kenapa? Pusing? Perlu aku panggilkan dokter?" tanya Yohan.
"Tidak Tuan Yo. Ya tadi sedikit pusing, tapi sekarang tidak lagi."
Linda berusaha untuk berekspresi biasa agar Yohan tidak curiga, beruntung dalam hal akting Linda ahlinya.
"Aku menculik kamu karena merasa sebagai orang yang paling berjasa membuatmu terkenal."
"Apa?! Itu mengada-ada Tuan Yo," sanggah Linda.
"Hei, kamu lupa siapa yang mengundangmu jadi MC di preskon? Itu aku LB, aku. Setelah acara preskon itu kamu tiba-tiba menghilang, lalu muncul bersama si Agam dan jadi bintang HGC, kan?"
"Ya, itu benar. Tapi sama sekali tidak ada hubungannya dengan kamu Tuan, Yo. Aku menjadi bintang iklan ya karena dapat tawaran dari tim pemasaran HGC," terang Linda.
"Hahaha, dengar ya seksi. Aku bukan pria bodoh, aku tidak mungkin menculik kamu jika prospeknya tidak menguntungkanku. Sekarang kartu kamu ada di tanganku, kamu hamil di luar nikah dan aku menemukanmu di klinik kandungan. Sempurna." Sambil memberikan kecupan jarak jauh pada Linda. Linda langsung memalingkan wajah.
"Dasar licik! Apa yang kamu rencanakan Tuan Yo?!" bentaknya.
"Rencanaku banyak, kamu adalah kartu keberuntunganku. Dengan kamu disisiku, maka sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali tepuk dapat dua lalat. Bahkan mungkin lebih dari dua lalat. Hahaha."
Linda menautkan alisnya masih tak faham dengan maksud Yohan.
"Masih belum faham? Dengarkan ya seksi. Selain ingin mendapatkan keuntungan, aku juga sengaja menggunakan kamu untuk menjatuhkan si Dirut songong itu."
Apa?! Ini yang aku takutkan. Batin Linda.
"Dalam perjanjian iklan, yang aku tahu selama terikat kontrak, artis itu kalaupun sudah menikah tidak boleh hamil dulu. Lah, sekarang lihat dirimu LB, kamu itu tidak cukup melanggar kontrak, tapi kamu berskandal, hamil di luar nikah. Hahaha."
Linda mendunduk, bingung. Kekhawatirannya akan karir Agam kian menyeruak.
"Kudengar, Agam adalah orang pertama yang mengusulkan nama kamu. Di sini aku harus memastikan siapa yang ditipu, siapa yang menipu, atau bisa jadi kamu dan Dirut sok gagah itu bersekongkol. Sangat-sangat menarik."
"Silahkan lakukan semaumu, Tuan!"
Linda pura-pura tidak peduli padahal hatinya semrawut.
"Ada banyak sekali rencana yang bisa aku gunakan untuk mencari keuntungan." Sambil mengeluarkan buku catatan.
"Pertama ya dengan menjual berita besar ini ke media."
"Tuan, Yohan."
"Ya seksi, kamu memanggilku." Pesakitan itu mendekat.
Linda berusaha tidak panik, ia akan memanfaatkan sedikit kemampuannya dalam berakting.
"Anda juga seksi Tuan Yo."
Sambil menatap Yohan dan melemparkan senyumnya. Padahal aslinya bukan mau senyum, tapi mau muntah. Tapi menurut gosip yang beredar bibir pria ini masih perjaka. Ciumannya hanya akan diberikan untuk istri sahnya.
Gosip yang menurut Linda terdengar seperti cerita anekdot. Sedangkan gosip lain yang beredar jua, Yohan adalah maniak.
Pih, menjijikkan.
Korbannya tentu saja wanita-wanita high clas yang low faith. Wanita-wanita yang tidak pernah merasa puas dan bersyukur dengan kemewahan dan harta. Selalu ingin berada di level tertinggi memamerkan barang termewah, termahal dan branded.
"Ya Tuhan, aku dipuji oleh wanita seksi dan cantik, hahahha." Bangga, langsung mengibaskan rambutnya.
"Mari membuat kesepakatan," tawar Linda.
"Oke.
"Hahaha, kukira kamu baik, ternyata kamu sama saja seperti yang lain," kata Yohan dengan seringai liciknya. Lalu membuka ikatan di kaki Linda.
"Bagaimana kaki seksi, kan?" tanya Linda.
Lalu ia menarik roknya sedikit, berjinjit dan menyilangkan kakinya di udara. Linda menelusuri kaki aduhai itu dengan tanganya sendiri dari mata kaki sampai ke atas lutut. Gerakan yang sangat sensusl dan menggoda. Sampai-sampai Linda sendiri merasa jijik.
Mata Yohan membulat, langsung menelan saliva dan mengatur napas panjang berulang-ulang.
"Kamu mau kita bermain sekarang?" tanyanya. Tatapan pada Linda langsung nanar.
"Tuan Yo sayang ...." Cuih, dalam batinnya.
"Sabar, dong. Mari kita buat dulu kesepakatan." Linda kemudian duduk perlahan bersandar pada bantal yang ditinggikan.
"Huuh, baik. Tapi aku dulu yang memberikan penawaran," kata Yohan.
"Silahkan," timpalnya. Pura-pura menantang dan berani, padahal hatinya ciut.
"Tadinyakan aku akan menjual berita besar kehamilan kamu ke media. Tapi ... karena kamu bisa kugunakan untuk memuaskanku, aku tidak akan melakukan itu," kata Yohan.
"Uhhhuk," Linda terbatuk karena ketakutan.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa Tuan, Yo." Tersenyum lagi.
"Kamu puaskan aku, dan berikan 70 persen uang kontrak iklan itu padaku. Kalau kamu tidak mau ya aku akan menjual berita kehamilanmu ini ke media untuk mendapat keuntungan."
"Dasar licik," ucap Linda. Tapi dengan nada biasa.
"Bagimana kalau 70 persen itu aku berikan tapi aku tidak perlu memuaskanmu, aku sedang hamil Tuan Yo. Aktivitas itu berbahaya untuk kehamilan usia muda sepertiku," keluh Linda.
"Boleh," jawabnya.
"Serius?"
Mata Linda berbinar bahagia. Lebih baik mati pikirnya daripada harus memberikan tubuhnya pada pria yang bukan suaminya.
"Serius, tapi ... ada tapinya."
"Tapi apa?" Linda penasaran.
"Tapi kamu harus bekerja sama denganku untuk menggulingkan Dirut HGC."
"A-apa?! Em ... m-maksudku siapa takut?" ucap Linda.
Berarti pria licik ini tidak tahu kalau aku berada di klinik itu bersama Pak Agam. Untungnya bidan magang itu hanya mengatakan tentang pasien yang mirip LB. Tidak membahas tentang Dirut HGC.
"Hei, kamu melamun?"
"Ti-tida Tuan, Yo." Linda sedikit gugup.
"Katakan apa yang harus aku lakukan untuk menggulingkan dia?"
Saat mengatakan kata 'Dia' yang dimaksudkan pada Agam, Linda kembali merindu. Ia menghela napas guna menghilangkan bayangan Agam di atas kepalanya.
"Tunggu," Yohan menautkan alisnya.
Linda berdegup, khawatir akan kemungkinan Yohan curiga dengan kedekatan Agam dan dirinya.
"Siapa pria yang menghamilimu?"
Deg, Linda kalut. Berpikir keras lagi untuk mencari jawaban.
"Apa tuan Rufino Pederik?" Sebelum Linda menjawab, Yohan sudah menyela.
"Apa kamu dihamili ramai-ramai? Hahaha."
Deg, ucapan itu ibarat sembilu yang menyayat tubuhnya. Sakiiiit, periiih.
Tapi ... wanita itu harus tetap berakting demi keselamatan dia dan buah hatinya, namun ... ia juga tidak mau harkat-martabat dan harga dirinya diinjak-injak dan dihinakan.
"Maaf Tuan Yo, saya tidak serendah itu."
"Tidak perlu munafik seksi, aku tahu dari matamu kalau kamu itu juga maniak, kan? Sama sepertiku, hahaha. Tatapan matamu itu membangkitkan birahi." Sambil berputar-putar di atas kursi goyangnya. Kali ini sambil memainkan ponsel juga.
Linda menunduk, batinnya getir dan perih.
Apa yang salah dengan matanya?
Salahkah kalau dia cantik?
Salahkah kalau dia seksi?
Padahal, Linda selalu memakai baju tertutup.
Kenapa ada saja prasangka buruk itu?
Apa karena dia artis?
"Siapa yang menghamilimu, hahh?"
Jika dengan berbohong aku bisa meyelamatkan bayiku dan orang yang aku cintai, kurasa tidak ada salahnya aku berbohong.
"Begini Tuan Yo, empat bulan yang lalu setelah aku mendapatkan penghargaan itu, aku diajak seseorang untuk berpesta, dipesta itu aku mabuk. Saat aku bangun pagi harinya, aku telah kehilangan kesuciannku, aku tidak tahu siapa pria itu, sungguh Tuan Yo ...."
"Jika ingat itu, aku juga sedih, huuu huuu." Menangisnya asli, karena memang sedang bersedih.
"Apa aku bisa mempercayaimu?"
Yohan mulai sedikit iba, atau pura-pura iba? Entahlah, Yohan Nevan Haiden bukan orang yang mudah dipercaya.
"Terserah Anda mau percaya atau tidak. Ya, Anda benar. Aku datang ke klinik itu memang untuk aborsi. Aku ingin aborsi karena tidak mau kehamilanku diketahui oleh agency HGC, dan manajerku. Tapi dokter di klinik itu menolak melakukan aborsi."
"Katanya ilegal, menodai sumpah profesi, pelanggaran HAM, dan intinya adalah perbuatan dosa. Huuks ...." Terisak, sambil mengintip ekspresi Yohan di balik jemarinya.
"Huuh, malang benar nasibmu, LB. Di mana kamu berpesta? Tanggal berapa? Siapa saja yang datang denganmu? Aku jadi penasaran, siapa pria yang mencicipi kamu pertama kalinya? Dia beruntung, ck ck ck," decaknya.
Waduh.
Linda kembali berdegup, mantan kapten pesawat kenegaraan pastinya tidak bisa dikibuli semudah itu. Bumil seksi itu kembali berpikir keras.
"Tuan Yo ... huuks ... tolong fahami keadaanku. Aku berasal dari keluarga miskin Tuan, jika Tuan Yo mencari tahu, aku khawatir semuanya akan terungkap ke publik, dan popularitas yang aku dapatkan akan hilang dalam sekejap."
"Sedangkan aku sangat butuh uang untuk memenuhi kebutuhan hidupku dan keluargaku, tolong jangan bahas itu lagi. Aku sakiiit, aku trauma, huuu ...."
"Ssshh ... sshhh ... sudah jangan menangis."
Linda terkejut, karna Yohan tiba-tiba mendekapnya. Namun Linda tidak menolak.
Maafkan aku Pak Agam, aku menangis di dada pria lain. Batinnya. Ketika Yohan mengusap rambut dan mencium puncak kepalanya.
"Jangan menggugurkan kandunganmu, oke?" Sambil mengusap air mata Linda.
"Ta-tapi Tuan ...."
"Kamu tidak salah, kamu diperkosa, kamu mabuk. Apalagi bayimu, dia itu suci LB."
"Tuan Yo, apa setelah keluar dari penjara kamu jadi baik?"
Linda menatapnya saat Yohan kembali duduk di kursi goyangnya.
"Aku bukan iblis LB. Tidak selamanya aku jahat. Sebenarnya, aku jadi sedikit baik setelah mengenal seseorang. Seorang remaja yang lucu dan cantik. Menggemaskan juga." Terlihat seperti tengah membayangkan sesuatu.
"Remaja?"
"Iya, dia remaja usianya masih 18 tahun, tapi sekarang sedang hamil."
"Hamil?" Linda makin bingung.
"Remaja yang aku maksud itu Aiza Bahira, istrinya si Deanka," selorohnya.
"Oh." Kata Linda.
"Ya sudah, kembali lagi ke rencana. Mari kita bekerja sama untuk menghancurkan si Agam Ben Buana. Hidupku tidak akan tenang sebelum menghancurkan dia. Aku ingin membuat dia jatuh miskin dan mengambil alih semua hal yang dia miliki." Sambil menggeram dan mengepalkan kedua tangannya.
"C-caranya?" Linda gelagapan.
"Kamu buat persetujuan kontrak yang lebih menguntungkan, goda dia, dan buat dia bertekuk lutut dan mau melakukan apa saja untuk kamu, faham?"
"A-a-apa?!"
Mata Linda membulat, tidak menyangka akan mendapat tugas seasyik, dan semenarik itu.
Menggoda pak Agam? Sedangkan, dia sendiri sudah tergila-gila oleh pesona Dirut itu. Ya ampun ....
Tapi ... dramanya harus dilanjutkan.
"Ta-tapi Tuan Yo, akukan sedang hamil, bagaimana kalau dia sadar aku hamil, terus ... membatalkan kontrak sebelumnya?"
"Hahaha, kamu tenang saja, justru kehamilan kamu akan jadi kartu keberuntungan kamu. Dia itu baik, tapi aku membencinya. Aku yakin kalau kamu berhasil dan dia menyukai kamu, dia pasti tidak masalah kalaupun kamu hamil. Lagipula tubuhmu bagus, belum terlihat kalau kamu hamil."
"Setuju?"
"Ba-baik, Tuan Yo." Masih di mode melongo tak menyangka.
"Tapi ... setelah tubuh kamu pulih, aku tetap ingin menikmati tubuhmu juga, setuju?"
"Apa?!" Linda kembali terhenyak.
"Aku tidak akan mengecewakanmu, serius. Bagaimana? Setuju?"
"Beri aku waktu." Jawab Linda.
"Sip, aku akan menunggu dengan tidak sabar," kata Yohan.
"Kapan kita mulai kerjasamanya?" tanya Linda.
"Setelah kamu pulih."
Mereka kemudian bersamalan.
❤❤ Bersambung ....