My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Episode 98 Terbongkar (Spesial Aditya)



Di kediaman Mahendra dua orang perempuan sedang asik mengbrol di halaman belakang. Obrolan mereka dari pembahasan ringan, seputar wanita hingga tanpa sadar Winda menanyakan wanita dari masalalu Aditya.


"Tante, apa wanita masalalu Adit tidak ada lagi jejaknya," ujar Winda menanyakan wanita tersebut.


"Kirana maksud kamu," ucap Hanira, diberikan anggukan oleh Winda.


"Entahlah tante juga tidak tahu keberadaan wanita itu. Terakhir yang tante ingat wanita melahirkan di rumah sakit, dan tante menyuruh orang untuk menculik bayinya, lalu dititipkan di panti asuhan," jelas Hanira.


"Mengapa tante menyingkirkan bayinya?" tanya Winda sangat penasaran.


"Apa kamu yakin ingin mengetahuinya?" tanya balik Hanira kepada calon menantunya. Yang sampai sekarang belum resmi menjadi menantunya. Karena perjanjian perjodohan waktu itu, Aditya memang menerima tetapi dengan syarat. Bahwa Aditya akan siap menikah apabila pria itu telah mencintai Winda dan menyatakan cintanya. Tetapi sampai sekarang pun pria itu belum mengungkapkan cintanya.


"Ya, tante... Ceritakanlah aku ingin mengetahui wanita masalalu Adit," kata Winda.


Hanira pun memulai ceritanya...


Author pov.


Tujuh belas tahun lalu, dimana Winda datang kerumah untuk bertemu Aditya. Disana tante Hanira mengatakan bahwa Aditya menunggu Winda untuk berenang bersama.


Mendengar perkataan tante Hanira, membut Winda kesenangan karena Aditya mengajaknya berenang bersama. Dengan bergegas Winda mengganti baju dengan baju renang dan segera mendatangi Aditya yang tengah berenang-renang.


Winda tak tahan melihat, langsung menceburkan dirinya ke kolam renang tersebut. Lalu mendekati Aditya yang sudah berada di pinggir kolam. Entah keberanian dari mana yang di dapat Winda hingga berani mencium Aditya. Itupun hanya sebentar karena Aditya langsung mendorong Winda, dan pria itu dengan cepat naik, langsung menuju kamarnya.


Kedua orang di dalam kolam renang tidak menyadari bahwa ada seorang gadis melihat adegan tersebut. Karna tak tahan melihatnya, gadis itu berlari keluar. Tante Hanira yang melihat Kirana keluar dengan menangis, membuat senyuman wanita paruh baya itu mengembang. Lalu mengejar Kirana, untuk mengatakan sesuatu, agar wanita itu menjauh dari putra Aditya.


Saat itu Kirana menghentikan langkahnya mendengar namanya di panggil. Tante Hanira pun akhirnya mengatakan dan menyuruh Kirana untuk pergi sejauh mungkin dari kehidupan Aditya dengan memberikan ongkos yang dimana ditolak mentah-mentah oleh Kirana.


Sejak kepergian Kirana pada saat itu, tante Hanira masih mengawasinya. Karena wanita paru baya itu tak ingin kecolongan bahwa nanti putranya Aditya akan menemukan gadis itu. Sampai dimana orang suruhan tante Hanira mengabarkan bahwa gadis tersebut tengah hamil. Saat mendengar kabar itu, tante Hanira mencari tahu anak siapa yang di kandung gadis tersebut. Tetapi ketika mengetahui bahwa gadis tersebut hanya berhubungan dengan putranya. Saat itulah tante Hanira menjadi geram karena mengetahui itu. Tetapi tante Hanira membiarkan Kirana dengan kehamilannya, sampai dimana proses lahiran. Disitulah rencana tante Hanira dimulai, membayar orang untuk menculik anak tersebut dan menaruhnya ke sembarang tempat di manapun, asalkan jangan sampai ditemukan oleh Kirana.


Akhirnya semua itu terselesaikan, tante Hanira menjadi lebih tenang sekarang. Setelah memisahkan ibu dan anak tersebut...


Flashback of.


"Jadi tante sekarang menjadi tenang, karena ibu dan anak itu terpisah. Dan Adit tidak akan pernah mengetahui kalau sebenarnya dia mempunyai anak," ujar Hanira.


"Jadi wanita itu pernah hamil anak Adit, tan... Winda ngga nyangka kalau hubungan mereka sampai membuahka hasil. Tetapi Winda bersyukur karena anak wanita itu sudah tante singkirkan," ucap Winda menyunggingkan senyum miringnya.


"Pastinya dong sayang, lagian tante ga sudi punya cucu dari wanita miskin itu," ucapan Hanira begitu menusuk. Jika Kirana mendengar mungkin wanita itu akan amat sakit hati.


Kedua orang itu tidak mengetahui jika seseorang telah mendengar pembicaraan mereka dari awal sampai akhir.


Seseorang itu adalah Aditya, tangan pria itu mengepal. Tatapan begitu menajam melihat Hanira sang mama. Tak tinggal diam dia langsung berjalan mendekati kedua wanita tersebut dengan bertepul tangan.


Prok... Prok... Prok...


Kedua wanita tersebut langsung menolah saat mendengar tepukan tangan seseorang. Hanira tampak begitu kaget, melihat putranya sudah berdiri di dekatnya. Bahkan tatapan putra sangat tajam seperti psikopat yang siap membunuh kapan saja.


"Aa...adit, kamu dari kapan sudah disini... Ouh, mama tahu pasti kamu nyariin Winda kan. Kebetulan banget Winda juga mau ngajakin kamu makan malam di luar. Iya Winda?" ujar Hanira menatap Winda. Hanira juga mencoba berbicara tenang.


"Iya Adit, aku sengaja datang kesini dan nungguin kamu. Sambil mengbrol dengan tante Hani, bicara soal pernikahan kita. Kapan kamu nyatakan cinta buat akunya," ujar Winda dengan beraninya mengaitkan tangan di lengan Aditya.


"Lepaskan tangan kamu dari lengan saya. Dan segera pergi, tinggalkan mansion ini," perintah Aditya masih bicara dalam intonasi nada rendah. Walaupun sedang dalam keadaan emosi saat ini.


"Loh kamu kok malah ngusir aku... Akukan kesini dengan niat baik mau ngajak kamu makan malam," balas Winda.


"Mama tetap duduk disini, jangan pergi kekamar. Saya mau bicara sesuatu," hardik Aditya. Tanpa peduli yang di cegah adalah mamanya sendiri, tetapi dia harus segera menyelesaikannya. Mama sudah sangat keterlaluan ikut campur dalam hubungan asmaranya.


"Dan buat kamu, cepat tinggalkan mansion ini. Sebelum saya berbuat kasar, kamu tahukan saya tak pernah main-main. Bahkan saya tak perduli bahwa kamu seorang wanita sekalipun," decit Aditya dengan sebuah ancaman yang memang bisa dilakukannya.


Winda yang mendengar nada mengancam dari Aditya. Membuat tubuh wanita gemetar, tanpa berpamitan wanita tergesa-gesa keluar dari mansion Mahendra.


Sekarang tinggal Aditya bersama Hanira ibunya. Aditya menatap wanita paru baya yang tengah menunduk. Aditya menghempaskan punggung di kursi yang berhadapan dengan ibunya, hanya di sekat oleh meja bulat. Begitupun tatapan tak pernah lepas dari ibunya.


"Nak, mengapa kamu menatap mama seperti. Apa mama melakukan kesalahan."


"Woah... Bahkan saya belum mengatakannya, mama sudah merasa melakukan kesalahan... Hm, memangnya apa yang telah dilakukan mama," uajat Aditya pura-pura tak mengetahui.


"Mama tidak melakukan kesalahan apapun itu," balas Hanira.


"Tidak mau mau mengakuinya! Biar saya ingatkan, apa yang anda lakukan tujuh belas tahun lalu pada seorang gadis yang tengah hamil anak saya," sengit Aditya semakin meninggikan suaranya. Bahkan dia melupakan bahwa di depan adalah ibu kandungnya sendiri.


"Aa...apa maksud ka-mu, mama ng..ngga nger-ti," Hanira malah berbicara terbata-bata yang malah semakin menambah emosi putranya.


"Cukup! Saya tak ingin mendengarkan kebohongan lagi dari mulut anda. Saya hanya bertanya satu hal, dimana anda membuah anak kandung saya," kata Aditya to the point.


Hanira menyerah, semuanya telah diketahui Aditya. Ini salahnya yang menceritak tak melihat tempat, yang akhirnya di dengat oleh putranya.


"Mama tidak tahu dimana anak kamu, lagian mama tak sudi punya cucu dari rahim wanita miskin itu."


"Wanita yang anda hina itu adalah orang yang sangat amat saya cintai. Saya tidak perduli anda mengakui anak saya cucu atau tidak. Saya hanya ingin tahu keberadaan anak saya dimana, ITUSAJA!!!" tekannya di akhir kalimat.


"Sayang mama tidak tahu di mana orang itu meletakannya... Jadi stopp menekan mama, itu hanya membuang waktu. Karna percuma, mama tidak mengetahuinya."


Hanira berdiri dari kursinya, sebelum melangkah pergi dia mengatakan sesuatu. "Satu lagi, mungkin saja anak itu sudah mati." ucapnya lalu melangkah pergi meninggalkan Aditya yang terdiam mendengar kalimat ibunya.


"Tidak, tidak... Anak ku masih hidup, aku percaya itu. Bahkan aku merasakan diriku sangat dekat dengan anakku," gumannya terlihat frustasi.


Aditya mengambil handphone dan menelpon assisten kepercayaannya.


"Albert, dengerkan saya baik-baik. Saya memberimu tugas untuk mencari tahu keberadaan putri kandung saya. Kerahkan semua orang-orang kita, saya tidak ingin mendengar jika mereka tak berhasil menemukan putri saya."


Tutt...


Aditya mematikan telponnya secara sepihak, lalu Aditya keluar dari mansion menuju ke apartemennya...


****


Follow ig aku yuk guys : @antiloversn


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓