My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Episode 81



2 Minggu Kemudian.


Waktu berjalan sangat cepat, kini pernikahan Khanza dan Antonio tidak terasa sudah berjalan dua minggu.


Khanza terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata, ketika cahaya matahari menerobos masuk ke celah-celah gorden, mengusik pengelihatannya.


Namun ketika hendak bangkit bangun, perutnya terasa berat seperti ditindih sebuah benda besar. Lalu menunduk untuk melihatnya dan ternyata benar. Sebuah lengan kekar itu masih melingkari perutnya dengan erat. Ia melirik jam dinding di atas yang menunjukkan pukul 06:00 pagi.


Ia mengingat apa yang telah dilakukan mereka semalam. Mendadak hati membuncah, wajahnya bersemu merah ketika mengingat semalam.


Semalam Antonio duluan masuk ke dalam kamar dan duduk di tepian ranjang, menunggu kedatangannya sambil bemain ponselnya. Saat Khanza datang, ia merasa heran melihat Antonio yang duduk dengan anteng, karena biasanya Antonio akan akan langsung berbaring.


"Mas!" seru Khanza.


"Sayang, sini duduk dulu," ujar Antonio menyuruh dan dituruti oleh Khanza.


"Ada mas, kok tumben ngga berbaring?" tanya Khanza keheranan.


"Lebih dekat sayang," seru Antonio.


Khanza mengkerutkan keningnya bingung. Kenapa harus dekat bangat? Tetap Khanza tetap saja menurutinya, dan sekarang tubuh mereka telah menempel.


"Ada apa sih mas, jangan buat aku penasaran.."


Keduanya saling menatap satu sama lain. Khanza menatap dengan menelisik mencari tahu sesuatu. Hingga tak disangka Antonio menarik tengkuk Khanza dan menciumnya dengan lembut tapi lama kelamaan ciuman tersebut menjadi agresif membuat Khanza kewalahan mengimbanginya.


"Mas mpphhhh lepashhin, sesakhh ihh," Antonio melepaskan ciumannya dan Khanza menarik nafas panjang lalu memghembuskannya. Melakukannya sampai tiga kali.


"Mas selalu nggak tahan tiap liat bibir kamu, bibir kamu bagaikan candu bagi mas sayang," Antonio berkata lirih, lalu mengangkat Khanza kepangkuannya.


Khanza masih merasa kebas di bibirnya, sepertinya bibirnya membengkak akibat ulah suaminya yang menciumnya dengan rakus.


"Bolehkah kita melakukannya?" ujar Antonio meminta ijin. Begitulah Antonio selalu meminta ijin dulu sebelum melakukan ia tak ingin memaksa Khanza. Jadi dia akan melakukan setelah istrinya memberikan ijin.


Khanza membelai wajah suaminya, lalu memberikan anggukan, mengijinkannya. Senyuman Antonio mengembang. Antonio pun memulainya, ia melakukan dengan sangat lembut. Hingga tanpa sadar mereka sudah melakukannya selama 2 jam. Khanza baru bisa tertidur jam 01:00 dini hari.


Flasback off


15 menit yang lalu Khanza telah selesai mandi dan bersiap-siap untuk turun ke bawah. Tapi sebelum itu, ia melakukan rutinitasnya yang memang dua mingguan ini dijalaninya. Yaitu menyiapkan air untuk mandi suaminya, dan juga tidak lupa memilihkan pakaian kerja.


Setelah itu barulah ia membangunkan suaminya yang masih dama dalam tidurnya.


"Mas bangun," Khanza menggoyangkan bahu Antonio agar terbangun. Tapi tak mempan, ia sudah paham tabiat suaminya. Yang akan bangun jika mendapatkan ciumanya.


'Cup' dahi.


'Cup' kedua mata'


'Cup' pipi kanan dan kiri.


'Cup' terakhir adalah bibir.


Dan tara, Antonio langsung membuka matanya dan menampilkan senyuman manisnya.


"Jam berapa?" tanya Antonio sambil melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya.


"Jam 6 lewat mas... Ayo bangun, mandi sekarang. Kamu ga lupakan hari ini ada meeting!" ucap Khanza mengingatkan.


"Ngga lupa sayangkuh, morning kiss lagi," pinta Antonio mendekat bibirnya pada Khanza.


Sayangnya Khanza langsung menangkup bibir suaminya dengan tangannya.


"Nanti aja, kamu belum mandi. Cepat mandi sekarang atau gaada morning kiss nya," ancamnya.


Antonio langsung bergegas bangkit dan turun dari tempat tidur, masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Khanza yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan kepala. Sebelum turun ke bawah Khanza merapihkan tempat tidur mereka dengan mengganti seprai baru dan menaruh seprai kotor pada keranjang cucian.


.


Saat ini Khanza sudah berada di dapur, tepatnya di depan kompor. Sedangkan Bi Inahnya sedang pergi keluar untuk membeli bahan-bahan sayuran bersama kedua pelayan lainnya. Sebenarnya itu bukanlah tugas Bi Inahya yang berbelanja, tetapi kedua pelayan memaksanya agar ikut.ĺ


"Boleh kok tante," jawab Khanza memperbolehkan.


Clara yang mendengar Khanza menyembutnya tante menjadi sangat kesal.


'Dasar ni anak, emangnya wajah aku kaya' tante gitu. Lagian kapan aku nikah sama om nya' dumel Clara dalam hati.


"Kamu lagi mau masak apa?" tanya Clara.


"Ini tante aku lagi pengen masakin mama ayam serundeng sama sambel bajak, pengen liat mama makan masakan aku yang ini," ujar Khanza.


"Kamu lagi ngidam ya? Yaudah aku bantuin bikin sambel bajaknya ya," kata Clara, di dalam otak sudah merencanakan sesuatu.


Khanza mengangguk memang dia lagi mengidam, ingin melihat mama mertuanya makan ayam serundeng buatannya.


Sesuai tadi rencana Clara, ia memasukan obat ke dalam sambel bajak tersebut yang dimana obat itu bisa membuat orang buang air besar terus menerus.


"Sambelnya udah selesai aku buat, tinggal kamu cicipi udah pas atau belum..."


Khanza mencolek sedikit sambelnya, karna ia dilarang Antonio memakan makanan pedas.


"Eum, sambel udah pas, tante makasih udah bantuin," ucapnya.


"Sama-sama Khanza, kalau gitu aku pamit ke kamar dulu, mau siap-siap ke kantor," ujar Clara, Khanza mengangguk.


Sekarang tinggalah Khanza sendiri di dapur, menyelesaikan masakannya. Lalu menghidangkannya di atas meja makan.


Beberapa menit kemudian semua orang telah duduk di kursi meja makan termasuk Antonio.


"Wah, kamu masak ayam serundeng sama sambel bajak sayang," kata nyonya Erina melihat makanan kesukaannya berada di atas meja makan.


"Iya mah... Aku lagi ngidam pengen liat mama makan makanan kesukaan mama," ujar Khanza dengan wajah penuh senyuman.


"Yaudah mah, mending kita cepat makan. Sepertinya menantu kita tak sabar melihat ekspresi mama memakannya," timpal tuan Andreas.


"Iya oma, yang dikatakan opa benar. Mama Khanza nggak sabar melihatnya. Aku juga rasanya pengen makan itu," imbuh Rhea, lalu ikut mengambil ayam serundeng beserta sambalnya.


Antonio menyuruh Khanza menunggu sebentar, karena dia ingin membuatkan susu hamil untuk istrinya. Sampai di dapur Antonio menemukan bungkus obat serbuk yang masih utuh dan mengambilnya memasukan ke dalam kantong celananya. Lalu ia melanjutkan membuat susu hamilnya, setelah itu membawa kehadapan istrinya.


"Di habisin," ujar Antonio. Khanza yang paham langsung meneguk susul hamilnya hingga tandas.


"Habis mas," beritahu Khanza.


"Pinter istriku," balas Antonio mencium pipi istrinya.


"Mas, nanti makan siang mau aku bawain ke kantor," ujar Khanza.


"Nggak usah sayang, biar nanti mas pulang aja pas jam makan siang," tolak Antonio, ia tak ingin membuat istrinya kecapean.


"Pengen ke kantor mas," rengek Khanza pelan dengan berbisik.


Antonio akhirnya mengalah dan menyetujuinya. "Baiklah, nanti biar Eduard dan Alvaro yang mengantar kamu," ucapnya.


Khanza mengangguk, akhirnya untuk pertama kalinya ia akan pergi ke kantor suaminya. Setelah selesai makan Khanza mengantar Antonio dan Rhea ke depan. Antonio yang akan ke kantor dengan menyetir sendiri dan Rhea yang pergi kesekolah dianter oleh pak Udin supir khusus memang untuk Rhea. Sedangkan tuan Andreas telah duluan berangkat ke kantor.


****


Follow ig aku yuk guys : @antiloversn


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓