
“Mommy,” panggil Queen dengan suara kecilnya yang baru saja membuka matanya dan anak itu mengangkat kedua tangannya yang artinya minta di gendong.
Khanza memandang Quee yang baru bangun tidur, dengan senang hati ia mengangkat princessnya membawanya ke dalam gendongan.
“Mam mamam,” celotehan Queen.
“Oh princess cantik mom laper, kalau begitu kita ke bawah. Mommy buatin sarapan spesial untuk princess kesayangan,” kata Khanza mencium pipi putrinya, Queen bergumam ‘em’ yang berarti mau.
Sampainya dibawah Khanza melihat mama mertuanya yang sedang bersantai di ruang tengah dengan majalah di pangkuannya.
“Pagi mah,” seru Khanza ketika melihat mama Erina.
“Pagi juga nza, gimana keadaan princess?” Tanya mama Erina memperhatikan raut wajah cucunya yang berada di dalam gendongan menantunya.
“Alhamdulillah princess baik mah, cuman tadi subuh sempet kebangun dan rewel. Maaf ya mah kalau aku bangun kesiangan, ngga bantuin buat sarapan juga,” ucap Khanza.
“Yaampun nak, berapa kali mamah bilang dan mungkin Xavier juga sudah sering mengatakannya. Urusan dapur itu bukan menjadi prioritasmu, prioritasmu hanya suamimu dan anak-anak. Disini banyak pelayan dengan tugas mereka masing-masing. Jadi kamu tidak usah merasa bersalah,” tukas mama Erina.
“Mama kan tau kalau aku sangat suka memasak. Jadi aku tidak bisa jika tidak ke dapur,” Khanza tersenyum mengatakannya. Wanita itu tahu jika mertuanya sangatlah baik dan perhatian. Tapi tetap saja ia sangat suka memasak dan ingin jika suami dan anak-anaknya memakan-makanan yang dibuat dengan kedua tangannya.
“Kalau itu mama tidak bisa membantahnya. Mama sendiri pun sama seperti mu, suka memasak,” sahut mama Erina.
“Oiya mah, aku ke dapur dulu ya mah. Mau buatin princess sarapan,” ujar Khanza.
“Princess mau kamu bawa juga ke dapur?”
“Astagfirullah hampir saja aku membawa princess ke dapur,” ucapnya menatap putrinya yang mengalungkan kedua tangannya di lehernya begitu erat.
“Sini princess, sama oma dulu,” Erina mengambil alih princess penuh kehati-hatian.
“Au mom mom,” rengeknya setelah berpindah ke gendongan omanya.
“Princess kesayangan mommy sama oma dulu ya. Mommy kan mau buatin makanan spesial untuk princess cantik,” bujuk Khanza mengusap rambut putrinya selembut mungkin.
“Mau kan sayang sama oma bentar, mommy ga lama kok buatin makanannya.” Queen akhirnya mengangguk dan membiarkan mommy pergi ke dapur.
Sepuluh menit kemudian, makanan untuk princess sudah siap. Khanza membawa makanannya ke ruang tamu.
“Sekarang saatnya kita mamam dulu.” Seru Khanza.
Wanita itu menyuapi putrinya dengan telaten agar makanannya tidak disembur oleh putrinya. Sampai makanannya habis tanpa tersisa.
Khanza beranjak dari duduknya melangkah menuju dapur dengan piring dan gelas bekas makan Queen.
“Taruh saja neng, nanti biar bibi yang mencucinya,” ujar bi Inahnya melihat majikan memasuki dapur.
“Ngga apa apa bi, biar aku saja mencucinya. Ini cuma bekas makannya queen kok,” ucap Khanza lalu mencuci piring dan gelas bekas makan putrinya.
“Bi nanti bisa bantuin aku masak?” Tanya Khanza.
“Bibi selalu bisa neng, pasti neng mau masakin tuan kan buat makan siang di kantor,” kata bi Inahya tersenyum.
“Iya bi, siapalagi ya mau aku masakin selain mas Nio,” ujar Khanza, “Yaudah bi aku mau ke princess dulu,” pamitnya segera melangkah pergi ke ruang tengah.
***
Masih di ruang tengah, Khanza membiarkan Queen bermain sebentar sebelum memabawanya ke kamar untuk di mandikan. Semantara ia mengobrol dengan mama mertuanya, kehadiran anak-anaknya lah yang membuat mertuanya berubah dan lebih mengakrabkan diri dengannya. Semua itu membuatnya bahagia memiliki keluarga dan tidak sendiri hidup di dunianya. Karena sekarang ia di kelilingi orang-orang yang menyayanginya.
“Princess sudah dulu ya nak mainnya. Kita ke kamar, princess cantik mommy kan belum mandi,” ujar Khanza membawa putrinya ke dalam gendongannya.
“Mah aku tinggal ke kamar ngga apa apakan mah, mau memandikan princess,” ucap Khanza.
“Iya ngga apa apa nza. Lagian bentar lagi mamah mau jalan ke cafe, biasa mau ketemu teman-teman mamah dulu sebelum nanti pulang.”
“Mamah sama papa kenapa tidak menetap disini saja?”
“Mamah sih sebenarnya mau tetap disini, tapi mau gimana papa punya bisnis disana dan mama harus selalu nemani papa kemanapun perginya.”
“Kapan mama sama papa berangkat?”
“Dua sampe tiga hari lagi nza.”
Khanza hanya mengangguk mengerti, “Yasudah mah, aku mau ke kamar dulu,” ucapnya, lalu memasuki lift untuk sampai ke lantai dua.
Kini tinggal Erina sendiri berada di ruang tengah melihat jam yang sebentar lagi setengah sebelas. Karena ia akan pergi menemui teman-temannya.
Dikamar Khanza tengah sibuk memandikan Queen dan mencarikan pakaian yang disukai Queen, dimana sedari tadi Queen menarik-narik pakaian karena tidak menyukainya. Begitulah princess akan menarik-narik pakaiannya, jika pakaian itu tidak nyaman ditubuhnya, dengan penuh kesabaran Khanza mengambilkan pakaian dan mencoba memaikan ke princessnya sampai pakaian kelima, akhirnya princessnya nyaman dengan pakaian tersebut. Membuat Khanza merasa lega akhirnya.
“Huhh! Akhirnya nak kamu menyukainya juga,” ucapnya menatap senang melihat keceriaan putrinya.
***