
Antonio menepati janji pada princess kesayangan yaitu mereka makan malam bersama di meja makan. Aditya dan Kirana juga ikut makan malam bersama, karena keduanya akan menginap di mansion Horison dalam beberapa hari kedepan.
Suasana makan malam kali berbeda bagi Antonio. Ia sudah terbiasa adanya Khanza yang mengisikan piring makannya. Semua telah berubah, istri tercintanya sudah tenang disana.
Setelah makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga sambil menonton tv. Queen berada di tengah-tengah Ghani dan Rey. Bahkan kepalanya bersandar dibahu Ghani dan tangan bertautan dengan Rey. Queen beberapa kali mencium tangan Rey sampai mengigit.
“Awssh sakit dek.” Rey menarik tangan mengusap bekas gigitan Queen.
“Kenapa Rey?” Tanya Arsen.
“Ini loh bang, adek main gigit aja.” Adunya. Menatap adiknya yang malah menyengir.
Queen mengangkat jari membentuk hurup V sebagai tanda perdamian. Semua tampak tertawa melihat tingkah Queen yang mulai jail. Biasanya Rey yang selalu menjahili gadis itu, tetapi bergantian.
Rey nampak berpikir dan akhirnya sebuah ide muncul dikepalanya. Dia ingin menjahili sang adik yang tiga hari sudah mereka tidak bertemu maupun bertegur sapa dan ini saat yang tepat baginya menjahili adik tercintanya.
Rey menganggu Queen yang tenang menonton dengan menggelitiki perutnya.
“Abang stop ihh hahah, geli abang!” Queen meminta Rey untuk berhenti menggelitikinya, ia sunggu tak tahan dengan kegelian.
Queen akhirnya berpindah duduk disebelah kiri Ghani. Arcell yang kebetulan berada disebelah Queen, menjadi ikutan menggelitik adik kecilnya sampai mengeluarkan air mata akibat kegelian.
“Abang El kok jadi ikut-ikutan sih,” ujar Queen merajuk setelah Arcell berhenti menggelitikinya.
Kali ini Queen berdiri berjalan mendekat pada Antonio. Lalu menjatuhkan pantat kepangkuan daddy dan menyembunyikan kepalanya diceruk leher daddynya.
“Hiks, hiks daddy. Abang Ell kok jail sekarang.” Adunya sampai menangis.
“Hustt! Berenti nangis ya sayangnya daddy. Nanti dad hukum abang Ell yang udah berani jailin princess.” Antonio mengusap-usap rambut princessnya agar berhenti menangis.
“Hiks, jangan hukum abang Ell dad,” ucap Queen melarang daddynya untuk menghukum abangnya. Gadis itu tak mau abangnya dihukum, karena dia sangat menyayangi semua abangnya.
“Hmm, terus daddy harus ngapain? Biar princess daddy udahan nangisnya...” Antonio bertanya dengan suara lembutnya. Begitulah Antonio sangat lembut jika bicara pada anak-anaknya.
“Aku mau tidur dad,” kata Queen malah mengantuk.
Antonio yang mengerti pun lantas ingin bangun dari sofa. Belum sempat melangkahkan kaki, princessnya kembali bicara.
“Aku mau tidur bareng abang Ghani sama abang Rey,” ucap Queen.
Ghani lantas berdiri dari sofa menghampiri adiknya yang masih dalam gendongan daddynya.
“Sini dad! Biar aku aja yang gendong princess. Aku juga mau sekalian ke kamar.” Antonio memberikan princess pada Ghani.
“Rey nanti tidur dikamar abang,” pesan Ghani pada adiknya Rey yang masih asik menonton film action yang tengah diputar.
“Oke bang,” jawab Rey.
Ghani berjalan masuk ke dalam lift dengan princess yang anteng dalam gendongan. Gimana tidak anteng, princessnya saja sudah tertidur pulas. Begitulah princess mereka jika sudah mengatakan mengantuk, tak berapa lama pasti langsung molor.
Princess mereka memang unik sendiri dengan tingkah lakunya yang ceria dan periang. Ia berharap princess akan tetap seperti itu dan kejadian kemarin tidak mengubah sifatnya.
“Good night sweetheart.”
...****************...
Rumah sederhana yang menjadi tempat tinggal Rani dan dua orang paruh baya yang menolongnya. Wanita itu tengah memasak makan malam, hanya masakan seadanya yang bisa mereka beli dari hasil gaji pemetik teh.
Rani menghidangkan masakan di atas tikar yang telah digelar. Rumah mereka tak memiliki meja makan, ataupun sofa hanya ada ambal buat alas duduk. Sedangkan diluar ada kursi kayu panjang sekedar bersantai.
Kedua orang pun menikmati masakan yang buat oleh Rani. Rani adalah Khanza, wanita yang memang pintar memasak, masakan yang dibuat oleh tangannya sendiri tidak pernah gagal. Khanza hanya lupa ingatan siapa dirinya, sekalipun tidak melupakan cara memasak.
“Masakan mu memang juara Ran,” puji Buk Tini.
Rani hanya tersenyum mendengarkan pujian Buk Tini yang memang tak pernah bosan mengatakannya setiap kali sedang makan.
“Yang dibilang ibuk mu benar nak, masakan memang enak. Mengapa kamu tidak membuka warung makan saja nak?” Ujar Pak Tono bertanya.
“Modalnya belum ada pak, nanti saja kalau modalnya sudah cukup baru berani buka warung makan,” papar Rani menjawabnya.
Ibu Tini masuk ke dalam kamar mereka dan mengambil uang tabungan keduanya yang mereka sisihkan dari hasil kerja yang ditempat dulu. Uang itu mereka tabung agar bisa pergi umroh atau haji.
“Ini apa buk?” Tanya Rani.
“Itu uang tabungan ibuk sama bapak. Kamu pake saja dulu buat buka warung makan. Semoga saja cukup,” ujar Buk Tini.
Rani menggeser tabungan tersebut kedekat Buk Tini kembali. “Tidak usah buk, biar Rani buka usahanya setelah mendapatkan gaji saja. Uang itu ibuk simpan saja, Rani tau kok itu uang tabungan buat ibuk sama bapak naik haji. Jadi Rani tidak mau memakainya...” menolaknya.
“Tapi nak, ibuk sama bapak tidak keberatan jika kamu mau memakainya buat modal usaha mu.” Rani tetap menggeleng tak mau..
“Buk! Rani tetap menolaknya, ibuk simpan kembali saja ya uangnya,” ucap Rani lembut dan mengelus lengan Buk Tini.
“Ibuk benar nak, bapak juga tidak keberatan,” imbuh Pak Tono yang sedari tadi hanya diam saja.
“Tidak pak, Rani ingin membuka usaha dari hasil kerja sendiri,” kata Rani.
Rani memeluk kedua orang tua paruh baya yang sangat baik padanya. Buk Tini lalu menyimpan kembali uang tabungan mereka.
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Guys baca karya baru aku yuk judulnya "YOU'RE MINE, SERRA"
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓