My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Episode 39



Selang beberapa menit Antonio tiba di kost'an putri. Dimana didalam salah satu kamar ada seorang gadis yang tengah dicarinya.


Antonio keluar dari dalam mobilnya dan berdiri di depan kap mobil melihat rumah kost'an. Antonio mengedarkan matanya ke sekitar halaman dan terlihat begitu sunyi tidak ada satu orang pun berlalu lalang. Begitupun diluar kost'an tidak ada orang sama sekali.


Antonio melangkah menuju tangga dan menaiki satu persatu dengan pelan-pelan, agar suara hentakan sepatunya tidak kedengaran.


Sekarang dirinya sudah berada dihadapan pintu yang sudah diketahuinya adalah kamar Khanza. Karena Satya sudah memberitahunya dengan detail dimana letak kamar kost gadisnya.


Tok...tokk!


"Assalamualaikum," ucap Antonio, tidak ada sahutan dari dalam, bahkan suara orang berjalan untuk membuka pintu saja tidak ada.


"Dii...dingin..."


Bahkan terdengar suara rintihan didalam. Antonio yang panik ketika mendengar suara rintihan itupun mencoba membuka pintu dan ternyata pintu tidak dikunci.


Antonio masuk ke dalam tanpa membuka sepatunya terlebih dahulu. Disana, tepat dikasur, Antonio melihat Khanza yang seperti tengah mengigil. Dirinya pun langsung berjongkok, tangan dibawa ke dahi Khanza, lalu ditempelkan.


"Panas sekali," Antonio mengangkat tangannya kembali.


"E-eung, dii..ngin!" rintihan Khanza terdengar lagi.


"Heii, badan mu tidak dingin tetapi panas sekali," ucap Antonio.


"Di...dingin!"


"Kita ke rumah sakit ya?" tanya Antonio.


"Engga mau," tolak Khanza menjawabnya dengan mata yang terpejam.


"Kerumah sakit ya," ujar Antonio lagi.


"Engga...Huekk!" Khanza malah muntah dan mengenai sepatu Antonio.


Melihat itu bukannya jijik, Antonio malah tambah khawatir dan menyelipkan tangan di lipatan lutut dan belakang leher Khanza. Lalu menggendong ala bridal style, menuruni tangga berhati-hati. Karena Khanza yang terus saja bergerak dalam gendongannya membuat Antonio sedikit kesusahan menuruni tangga.


Antonio membuka pintu mobil dan perlahan menurunkan Khanza dari gendongannya. Mendudukan di kursi penumpang disebelahnya, tidak lupa memakaikan sabuk pengaman. Setelah itu Antonio mengelilingi mobilnya dan masuk. Menyalakan mobil menuju ke rumah sakit.


.


.


Rumah sakit.


Antonio menunggu didepan ruangan UGD dengan perasaan gelisah. Bagaimana tidak, keadaan Khanza sungguh membuatnya khawatir dengan gadisnya.


"Gimana dok keadaan istri saya?" tanya Antonio, bahkan mengakui Khanza sebagai istrinya.


"Begini tuan, istri anda tidak apa-apa, hanya demam biasa. Tetapi saya mengkhawatirkan kandungannya-..."


"Tunggu! Maksud dokter istri saya hamil," todong Antonio meyela kalimat dokter didepannya.


Dokter tersebut mengangguk."Apa tuan tidak mengetahuinya,"


Antonio menggeleng yang berarti tidak mengetahuinya. Dokter tersebut memahaminya.


"Tapi kandungan istri saya baik-baik saja kan dok," ujar Antonio.


"Itu yang mau saya jelaskan, kandungan istri anda sangat lemah. Saya rasa istri anda mengalami stres berat, serta kekurangan asupan gizi, yang berdampak pada kandungannya. Saya menyarankan jangan sampai membuat ibu hamil berpikir terlalu berat kalau bisa asupan ibu hami juga harus dijaga, karena bisa berakibat fatal. Ini resep obatnya tuan, bisa ditebus diapotik. Nanti saya akan memanggil dokter kandungan untuk melakukan pemeriksaan ulang," jelas dokter tersebut.


Antonio terdiam mendengar penjelasan dokter didepan.'Apa yang dipikirkan gadis itu sampai seperti ini' batinnya bertanya-tanya.


"Dok, apa saya sudah boleh menjenguknya," ucap Antonio.


"Silahkan, tuan... Kalau gitu saya permisi dulu," setelah mengatakan itu, dokter langsung pamit pergi keruangannya.


Antonio masuk ke dalam dan melihat keadaan gadisnya yang terbaring lemah dengan infus di tangan kirinya. Antonio duduk di kursi dekat ranjang rumah sakit, ia mengelus kepala Khanza dan beralih ke perut.


Tangan Antonio perlahan menyetuh perut Khanza, dimana didalam sana ada anaknya.


"Maafin daddy sayang, yang baru mengetahui keberadaan mu,"


"Baik baik didalam sana ya nak,"


"Secepatnya daddy bakal nikahin mama mu,"


Setelah mengatakan kalimat demi kalimat. Antonio pun tertidur dengan tangan yang masih berada diatas perut Khanza.


****


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓