
Masih diruang tengah, Rhea, gadis itu berdiri dengan tubuh bergetar hebat. Dilantai dekat meja, Rhea melihat sedikit bercak darah.
"Apa yang ku lakukan," sadarnya telah melakukan sesuatu dan menyebabkan seseorang kini dibawa kerumah sakit.
"Ya, aku harus ke rumah sakit. Keadaan Khanza hiks..."
Tubuh gadis itu luruh kebawah, menari rambut kasar. Bi Inahya menghampiri Rhea, wajah nona mudanya sangat terpukul dengan apa yang telah dilakukannya.
"Non,"
"Bi! Rhea jahat, jahat, jahat," teriaknya.
"Engga, non Rhea ga jahat. Bibi tahu non cuman emosi tadi," kata Bi Inahya mencoba menenangkan Rhea.
"Tetap aja, aku jahat bi. Aku udah ngelukain sahabat aku sendiri. Padahal baru saja aku mencarinya, tapi lihat pertemuan kami malah membuatnya celaka,"
"Non, hanya tidak tahu. Jadi bibi mohon non jangan merasa bersalah, lebih baik non istirahat. Besok pagi kita jenguk neng Khanza kerumah sakit,"
Rhea memberikan anggukan. Bi Inahya membantu nonanya berdiri dan mengantar ke lantai atas. Dimana disanalah kamar Rhea berada.
.
.
Antonio berlari-lari di koridor Rumah Sakit, dengan Khanza dalam gendongan. Pria itu sama sekali tidak sadar, bahwa dirinya tengah bertelanjang dada.
Orang yang berlalu lalang terkesima melihah ketampanan Antonio. Apalagi tubuh berotot membuat para wanita meleleh melihatnya. Tetapi Antonio tidak memperdulikan para wanita yang menatapnya, seperti dirinya adalah santapan yang nikmat bagi mereka. Baginya dia harus cepat sampai ke ruang UGD.
Selama berlari, peluh membasahi wajah bahkan mengalir ke leher sampai dadanya. Baju wanita dalam gendongannya juga ikut terkena keringatnya.
Nafasnya memburu.Hingga sampai ke ruang UGD dan memasukannya. Dokter Dinda berjalan cepat menuju ruang UDG. Saat Antonio ingin masuk ke dalam, salah satu suster mencegahnya.
"Maaf tuan anda tidak boleh masuk, silahkan tunggu diluar," cegah suster, barulah masuk untuk membantu dokter Dinda.
Diluar Antonio mondar mandir, menunggu pintu didepannya terbuka. Dia sama sekali tidak menyadari tatapan wanita didekatnya.
Kedua bodyguard yang melihat tuannya ditatap seperti itu. Membuat sang bodyguerd memberikan tatapan tajam mereka pada para perempuan.
Bahkan Eduard meminta Alvaro untuk, mengambil baju yang ada didalam mobil. Karna mereka sadar tuannya tidak bisa dibiarkan tanpa baju.
"Tuan!" Alvaro menyerahkan paper bag berisi baju.
Antonio mengeryitkan kening bingung, saat bodyguard memyerahkan paper bag. "Apa ini?" tanyanya, saat paper bag sudah berada dalam tangannya.
"Maaf jika saya lancang tuan, itu baju untuk tuan. Karna sedari tadi para wanita sekalipun tidak melepaskan tatapan mereka dari tuan," jelas Alvaro.
Barulah Antonio paham maksud bodyguardnya memberikan paper bag ini kepadanya. Lalu mata Antonio menatap kesekeliling dan benar saja tatapan para wanita seperti ingin memangsanya.
Secepat kilat Antonio mengambil baju dalam paper bag tersebut dan memakai baju dalam sekejap. Karna bajunya hanya kaos, jadi tidak ribet untuk dipakai. Tetapi baju kaos terlalu kecil dibadan, jadi mencetak dada bidangnya dan otot tangannya.
.
Didalam sana, dokter Dinda melakukan segala tindakan untuk menyelamatkan pasien dan kandungannya. Berbagai tindakan dilakukan oleh dokter Dinda, yang akhirnya bisa memberhentikan pendarahan tersebut. Kandungan Khanza bisa dipertahankan, walaupun sangat lemah dan mengkhawatirkan.
Pintu ruang UGD terbuka, muncullah dokter Dinda dengan wajah lelahnya.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Antonio.
"Syukurlah, anda dengan cepat membawanya ke rumah sakit. Kandungan istri anda bisa diselamatkan, tetapi kandungannya sangat lemah,"
Antonio bernafas lega, karna kandungan Khanza masih terselamatkan. "Apa istri saya sudah boleh dijenguk?"
"Silahkan tuan, tapi tunggu setelah istri anda dipindahkan ke ruang rawat," setelah memberitahu itu dokter Dinda pergi kembali ke ruangannya.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓