
"Siapa orang yang menculik Khanza, An?" tanya Aditya yang sangat geram dengan perlakuan penculiknya.
Tiba-tiba tangan Khanza meremas lengan Antonio yang membuat pria itu menatapnya. Khanza menggelengkan pelan kepalanya memberi kode untuk tidak menceritakannya.
"Ngga sayang, semua orang di sini harus tahu siapa yang sudah menculik mu dan hampir saja kita kehilangan si kembar," tegas Antonio.
Kirana yang tak tega melihat Khanza berlinang air mata, segera mendekatinya memeluk tubuh putrinya dengan sayang.
"Tidak akan apa-apa, biarkan Antonio memberitahu kami," ucap Kirana mencoba menenangkan Khanza.
"Yang menculik Khanza ialah Laura dan Clara. Mereka berdua ingin membalas dendam kepada Khanza-"
"Membalas dendam? Memangnya apa yang dilakukan Khanza kepada mereka?" sela Kirana bertanya memotong kalimat Antonio.
"Entahlah saya juga tak tahu dimana letak kejahatan Khanza sehingga kedua orang itu dengan kejinya berbuat seperti itu, yang pastinya Khanza tak pernah berbuat menjahati ataupun melakukan sesuatu yang jahat.." ujar Antonio.
"Mamah percaya An, Khanza anak yang baik.. Mamah saja yang kemarin bisa-bisanya percaya dengan wanita jahat itu," timpal mama Erina.
"Lalu Laura, bukannya dia sudah meninggal dalam kecelakaan pesawat itu, bahkan sampai sekarang mayatnya tidak di ketemukan," tukas mama Erina yang menyadari bukan hanya Clara yang melakukan kejahatan pada Khanza, tetapi Laura juga andil di dalamnya. Dan kalimat mama Erina sangat mewakili untuk mereka yang belum tahu sebab mengapa wanita itu membalas dendam?
"Baiklah aku akan menceritakannya ke mamah," ucap Antonio.
Mengalirlah cerita tentang Laura, dimana perempuan itu sudah berselingkuh di belakangnya hingga menghasilkan anak yaitu Rhea. Saat itu Laura dan Rhea berlibur ke bali dengan niat Laura yang akan mempertemukan Rhea dan ayah kandungnya. Sayangnya Rhea tak mempercaya pengakuan lelaki itu hingga berlari keluar dari restoran kearah jalan raya yang membuat tak menyadari jika ada mobil melaju kencang dari arah berlawanan. Rhea langsung di larikan ke rumah sakit, Antonio yang mendapatkan kabar jika Rhea kecelakaan dari anak buah Satya, langsung saja terbang dengan helikopter pribadinya. Sesampai di gendung rumah sakit, Antonio turun dan mencari ruang rawat Rhea, bertepatan sekali disana dokter baru saja keluar. Dokter mengatakan jika keaadan Rhea kritis dan membutuhkan donor darah, Antonio mengikuti dokter untuk mengecek darahnya yang sama sekali tidak ada kecocokan. Dengan perasaan amarah Antonio mendatangi Laura dan berteriak menanyakan ayah kandung Rhea. Bagas yang merupakan ayah kandung Rhea berada di belakangnya pun bersuara mengatakan dengan lantang bahwa dia adalah ayah kandung Rhea.
"Hatiku benar-benar sakit mengetahu semua itu mah," ujar Antonio. Khanza pun ikut merasakan kesakitan mendengar suaminya menceritakannya lagi.
"Itukah alasan kamu menceraikan Laura, An," kata mama Erina.
Antonio mengangguk membenarkan, "Awalnya Laura mendatangiku ke Villa dan mengatakan keinginannya untuk berubah menjadi ibu rumah tangga dan berhenti dari pekerjaannya. Sayangnya aku dia sudah terlambat untuk semua itu, aku juga mengatakan akan menceraikannya, Laura berpikir jika semua ini karena Khanza. Aku bilang padanya jangan sangkut pautkan semua ini pada Khanza yang tidak tahu menahu urusan kami. Memang awalnya Rhea lah yang meminta ku agar menceraikan Laura, karna anak itu merasa ketidakcocokan diantara kami.. Sampai akhirnya aku memikirkan ucapan Rhea dan memutuskan menerima saran anak itu untuk bercerai."
"Di dalam kamar rawat Rhea, aku tak sengaja melihat sebuah surat dan aku membacanya surat tersebut agar Rhea juga mendengarnya. Ternyata surat itu berisi Laura yang pergi ke negara lain, entah ke negera mana yang akan di kunjunginya untuk menenangkan diri. Saat kami menonton tv, dimana sebuah berita menayangkan kecelakaan pesawat beberapa jam yang lalu dan di deretan nama penumpang juga tertera nama Laura dan fotonya. Rhea syok dan kembali menangis, aku pun menenangkannya. Aku juga memerintahkan Satya untuk mencari tahu kebenarannya,"
"Aku mohon sama mama untuk menerima Rhea walaupun sebenarnya dia bukanlah anak kandungku," pinta Antonio pada mama Erina.
"An, mama ngga perduli semua itu. Karna mamah sangat menyayangi Rhea, terlepas mamah baru mengetahui yang sebenarnya. Ketahuilah itu tak akan merubah kasih sayang mamah buat Rhea," kata mama Erina berbicara kesungguhan yang ada di lubuk hati terdalamnya.
Tidak dengan Aditya yang mendengarkan dengan teliti cerita Antonio tadi. Hingga ia menyadari ada yang masih mengganjal dalam hatinya.
"Tunggu An! Setelah menceraikan Laura kau menikahi Khanza, bagaimana bisa.. Apa ada sesuatu yang terjadi di antara kalian?" Aditya menanyakan sesuatu yang mengganjal baginya.
"Apa kau mengingat waktu Roy mengajak kita ke club dan memberikan minuman yang sangat banyak. Karna aku tidak tahan berada di tempat itu, kepalaku juga sudah pusing, aku mengatakan pada kalian agar pulang lebih dulu. Saat melangkah keluar dari club, ada wanita yang mencegahku, wanita itu menawarkan bantuan untuk mengantarku. Tetapi aku begitu kekeh menolaknya sampai di depan mobil pun kami terus berdebat bahkan aku membentak wanita murahan itu. Entah dari mana datang Khanza, ia menghentikan pertengkaran kami, aku mengakui Khanza sebagai kekasih ku. Wanita murahan itu sempat tak percaya, tapi aku memberi kode pada Khanza untuk mengatakannya agar percaya. Sampai akhirnya wanita itu percaya, dan aku meminta Khanza untuk mengantarku ke apartement. Karena Khanza tidak bisa menyetir mobil dengan keadaanku yang tak memungkinkan untuk menyetir jadilah kami menyetopkan taxi. Khanza juga memapah menuju apartement dan membaringkan di ranjang, saat Khanza ingin keluar dari dalam kamar aku menariknya hingga terjatuh di atasku. Aku tidak tahan melihatnya, aku mengatakan akan bertanggung jawab nantinya. Akhirnya aku melakukannya tanpa memikirkan perasaan Khanza yang terluka saat itu." Antonio menjelaskan semuanya, menceritakan panjang lebar dan sekarang perasaan menjadi lega karena semuanya telah tuntas.
"Brengsek!" tekan Aditya.
'Bugh' Aditya mumukul Antonio ketika mendengar kenyataan yang sebenarnya.
"Om hentikan, jangan pukul suamiku," sergah Khanza tak terima suaminya di pukul. Baginya itu hanya masalalu dan sekarang dia juga sudah mencintai suaminya dan menerima semuanya.
Kenyataan itu juga membuat Erina terpukul keras. Karena ia sudah menuduh jika Khanza lah yang menjebak Antonio. Menuduh wanita itu sengaja agar hamil dan mengatakan pada putranya supaya bertanggung jawab, setelah itu mengambil harta kekayaan mereka. Kenyataan tersebut malah berbalik, bahwa putranyalah yang memang menghamili wanita di depannya ini.
"Nza, maafin mamah yang sudah menuduh mu waktu itu," ujar mama Erina.
Suara dari Erina membuat Khanza menoleh dan menggeleng. "Kita lupain itu mah, sekarang kita ngga usah bahas itu lagi semua itu sudah berlalu," ucapnya.
Khanza beralih menatap Aditya, karena ingin menanyakan maksud dari 'Putriku'.
"Apa om bisa menjelaskan yang tadi om katakan bahwa aku adalah putrinya om?"
"Rana jelaskan lah, biar putri kita tahu yang sebenarnya," Aditya meminta agar Kirana saja yang menjelaskannya.
Khanza menatap wanita yang berada di sampingnya, yang tadi memberikan pelukan untuknya.
"Singkat cerita, bunda mengandung waktu semasa kuliah. Bunda merasa bahagia mengetahui bahwa kau telah tumbuh di rahim bunda nak, walaupun tanpa ikatan pernikahan. Tetapi bunda sempat merasa sedih karena kau ada sebelum kami menikah, karna itu bunda pergi ke rumah ayahmu untuk mengatakan berita bahagia ini, sayang sekali saat sampai di sana bunda malah di suguhkan dengan pemandangan yang membuat hati ini sakit. Bunda melihat ayahmu sedang berciuman dengan wanita lain, karna tak tahan melihat itu, tanpa berpikir bunda langsung meninggalkan rumah ayah mu. Ketika sudah berada di luar ibu ayahmu mencegah bunda, ibu ayahmu meminta bunda untuk pergi dari kehidupan ayahmu setelah mengatakan bahwa ayahmu akan menikah dengan wanita yang sudah di jodohkan yaitu wanita yang bunda lihat, tidak sampai disitu ibu ayahmu memberikan segepok uang untuk ongkos. Tetapi dengan tegas bunda menolaknya, bunda memang miskin saat itu, tetapi bunda bukan wanita matre yang bisa di sogok menggunakan uang. Karna pada saat bunda memang sudah berniat untuk pergi yang jauh agar tak ditemukan oleh ayahmu, bunda juga sudah memutuskan berhenti kuliah. Beberapa bulan lagi kamu akan lahir pada saat itu, bunda sangat bersyukur karena tabungan bunda sangat cukup untuk biaya persalinan. Akhirnya kamu pun lahir, sebelum bunda pingsan bunda sempat menyerahkan sebuah kalung pada suster agar memasangkan pada lehermu. Saat bangun bunda berkata pada suster untuk membawamu ke kamar rawat, karna bunda sudah tak sabar melihat kamu lagi. Suster malah meminta maaf dan mengatakan jika kamu di culik, mendengar itu membuat bunda terpukul, keesokan harinya bunda meminta ijin agar di perbolehkan keluar dari rumah sakit. Setelah keluar bunda mencari mu kemana, tetapi tidak pernah ketemu nak..."
"Jadi kalian orang tua kandungku," lirih Khanza.
"Ya, kamu adalah anak kandung kami yang selama kami cari. Dan maafkan ayah yang baru mengetahui keberadaan setelah bertahun-tahun," ujar Aditya.
Antonio yang paham Aditya ingin berada di dekat Khanza pun dirinya menyingkir dari tempat duduknya.
"Mengapa kalian bisa tahu bahwa benar aku ini anak kalian, bisa sajakan kalung yang kupakai ini adalah milik orang lain," kata Khanza.
"Darah yang kamu miliki sama seperti ayah nak, saat kamu di operasi asissten Antonio menelpon ayah dan meminta datang ke rumah sakit. Ternyata kamu saat itu membutuhkan donor darah, selesai mendonorkan darah ayah meminta sampel darah mu untuk test DNA, hanya sebagai pembuktian untuk bunda mu dan kamu," jelas Aditya, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya untuk di berikan pada Khanza.
Khanza membuka kertas itu dan benar saja di sana tetulis 98 persen golongan darahnya sama. Karna tak tahan Khanza memeluk keduanya dan memberikan mereka kecupan.
"Apakah kamu tidak membenci kami nak, karena bunda sudah lalai menjagamu dan baru menemukan mu sekarang?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Kirana.
Sontak saja Khanza menggeleng cepat dan mengatakan sesuatu, "Untuk apa aku membenci kalian. Karena disini menurutku tidak ada yang salah, bahkan aku merasa bahagia akhirnya aku tahu bahwa aku bukanlah anak yatim piatu melainkan masih memiliki orang tua lengkap. Apa aku boleh meminta sesuatu," ujarnya menatap bergantian pada dia orang yang berada di samping kiri dan kanannya.
"Apa sayang, semua permintaan kamu akan ayah turutin," ucap Aditya lugasnya berkata. Sedangkan Kirana mengangguk.
"Aku mau kalian menikah," pinta Khanza.
"Ayah mau saja menikah dengan bunda mu, tetapi apakah bunda mu mau menikah dengan ayah," kata Adityan menatap Kirana.
Sebelum menjawabnya Kirana memperhatikan wajah putrinya yang begitu ingin dirinya menerimanya. Sudah cukup waktu untuk terus menerus seperti ini, dia harus membuka lembaran baru. Aditya juga sudah menceritakan kesalahpahaman beberapa bulan lalu.
Kirana mengangguk, "Ya aku mau.."
Semua orang yang tengah berada di kamar rawat Khanza ikut merasa bahagia mendengarnya.
"Panggil kami ayah bunda sayang," koreksi Aditya.
"Bunda, ayah," mereka berpelukan kembali, Aditya dan Kirana memberikan ciuman di pipi Khanza.
"Assalamualaikum," salam seseorang langsung membuka pintu tanpa mengetuk lebih dulu.
"Waalaikumsalam," sahut Vinno menyambutnya.
Ketika sudah menutup pintu, Rhea terkejut melihat orang yang tengah berkumpul. Yang lebih membuatnya terkejut dimana Khanza sedang berpelukan dengan Aditya dan Kirana. Bisa disimpulkan oleh Rhea bahwa Khanza telah mengetahui orang tua kandungnya dan merasa kebahagiaan telah menghampirinya. Rhea pun ikut merasakannya juga...
"Mommy udah siuman," pekik Rhea mendekati dan memeluk Khanza erat.
"Re sesak," lirih Khanza.
"Maaf mom, habisnya re senang lihat mommy udah sadar."
"Mommy,, apa sekarang panggilan ku berubah?" bingung Khanza sampai bertanya.
"Yes mom, karena mommy memanggil oma Kirana dengan sebutan bunda dan ayah untuk opa Adit, dan panggilan bunda juga tidak cocok untuk di pasangkan dengan dad, aneh aja gitu. Jadi re memutuskan untuk merubah panggilan menjadi mommy, sebelum mommy bertanya, re akan jawab tidak apa-apa. Lagian mommy udah gaada dan mom juga gaakan marah," jelas Rhea.
"Terserah kamu aja, aku ngikut mau anak kesayangan aku," balas Khanza tersenyum manis.
"Ouh iya gimana keadaan mommy sekarang?" tanya Rhea.
"Ehem, biar saya jelaskan," imbuh Vinno karena semua orang sudah menatap horor, menunggu penjelasan darinya.
"Jadi begini kondisi Khanza sudah stabil, tetapi dia belum bisa untuk sekedar menjenguk si kembar. Jika ingin menjenguknya saya sarankan besok pagi saja," jelas Vinno.
"Kenapa tidak boleh sekarang saja, aku ingin melihat si kembar bahkan aku tidak tahu mereka sepasang atau-"
"Si kembar laki-laki, sayang," potong Antonio menyela ucapan Khanza.
"Laki-laki.." senyum Khanza mengembang, ia begitu senang mendengarnya.
"Apa mas sudah menyiapkan nama untuk si kembar," ujar Khanza.
Antonio mengangguk, "Sudah sayang, mas akan memberitahu mu besok saat kita menjenguknya."
Khanza hanya mangut-mangut...
Lalu Khanza beralih kepada kedua orang tua nya...
"Jadi kapan kalian akan menikah yah, bun?"
"Setelah kamu sudah pulang ke rumah, nanti kita bicarakan lagi. Sebaiknya kamu istirahat saja ya," kata Aditya.
"Benar kata ayahmu nak, lebih kamu istirahat agar besoknya kamu sudah benar-benar membaik dan bisa menjenguk si kembar," ucap Kirana.
Keduanya pun beranjak dari tempat tidur agar Khanza bisa berbaring. Sebelum itu mereka memberi ciuman di pipi Khanza.
"Kami pamit pulang dulu dan nanti akan kembali lagi," pamit Aditya.
"Hati-hati di jalan ayah, bunda.." pesan Khanza.
"Aku juga mau pamit keluar, periksa pasien lainnya," ujar Vinno melangkah keluar.
"Ouh ya, mamah juga mau pamit ke salon dulu, ini sudah waktunya mamah ke salon," kata mama Erina ikut-ikutan pamit juga.
"Oma aku ikut ya," ujar Rhea.
"Boleh sayang, ayo kita ke salon.. Rhea mamah bawa ya jangan kangen," ujar mama Erina.
Kini di dalam kamar hanya tinggal Antonio dan Khanza. Antonio berjalan mendekat ke tempat tidur dan duduk di kursi kembali.
"Sekarang kamu istirahat ya," ujar Antonio.
"Mas naik sini, temani aku," pinta Khanza.
"Tapi nanti sesak sayang, kamu tahu sendiri badan aku gimana," kata Antonio.
"Nggak bakalan mas, ayo naik," ucap Khanza memaksanya.
Antonio akhirnya mengalah dan membaringkan badannya di ranjang pasien, ia berbaring miring tangan memeluk perut Khanza dan satunya lagi di gunakan mengelus kepala Khanza.
Merasakan elusan yang begitu lembut membuat mata Khanza terasa berat dan akhirnya terlelap. Beberap menit kemudian di susul oleh Antonio yang juga mengantuk.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓