
Kedua pasangan suami istri yang berada di dalam kamar tengah menikmati makan malam bersama. Antonio lah yang meminta pada pelayan mansionnya untuk membawakan makanan ke kamar, Antonio juga telah memberitahukan pada mama Erina dan papa Andreas jika mereka berdua tak bisa bergabung di meja makan untuk malam ini.
“Mengapa mas ngga makan di bawah bersama semua orang, padahal aku tidak papa makan malam di kamar sendirian,” ujar Khanza
“Mana mungkin mas biarin istri mas makan sendirian di kamar,” kata Antonio menatap lembut mata sang istri.
“Tapikan mas uhuukk uhukk,” Khanza malah tersedak, Antonio yang sigap langsung meminumkan air ke istrinya.
“Sudah mas,” lirih Khanza, barulah merasa nyaman saat air mengalir ke tenggorokannya.
“Mau lanjut lagi makannya?”
Khanza menggeleng, “Aku udah kenyang mas,” jawabnya.
Antonio pun menaruh piring yang masih tersisa makanan diatas meja nakas.
“Masih sakit tenggorokannya?” Lagi dan lagi Khanza menggeleng.
“Itulah mengapa mas tidak suka jika sedang makan sambil mengobrol. Penyebab ya itu honey, kita akan tersedak. Papa juga menetapkan peraturan untuk tidak ada yang bicara saat sedang berada di meja makan atau dimanapun saat kita lagi makan,” Khanza hanya menatap suaminya sambil mendengarkan cerita suaminya.
“Yasudah kamu istirahat saja ya honey, mas mau ke ruang kerja untuk memeriksa kerjaan mas di kantor,” ucap Antonio, sebelum keluar dari kamar ia mengecup kening istrinya.
Tok tok tok
Bertepatan Antonio yang ingin keluar dari kamar. Terdengar suara ketukan pintu di kamar mereka. Antonio membuka pintu kamar lebar, mempersilahkan Naila adik iparnya masuk.
“Ini kak aku mau memberikan queen ke Khanza, sedari tadi queen gelisah tak nyaman. Seperti queen mencari mommynya,” ucap Naila.
“Mba nai masuk saja,” seru Khanza dari dalam.
“Masuklah nai,” tukas Antonio menyuruh agar adik iparnya masuk. Setelah Naila masuk, Antonio langsung melangkah keluar menuju ruang kerjanya.
“Ini nza, queen sedari tadi tak nyaman. Mba pikir mungkin queen lapar,” ujar Naila.
Queen menangis, Khanza langsung menyambut baby girl untuk berpindah ke gendongannya. Ia juga membuka kancing piyama dan menyusui baby girl. Dan ya, baby girl berhenti menangis kita mendapatkan yang diinginkannya.
“Tuhkan apa mba bilang, queen ternyata lapar. Uh gemas banget anak cantik,” Naila menoel pipi queen.
“Mba nginap disinikan?” Tanya Khanza.
“Tadinya mba sama mas Vinno mau pulang, tapi mama ngga ngebolehin kita pulang. Jadinya kita memutuskan untuk menginap disini,” jawab Naila.
“Pasti kunci mobil kak Vinno di ambil mama lagi,” tebak Khanza, ia sudah hapal dengan mama mertuanya itu. Jika mba Naila dan kak Vinno berkunjung ke mansion, tidak akan diijinkan oleh mama Erina untuk pulang.
“Kamu tahu sendirilah mama nza, mana mungkin kami bisa pulang secepatnya. Pasti ditahan untuk berlama-lama, kalau kakak ngga masalah berada disini, apalagi ada princess cantik ini,” tukas Naila kembali menoel pipi baby girl.
“Tapi mas Vinno ada urusan mendadak besok pagi dan belum ada persiapan packing sama sekali, ini saja kakak yang memaksanya untuk datang ke mansion. Karnakan kami juga tidak ada menjenguk mu di rumah sakit, kami juga ingin melihat princess Horison,” sambungnya melanjutkan perkataannya.
Memang benar, Naila dan Vinno tidak ada sama sekali menjenguk Khanza di rumah sakit. Tetapi bukan berarti mereka tak mau menjenguknya, melainkan ada kesibukan yang memang tak bisa ditinggal oleh keduanya. Naila sendiri memiliki pekerjaan yaitu mengelola butik milik mendiang mamanya. Sedangkan Vinno adalah pemilik rumah sakit dan sekaligus berkerja sebagai dokter.
Khanza mengut-mangut memahami, jika kedua pasangan suami itu memang sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
“Mba sama kak Vinno, mengapa tidak tinggal disini saja? Padahal aku sama mas Nio menginginkan kita tinggal bersama di mansion ini,” ujar Khanza bertanya.
“Mba sih mau nza, nanti mba omongkan dulu sama mas Vinno ya,” kata Naila.
“Iya mba, bicarakan aja dulu sama kak Vinno,” katanya.
“Yasudah kamu istirahat ya, mba mau ke kamar juga,” pamit Naila, sebelum keluar dia menyempatkan mencium pipi baby girl.
Kini tinggal Khanza berdua bersama baby girl yang sudah anteng tertidur karena kenyang menyusu. Khanza pun memutuskan untuk membaringkan baby girl di atas ranjang saja, karena kakinya juga terasa sakit untuk dibawa berjalan. Matanya juga mulai mengantuk dan akhirnya ia menyusul baby girl tertidur lelap bersama.
****