My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Episode 119



Kirana dengan intens menatap jari-jemari Khanza yang seperti begerak pelan, memberikan sedikit respon. Ia pun mendekatinya untuk lebih memastikannya, benar saja dugaannya jemari itu bergerak.


"Antonio, lihatlah jemari Khanza bergerak barusan," ujar Kirana bernada senang.


Erina dan Vinno mendengar perkataan Kirana, keduanya langsung beranjak dari sofa dan melangkah mendekati ranjang untuk melihatnya...


"Adit! Apa kamu juga melihatnya," Kirana menoleh ke belakang.


Aditya mengangguk, senyumnya mengembang, "Iya Rana, aku melihatnya."


Antonio melihat Khanza mulai membuka matanya perlahan.


"Khanza," panggil Antonio dengan suara lirih.


Khanza sudah membuka matanya sempurna. Menatap sekeliling ruangan yang bernuansa putih dan menyadari bahwa dirinya berada di rumah sakit. Tangan pun sontak meraba perutnya yang terasa rata, ia pun menoleh kesamping kanan. Matanya bertemu dengan mata lembut milik Antonio.


"Aaa..anaku ma...na," ujar Khanza pelan dengan suara masih terbata-bata, matanya juga sedikt berair.


"Anak kita masih berada di dalam inkubator sayang, karna mereka terlahir prematur," beritahu Antonio.


"Aa..aku maa..u me-lihatnya," kata Khanza, mencoba ingin bangun, langsung di tahan oleh Antonio.


"Sayang," Antonio menahan kedua bahu Khanza agar kembali berbaring.


"Kita liat nanti saja ya, kamu baru saja siuman sayang," Antonio berkata lembut.


"Benar yang di bilang Antonio, nza.. Lebih baik kamu berbaring saja dulu nak, tunggu sampai kondisi mu membaik baru kamu kesana melihat bayi kembar mu,"


"Biar aku periksa," imbuh Vinno, mendekat pada ranjang pasien dan melakukan pemeriksaan.


"Awshh," tiba-tiba saja Khanza merintih kesakitan merasakan punggungnya.


Vinno dengan sigap sedikit menyuruh Khanza menyamping sedikit. Ia sedikit menaikan baju Khanza ke atas tanpa meminta ijin pada Antonio. Disana terlihat jelas seperti bekas operasian luka tembak, dua peluru.


'Plak' Antonio memukul tangan Vinno yang berani sekali menyingkap sedikit baju Khanza.


"Ada apa dengan punggung Khanza, Vin?" tanya mama Erina melerai agar tak terjadi perdebatan selanjutkan.


"Punggung Khanza seperti habis di operasi luka tembak. Aku melihat dua bekas seperti tembakan di punggungnya, bukan cuman satu melainkan dua sekaligus," jelas Vinno.


Akhirnya semua telah di ketahui oleh mereka. Aditya menatap tajam Antonio yang kebetulan menatap ke arahnya.


"Jelaskan, kenapa bisa putriku mendapatkan luka tembak," hardik Aditya terlihat marah mendengar penjelasan Vinno.


"Putriku? Maksudnya?" sanggah Khanza bertanya kebingungan dengan kalimat Aditya yang mengatakan 'Putriku' yang pastinya ucapan itu tertuju padanya.


"Nanti kami jelaskan," kata Kirana.


"Ceritalah An, mengapa Khanza bisa mendapatkan itu," seru mama Erina memintanya.


Antonio pun mengangguk...


Mengalirlah cerita penculikan Khanza satu minggu yang lalu, dimana pada saat itu Khanza berada di Mall bersama Rhea dan Raya. Saat selesai menelpon Khanza pergi menuju toilet tanpa bilang pada Rhea dan Raya maupun bodyguard yang menjaga. Selesai menggunakan toilet Khanza keluar dan tak menyadari jika orang yang berdiri di samping pintu bersiap untuk membiusnya. Satya berhasil menemukan penculik itu, dan mereka mengatur startegi sebelum menuju kesana untuk membebaskannya. Sampai disana mereka begitu terkejut melihat wajah Khanza ada bekas tamparan dan di ujung bibir terdapat darah yang mengering. Akhirnya mereka berhasil melepaskan Khanza, sayang tanpa mereka sadari orang yang berada di belakang siap untuk menembak, membuat Khanza memutar pelukannya dengan Antonio, hingga Khanza lah yang tertembak.


"Siapa orang yang menculik Khanza, An?"


****


Follow ig aku yuk guys : @antiloversn


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓