
Ketika pintu kamar rawat terbuka, Queen berlari memeluk Ray yang berada di ranjang. Queen menumpahkan air mata dalam pelukan Ray.
"Kok malah nangis sih dek," ucap Ray mengusap kepala Queen.
"Hiks, maafin aku kemaren gak ada pas abang siuman," ucap Queen mendongak menata sendu abangnya.
Tangan Ray yang tidak di infus bergerak menghapus air mata Queen. Lalu mendaratkan ciuman bergantian dipipi kiri dan kanan.
"Berhenti nangis ya! Kamu kan udah disini sekarang, itu udah ngebuat abang senang," ucap Ray lembut.
beberapa orang yang berkumpul dalam kamar rawat Ray nampak senang melihat keduanya saling berpelukan. Aditya yang berada di tengah-tengah Ghani dan Arcell memperhatikan kedua cucunya.
"Hem, kalian sudah baikan sekarang?" tanya Aditya pelan.
"Kami tidak sedang bermusuhan opa," jawab Ghani santai.
"Lalu kemarin apa? kalau bukan musuhan, mengapa kalian berdebat hah," ujar Aditya bertanya lagi.
"Ada sedikit kesalahpahaman saja opa." Kali ini yang menjawab adalah Arcell.
Sebelum Aditya kembali mengutarakan pertanyaan Ghani berpindah ke samping Arcell dan merangkul abangnya.
"Kita memang tidak bermusuhan kan bang?" tanya Ghani.
Arcell menggeleng dengan raut wajah datar dan tersenyum paksa ditunjukkan pada opanya.
"Opa percaya! Tapi kalian berdua harus ingat ini, jika kalian berkelahi jangan lama beradu mulut. Kalau perlu salah satu diantaranya harus mengalah, nanti jika kalian berdua sudah sama sama tenang, kalian ketemu lagi dan selesaikan masalah dalam keadaan kepala yang dingin." Aditya berpesan pada kedua cucunya.
"Ghani lepaskan tangan mu dari bahuku," tekan Arcell dengan nada suara rendah tapi berat.
Ghani mendengus jengkel, "Dasar abang bunglon, sifatnya berubah-ubah." gumamnya.
"Abang masih bisa mendengar suara mu," sahut Arcell berbisik.
Ghani memilih berpindah di dekat Antonio. Memeluk lengan berotot daddynya dan merebahkan kepalanya di bahu daddynya.
"Gak kerasa ya sebentar lagi kamu bakalan lulus SMA," ucap Antonio.
"Hemm iya dad," jawabnya.
"Kamu sudah pikirkan mau lanjut kuliah dimana?"
"Aku masih bingung dad."
"Kenapa bingung, kamu harus pikirkan dari sekarang akan lanjut dimana."
"Aku ingin lanjut di luar, tapi gak tega ninggalin Queen."
Antonio mengerti sekarang kebimbangan putranya yang sebentar lagi akan lulus SMA. Merasa bimbang untuk berpisah dari princess kesayangan.
"Dad mengerti princess adalah hal terpenting bagi kita semua. Tapi jangan jadikan princess kita sebuah alasan kebimbangan mu nak," jelas Antonio.
"Yang daddy katakan semuanya benar abang," timpal Queen yang telah berdiri dihadapan mereka.
"Aku mendukung semua keputusan abang, aku juga berharap abang kuliah di luar negeri seperti keinginan abang. Aku tak mau menjadi alasan abang tidak jadi kuliah di luar negeri," ucap Queen.
"Bagaimana Ghani? Princess telah mendukung apapun keputusan mu," ujar Antonio bertanya.
"Abang tenang saja, disini masih ada aku yang akan menjaga princess," sambung Ray bicara di atas tempat tidur.
"Aku akan memutuskan pilihan saat kelulusan nanti dad," ucap Ghani.
"Baiklah kami semua akan menunggunya," kata Antonio.
Tiba-tiba Queen merasakan nyeri di area punggungnya, rasanya sangat sakit. Sampai dahinya berkeringat menahan rasa nyeri yang datang melandanya.
"Princess kamu kenapa sayang?" tanya Arcell menghampiri Queen saat melihat raut wajah kesakitan adiknya.
Antonio ikut berdiri, "Kamu sakit sayang? Dahi mu berkeringat wajah mu juga keliatan pucat."
Queen menggeleng lemah, berusaha sebisa mungkin menyimpan rasa sakit yang muncul di area bekas operasi yang memang belum kering. Padahal dokter Asyraf telah berpesan untuk tidak beraktivitas berlebihan dan harus banyak istirahat.
"Daddy aku mau keruangan abang Arsen dulu bolehkan?" Queen meminta izin.
"Abang temani ya," tawar Ghani, Queen memberikan gelengan.
"Aku mau sendiri aja.. Pleaseee, boleh ya." Queen memohon dan mengeluarkan rayuan yaitu puppy eyes.
"Kalau wajah mu seperti itu malah membuat kami gemas princess," ujar Arcell.
"Daddy boleh ya," kata Queen beralih menatap Antonio yang ada disampingnya.
"Antonio sudahlah izinkan saja, princess cuma mau keruangan Arsen. Biarkan princess menemui Arsen sendiri." Kirana angkat bicara setelah lama hanya diam saja.
"Oke fine, dad izinkan.. Tapi jangan lama-lama," ucap Antonio.
Queen tersenyum, lantas segera keluar dari kamar rawat. Langkah kakinya bukan menuju ruangan Arsen melainkan mencari keberadaan dokter Asyraf.
Mata menemukan dokter Asyraf yang hendak keluar dari ruangannya, secepat kilat Queen mengahalanginya.
"Dokterhh awsshh." Queen meringis memegang punggung belakangnya tambah merasakan nyerinya.
"Queen." Dokter Asyraf yang mengetahui Queen kesakitan membawanya masuk ke ruangannya dan menutup pintunya.
Dokter Asyraf membantu membaringkan Queen perlahan di brangkar yang tersedia dalam ruangannya.
"Kamu kenapa bisa ada disini? Kamu belum sehat Queen untuk beraktivitas diluar seperti ini. Tunggu sampai satu atau dua minggu ke depan, tapi itu juga aktivitas yang kamu lakukan tidak boleh terlalu berat," jelas dokter Asyraf.
"Aku enggak mau ngebuat orang orang curiga dok," ucap Queen.
"Kalau kamu seperti ini sama saja akan membuat orang curiga Queen. Saya izin membuka sedikit baju kamu, untuk melihat bekas operasinya."
"Eem silahkan dok."
Setelah diberikan izin, dokter Asyraf menyingkap sedikit baju kebesaran yang dikenakan Queen. Dokter melihat bekas operasinya sedikit berdarah.
"Kau terlalu banyak begerak hari ini, makanya bekas operasi sedikit berdarah." Dokter Asyraf membuka perbannya dengan mengganti yang baru, semantara Queen hanya diam saja menahan nyerinya.
Dokter Asyraf memberikan obat dan air kepada Queen. Queen menerimanya dan langsung menelan obatnya dan meminum airnya.
"Gimana apa masih terasa nyeri?"
Queen menggeleng, "Sedikit berkurang dok." jawabnya.
"Yasudah kamu istirahat saja dulu disini, saya akan keluar."
"Tidak dok, saya mau pergi keruangan abang Arsen." Queen bangun dan turun dari brangkarnya.
"Hemm, tapi kau tidak boleh berlari atau perbannya akan berdarah lagi," pesan dokter Asyraf.
"Siap dok! Terimakasih pertolongannya," ucap Queen.
Dokter Asyraf membalasnya dengan anggukan. Queen pergi keluar dari ruangan dokter Asyraf, melangkah menuju ruangan Arsen. Setelah mengobrol sebentar bersama Arsen, keduanya bersama kembali ke kamar rawat Ray. Dalam kamar rawat Ray hanya ada Antonio saja, sedangkan Ghani dan Arcell pergi menyelesaikan kepentingan keduanya masing-masing.
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Guys baca karya baru aku yuk judulnya "YOU'RE MINE, SERRA dan ISTRI SIMPANAN”
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasihđź’“