
Tiga tahun kemudian,
Hoek.. Hoek.. Hoek..
Khanza memuntahkan isi perutnya di atas closet, sudah dari beberapa hari ini dia merasa perutnya tidak enak dan terus saja memuntahkan isi perutnya di waktu pagi ataupun sore.
Setelah semua makanan yang barusan dimakannya telah keluar saat dimuntahkannya. Dia menyenderkan tubuhnya di tembok kamar mandi, kali badannya benar-benar terasa sangat lemah, tenaganya sepertinya terkuras habis.
Bertepatan sekali Khanza keluar dari dalam kamar mandi dan Antonio masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaannya.
“Honye kamu kenapa?” Tanya Antonio sangat khawatir saat melihat Khanza yang memegang kepalanya.
“Mas a-aku-“
“Honey,” kalimat Khanza terpotong karena teriakan spontan Antonio yang menangkap tubuh Khanza yang pingsan dan hampir saja menyentuh lantai.
Antonio pun mengangkat tubuh Khanza ala bridal style. Ia langsung keluar dari kamar dan meneriaki Alvaro untuk menyiapkan mobilnya.
“AL!!! Siapkan mobil sekarang, kita ke rumah sakit, cepattt,” teriak Antonio nyaring. Beruntunglah kedua putranya sedang berada di rumah opa dan oma muda mereka yaitu Aditya dan Kirana.
“Iya tuan, segera saya siapkan,” sahut Alvaro secepat kilat menyiapkannya.
Mereka akhirnya dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Alvaro melihat dari kaca spion dalam mobil, nyata sekali wajah tuannya begitu cemas mengkhawatirkan keadaan nona Khanza.
***
“Gimana keadaan Khanza, vin?” Tanya Antonio. Setelah melihat adiknya selesai melakukan pemeriksaan pada istrinya.
Bukan memberi jawaban Vinno malah tersenyum-senyum menatap kakaknya. Tidak dengan Antonio yang malah balik menatap tajam sang adik, karena masih belum menjawab pertanyaannya.
“Kevinno Horison, bisakah anda memberitahu tentang keadaan istri ku sekarang atau rumah sakit mu ini akan ku buat hancur,” ancaman Antonio yang tak pernah main-main membuat Vinno sedikit merasa takut, apalagi dengan melihat wajah sang kakaknya yang terlihat dingin dan datar.
“Oke, akan ku beritahu..
Sebenarnya kakak ipar baik-baik saja, iya hanya mengalami muntah-muntah karena hal yang wajar bagi ibu hamil,” jelas Vinno cepat.
“Tunggu! Maksud kamu Khanza hamil begitu,” ujar Antonio sangat bahagia mendengarnya.
“Yapp, benar sekali kak. Jika kakak ingin lebih akuratnya silahkan nanti setelah kakak ipar bangun bawa ke dokter kandungan saja,” kata Vinno menyarankan sang kakak agar membawa kakak ipar ke dokter kandungan.
“Baiklah, nanti setelah dia sadar aku akan langsung membawanya untuk periksa,” sahut Antonio.
“Kalau tidak ada lagi yang ingin kakak tanyakan, aku akan keluar untuk periksa pasirn ku yang lainnya,” ujar Vinno berpamitan.
“Ya, keluarlah. Nanti akan ku panggil jika butuh bantuan mu,” ucapan Antonio membuat Vinno sangat kesel.
Sebelum Vinno keluar Antonio memanggilnya kembali.
“Vin, mengapa kamu tidak mengambil cuti. Dua minggu lagikan pernikahanmu?” Tanya Antonio, mengetahui Vinno masih bekerja.
“Nanti saat sudah mendekati har pernikahan, aku akan mengambil cutinya,” jawab Vinno, memang ia akan masih belum mengambil cuti. Dikarenakan pernikahannya saja masih dua minggu lagi, masih banyak waktu untuknya bekerja.
Mendengar jawaban Vinno, Antonio hanya ber”oh” saja. Setelah kepergian Vinno yang meninggalkan ruangan, Antonio memilih duduk di kursi dekat istrinya dan menggenggam tangan sang istri, menunggunya terbangun. Dirinya sungguh tak sabar, membawa istrinya ke dokter kandungan untuk memastikan.
Selang beberapa menit setelah kepergian Vinno. Tangan Khanza yang berada di genggaman Antonio begerak pelan. Akhirnya Khanza membuka matanya, menatap ke sekeliling merasa asing di ruangan tersebut. Saat sudah sangat jelas barulah ia mengetahui bahwa dirinya berada di rumah sakit.
“Alhamdulillah sayang akhirnya kamu sadar,” ucap Antonio.
“Mas, aku kenapa?” Tanya Khanza.
“Kamu tidak ingat honey, kamu tadi pingsan di kamar. Untung saja mas sigap dan langsung membawa mu kesini,” jelas Antonio.
Mendengar penjelasan suaminya, baru Khanza ingat. Dimana dirinya muntah-muntah dan lemah saat itu, bertepatan sekali ia pingsan ada suaminya di saat itu juga.
“Kabar apa mas?”
“Kamu sekarang tengah hamil honey, tapi Vinno mengatakan untuk lebih memastikannya kita harus memeriksakannya ke dokter kandungan.”
Khanza tak bisa lagi menutupi rasa bahagianya, tetapi ia tak boleh terlalu bahagia dulu. Karena ini belum pasti, tapi sangat mengingat-ingat datang bulannya. Bulan ini dirinya sama sekali belum mendapatkannya.
“Mas, kalau begitu ayo kita ke dokter kandungannya sekarang aja,” ajak Khanza saking antusiasnya.
“Memang kamu sudah kuat honey, kalau belum jangan memaksakannya. Mas ngga mau kamu kenapa-kenapa sepeti tadi,” ujar Antonio tak ingin kejadian tadi terulang lagi.
“Aku udah kuat kok mas, apalagi ada suami aku yang siap siaga,” kata Khanza tersenyum. Ia pun bangun dari tidurannya di bantu oleh Antonio.
“Mas, gendong aja ya,” tawar Antonio. Spontan saja Khanza memberikan gelengan, memangnya dirinya lumpuh harus di gendong segala.
“Aku masih bisa jalan sendiri mas, lagian aku kuat kok. Jadi mas jangan khawatir ya, percaya sama aku. Nanti kalau aku lemas pasti bilang,” tutur Khanza.
Kini sampailah mereka berdua di ruangan dokter kandungan. Tanpa mengantri Khanza dan Antonio langsung di persilahkan masuk. Mengapa bisa mereka masuk tanpa mengantri? Jawabannya karena Vinno sudah mendaftarnya terlebih dulu.
Khanza pun bebaring di brangkar dan langsung di periksa dokter dengan melakukan usg. Tetapi sebelum itu perutnya sudah di beri gel.
“Selamat buat anda tuan Antonio, nona Khanza tengah hamil sekarang,” ucap dokter tersebut memberikan selamat, dokter tersebut memang mengenal keduannya, karena Antonio adalah kakak dari pemilik rumah sakit ini dan Khanza adalah istrinya. Mereka juga sudah memiliki anak kembar dan sekarang akan memiliki anak kembali.
“Terima kasih dokter,” balas Khanza mengucapkannya balik dan sangat bahagia mendengar bahwa dirinya benar-benar tengah mengandung.
Lalu mereka bedua pun keluar dari ruangan dokter kandungan tersebut untuk segera pulang kerumah dan memberitahu semua orang kabar membahagiakan ini.
Tiba dirumah, semua keluarga sangat kebetulan sekali tengah berkumpul bersama. Ini adalah moment yang tepar untuk memberitahukannya.
“Mommy, Asen kangen,” pekik Arsen saat melihat kehadiran Khanza. Arsen memang belum bisa menyebutkan huruf R, sedangkan Arcell sudah bisa.
“Baru ditinggal sebentar sudah kangen,” ejek Arcell jengah dengan kelakukan adiknya yang sangat manja pada sang mommy.
“Abang ngga boleh begitu sama adik ya sayang,” kata Khanza lembut pada sang putra.
“Maaf mom,” ucap Arcell.
“Udah ngga papa sayang,” ucap Khanza. Lalu mendudukan dirinya di dekat Antonio dengan putranya Arsen yang berada di pangkuannya dan memeluk manja lehernya. Ia hanya mengelus kepala putranya itu.
“Kalian dari mana saja?” Tanya Aditya yang merasa heran melihat raut kebahagiaan terpancar di wajah keduannya.
“Kami habis dari rumah sakit,” jawab Antonio yang membuat semua orang menatap tajam dirinya.
“Siapa yang sakit Xavier?” Kali ini tuan Andreas lah yang angkat bicara.
“Tidak ada yang sakit pah,” ujar Antonio, “Tadi pagi sebelum aku berangkat kerja, aku ke kamar dulu mendatangi Khanza mengecek keadaanya. Saat aku sampai di kamar, Khanza memegangi kepalanya dan tak berapa lama jatuh pingsan. Beruntunglah aku sigap menahan tubuh agar tidak jatuh ke lantai. Aku langsung membawanya ke rumah sakit, Vinno memeriksanya dan mengatakan bahwa Khanza hamil. Tapi untuk lebih memastikanya kami memeriksanya ke dokter kandungan, dokter kandungan tersebut menyatakan bahwa Khanza benar-benar hamil sekarang,” lanjutnya menjelaskan panjang lebar dengan aura kebahagian.
“Alhamudillah,” serempak semuanya.
“Sebentar lagi abang Arcell bakal punya adik lagi, senang ngga bang?” Tanya Rhea berbicara pada Arcell yang tengah duduk di dekatnya dan Leo.
“Adik?” Tanya Arcell.
“Iya sayang, sebentar lagi Abang Arcell dan Arsen bakal punyak adik,” ujar Leo membantu menjawabnya.
Arcell segera turun dari sofa dan menghampiri daddynya. “Dadd, benarkan yang di katakan kak Rhea dan Leo, kalau aku bakal punya adik?” Tanya pada daddynya.
“Benar sekali, abang Arcell bakal punya adik,” jawab Antonio.
Jawaban Daddynya membuat Arcell merasakan senang. Tidak dengan Arsen yang terlelap di pangkuan Khanza dan tak tahu apa-apa kabar ini. Semua orang yang mendengarnya merasa bahagia dengan kabar kehamilan Khanza.
****