
Hampir sampai di depan kamar rawat Khanza, Karina berlari agar cepat sampai, karena dirinya tidak dapat menahan rasa ingin segera memeluk putrinya.
Sayang sekali, saat tangan ingin menyentuh handel pintu. Ketiga bodyguard, hanya salah satunya menghalang berdiri di depan pintu.
"Maaf nyonya anda tidak boleh masuk, tanpa seijin tuan Antonio," ujar bodyguard yang berdiri di depan pintu.
Melihat Kirana yang di halangi, Aditya melangkah cepat mendatanginya.
"Saya adalah teman boss kalian, jadi biarkan kami masuk," tukas Aditya, sedikit kesal pada bodyguard di hadapannya.
"Tidak bisa tuan, yang masuk ke kamar nona Khanza harus ada persetujuan dari tuan Antonio," ujar bodyguard kedua, mendekat dan berbicara.
"Tolong minggirlah, saya ingin bertemu anak saya," paksa Kirana sambil mendorong bodyguard di hadapannya agar ke samping. Bodyguard yang bertubuh besar itu tidak bergeser sedikitpun malah tetap bertahan.
"Kami mohon tuan, tunggulah sebentar lagi, tuan Antonio akan kesini. Tuan Antonio masih berada di ruang perawatan bayi. Kami hanya menjalankan tugas, jika kami melakukan kesalahan sedikit saja maka hukuman yang akan kami terima," bodyguard ketiga menjelaskannya.
Aditya tak bisa berbicara kembali, karena sepertinya bodyguard Antonio sangatlah patuh dan tidak bisa di bujuk. Aditya akhirnya mengalah, dari pada ia terus menerus memaksa ingin masuk yang malah nantinya emosinya akan terpancing karna tetap di larang masuk kecuali atas ijin Antonio, membuatnya harus bersabar menunggu kedatangan boss mereka.
"Sebentar saya akan menelpon Antonio dulu, agar kalian percaya bahwa saya benar sahabat boss kalian itu," Aditya mengambil handphone dalam saku celananya.
Aditya langsung memijit tombol untuk menelpon, tetapi sayang telponnya malah tidak aktif. Bagaimana mau aktif handphone Antonio saja ketinggalan di mobil bahkan mungkin juga handphonenya sudah kehabisan baterai...
"Tidak aktif lagi ponselnya, kemana saja sih Antonio," guman Aditya.
"Gimana dit, apa diangkat sama Antonio?" tanya Kirana tak sabaran. Aditya malah memberikan gelengan.
"Sayang gimana kita menunggu saja, mungkin sebentar lagi Antonio kesini," Aditya merangkul bahu Kirana dan membawanya duduk di kursi tunggu.
Kirana menatap ketiga bodyguard yang berjaga dengan tatapan sinisnya. Padahal Kirana bukanlah wanita yang suka memberikan tatapan sinis terhadap orang lain. Tetapi mungkin orang itu sudah kelewatan membuatnya kesal...
.
Beberapa menit kemudian dari arah kanan terlihat Antonio berjalan bersama Rhea menuju kesini dan Bagas berserta Raya yang mengikut di belakang.
"Kalian sudah dengarkan. Apa kalian sudah percaya bahwa boss kalian mengenal saya," sinis Aditya menatap ketiga bodyguard yang menunduk.
"Maaf tuan, kamu juga sudah percay," salah satu bodyguard dengan penuh kerberanian mengeluarkan suara, meminta maaf...
"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Antonio kebingungan dengan situasi saat ini.
"Begini An, tadi aku sama Rana ingin masuk ke kamar rawat Khanza. Tetapi bodyguard mu tidak mengijinkan kami dan melarangnya," ujar Aditya menjelaskannya.
"Tapi tuan kami hanya menjalankan perintah saja," bodyguard yang tadi kembali bersuara.
"Yang di katakan bodyguard saya memang benar dit, mereka hanya menjalankan tugas. Jadi siapapun yang ingin menjenguk Khanza harus dengan ijin saya," tukas Antonio menengahi.
"Anda bisa dengar sendiri kan tuan," balas bodyguard tadi, mengatakan kalimat yang sama barusan di ucapkan oleh Aditya.
Aditya yang mendengar itu sangat jengkel pada salah satu bodyguard Antonio yang banyak bicara. Sedari tadi ia memperhatikan, hanya bodyguard itulah yang selalu menyahuti perkataannya.
"Bodyguard saja banyak sekali bicaranya," guman Aditya.
Sebagian yang mendengarkan perdebatan itu hanya bisa tertawa, bahkan Rhea pun juga ikut tertawa. Tanpa di sadari satu orang diantara mereka telah masuk lebih dulu, karena tak tahan ingin melihat orang yang berada dalam kamar rawat.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓