
Satu bulan kemudian.
Tepat hari ini sudah satu bulan lamanya seorang bayi perempuan tinggal bersama Bagas dan Raya. Dari pihak kepolisian mengabarkan mereka tidak menemukan ibu dari bayi perempuan yang tengah mereka asuh. Kabar itu membuat Raya sangat senang, karna akhirnya bisa merawat bayi. Walaupun bayi tersebut bukanlah anak kandungnya, tetapi wanita itu sudah sangat menyayangi bayi tersebut.
“Pleasee ya mas, kita angkat bayi ini jadi anak kita,” mohon Raya agar suaminya mau mengijinkan untuk mengangkat bayi perempuan yang telah mereka asuh menjadi putri mereka.
Bagas mengangguk, “Iya sayang mas mau, mas juga sudah menyayangi bayi lucu ini,” ucapnya menyetujuinya.
“Bagaimana jika kita ada syukuran mas, kita undang kerabat terdekat aja sama keluarga Horisan dan Mahendra,” usul Raya, ia ingin memberikan nama pada bayi perempuan yang sudah satu bulan diasuhnya.
“Ya, kamu atur saja sayang harinya,” kata Bagas.
“Kita adakan besok mas, tenang mas urusan ini serahkan sama aku saja,” ucap Raya tersenyum bahagian. Akhirnya impian untuk merasakan bagaimana mengurus bayi terwujud. Walaupun bayi perempuan ini bukan anak kandungnya, tetapi rasa sayang ini tidak bisa dibohonginya.
***
Mansion Horison
Khanza dan Antonio sudah berbaring di ranjang mereka. Saat ingin memejamkan mata, tiba-tiba handphone Khanza yang berada di nakas berbunyi.
“Mas lepasin dulu, aku mau mengangkat telpon,” ujar Khanza berusaha menyingkirkan tangan suaminya yang erat memeluknya.
“Siapa yang menelpon honey?” Tanya Antonio yang bangun dan menyandarkan diri di kepala ranjang.
“Ini mas tante Raya nelpon, tumben sekali. Biar aku dulu ya mas,” Khanza pun mengangkat dan meloudspeaker agar suaminya juga bisa ikut mendengar.
“Assalamualaikum tante,”
“Waalaikumsalam nza,”
“Ada apa ya tante menelpon aku malam malam begini,”
“Sebelumnya tante minta maaf sudah menganggu waktu tidur kalian. Tante hanya ingin memberitahu besok kalian datang ya kerumah tante,”
“Tante mengadakan acara syukuran, pokoknya kalian datang saja. Nanti kalian bakalan tahu acaranya untuk siapa,”
“Baiklah tante besok kami akan datang, jam berapa acaranya tan?”
“Jam 10 an nza, jangan ngga datang ya. Kalian harus datang,”
“Iya tan kami akan datang,”
“Makasih sayang, see you besok,”
Panggilan telpon berakhir, Khanza kembali menaruh handphonenya di nakas samping ranjang.
“Ada acara apa ya mas, aku kok jadi penasaran gini,” katanya.
“Kita lihat besok saja honey, sebaiknya kita tidur,” Antonio mendekap istrinya sampai mereka terbaring bersama.
“Mas tangannya ngga udah jahilnya,” peringat Khanza kepada suaminya yang memang sangat usil. Sifat Mas Nio yang usil ini tidak ada orang yang mengetahui selain ia istrinya.
“Kangen honey,” manja Antonio malah mendusel di dada Khanza.
Oweekk oeeekk
Terdengarlah tangisan Queen yang berada di box bayi. Khanza dengan segera memindahkan kepala suaminya dan dirinya bangun dari tempat tidur mengecek Queen yang menangis.
Khanza menggendong Queen dan membuka kancing piyama. Wanita itu tahu bahwa putrinya tengah haus. Sambil menyusuinya, sesekali ia menimang pantat Queen agar memejamkan matanya kembali. Karena jujur saja hari sangat melelahkannya.
Antonio hanya bisa melihat saja, padahal tadinya dirinya yang ingin menikmati itu. Tetapi mau bagaimana lagi itu adalah makanan utama baby girl. Dirinya hanya bisa memandanginya saja, tanpa bisa menikmatinya juga.
****