My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Episode 45



Tiba dirumah sakit, Antonio berjalan begitu cepat untuk sampai ke ruangan wanitanya. Ruangan Khanza berada dilantai atas, jadi untuk mencapai kesana Antonio harus menaiki lift.


Saat hampir sampai Antonio sengaja menghentikan langkahnya. Padangannya lurus ke depan, disana terlihat pertengkaran wanita hamil dan kedua bodyguardnya.


"Ayolah, om biarin aku keluar. Hanya ketaman saja, aku bosan dikamar terus," kekeh Khanza.


Kedua bodyguard tersebut tetap menjalankan perintah tuan mereka. Bahwa jangan membiarkan wanita hamil itu keluar, walaupun hanya ketaman.


Antonio tersenyum melihat wanitanya yang sangat keras kepala. Tidak tahan melihat wajah wanitanya yang menginginkan ketaman. Antonio memutuskan menghampirinya.


"Ehem! Ada apa ini?" Antonio berdehem lalu bertanya.


Kedua bodyguard Alvaro dan Eduard menunduk saat tahu tuan mereka bertanya. Khanza tersenyum mengejek.


"Tadi aja berdirinya tegak banget... Eh, sekarang malah nunduk," ucap Khanza menahan kekesalan. Entahlah, kehamilannya membuatnya menjadi wanita berani.


"Maaf nona, kami hanya menjalankan tugas. Tidak ada maksud lainnya," kata Alvaro.


"Kerja kalian bagus," kata Antonio.


Seketika itu Khanza melotot, menatap Antonio garang. Rasanya ia ingin menggigit wajah datar itu.


"Kenapa sayang, kok matanya melotot gitu?" ucap Antonio bertanya, berlagak seperti orang tidak tahu. Padahal dia mengetahui jika Khanza sedang menahan kekesalannya.


"Hiks..." Khanza malah menangis. Hormon sekarang, lagi tidak stabil.


Antonio mengubah posisi, saling berhadapan dengan Khanza.


"Sayang, lihat saya," mata bulat Khanza bersitatap dengan mata tajam milik Antonio.


"Kenapa hem?" Antonio menghapus air mata diwajah Khanza.


"Pengen ke taman," rengek Khanza.


Antonio tidak langsung mengiyakan, malah ia sepertinya enggan untuk menurutinya. Tetapi melihat wanitanya yang tengah manyun dan memajukan bibirnya beberapa senti kedepan.


'Cup.'


Satu kecupan Antonio daratkan di bibir Khanza. "Kamu minta cium kan."


Kekesalan Khanza sudah memuncak, tidak tertahankan lagi. Membuatnya berbalik lalu masuk ke dalam ruang rawatnya kembali.


'Braak' Khanza menutup pintu dengan membanting keras. Antonio menghapus dadanya, akibat terkejut mendengar suara keras.


"Huhh!" Antonio menghela nafas berat. "Sepertinya akan susah membujuk wanita hamil," keluhnya.


'Ceklek' Setelah pintu dibuka oleh Antonio. Disana terlihat wanita hamil tengah berdiri menghadap kaca besar rumah sakit, untuk melihat pemandangan dibawah.


Antonio berjalan mendekat, ketika tepat dibelakang Khanza. Ia pun memeluk wanitanya, mengeratkan pelukannya. Lalu menyandarkan dagunya dibahu kiri Khanza. Dengan isengnya, Antonio mencium leher jenjang Khanza.


"Ayo ketaman," ajak Antonio, tetapi Khanza masih betah memandang ke luar dan mendiamkan.


Antonio yang merasa diacuhkan, membalik tubuh Khanza dengan satu kali hentakan hingga menghadapnya.


Antonio mengernyit melihat wajah Khanza. "Masih kesal?"


Khanza masih diam, enggan untuk berbicara. Antonio paham, bahwa Khanza masih tidak mau bicara apapun. Antonio berlutut didepan Khanza, kemudian mencium perut wanitanya.


"Jagoan! Bantuin daddy bujuk mama, biar mau ketaman. Karna daddy mau ngasih sesuatu buat mama," kata Antonio tepat di perut Khanza.


Khanza mendelik, tetapi Antonio tidak perduli. Malah dia menaikan keatas sedikit baju rumah sakit yang dipakai oleh Khanza. Bibirnya dimajukan, menempel ke perut Khanza. Antonio menciumi perut Khanza, hingga wanita itu merasa kegelian.


"Om, udah berenti. Geli!" seru Khanza tanpa sadar akhirnya berbicara.


"Saya bakal berhenti, kalau kamu tidak memanggil saya dengan sebutan om lagi dan mau ketaman sekarang juga," kata Antonio terus menciumi perut Khanza.


"Iya iya, aku mau," Khanza menyerah, karna memang ia karna kegelian.


Antonio tersenyum kemenangan, lalu dengan sekali hentakan Khanza sudah berada dalam gendongannya.


"Aaa.." teriak Khanza terkejut. "O...m eh mas turunin, aku bisa jalan sendiri." berontaknya bergerak-gerak.


"Diamlah sayang, nanti kamu jatuh," tegas Antonio membuat Khanza terdiam. Lalu, Antonio melanjutkan langkahnya.


****


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓