
Kini mereka sudah berada di dalam mobil dan bersiap menuju ke taman. Tamannya yang mereka kunjungi lumayan jauh, kira-kira membutuhkan waktu sekitar 20 menitan untuk sampai disana.
Sepanjang perjalanan para anak-anak bernyanyi, untuk menghilangkan rasa bosan selama perjalanan. Yang meneyetir mobil bukanlah Antonio, tetapi Eduard dan Alvaro di sebelahnya. Antonio membawa keduanya untuk berjaga-jaga takut ada musuhnya yang mengincar anak-anaknya.
Mobil mereka pun akhirnya berhenti di sebuah taman. Mereka bergegas turun, setelah pintu terbuka. Alvaro dan Eduard juga ikut turun membawa barang-barang yang dibawa, lalu mengelar tikar untuk alas duduk.
Khanza, Antonio dan Queen hanya duduk di tikar, sambil ikut mengawasi putra-putra mereka yang tengah asik bermain. Queen tiba-tiba merangkak keluar dari tikar, Khanza dengan sigap membawa anaknya duduk didekatnya kembali.
“Queen main disini aja ya nak,” kata Khanza, Queen malah menatap mommy dan menggeleng kepalanya pelan, serta tangan yang kecil menunjuk dimana para abang-abang sedang main.
“Nda boleh sayang, princesskan masih kecil baru bisa merangkak jadi mainnya disini aja ya nak,” ucap Khanza, yang malah membuat anak bayi itu menangis.
“Anak-anak apa salah satu dari kalian tidak ada yang mau menemani princess main disini?” Seru Antonio bertanya kepada semua putranya.
Mereka berempat yang asik dengan permainan masing-masing tadinya pun berhenti saat mendengar seruan dari sang daddy. Keempatnya saling menatap satu sama lain.
“Kalian main saja, biar abang yang nemani princess,” ujar Arcell mengalah dan segera melangkah menuju tikar, anak itu tidak tega melihat princessnya menangis.
“Aku juga mau main sama princess bang,” suara Arsen, anak itu berlari mengukuti abangnya Arcell.
Ghani yang melihat kedua abang kembarnya menuju dimana mommy dan daddy serta queen berada. Akhirnya anak itupun ikut juga melangkah menghampiri, tetapi saat tahu adiknya yang hanya diam saja tanpa mengikutinya juga membuat berhenti melangkah dan menoleh kebelakang.
“Ikut tidak? Atau kamu mau main sendiri,” ujar Ghani bicara sedikit kesal, karna adiknya hanya diam saja sedari tadi.
“Tapi Rey mau main pesawatan abang,” jawabnya.
“Yasudah kamu main sendiri saja,” kata Ghani meninggalkan adiknya setelah usai bicara.
Rey masih terdiam dan belum bermain kembali, anak itu tampak bingung memikirkan omongan abangnya. Anak itu merasa sepi sekali jika hanya main seorang diri. Mau tak mau anak itu akhirnya memilih menghampiri para abang-abangnya dengan wajah yang menekuk.
“Rey sini nak!” Seru Khanza memanggil putranya itu agar mendekat padanya. Ia tahu anak itu pasti kesal, karna para abang tak ada yang menemaninya bermain.
“Anak ganteng mommy ini kenapa wajah ditekuk gini, jelek tahu sayang,” ujarnya merangkum pipi putranya lalu menciumnya.
“Rey mau main pesawatan mom, tapi abang-abang mau main sama queen, Rey nda mau main sendirian kalau nda ada temannya,” katanya jujur.
Sekarang Khanza paham mengapa putranya terlihat murung, ternyata hal itu, “Yasudah begini saja, karena para abang menemani adek bermain. Bagaiman kalau mommy saja yang menemani Rey bermain?”
“Beneran mom mau nemani Rey?” Tanya memastikan.
Khanza mengangguk tersenyum, lalu mencubit pelan pipi putranya.
“Mas, aku mau menemani Rey bermain ya,” ujar Khanza memberitahu suaminya.
“Iya honey, memang mau bermain dimana?”
“Disana mas, tempat mereka bermain tadi.”
Setelah memberitahu Antonio, Khanza dan Rey segera melangkah. Khanza tersenyum menatap wajah Rey kembali ceria. Khanza memilih duduk di bangku taman yang tersedia, semantara Rey bermain berlari kesana kemari dengan pesawatan di tangannya. Khanza berpikir, mungkinkah putranya itu bercita-cita menjadi pilot saat besar nanti.
“Rey sudah dulu yuk mainya, Rey pasti haus sama laperkan?”
“Iya mom Rey laper, haus juga,” kata anak itu kelelahan berlari kesana-kemari dengan pesawatannya.
Kedua ibu dan anak tersebut langsung melangkah menuju tempat dimana mereka bernaung. Sesampainya disana dan mendudukan pantat, Queen merangkak menghampirinya.
“Mamam!!” Seru bayi kecil lucu, sebelum mengambil makanan princessnya Khanza menyemprot tangannya dengan hand sanitizer.
“Mas, toples berisi cemilan di buka saja semuanya,” seru Khanza meminta suaminya untuk membuka tutup toples agar anak-anaknya bisa memakan cemilan yang dibuatnya.
“Anak-anak jangan lupa pakai hand sanitizer sebelum memakan cemilan,” beritahu Khanza.
“Mommy, Arsen mau beli es krim, boleh?” Tanya Arsen ragu kepada mommynya.
“No, kemaren daddy dapat laporan kamu makan es krim di sekolah sampai menghambiskan dua cup es krim. Apa betul?” Bukan Khanza yang bicara melainkan Antonio. Pria itu mendengar apa yang diminta oleh putranya itu.
“Iya dad itu benar, tapi Arsen sekarang mau makan es krim lagi. Pleasee boleh ya dad, sekali ini aja!”
“Boleh saja boy, tapi selama lima bulan gaada jatah makan es krim,” tegas Antonio, membuat tubuh Arsen lemas mendengar nada tegas daddynya.
“Momm bantuin,” Arsen menoleh pada mommynya yang asik menyuapi princess.
“Maaf sayang, kali ini mommy setuju sama daddy,” ucap Khanza.
“Good mommy!!
Ingat perjanjiannya, kalian daddy bolehkan makan es krim. Tapi seminggu sekali,” pungkas Antonio mengingat keempat putranya.
Arsen akhirnya memilih diam dan malah duduk sangat dekat dengan Khanza. Anak itu malah memeluk sang mommy, menyembunyikan kesedihannya, entahlah anak itu merasa sedikit kesal karna tidak diperbolehkan makan es krim. Ini salah juga karna diam-diam makan es krim di sekolahan.
“Arsen ngga mau makan cemilan nak?” Tanya Khanza lembut pada anaknya yang masih menyembunyikan wajah di pelukannya.
“Aku masih kenyang mom, nanti saja makan cemilannya,” jawabnya.
Khanza menatap suaminya, bicara dengan mengkodenya. Antonio yang paham maksud sang istri untuk membujuk Arsen, tetapi Antonio menggeleng dan memberi kode agar membiarkan putranya seperti itu dulu. Akhirnya Khanza pun juga memilih untuk diam saja.
Waktu berjalan sangat cepat, mereka pun bersiap untuk pulang ke mansion, karena hari yang sebentar lagi akan petang.
Tiba di mansion mereka semua membersihkan diri, Khanza memilih memandikan princess lebih dulu, sebelum dirinya. Nanti barulah ia akan istirahat sebentar. Hari ini sungguhlah melelahkan bagi ibu dengan lima anak tersebut, tapi apapun itu untuk anaknya selagi masih bisa dilakukannya akan iya lakukan. Karena anak dan suaminya adalah kebahagiaannya.
****