
Dert...dert...
Kedua pasangan suami istri itu masih terlelap dalam tidur nyenyak mereka. Bahkan ponsel Antonio yang sedari tadi berdering tak di hiraukan sama sekali, seakan-akan itu hanya mimpi bagi keduanya.
Oweekk..owekk..
Ketika suara tangisan Arsen sampai ke telinga Khanza, segera saja wanita itu membuka matanya perlahan. Saat ingin bangun, tangan Antonio malah memeluk Khanza dengan erat. Sehingga susah untuk melepaskannya.
"Mas, Arsen nangis..." bisik Khanza pelan.
"Euunghh... Bentar honey, tangan mas masih nyaman," ucap Antonio serak dengan mata yang masih terpejam.
Oweeekk..oweekk...
Tangisan Arsen semakin kencang, membuat Khanza mencoba melepaskan tangan Antonio. Tetapi tidak bisa, karena Antonio memperkuat pelukannya.
"Mas iihh, kamu ngga dengar apa Arsen nangis kenceng gitu," kesal Khanza.
Karena Antonio yang sudah sangat memahami bagaimana istrinya mengomel nantinya. Akhirnya dirinya mengalah melepaskan pelukannya, padahal ia masih ingin bermanja-manjaan. Waktunya dengan istrinya semakin berkurang, tapi mau gimana pun ia juga harus mengerti sekarang mereka telah mempunyai anak. Dimana waktu istrinya akan lebih banyak untuk twins ketimbang dirinya.
Apalagi anak mereka masih kecil, dan setiap saat membutuhkan Khanza di sisi mereka. Bukan hanya sosok ibu tetapi ayah juga berperan untuk membantu menjaga bergantian.
Antonio memandangi Khanza yang begitu penuh kehatian-hatian menggendong Arsen. Lalu melangkah menuju sofa duduk disana, menyusui Arsen yang menangis karna lapar. Sedari tadi tatapan Antonio tak pernah lepas memandangi ke arah istrinya, sambil menyunggingkan senyumnya.
Dirinya merasa sangat beruntung mendapatkan istri seperti Khanza. Wanita yang pintar dalam hal apapun, bahkan wanita itu tak pernah menuntut apapun darinya. Kebahagiaannya sekarang bertambah lengkap sudah adanya kehadiran baby twins diantara mereka. Tetapi rasanya ia ingin memiliki banyak anak, agar mansion Horison ramai di penuhi oleh suara anak-anaknya.
Dert...derrttt..
Asik dalam lamunannya Antonio sampai tak menyadari ponselnya yang berada di nakas sedari tadi terus-menerus berdering membuat Khanza yang berada di sofa sedikit jengkel, karena tak diangkat-angkat.
Khanza menolehkan kepala ke belakang, barulah ia tahu mengapa sedari tadi suaminya tidak mengangkat telpon. Ternyata suaminya tengan memandangi dirinya, ia yang mengetahui itu hanya menggelang-geleng kepalanya.
“Dasar suamiku...” Khanza bersungut-sungut.
“Mas ponsel kamu bunyi dari tadi, buruan di angkat gih, siapa tau penting,” ujar Khanza sedikit berteriak.
“Mas!!!”
“Astagfirullah... Honey suara kamu kenceng banget, buat mas kaget,” Antonio sampai beristigfar saat mendengar suara nyaring istrinya.
Oweekk...oweek...
Sampai-sampai Arsen yang tadinya tenang kembali menangis, hingga di susul suara Arcell dari box bayi yang ikut menangis karena merasa terganggu.
“Mas, gendong Arsen.. Biar aku liat Arcell dulu...
Gara-gara mas Arcell juga ke ganggu kan,” omel Khanza, karena twins menangis secara bersamaan.
“Maaf honey, mas kan juga kaget dengar suara kamu,” ujar Antonio.
Khanza segera mengangkat Arcell, membawanya ke dalam gendongannya dan menimang-nimang sebentar. Lalu duduk di ranjang untuk menyusuinya.
Hingga suara ponsel Antonio kembali berdering, tidak mau mendengar omelan Khanza kembali. Antonio bergegas untuk mengangkat telponnya, tetapi sebelum itu ia membaringkan Arsen di tengah-tengah ranjang terlebih dulu.
“Hallo selamat pagi pak, kami dari kantor kepolisian ingin memberitahukan bahwa tahanan bernama ibu Laura Cassandra telah meninggal dunia, akibat depresi berat yang dialami oleh beliau...”
“Innalillahi wa innalillahi rojiun,”
Telinga Khanza yang mendengar ucapan suaminya, ingin rasanya bertanya. Tetapi tangan Antonio terlebih dulu menyuruh untuk diam, Khanza yang paham dan mengerti maksud suaminya pun menurut.
“Jenazah ibu Laura Cassandra sudah selesai kami makamkan, kami akan mengirimkan lokasinya pada anda,”
“Baik pak, terima kasih telah mengabari saya...”
Tutt..
Antonio berjalan duduk di samping Khanza yang sudah selesai menyusui Arcell dan membaringkannya di dekat Arsen.
Khanza menghadap suaminya, menatap sedikit bingung.
“Ada apa mas? Siapa yang meninggal?”
“Laura,”
“Innalillahi wa innalillahi rojiun,” setelah mengucapkan itu Khanza menutup mulutnya, air mata seketika turun begitu saja.
“Apa yang terjadi mas, bagaimana bisa tante Laura meninggal?” Tanya Khanza ingin mengetahui yang sebenarnya.
“Laura depresi berat honey, kamu ingatkan kejadian saat dia menyekap mu dan ingin membunuh bayi kita berserta kamu, mas tidak bisa tinggal diam saat itu. Mas memang tak langsung menyerahkan ke polisi, tetapi mas memberi sedikit pelajaran kepada Laura dan Clara. Setelah itu barulah mas menyerahkan mereka kepada pihak yang berwajib,” jelas Antonio.
Khanza yang mendengar penjelasan suaminya tampak terkejut, karena dia baru mengetahui ini semua. Bahkan mereka tak menyadari bahwa di balik pintu seseorang telah mendengar semuanya.
Ceklek...
Rhea membuka pintu dan membuat Antonio dan Khanza tersentak kaget melihat kedatangan Rhea.
“Re...rhea!” Seru Khanza.
Rhea langsung berhambur dalam pelukan Khanza, gadis itu bahkan menangis tersedu-sedu. Setelah tadi mendengar fakta yang baru saja di ketahuinya, bahwa ibu kandungnya sendiri ingin melenyapkan ibu sambungnya berserta adik-adiknya.
“Kenapa ibu kandungku sejahat itu sama mommy, padahal mom gasalah apa-apa. Mengapa ibu kandungku begitu tega ingin melenyapkan mom dan adik twins, re benar-benar ngga nyangka hiks...” tangis Rhea.
“Pssttt... udah re, yang lalu biarin berlalu, mom udah maafin tante Laura kok, bagaimana pun dia tetap ibu kandung kamu. Mau tante Laura sejahat apapun sama mommy semasa dia hidup, mom tetap memaafkannya,” kata Khanza sambil tangannya mengelus kepala Rhea dengan sayang.
“Mengapa mom baik sekali, Rhea heran terbuat dari apa si hati mom. Hingga mau memaafkan semua kejahatan yang telah di lakukan ibu kandungku,” balas Rhea.
Khanza hanya tersenyum, bahkan Antonio juga merasa terheran-heran dengan istrinya yang begitu pemaaf.
“Bagaimana kalau kita pergi ke makam tante Laura untuk mendoakan almarhumah,” ujar Khanza dan menatap suaminya dan Rhea bergantian.
Rhea mendongak menatap Khanza lalu memberikan anggukan, begitupun juga Antonio. Walaupun sebenarnya Rhea enggan untuk pergi kesana, tetapi hati kecil gadis itu berkata agar pergi kesana.
Sedangkan Antonio merasa lebih lega, karena ia tak perlu menjelaskannya lagi kepada Rhea. Gadis itu sudah mendengar semuannya.
Mereka bertiga pun bersiap-siap untuk pergi ke makam Laura. Khanza menitipkan twins kepada bunda dan ayahnya yang sangat kebetulan mendatangi mansion mereka. Padahal tadinya dirinya ingin menitipkan twins pada Bi Inahya. Tetapi karena sudah ada kedua orangtuanya jadilah twins dititipkan kepada oma dan opa mereka.
.
Disinilah ketiga orang berada, yaitu di pemakaman. Tepatnya sekarang di makam Laura, ketiga orang itupun mendoakan Laura, Khanza yang melihat Rhea yang ingin menangis segera memeluknya untuk menenangkan gadis itu.
Khanza tahu, sebenarnya Rhea sangatlah sedih sedari tadi. Tetapi gadis itu menutupinya, mungkin karena tak tahan jadilah ia menumpahkan saat ini, dimana ia melihat sendiri bahwa ibunya benar-benar sudah tiada.
Karena sebentar lagi akan turun hujan, mereka bertiga pun segera meninggalkan pemakaman.
Sejahat apapun semasa dia hidup, tetaplah mereka yang ditinggalkan akan bersedih atas kepergiannya.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. Jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💕