
Setelah selesai makan malam, anak-anaknya langsung naik ke lantai atas semua. Mereka bilang ingin menemani princess.
Khanza tengah membantu bi Inahya membersihkan meja makan.
“Yaampun neng, biarkan bibi saja yang membersihkannya, lebih baik neng istirahat saja. Pasti neng merasa lelahkan hari ini,” ujar bi Inahya.
“Udah ngga papa bi, ini sebentar lagi selesai kok,” kata Khanza, melanjutkan mengelap meja makan, setelah semua makanan di letakan di wastafel.
Merasa perkerjaan sudah selesai, wanita itu ingin melanjutkan mencuci semua piring dan peralatan masak. Tetapi sebelum tangan wanita menyentuh alah pencuci, bi Inahya sudah menghalanginya duluan.
“Tidak boleh neng, ini tugas bibi,” ucap bi Inahya dengan telunjuk yang digoyangkan.
Khanza menghela nafas, “hemm, baiklah bibi sekarang aku mau ke atas dulu, melihat para anak-anak.”
“Itu lebih bagus neng,” ucap bi Inahya, Khanza pun meninggalkan bi Inahya seorang diri didapur.
***
Ketika membuka pintu kamar, Khanza memandang kearah ranjang, dimana disana para putranya menemani princess mereka menonton. Ya, princess diumurnya yang baru tujuh bulan sangat menyukai menonton film barbie dan selalu tertawa lucu.
“Anak mommy ternyata ditemani abang-abang nonton ya nak, pasti nonton barbie.. lucu banget sih anak mommy,” ucap Khanza duduk di tepian ranjang ikut melihat tontonan princessnya.
Setelah Khanza perhantikan putra-putranya, hanya satu orang yang tak ikut berkumpul bersama diranjang.
“Abang El,” panggil Khanza pelan.
“Iya mommy ada apa?” Tanya Arcell.
“Arsen mana bang?” Kata Khanza menanyakan kembaran Arcell.
“Dikamar mungkin mom,” jawab Arcell.
Khanza segera beranjak dari ranjang menuju kamar putranya, tapi saat membuka pintu kamar bersamaan dengan suaminya yang ingin membuka juga.
“Mau kemana honey?” Tanya Antonio.
“Ke kamar Arsen, mas,” jawabnya.
“Mas ikut ya, seperti putra kita sedang marah. Karena tidak mas bolehkan membeli es krim tadi saat ditaman,” ucap Antonio sambil berjalan beriringan dengan istrinya menuju kamar putranya.
“Pastinya mas, Arsen ngambek,” sahut Khanza.
Tokk...tokk...
“Arsen, boleh mommy masuk nak,” seru Khanza dari luar pintu kamar.
“Masuk saja mom, pintunya ngga aku kunci,” sahut Arsen di ranjang dengan buku ditanganya. Anak itu tengah membaca buku, untuk menghalau rasa sedih karna tidak diperbolehkan memakan makanan kesukaannya. Apalagi jika bukan es krim, makanan favorit anak itu.
Saat masuk, Khanza mengulas senyum melihat putra itu baik-baik saja dan sedang membaca buku.
“Abang kok tumben memilih sendirian di kamar,” tukas Khanza yang sudah duduk di sisi sebelah kiri putranya, sedangkan sisi kanannya ada Antonio.
“Abang marah ya sama daddy, karna daddy melarang abang makan es krim,” kini giliran Antonio yang bersuara.
Arsen tidak menjawabnya, melainkan hanya memberikan gelengan. Karena memang anak itu tidak marah sama daddynya, hanya anak itu merasa takut dan sekaligus merasa bersalah. Karena melupakan peraturan yang dibuat sang daddy.
“Lalu kalau tidak marah, mengapa tidak mau menatap daddy dan bicara. Hanya menggeleng saja, artinya abang marang sama daddy,” tukas Antonio, membuat putranya itu langsung menghadap kearah kanan dan menatap daddy dan menghambur kepelukan.
“Abang ngga marah sama dad, abang merasa bersalah karna melupakan peraturan daddy,” cicit didalam pelukan daddynya.
Antonio mengusap bahu putranya dan mencium puncak kepala putran dengan sayang.
“Dadd minta maaf jika tadi sangat keras dengan kamu boy. Daddy melakukan itu untuk menjaga kalian agar tetap sehat, bukan berarti jika kalian tidak makan es krim kalian tidak akan sakit. Daddy hanya mencoba untuk mencegahnya, daddy tidak melarang kalian makan es krim, hanya ada batasan dan waktunya kapan boleh makan. Karena daddy mengetahui abang sudah makan es krim di sekolah sampai dua kali dalam seminggu, jadi itulah mengapa daddy melarang abang untuk makan es krim saat ini. Tapi karena daddy tidak tega melihat putra daddy yang satu itu sedih, jadi daddy akan memperbolehkan abang makan es krim besok,” tutur Antonio, membuat Arsen mendongak menatap mata daddynya untuk memastikan jika daddy tidak berbohong.
“Yeee makasih daddy,” Arsen menciumi wajah daddy saking senang diperbolehkan makan es krim.
“Tapi es krim yang daddy maksudkan, harus buatan mommy. Selain es krim buatan mommy, abang tidak boleh memakannya, mengerti boy,” ujar Antonio sambil tangan mengusap kepala putranya.
Arsen mengangguk, “Oke daddy,” jawabnya.
“Nah, karena daddy sudah memperbolehkannya. Kalau begitu abang istirahat ya, mommy mau kembali ke kamar bersama daddy. Good night boy, jangan lupa baca doa sebelum tidur,” pesan Khanza mengingatkan putranya.
“Baik mom, abang akan selalu ingat pesan mommy,” ucapnya. Khanza mencium kening putranya, sebelum beranjak dari ranjang.
“Good night boy!” Antonio melakukan hal yang sama dilakukan Khanza.
***
“Anak-anak karena ini sudah larut malam, mom minta kalian kembali ke kamar masing-masing. Princess juga sudah waktunya untuk tidur,” Aku memandang semua anak-anak ku yang bahkan masih terjaga menemani princess menonton. Padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
“Baik mom, princess udah dulu ya dek nontonnya kita lanjut besok lagi,” ujar Arcell, mencium pipi sang adik. Lalu turun dari ranjang. Diikuti kedua adiknya melakukan hal yang sama.
“Jangan lupa, menggosok gigi, cuci tangan, kaki. Lalu baca doa sebelum tidur,” bukan Khanza yang bicara melainkan sekarang Antonio yang mengingat ketiga putranya.
“Siap dad,” sekarang Ghani lah yang menjawab, si anak yang tak banyak bicara.
“Sekarang waktunya kita tidur honey,” ucap Antonio ketika ketiga putranya telah keluar dari kamar mereka. Tangan Antonio langsung melingkar di perut istrinya.
“Mas saja yang duluan tidur, aku mau menidurkan princess kita dulu,” kata Khanza melepaskan tangan suaminya dan segera menghampiri princessnya yang tengah berguling-guling di ranjang membuat wanita itu takut jika princessnya akan terjatuh. Maka dari itu wanita itu dengan cepat mengambil princess dan menggendongnya.
Tidak berapa lama princess tertidur dalam gendongannya. Karna merasa mengantuk dan nyaman saat ditimang, Khanza akhirnya menidurkan princess di box bayi.
“Honey, mas tidak bisa tidur,” manja Antonio memeluk istrinya, menduselkan kepala di dada istrinya.
“Manja banget sih kamu mas,” ujar Khanza berusaha menjauhkan kepala suaminya. Tapi apalah daya kekuatan tak sebanding dengan pria itu.
“Kelonin mas ya,” pintanya, mau tak mau Khanza sebagai seorang istri yang baik tidak bisa menolak kemauan suaminya. Tangannya lalu mengusap-usap kepala suaminya sampai suaminya tertidur. Matanya yang juga sudah sangat berat pun akhirnya terlelap juga, sampai kepalnya bersentuhan dengan kepala suaminya.
****