
Di dalam perjalanan, Khanza asik melihat keluar jendala kaca mobil sampai mata melihat seorang penjual bakso dan lidah rasanya ngiler meninginkan bakso tersebut.
"M-mas stop!"
Antonio seketika menginjak rem dengan mendada. Setelah mendengar suara Khanza yang begitu saja menyuruhnya berhenti.
"Ada apa? Kenapa bilang berhenti mendadak sekali," ujar Antonio menatap ke sampingnya, sebenarnya dia ingin marah tapi ditahan. Berhenti mendadak seperti ini sangat membahayakan apalagi jika ada mobil di belakangnya dan untunglah tidak ada.
"Mau bakso itu," tunjuk Khanza, dimana penjual bakso tersebut berada tepat di samping mobil mereka, agak jauhan sedikit.
Antonio melihat penjual bakso gerobak yang sedang membuatkan orang-orang disana. Membuatnya seketika menggeleng, takut tidak higienis.
"Kita cari tempat lain aja ya, asal jangan disini."
"Kenapa mas? Aku pengen disini aja, gamau tempat lain."
"Sayang mengertilah! Coba kamu lihat cara tukang bakso itu meraciknya dan tempatnya."
Sekarang Khanza paham apa yang membuat Antonio tidak mau. "Tempatnya bersih kok mas, tukang baksonya juga meracik baik aja."
"Sayang disitu ga-"
"Ngga higienis, iya. Itu maksud mas?" potong Khanza. "Mas belum tau aja rasanya bakso gerobak itu lebih enak." sambungnya.
"Saya memang ga pernah makan disini, makanya saya tidak ingin kita makan disini. Lebih baik kita makan di restoran saja."
"Pleasee... Kita makan disini ya mas, aku pengen banget bakso itu."
Khanza mencoba membujuk Antonio dengan memegang tangannya dan mengarakan pada perutnya.
"Dia yang mau mas, jadi boleh ya." melas Khanza.
"Oke, kita beli bakso itu. Tapi kita makannya dalam mobil saja," Antonio mengalah dan mengijinkannya tetapi harus makan dalam mobil. Khanza tersenyum mengangguk menyetujuinya.
"Biar saya saja yang keluar memesannya," Antonio keluar dari dalam mobil menuju ke penjual bakso tersebut lalu memesannya.
"Nanti diantar ke sana, saya tunggu dalam mobil," ujar Antonio memberitahu penjual bakso tersebut.
"Baik pak, nanti saya antar kesana," balas penjual bakso tersebut.
Sedangkan di dalam mobil Khanza melihat Antonio memesankannya bakso. Lalu berjalan kembali menuju mobil.
"Udah mas?"
"Ehm, lagi dibuatkan sama tukang baksonya,"
Beberapa saat kemudian bakso pesanan tadi diantar tukang bakso. Tetapi Khanza melihat bakso tersebut hanya satu saja, berarti pria di sampingnya hanya memesankan untuknya.
'Dasarr! Belum tau aja kalau bakso gerobak lebih enak,' batin Khanza.
"Kok pesan cuman satu, buat kamu mana mas?" tanya Khanza pura-pura tidak tahu.
"Kamu saja yang makan, saya belum lapar," ucap Antonio.
Khanza membalasnya dengan mangut-mangut, karna sedang menikmati bakso lezatnya. Antonio sedikit melirik kearah sampingnya, ia menjadi ngiler sendiri saat melihat bumil makan dengan nikmatnya.
Khanza mengetahui jika pria di sampingnya, melirik terus ke arahnya, tetapi dia membiarkannya saja. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di otaknya, ia ingin mengerjai pria di sampingnya dengan membuat orang itu semakin ngiler dan pengen makan bakso yang di makannya juga.
"Enak banget," kata Khanza berkata keras.
"Mas, beneran gamau ni baksonya?"
"Ngga, makanlah," balas Antonio.
"Beneran gamau? Ini enak banget loh mas, rugi kalo mas ga coba dulu," jahil Khanza, membuat Antonio semakin ngiler saja.
"Tinggal satu aja lagi," ujarnya semakin memanasi agar Antonio mau mencobanya.
"Oke, saya mau mencoba memakannya," akhirnya setelah berperang dengan batinnya, Antonio menginginkannya juga. Rasa ngiler juga tidak bisa di tahan lagi.
Khanza tersenyum penuh kemenangan, akhirnya pria di sampingnya menurunkan gengsinya. Dia menyuapkan kuahnya dulu, agar pria di sampingnya merasakan itu dulu dan memberi pendapatnya.
"Gimana mas enak ga kuahnya?" tanyanya.
"Em, lumayan," singkatnya.
'Baiklah, tidak apa-apa. Sepertinya memang gengsi pria tua ini sangat susah menurunkannya,' batinnya bersabar.
Sekarang Khanza menyuapkan pentol yang hanya tinggal satu lagi dan memang untuk Antonio.
"Enak, ternyata bakso gerobak tidak seburuk yang saya kira," spontan Antonio berucap.
"Akhirnya lidah kamu bisa merasakannya juga mas," ucap Khanza terkekeh.
Setelah menghabiskan, Antonio memanggil penjual bakso kembali untuk membayarnya dan mengembalikan mangkuknya. Ketika penjual bakso menyuruh menunggu untuk mengambilkan kembaliannya dulu. Antonio malah mengatakan tidak usah dan membiarkannya saja. Lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju ke kontrakan.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓