
Seperti hari biasa, setiap pagi Rani selalu membuat sarapan dan menyiapkan bekal untuk mereka bawa ke tempat kerja.
“Ibu, bapak! Masakan aku udah matang ayo kita sarapan,” ajak Rani.
Kedua orangtua paruh baya mengambil duduk, mereka menikmati makanan yang telah dihidangkan Rani. Masakan kali ini hanya telur mata sapi dan nasi goreng. Mereka yang baru bekerja dan belum menerima gaji pertama jadi harus menghemat uang harian. Sebisa mungkin Rani berbelanja secukupnya dan memastikan uang yang dikasih Bu Tini cukup untuk keperluan dapur.
Selesai sarapan mereka bertiga berangkat menuju kebun teh bersama untuk memetik. Ditengah-tengah perjalanan mereka kadang bersenda gurau.
“Nak kamu belum mengingat sama sekali tentang keluarga mu?” Bu Tini bertanya sambil menatap Rani disampingnya.
Rani menggeleng, “belum buk.. setiap kali aku ingin mengingat hanya ada bayangan hitam putih dan suara yang memanggil ku tetapi tidak terlalu jelas dipendengaranku...”
“Coba beritahu kami, gimana suara itu memanggil mu nak,” ujar Pak Tono.
“Eem suara itu seperti memanggil mom, entahlah itu benar atau tidak, karena suara itu tak jelas terdengar ditelingaku,” ucap Rani.
“Mungkinkah kamu sudah punya anak,” celetuk Bu Tini.
“Kalau benar pasti anakmu sangat sedih mencari keberadaan mu nak. Apa kita kembali saja ketempat yang dulu, agar memudahkan suami dan anakmu mencari mu,” usul Pak Tono.
“Enggak usah pak, biarlah aku mengingat kembali ingatan ku. Barulah aku sendiri yang akan kembali,” kata Rani menolak usulan Pak Tono, untuk sekarang dia ingin berada disini hingga waktunya tiba ingatan kembali dengan sendirinya. Jika terus memaksa mengingatnya kepala terasa ingin pecah.
“Kalau itu keputusan mu, kami tidak akan memaksa mu nak. Ibu juga senang kamu tinggal bersama kami, ibu merasa memiliki anak,” tutur Bu Tini bahagia dengan kehadiran Rani ditengah kehidupan keduannya.
Walaupun sebenarnya wanita paruh baya itu sangat ingin memiliki anak yang lahir dari rahimnya sendiri. Tapi apalah daya, sewaktu masih muda ia pernah mengandung dan mengalami kecelakaan ditabrak mobil yang melaju kencang saat ia mengantar makan siang untuk suaminya yang bekerja sebagai kuli bangunan. Sayangnya anak mereka tidak bisa bertahan dan rahimnya juga harus diangkat pada saat itu. Hari itu adalah paling menyakitkan, kenyantaan pahit yang harus diterima kedua pasangan suami istri itu. Ditambah lagi orang yang menabrak mereka tidak mau bertanggung jawab dan malah kabur begitu saja.
“Rani juga sudah menganggap ibu dan bapak kedua orangtua Rani sendiri,” ucap Rani lalu merangkul kedua paru baya dan memeluk mereka sambil tersenyum mencium pipi keduanya bergantian.
...****************...
Saat sampai diperusahaan daddynya. Queen lantas turun membuka mobil sendiri tanpa menunggu Alvaro yang membukakannya.
“Makasih paman sudah mengantarku...”
Setelah mengucapkan terimakasih Queen melangkah cepat masuk ke kantor daddynya tanpa menunggu Alvaro yang belum bicara.
Alvaro menggelengkan kepala melihat kelakuan tuan putri Horison yang menggemaskan.
“Selama siang nona Alesha, ada yang bisa saya bantu?” Sapa resepsionis ramah dan bertanya pada Queen.
“Eum, daddy ada di ruangannya kan?” Queen bertanya balik.
“Tuan Antonio sedang berada di ruang meeting nona, tapi seperti telah selesai. Mau saya antar keruangan tuan Antonio,” kata resepsionis menawarkan ingin mengantarkan Queen.
“Enggak usah mba, biar aku sendiri aja yang kesana,” tolak Queen sopan, ia tak mau merepotkan resepsionis. Lagian dia juga hapal dimana ruangan daddynya, ini bukan kali pertama ia ke kantor Horison.
‘Kreek’ Queen membuka pintu ruang meeting dan memanggil nama daddynya.
“Dadd-“
Queen menutup mulutnya, matanya memanas melihat pemandangan didalam ruang meeting. Dimana seorang wanita duduk dipangkuan daddynya.
Antonio sendiri reflek langsung mendorong rekan bisnisnya hingga terjatuh ke lantai. Antonio berdiri berjalan mendekati putrinya yang mematung depan pintu ruang meeting tersebut.
“Princess! Sayang jangan salah paham nak,” kata Antonio ingin menjelaskannya.
“Daddy jahat!!!” Queen lantas berlari masuk kembali ke dalam lift, belum sempat Antonio masuk pintu lift sudah tertutup.
Queen mengambil handphone dalam tas kecilnya dan menghubungi paman Alvaro.
“Nona mengapa suara anda seperti sedang menangis?” Tanya Alvaro diseberang telpon.
“Hiks.. apa paman masih berada diparkiran?” Queen malah bertanya tanpa menjawab pertanyaan Alvaro.
“Masih nona-“
“Tunggu aku paman, aku sudah mau turun. Aku mau pulang aja.”
Sesamoai dibawah Queen berlari keluar dari kantor. Resepsionis nampak kebingungan melihat anak boss seperti tengah menangis. Karyawan yang lainnya juga ikut melihat kearah Queen.
Resepsionis juga melihat tuan Antonio yang baru saja keluar dari dalam lift. Barulah resepsionis menyadari pasti ada sesuatu yang terjadi.
Antonio terlambat mengejar putrinya. Mobil yang mengantar putrinya telah jalan meninggalkan kawasan kantornya.
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Guys baca karya baru aku yuk judulnya "YOU'RE MINE, SERRA"
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓