
Setelah waktu makan siang tadi berakhir, Khanza dan Antonio dengan segara mengantar Fadil pulang ke rumah orangtuannya. Mereka pun sampai di kediaman kedua orangtua Fadil.
Khanza dan Antonio berserta Fadil, mereka turun bersama. Lalu membunyikan bel rumah mewah tersebut. Tak berselang lama pintu rumah mewah di buka oleh orang yang berada di dalam.
"Assalamualaikum," ucap Khanza.
"Waalaikumsalam," sahut Leo.
Leo menunduk dan merasa bingung dengan adiknya yang tiba tiba malah bersama Khanza dan om Antonio.
Khanza yang paham arti tatapan Leo segera membuka suaranya ingin menjelaskannya. Tapi keduluan oleh Antonio yang mengatakannya.
"Ehem! Tadi setelah Aditya meeting bersama saya, kami makan siang bersama. Tapi Aditya ada urusan penting dan dia menitipkan Fadil pada kami," jelas Antonio.
Barulah Leo memahaminya. "Makasih om, nza, udah ngaterin Fadil..."
"Ouh ya, om nza masuk dulu," Leo mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Sepertinya kami tidak bisa mampir, karna saya masih ada kerjaan di kantor," ujar Antonio.
"Maaf Leo, lain kali pasti kami mampir," imbuh Khanza.
"Ngga apa-apa om, nza..."
Lalu kedua pun pamit masuk ke dalam mobil kembali. Antonio menghidupkan dan menjalankan mobil ke arah jalan kantor. Di pertengahan jalan Khanza melihat penjula rujak keliling.
"MAS NIO BERHENTI" teriak Khanza, spontan Antonio yang sedang menyetir mengerem mendadak, karna kaget mendengar teriakan istrinya.
"Sayang, ada apa.. Kenapa teriak, hem?" tanya Antonio pada Khanza.
"Hehe... Aku mau itu," tunjuk Khanza kearah luar dimana penjual rujak itu sedang membuatkan pesanan orang-orang.
"Hanya karna mau itu kamu teriak, bahaya sayang. Untung gaada orang di belakang dan di depan juga, kalo tiba tiba ada kita bisa celaka," ujar Antonio bernada tegas. Sungguh beruntunglah dirinya tak memiliki penyakit jantung, bayangkan jika ada sudahlah pastinya dirinya jantungan.
Mendengar nada tegas dari bicara Antonio, membuat Khanza menunduk takut.
"Maaf mas," lirih Khanza mencoba menahan air matanya agar tidak tumpah. Dia tak ingin menjadi cengeng karna hanya mendengar nada tegas.
Mendengar nada lirih, Antonio malah merasa bersalah. Seharusnya ia tidak mengeluarkan nada tegasnya, pasti dirinya sudah membuat istrinya takut padanya.
Antonio melepaskan sabuk pengamannya dan istrinya. Lalu membawa istrinya ke dalam pelukannya dan mengecup puncak kepalanya bertubi-tubi.
"Kamu mau rujak itukan, biar mas yang turun belikan. Kamu tunggu disini," ketika Antonio ingin turun Khanza malah mencegahnya dengan memegang lengan suaminya.
"Emm mas..."
"Kenapa sayang bicaralah."
"Mengapa tidak jadi sayang, mas ngga akan larang kamu makan rujak. Tapi biarkan mas yang memilihkannya," kata Antonio lembut.
Khanza menggeleng. "Tadi memang aku ingin sekali, tapi sekarang keinginan ku berubah mas. Aku tidak ingin lagi makan rujak itu."
Setelah mendengar penjelasan dari istrinya, Antonio kembali menjalankan mobil menuju kantornya. Sampai di kantor mereka langsung naik lift yang menuju ruangan Antonio.
Antonio yang melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Khanza malah duduk sambil menonton acara tv kesukaannya.
.
.
Dilain tempat Aditya mengantarkan Kirana pulang. Di dalam mobil hanya terjadi keheningan di antara keduanya. Isi kepala Aditya memikirkan anaknya, sungguh dirinya merasa bersalah selama ini tidak mengetahui jika Kirana mengandung anaknya.
Andaikan waktu bisa terulang, dirinya ingin tahu bahwa wanita yang dia cintai ternyata mengandung anaknya dan mereka menikah. Dimana dirinya menjadi ayah yang siap siaga menjaga istrinya yang sedang mengandung, sampai melahirkan. Begitu bahagia dirinya memiliki seorang anak.
Tetapi waktu tidak bisa terulang, semua telah terlambat untuk itu. Tapi dirinya masih punya kesempatan untuk menemukan anaknya. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan menemukan anaknya sampai dapat dan membahagiakannya.
"Adit berhenti, kita sudah sampai," ujar Kirana.
Mobil Aditya pun berhenti di depan rumah minimalis milik Kirana.
"Terimakasih Adit, telah mengantarku," ucap Kirana, Aditya mengangguk tetapi sebelum ingin keluar dari dalam mobil. Tangan Aditya menahan lengan Kirana.
"Maafkan aku," Aditya mengulangi kata 'Maaf' kembali.
"Stop, berkata maaf Adit... Ini semua bukan kesalahan mu," Kirana memegang kedua rahang pipi Antonio mengelusnya.
Aditya mencium telapak tangan Kirana. "Aku berjanji akan segera menemukan anak kita," lirihnya.
Kirana mengangguk mempercayai pria di hadapan ini. Lalu ia turun dari mobil membuka pagar dan masuk ke dalam menuju pintu masuk ke rumahnya.
Sedangkan Aditya masih menatap kepergian Kirana. Setelah tidak terlihat lagi, barulah dia menjalankan mobilnya menuju pulang ke rumah.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓