
Mereka berempat telah duduk di restoran mewah, yang sebelumnya telah di reservasi oleh Antonio.
Mereka juga tidak perlu memesan, karna semua menu disini telah di pesan oleh Antonio. Terkecuali kacang-kacangan dia tahu bahwa istrinya sekaligus sahabatnya, keduanya alergi terhadap makanan berjenis kacang-kacangan.
"Sayang bisakah kamu menelpon Kirana, dan meminta datang ke restoran," ujar Antonio
Khanza melihat kearah Aditya, lelaki itu memberikan kode dengan kedua mata mengedip. Lalu ia beralih pada suaminya dan mengangguk.
Dia mengambil ponselnya di dalam tas, dan menghubungi Bu Kirana.
"Halo assalamualaikum bu,"
"Waalaikumsalam nza, ada apa kamu nelpon ibu?"
"Gini bu, aku mau ngajakin ibu makan, mau ya!"
"Tapi untuk sekarang ibu masih sibuk, gimana kalo besok aja."
"Maunya sekarang bu, ini permintaan dedek bayi. Please mau ya bu, nanti aku sherlock restorannya,"
"Emm, yaudah iya ibu mau,"
"Makasih ibu, muaachh."
Selesai menelpon Khanza memasukan kembali ponselnya ke dalam tas. Tersenyum menatap Aditya dan Antonio. Sekarang Khanza dan Kirana semakin akrab bahkan Kirana tak lagi berbicara formal terhadapnya. Kadang juga Khanza berkunjung di toko kue, Mba Lestia dan Mba Lidia telah mengetahui jika sebenarnya Khanza telah menikah. Jadinya Khanza tak perlu menutupi-nutupi lagi.
Ditempat lainnya Kirana yang sedang berkutat dengan adonan-adonan kue, menghentikan kegiatannya itu.
"Lesti kesini sebentar," panggil Kirana pada karyawannya.
"Ada apa bu?" tanya Lestia sopan.
"Begini tadi Khanza nelpon saya, ngajakin makan. Katanya keinginan babynya-"
"Wahh... Khanza ngidam pasti itu bu, jadi harus diturutin. Takutnya nanti pas lahiran bayinya ileran."
"Amit-amit jangan sampai cucu saya ileran," ujar Kirana, walaupun begitu ia sudah menganggap Khanza seperti anaknya sendiri. Otomatis bayi yang dalam kandungan Khanza menjadi cucunya juga.
"Maka dari itu harus diturutin bu..." imbuh Lestia kembali.
"Nah itu ini saya mau kesana, jadi saya minta tolong sama kamu. Adonan kue ini masukan ke dalam open, disitu udah ada toping tinggal kamu kasih saja. Nanti kalo saya belum datang kesini, tutup aja toko kue nya," ujar Kirana menjelaskannya.
"Siap bu, tenang bu semua akan beres kalo Lestia yang mengerjakannya..hehe!" kekeh Lestia.
"Oke! Saya percaya sama kamu dan Lidia," Kirana segera keluar dari toko kue. Menghidupkan mobil dan menuju alamat yang telah di sherlock oleh Khanza.
.
Begitu sampai Kirana langsung masuk dan melihat bahwa disana tidak ada orang yang tak ingin ditemuinya. Kirana meneruskan jalan, bertepatan dengan pelayan mengantar makanan. Makanya Kirana tidak melihat Aditya, karna ketutupan pelayan yang menaruh makanan di atas meja.
"Makasih ibu udah mau datang," ucap Khanza sambil mencium tangan Kirana.
"Iya, karna ini keinginan dedek bayikan. Pasti ibu datang," Kirana duduk di samping Khanza dan mengelus perut bumil tersebut.
"Kirana," panggil Aditya membuat Kirana melihat orang yang memanggilnya. Suara yang sangat dikenalinya.
"A-adit ka..mu," saat ingin pergi tangan Kirana di pegang oleh Khanza.
Khanza pun berdiri, "Bu," lirihnya.
"Khanza please lepasin tangan saya," ujar Kirana berkata formal.
Khanza berdiri dan masih memegang tangan Kirana. "Bu, ikut Khanza sebentar," ucapnya, dia tak ingin berbicara disini karena ada Fadil yang tak seharusnya mendengar obrolah orang dewasa. Untunglah anak kecil itu asik dengan handphone ditangannya.
Kedua perempuan itu berjalan mencari meja kosong dan duduk disana.
"Memang ini bukanlah urusan Khanza, tetapi dalam lubuk hati terdalam Khanza ada rasa tidak suka melihat ibu dan uncle Adit seperti orang musuhan. Padahal kalian sahabatan dulunya dan Khanza akui bahwa Khanza juga tidak tahu permasalahan kalian."
"Pleaseee... Bu, bicara dengan uncle Adit. Selesaikan masalah kalian, Khanza tidak tega melihat uncle Adit yang seperti begitu frustasi dengan masalah ini. Kalau kalian sudah bicara satu sama lain, Khanza yakin seyakinnya masalah kalian pasti ada jalan keluarnya."
'Khanza benar, dirinya tidak boleh egois. Ini memang saatnya Aditya tahu..." batinnya.
"Ibu mau bicara dengannya," ujar Kirana, tangan Khanza menggenggam tangan Kirana dan tersenyum.
"Ibu jangan sedih lagi ya, nanti kalau uncle bikin ibu sedih. Bilang aja sama aku, nanti aku minta mas Nio buat hajar uncle Adit," kekeh Khanza bercanda.
Kirana selalu merasakan kebahagiaan jika berdekatan dengan Khanza. Ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa jauh-jauh dari perempuan di hadapannya sekarang. Tapi ia masih tak bisa mengetahui apa itu sebenarnya.
"Yaudah ibu tunggu disini aja, biar aku yang panggilin uncle Adit," Khanza segera berdiri dan berjalan ke tempat mereka tadinya. Khanza pura-pura menunduk lesu.
"Gimana, apa Rana masih tidak mau berbicara dengan saya," ujar Aditya.
Seketika senyuman Khanza mengembang, membuat kedua pria itu merasa keanehan melihatnya.
"Ngga kok uncle, ibu udah mau bicara sama uncle. Uncle mending cepat kesana sebelum ibu pergi dan berubah pikiran..."
"Makasih Khanza-"
"Ehem! Tidak ada acara pelukan," sergah Antonio membuat Aditya tak jadi memeluk Khanza.
Aditya hanya bisa mendelik pada sahabatnya, lalu segera pergi meninggalkan tempatnya menuju dimana Kirana duduk menunggunya.
"Kamu kok bisa buat Kirana mau bicara sama Adit," ucap Antonio terheran-heran. Pasalnya yang dia tahu Kirana sangat susah dibujuk.
"Bisa dong mas, siapa dulu istrinya kamu gitu," balas Khanza memeluk suaminya.
"Kakak," panggil Fadil, membuat Khanza segera melepaskan pelukannya dan duduk seperti biasa.
"Kenapa Fadil," ujar Khanza.
"Uncle kemana?" tanyanya.
"Ouh, i-itu tadi uncle Adit ke toilet sebentar. Fadil makan dulu ya, kakak suapin," kata Khanza, anak kecil itu memberikan anggukan.
Dengan telatennya dan sabarnya Khanza menyuapi Fadil yang tengah asik bermain permainan di ponsel uncle Adit. Sampai tidak terasa suapan demi suapan pun habis, makanan Fadil tidak tersisa sedikitpun. Khanza tersenyum, ia merasa senang menyuapi anak kecil makan. Apalagi makanan itu sampai habis.
"Sekarang giliran kamu yang makan," celetuk Antonio, mengambilkan makanan untuk istrinya.
"Biar aku makan sendiri aja mas... Maskan juga harus makan."
"Tida pa-pa sayang, biar mas suapin kamu dulu, baru nanti mas makannya."
Khanza menggeleng tidak setuju. Ia tak mau Antonio makannya nanti setelah dia selesai.
"Aku mau kita makannya bersama."
Antonio mengangguk menuruti permintaan istrinya. Bahkan dia merasa senang jika harus makan sepiring berdua. Akhitnya keduanya makan, dengan Antonio menyuapi Khanza dan Khanza balik menyuapinya.
Keduanya terlihat seperti sepasang kekasih yang baru saja jadian. Padahal mereka sudah menjadi orangtua. Walaupun misalnya belum juga, semua orang tidak akan tertipu ketika melihat keduanya, karna kelihatan dari perut Khanza yang sedang mengandung. Dan siapa sih orang yang tak mengetahui Antonio dan Khanza, pernikahan mereka saja tidak ada yang di tutupi-tutupin.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓