
Setelah Naila mengantarkan baby girl kepada Khanza dan juga mengobrol sebentar. Lalu disinilah dia sekarang berada di kamarnya, duduk bersandar di atas ranjang bersama suaminya yang tengah fokus menatap layar handphone.
Naila sangat gelisah, rasanya dirinya ingin bercerita sesuatu yang hanya bisa dipendamnya selama ini. Tanpa ada satupun orang yang tahu sesuatu yang sangat diinginkannya.
Vinno yang tahu bahwa Naila berada disampingnya, karena ranjang sedikit bergoyang. Tetapi tidak mendengar adanya suara istrinya menyapanya. Vinno akhirnya menoleh ke samping dan mendapati sang istri yang terdiam dengan gerak gerik seperti orang gelisah sedang memikirkan sesuatu.
“Sayang kamu kenapa, gelisah begitu. Ada yang kamu pikirkan?” Tanya Vinno akhirnya bersuara. Dia juga merapatkan diri pada sang istri dan membawa istrinya kedalam pelukannya.
“Emm, mas,” cicit Naila masih ragu ingin mengutarakan sesuatu.
“Apa sayang? Ceritakan saja yang sedang memenuhi pikiran mu kepada mas, jangan dipendam sendiri nanti malah akan membuat sakit,” tutur Vinno, tangannya mengelus pipi istrinya.
“Tapi mas jangan marah ya!”
“Tergantung apa dulu cerita mu sayang.”
“Yasudah aku tidak jadi cerita mas,” Naila memalingkan wajah dan melipat kedua tangannya. Pelukan suaminya pun dilepaskannya.
“Hey? Mas hanya bercanda sayang...
Ceritakanlah yang menggangu pikiranmu, mas tidak akan memarahi mu,” kata Vinno yang tadinya hanya bercanda.
“Engg, begini mas...
Melihat Khanza dan Kak Antonio yang mempunyai princess membuat ku rasanya-“
“Kita sudah bicarakan ini sayang, cukup Bian saja anak kita,” ujar Vinno cepat memotong kalimat istrinya.
“Tapi Bian juga pasti menginginkan adik perempuan, aku juga ingin. Aku yakin kamu pasti juga menginginkannya kan,” telak Naila. Dirinya sangat bingung dengan suaminya yang tak mau dirinya hamil kembali. Entah perasaannya saja atau apa, seperti ada yang tengah disembunyikan oleh suaminya.
“Haruskan semua ini terbongkar sekarang, bisakah aku memberitahu istriku. Bahwa dirinya tak bisa mengandung lagi, karena rahimnya telah diangkat saat setelah melahirkan Abian,” batinnya bertentangan, satu sisi dirinya tak ingin membuat sedih sang istri, tetapi disisilainnya dirinya khawatir jika nanti istrinya akan tau dari orang lain.
“Mas!” Panggilnya.
“Ya, ini saatnya kamu harus tahu sayang.”
“Tahu? Apa ada yang mas sembunyikan dari aku selama ini?” Tanyanya menatap mata suaminya dengan berlinang air mata. Pikiran menjadi kemana-mana dirinya takut jika suaminya berselingkuh darinya. Itulah yang ada dipikirannya saat ini.
“Sayang jangan nangis, mas ngga bisa memberitahu mu kalau kamu menangis begini,” ujar Vinno menghapus air mata istrinya.
“Aku hiks, ta-kut m..mas seling-kuh,” ucapnya terbata-bata.
“Astagfirlullah sayang, mana mungkin mas berpikir untuk menyelingkuhi kamu.”
“Tapi hiks be-narkan m..mas engg-ga seling-kuh?” Ulangnya bertanya.
“Engga sayang, cukup kamu yang mas cintai.”
“Jadi sebenarnya apa yang ingin mas beritahukan,” katanya yang sudah tidak menangis lagi.
“Sebenarnya, sebenarnya kamu-“
“Cepat mas jangan menbuatku penasaran,” sela Naila sangat kesal dengan suaminya.
“Sabar sayang, ini juga mas berusaha untuk memberitahu mu,” tukas Vinno.
“Ayo mas apa?”
“Sebenarnya kamu tidak bisa hamil lagi sayang, karena rahim mu telah diangkat setelah melahirkan Abian,” ujar Vinno bicara dalam satu kali tarikan nafas, sebenarnya ini sangat berat untuknya, tapi tak mungkin juga dirinya menyimpan rahasia ini terus menerus.
Naila menutup mulutnya saat mengetahui yang selama ini membuat dirinya tak bisa hamil, bukan karena rahimnya bermasalah atau apapun itu. Tetapi melainkan dirinya tak memiliki rahim lagi.
“Ke-kenapa baru sekarang kaa..mu memberitahuku mas. KENAPA?” Teriak Naila, tetapi tidak di depan wajah suaminya.
“Maafin mas yang sudah menyembunyikan ini dari mu sayang, mas hanya bingung saat itu ingin memberitahu mu. Mas takut terjadi apa-apa denganmu saat itu, apalagi dengan kondisi mu yang lemah pada saat melahirkan Abian dan mas mas juga hampir kehilangan kalian berdua,” ujar Vinno membawa istrinya ke dalam pelukannya.
Suara tangis Naila juga mulai mereda di dalam pelukannya, air mata istrinya terasa membasahi baju kaosnya. Beruntunglah kamar di mansion ini kedap suara semua. Tetapi mereka tak mengetahui jika ada seseorang yang menyaksikan pertengkaran mereka, karena tak kuat melihatnya orang itu langsung pergi. Hingga membuat adanya kesalahpahaman nantinya.
“Maafin mas ya sayang!”
“Hiks andai mas cerita padaku sebelumnya, mungkin aku tidak akan berharap terlalu besar untuk hamil kembali dan memiliki anak perempuan.”
“Maaf maaf maaf sayang ini semua salah mas.”
Mendengar perkataan suaminya, Naila melepaskan pelukkan dan menatap mata sang suami yang tersirat kesedihan sama seperti dirinya.
“Ngga ini bukan salah mas, ini salah aku yang terlalu berharap itu,” katanya.
Mereka berpelukan kembali, sampai akhirnya setelah Naila tenang. Barulah wanita itu mengingat sesuatu yang ingin dirinya bahas bersama suaminya.
“Mas, boleh tidak aku meminta satu hal?” Tanya Nailla agak ragu, takut suaminya tak mau.
“Apa sayang?” Tanya balik Vinno.
“Aku ingin kita tinggal bersama di mansion ini,” cicit pelan.
“Ta-pi aku tidak akan memaksa jika mas tidak mau,” katanya cepat.
“Siapa bilang mas tidak mau sayang, kalau memang kamu ingin tinggal disini. Ayo kita akan pindah tinggal bersama di mansion ini,” jawaban Vinno membuat Naila sangat senang mendengarnya, akhirnya mereka akan tinggal bersama dan dirinya juga bisa setiap hari menggendong princess Horison.
****