
Ballroom hotel sangat ramai karena malam ini adalah resepsi pernikahan Rhea dan Leo.
Para bodyguard Horison maupun Mahendra ditugaskan berjaga di lobby hotel maupun di setiap sudut hotel. Tamu yang masuk ke dalam hotel akan diminta menunjukkan surat undangan, jika tidak ada membawanya maka tak diperbolehkan masuk ke dalam. Mereka yang diperbolehkan masuk hanya yang memiliki surat undangan saja. Ini semua demi kelangsungan pesta serta keamanan semua orang.
Acara resepsi sudah berlangsung dengan keadaan damai, para tamu undangan yang datang akan salaman dan mengucapkan selamat pada pengantin. Sesi foto pun juga sudah selesai sedari tadi, tamu undangan juga sangat menikmati makanan yang dihidangkan.
Khanza duduk di kursi khusus keluarga, ia menyuapi Rey makanan. Sedangkan Antonio menemui rekan bisnis.
"Momm au dadda dadd," celoteh Rey yang saat ini mencari daddynya.
"Rey mau cama dadd?" tanya Khanza menirukan suara anak kecil. Rey hanya mengangguk kan kepalanya lucu.
"Tapi Rey jalan ya, mom ngga kuat kalau gendong," ujar Khanza. Lagi Rey menurut saja dan langsung berjalan duluan di depan ketika mata tak sengaja melihat daddynya.
"Dadda dadd ndong," celoteh Rey sambil mengangkat tangannya, Antonio yang mendengar langsung mengetahui suara tersebut, ia menunduk dan melihat putra kecil dengan mata berkaca-kaca ingin menangis.
"Putra daddy kenapa hm?" tanya Antonio dengan Rey yang sudah berada dalam gendonganya.
"Ley cape" dadda, au puyang."
"Putra tampan daddy kecapekan," Rey hanya mengangguk. Rekan bisnis yang melihat Antonio sangat lembut berbicara terhadap anak kecil langsung terkesima, bahkan perempuan yang berada di sekitaran sana pun juga ikutan meleleh mendengarnya.
Khanza memperhatikan sekitarnya, menatap para wanita-wanita yang memberikan tatapan memuja pada sang suami dengan melotot. Bumil tersebut tak menyukai tatapan para wanita tersebut, bahkan mereka bukan hanya memberikan tatapan memuja, tetapi seperti ingin menerkam sang suami.
"Honey, kamu keringetan. Kamu pasti juga capekan, gimana kita pulang saja," ajak Antonio tak tega melihat sang istri yang kecapekan.
Tangan Antonio bergerak mengelap keringat di dahi sang istri. "Nanti mas ngomong sama mama," katanya.
Sebelum Khanza bicara kembali Antonio menarik lembut tangan istrinya. Membawa mencari mama Erina untuk izin pulang lebih cepat. Ia sendiri tidak tega melihat istri dan anaknya kecapekan. Mungkin karena sedari pagi acaranya dan dilanjutkan dengan malam, tidak jedanya.
"Xavier, kalian mau pulang?" tanya papa Andreas.
"Iya pa, kita mau pulang cepat. Khanza sama Rey kecapekan. Papa ada liat Arcell, Arsen, sama Ghani ngga pa?" setelah menjawab pertanyaan papa Andreas, sekarang Antonio bertanya balik.
"Oh itu, tadi papa liat mereka bersama mama mu. Entahlah sepertinya mama mu gemar sekali memperkenalkan cucunya pada teman-temannya," ujar papa Andreas. Sifat mama Erina yang satu ini memang tak bisa dihilangkan.
"Nah itu mama mu," seru papa Andreas mengagetkan, baru saja Antonio ingin bicara.
"Arcell, Arsen, Ghani.. Ayo kita pulang son, mom sama adik kalian kecapekan," kata Antonio pada ketiga putranya. Sedangkan Rey yang berada dalam gendongan Antonio sudah tertidur pulas.
"Kalian mau pulang, acaranya belum selesai loh," ucap mama Erina.
"Iya ma, kita mau pulang cepat. Khanza kecapekan ma, Rey juga udah anteng tidur. Kasihan putra kecilku sepertinya ngga nyaman tidurnya," kata Antonio, tidak dengan Khanza yang hanya diam saja. Karena dirinya kesal terhadap wanita-wanita yang menatap suaminya.
"Yasudah tidak papa, kalian pulang saja. Nanti mama bilang sama Rhea kalau dia cari kalian," ujar mama Erina.
Selesai berpamitan Khanza dan Antonio segera menuju mobil mereka. Antonio tidak memakai supir melainkan menyetir sendiri, tetapi walaupun begitu dirinya tetap harus waspada dengan membawa beberapa bodyguard untuk mengikuti mobilnya dari belakang dan depan. Dia tak ingin sesuatu terjadi pada keluarga kecilnya saat dalam perjalanan.
****