
Di sebuah rumah yang tidak berpenghuni lagi dan terlihat kumuh. Di dalam sana ada dua orang perempuan yang di sekap dan diikat di sebuah kursi. Tampak kedua perempuan itu masih pingsan, belum sadarkan diri.
Dua orang penjahat tengah berjaga dan ada juga yang diperintahkan untuk berjaga di luar rumah.
“Apa kalian berhasil menculiknya?” Tanya seorang wanita yang berpakaian dres dengan warna merah mencolok.
“Sudah boss, mereka ada di dalam,” ujar lelaki berpakaian hitam dan beperawakan preman.
Lelaki itu membuka pintu, agar boss mereka masuk dan melihat kedua perempuan yang berhasil diculik.
“Kerja kalian bagu,” ujar wanita tersebut bertepuk tangan.
“Ambilkan saya air.” Perintahnya, satu orang segera bergegas mengambilkan air di gayung.
Wanita itu langsung mengguyurkan air segayung kepada kedua perempuan yang masih pingsan. Membuat keduanya langsung membuka mata dan mengelap wajah mereka yang basah akibat diguyur air.
“Apa kalian sudah puas tetidur istri dan putri kesayangan tuan Antonio Xavierro Horison...” tukasnya teman wanita yang baju merah dengan menekan setiap perkataannya. Ternyata wanita berbaju merah tidak sendiria melainkan bersama orang lain yang bekerja sama dengannya.
Khanza yang tidak asing dengan suara tersebut menatap kaki wanita berdiri dihadapan mereka dan mendongak untuk melihat wajah si wanita dan memastikan bahwa itu bukanlah dia si wanita jahat yang pernah mencelakainya dulu.
Sayangnya dugaan ternyata benar wanita itu Clara sedang berdiri dengan angkuh dihadapannya dengan wanita dres merah yang tak dikenalinya.
“Tante Clara! Ta-tante kenapa bisa bebas?” Ujar Khanza bertanya.
“Kau tidak perlu tau mengapa aku bisa bebas. Gara-gara kau aku harus mendekam di penjara dan tante Erina membenciku, semua itu gara-gara kau Khanza sialan!” Berang Clara marah dan menekan dagu Khanza dengan tangannya.
“Awshh...” rintih Khanza.
“Lepaskan tangan tante dari mommyku, lepaskan, lepaskan,” racau Queen memukul-mukul tangan Clara.
Clara yang marah, kini beralih menarik rambut Queen sampai kepala gadis kecil itu mendongak dengan air mata bercucuran menahan sakit.
“Hiks, saaakitthh!” Rintihnya.
“Tolong tante jangan sakiti putriku, pukul aku saja tapi jangan putriku hiks,” tangis Khanza tak kuat melihat putrinya mengalami kekerasan depan matanya.
PLAK!
PLAK!
PLAK!
Bukan suara tamparan di pipi Queen, melainkan tamparan itu berasal dari pipi Khanza. Bukan Clara pelakunya melainkan dari Winda si wanita berbaju dres merah mencolok, mantan tunangan Aditya yang tak jadi menikah.
“Stop jangan pukul mommy ku! Kenapa kalian sangat jahat! Apa salah kami pada kalian? Hiks,” Seru Queen bertanya dengan tangisan yang tak berhenti.
“Baiklah sepertinya kalian ingin sekali mengetahuinya. Aku akan memberitahu kalian mengapa kami menculik kalian itu karena ayah dari mommy itu adalah tunanganku, gara-gara oma mu aku tak jadi menikah dengan opa mu. Itu semua gara-gara oma mu,” jelas Winda tersirat kemarahan mendalam.
“Ayah dan bundaku, mereka saling mencintai tante. Mungkin ayahku bukan jodoh mu, karena Allah sudah menyiapkan jodoh yang lebih baik dari ayahku untuk mu tante,” tutur Khanza terbata-bata mengatakannya.
PLAK!
“Aku hanya ingin Aditya bukan yang lainnya. Aku mencintainya lebih dari apapun, tapi kehadiran Kirana merusak semuanya...” tukas Winda.
“Hiks hiks, jangan pukul mommy ku!” Queen berteriak marah.
PLAK!
Queen juga mendapat pukulan dari Clara dan disaksikan oleh Khanza yang menatap sedih sang putri. Karena tak bisa membantu dan melindungi.
“Tolong lepaskan putriku, biarkan aku saja yang kalian sakiti,” mohon Khanza.
Permohonan Khanza sama sekali tidak didengar oleh keduanya. Bahkan kedua menghajar mereka dengan bruntal, setelah merasa puas mereka meninggalkannya, tetapi sebelum itu Winda mengatakan sesuatu.
“Bersiaplah kalian akan mati bersama di dalam gubuk ini. Sebentar lagi gubuk ini akan meledak,” kata Winda dan berlalu pergi meninggal gubuk ini cepat sebelum Antonio datang.
Lelaki berpakaian hitam juga ikut keluar dan meninggal rumah tak berpenghuni itu. Di dalam sana hanya ada Khanza dan Queen dengan wajah lebam dan luka di bagian tertentu.
“Mommy, Queen takut hiks, daddy kenapa lama sekali!” Ucap Queen ketakutkan dan masih menangis.
“Sabar ya nak, daddy pasti datang menyelamatkan kita...” ucap Khanza menenangkan putrinya.
“Mommy akan mencoba melepaskan ikatan mu.” Perlahan Khanza mencoba melepaskan ikatan pada tangan putrinya, ternyata sangat susah sekali. Tetapi dia tak menyerah, walaupun tangannya sakit. Sampai akhirnya ikatan tangan Queen pun terlepas.
“Mommy tangan Queen udah berhasil. Sekarang Queen coba lepaskan ikatan mommy..”
Saat Queen ingin melepaskan ikatan di tangannya, Khanza melihat kearah bom yang sebentar lagi akan meledak pun langsung berbicara.
“Queen stop nak! Sebaiknya kamu keluar cepat, sebelum bom itu meledak. Ayo nak keluar!” Seru Khanza meminta putrinya untuk keluar dari tempat mereka disekap sekarang juga.
“Enggak Queen mau selamatin mommy,” tolak Queen tak mau menurutinya.
“Princess pleasee.. keluar dari sini sayang, mommy janji akan menyelamatkan diri setelah kamu.” Khanza membujuk putrinya.
Tetapi Queen tetap mencoba melepaskan ikatan di tangan sang mommy, yang sedikit akan terlepas. Sampai Khanza berteriak meminta Queen keluar, membuat anak itu berlari keluar, tetapi tak sempat menarik tangan mommynya karena terlalu kaget dengan teriakan mommynya..
“QUEEN KELUAR!!!”
DUAR!
DUAR!!
DUAAARRR!!!
“MOMMY!!!”
****
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓