
Ditempat penyekapan...
Sebuah ruangan gelap dan hanya ada sedikit penerangan dari luar. Dimana wanita hamil tengah di sekap, kedua tangan dan kaki terikat.
Khanza mengerjapkan matanya ketika pencahayaan tersebut sedikit mengenai kelopak matanya. Begitu menyilaukan,,, saat mata terbuka menyesuaikan pengelihatan ke sekelilingnya, ia merasa aneh dengan tempatnya.
"Hhh.. dimana aku," lemahnya.
Saat ingin mengangkat tangannya tidak bisa, lalu ia melihat kakinya terikat dan tangan ternyata berada di belakang terikat juga,,, panik mendera, tanpa sadar berteriak meminta pertolongan.
"Tolong! tolong..." teriaknya sekuat tenaga, tenggorokannya terasa kering, karna kehausan..
"Siapapun tolong aku,," ulang lagi.
Sedangkan di luar kedua perempuan jahat berjalan memasuki ruang penyekapan gadis yang membuat hidup mereka sengasara. Maksud dari kehidupan sengsara bagi kedua perempuan tersebut adalah. Laura yang berpisah dari Antonio dan putrinya Rhea, lalu Clara yang harus terusir dari mansion Horison akibat ketahuan menaruh racun ke dalam makanan, apalagi dia juga mendapatkan tamparan dari Erina,, itu yang membuat hati seorang Clara benar-benar sangat geram. Walaupun kesalahan itu memang ada benarnya, tetapi tetap saja dirinya tidak terima dengan perlakuan mereka yang mengusirnya...
"Apa kau siap untuk menyiksanya?" tanya Laura.
"Sangat siap," jawab Clara dengan tegas, bahkan jemarinya mengepal...
'Ceklek' pintu terbuka dari luar, Khanza yang berada di dalam merasa lebih lega. Karna ia ingin meminta air putih,,, sungguh ia sangat kehausan sekarang ini...
"Ha-haus, a-aku ma..u air pu-tih," ucap Khanza terputus-putus.
"Haus ya, kasihan sekali kau. Apa kau ingin minum air?" Laura mendekat, dengan krudung berada kepalanya untuk menutupi dan masker menutupi setengah wajahnya, kacamata yang bertengger di hidungnya. Siapapun yang melihatnya, tak akan mengenalinya. Nanti akan ia buka, jika waktunya sudah tepat..
Tidak bisa menjawabnya Khanza hanya memberikan anggukan. Bahwa ia benar-benar membutuhkan air untuk membasahi tenggorokannya...
"HEH!! Kalo ditanya tuh di jawab,, jangan ngangguk aja. Kau ga punya mulut memangnya," sentak Clara kesal melihay wajah sok polos Khanza...
Mendengarnya membuat Khanza terlonjak kaget, akibat sentakan salah satunya. Ia membuka suara, tetapi berbicara terbata-bata.
"Ii..iya a-ku haa..us,"
"Memangnya kau berapa jam sudah tidak minum," pungkas Laura.
Hanya gelengan yang Khanza berikan sebagai jawaban lagi. Kali ini ia sudah benar-benar sangat lemas. Untuk mengeluarkan suara saja rasanya susah sekali.
"Penjaga beri dia segelai air," teriak Laura pada penjaga yang berada di luar.
Penjaga yang di luar, bergegas mengambilkan segelas air. Lalu menyerahkan pada Khanza, dengan sekali tegukan saja, air tersebut habis dalam sekejap.
"Sudah selesai menikmati minuman mu," Laura menjepit rahang mulut Khanza, sehingga bibir menjadi monyong.
"Awhh... saa..kiitt,," ringis Khanza, dimana rambut juga di tarik oleh Clara yang berada di belakang.
"Kenapa kalian menyiksaku hiks,," tangis Khanza setelah tarikan pada rambutnya di lepas, jepitan tangan di rahang mulut juga dilepaskan.
"Kami membenci mu,, sangat,, sangat,, membencimu,," serempak kedua berbicara.
"Bahkan aku tidak mengenal kalian," sambungnya..
"Siapa sebenarnya kalian, apa maksud dan tujuan kalian menyekapku," Khanza terus saja berbicara.
"Diamlah,, setelah meneguk air, kau jadi banyak bicara sekali,," sengit Clara.
"Aku-"
"Sutt! Apa kau tidak cape bicara terus, jika kau terus bicara kematian akan semakin dekat menjemputmu," potong Laura menyelanya.
'PLAK' tangan Laura menampar pipi sebelah kiri Khanza..
'PLAK' diringi tangan Clara yang juga menampar pipi sebelah kanan Khanza..
Dua tamparan sekaligus mendarat di kedua pipi Khanza. Sungguh pipinya terasa perih, apalagi sudut bibirnya juga terluka..
"Siapa kalian, apa salah ku pada kalian, hahh!" teriak Khanza..
'PLAK' sekali lagi Laura menghadiahi Khanza tamparan bolak balik yang membuat kepala wanita hamil itu terasa pusing.
"Baiklah,, sepertinya tidak seru pertunjukan kita. Jika kau tak mengetahui siapa kami," ujar Clara.
"Kau mau tahukan, kami adalah seseorang yang tersakiti. Kau sudah merebut orang yang sangat aku cintai, kau menghancurkan rumah tangga ku," murka Laura mengatakan dengan beremosi.
"Dan kau membuatku terusir dan dikeluarkan dari pekerjaanku," sambung Clara yang ikut terpancing emosi.
"PUAS!! Kau sudah membuat hidup kami menderita," teriak Laura, suara yang meninggi.
Perkataan kedua orang yang menyekapnya, membuat Khanza akhirnya mengetahui siapa orang di balik penyekapannya.
Laura dan Clara bersam membuka kerudung yang menutupi kepala mereka, berserta kacamata dan masker...
"Tan-tante Lau...ra,, tan-tante Cla...ra-" kata Khanza terbata-bata yang pada akhirnya pingsan begitu saja. Karna tak kuat menahan rasa pusing menderanya, akibat empat kali tamparan di dapatnya...
"Jaga dia, jangan sampai kabur,," perintah Laura pada penjaga suruhannya. Lalu mereka berdua meninggalkan ruangan tersebut untuk memikirkan rencana penyiksaan selanjutnya...
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓