
Antonio dan Khanza dalam perjalanan pulang menuju rumah. Sedari tadi Khanza hanya diam dan melihat ke arah jalanan yang begitu ramai, mobil dan motor berlalu lalang. Begitulah jika hari kerja, jalanan akan macet, seperti sekarang mereka berhenti di lampu merah tetapi paling belakang dan masih sangat jauh.
Antonio berpikir mengirim pesan pada Alvaro, untuk menyiapkan semuanya. Hari ini kejahatan Clara akan terbongkar, ia tak mau jika istrinya terus saja disalahkan oleh mamanya. Dimana kesalahan itu bukanlah Khanza yang melakukannya, melainkan seseorang yang membuat kesalahpahaman tersebut.
Siapkan semua, ingat kumpulkan semua orang di ruang tamu. Saat saya sudah sampai nanti, video hanya tinggal di putar saja lagi.
Send pesannya pun telah terkirim, Antonio menaruh kembali handphone nya di laci dashboard mobil. Antonio melirik istrinya yang tidak mengalihkan pandangan dari luar jendela mobil. Membuatnya hanya bisa menghela nafas...
"Sayang kamu kenapa, sedari tadi mas lihat hanya diam saja," ujar Antonio dengan tangan yang bebas meraih tangan istrinya dan menggenggam membawa ke bibir untuk di cium.
Khanza yang mendengar suaminya, lalu tersenyum. "Aku ngga pa-pa mas, cuman sedikit ga mood aja," ucapnya.
"Mas tahu kalau lagi kepikiran, gimana nanti bertemu dengan mama kan," tukas Antonio.
Tebakan Mas Nio sangat benar, itulah yang saat ini ada di kepalanya. Dia memikirkan, bagimana harus bersikap jika bertemu mama mertuannya. Menghadapinya, haruskan dia tetap diam saja di tuduh atau melawannya.
Bukan hal mudah untuknya melawan orang yang lebih tua dari pada dirinya. Karena dia selalu di ajarin untuk selalu menghormati orang tua, dan jangan pernah melawannya. Tetapi dia juga punya batas kesabaran, jika terus saja di fitnah yang tak pernah dilakukan sama sekali.
"Kita hadapin ini bersama, mas tahu ini bukan kesalahan kamu. Dan mas sangat mempercayai itu, jadi mas akan berada dipihak mu," tutur Antonio lembutnya.
"Terima kasih mas, telah mempercayai aku," Khanza tersenyum dan memeluk lengan Antonio. Hanya sebentar saja melepaskan kembali saat lampu merah berubah hijau.
"Aku merasa sangat beruntung mendapatkannya, dia orang baik. Bahkan dia sangat menyayangi Rhea, padahal Rhea hanya sahabatnya. Tetapi rasa sayang bagaikan seorang ibu pada anaknya," ucapnya dalam hati, tersenyum melirik istrinya yang mulai cerah kembali wajahnya.
.
Antonio membuka pintu mobil agar istrinya keluar, mereka bergandengan bersama memasuki mansion. Semua orang tengah berkumpul di ruang tamu menunggu kedatangan Antonio.
Kini yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga, nyonya Erina langsung membuang mukanya saat melihat siapa yang datang bersama Antonio.
"Ada apa kamu mengumpulkan kami semua disini Xavi," ujar tuan Andreas menatap putranya.
"Saya ingin menunjukkan kepada kalian semua sesuati yang mengejutkan. Benar begitu nona Clara?" ujar Antonio yang malah bertanya pada Clara.
Tubuh Clara menegang mendengar Antonio yang malah bertanya padanya. "Emm... Iya," responnya tersenyum paksa.
"Cepatlah lah An, jangan membuang-buang waktu mama," celetuk nyonya Erina.
"Baiklah Alvaro tampilkan sekarang, mama saya sudah tak sabar ingin melihatnya," perintah Antonio.
Alvaro memutar video tersebut, yang dimana disana sudah jelas jika Clara lah pelaku dari semua masalah keracunan kemaren. Antonio mengeluarkan buktinya, melempar obat itu ke atas meja.
Semua orang duduk pun langsung berdiri, termasuk nyonya Erina menghadap Clara. Menatapnya tak percaya, jika gadis dihadapan ini yang telah membuat kesalahpahaman yang terjadi.
PLAK!
Tangan nyonya Erina melayang menampar pipi Clara dengan kuatnya.
"Tante ga nyangka, kalau kamu di balik semua ini. Jahat sekali kamu Clara, apa salah tante sampai kamu melakukan itu. Kurang baik apa saya sama kamu, jawab!?" emosi nyonya Erina sekarang meledak-ledak.
"JAWAB!! Jangan diam aja, mama saya nanya," suara itu bukan dari Antonio, melainkan Vinno yang tampak tersulut emosi.
"Keterlaluan kamu..."
PLAK!
Tamparan nyonya Erina mendarat lagi di pipi sebelah kanan. Clara mendapatkan dua tamparan pipi kiri dan kanan.
"Kamu! Sudah bagus istri saya membawa mu kesini tinggal bersama kami, bahkan diperkerjakan di kantor Horison. Tapi apa, kamu malah melakukan kejahatan, wanita berpendidikan pasti berpikir dua kali untuk melakukan hal yang akan menhancurkan dirinya sendiri," tuan Andreas bebicara panjang lebar, karna kali ini ia tak bisa diam saja. Seseorang telah berani melakukan tindak kejahatan di kediamannya.
"Sekarang saya minta kamu keluar dari mansion ini, saya tak ingin melihat wajah mu lagi," tegas nyonya Erina melipat kedua tangan di dada dan memalingkan wajahnya.
"Tante maafin Clara... Please jangan usir Clara dari sini. Clara ga mau pulang, Clara udah betah berada disini," Clara memohon maaf pada nyonya Erina yang sama sekali tak memperdulikannya.
"Kalau kamu masih betah tinggal disini, tak mungkin kau melakukan kejahatan. Terima saja konsekuensi dari perbuatan mu itu, masih mending saya tak melaporkan kamu ke penjara. Jadi segeralah pergi dari sini, sebelum saya berubah pikiran..."
"Tante please maafin Clara," Clara berlutut memohon dan memgang kaki nyonya Erina.
"Mama saya bilang pergi, kamu tuli ya," dengus Vinno yang kesal melihat drama wanita ular tersebut.
"Alvaro bawa dia keluar," titah Antonio menyuruh bodyguardnya.
Alvaro mengangguk dan menjalankan perintah tuannya. "Maaf nona, saya akan membawa anda keluar," Alvarin memegang kedua bahu Clara, agar wanita itu berdiri dan segera menyeretnya keluar. Tetapi sebelum sampai di pintu keluar mansion, suara Antonio terdengar.
"Besok tidak usah datang ke kantor lagi, karna kau sudah saya pecat mulai sekarang. Jadi jangan pernah menampakkan wajahmu lagi," sergah Antonio.
Setelah itu Clara hanya pasrah di bawa keluar oleh Alvaro...
Mereka sempat terdiam sebelum, nyonya Erina berhadapan dengan Khanza. Nyonya Erina menyatukan tangan dan ingin berlutut seperti yang dilakaukan oleh Clara tadi. Tetapi Khanza menggeleng dan kedua tangan meraih bahu nyonya Erina dan memeluk begitu erat.
"Maaf mama yang sudah menuduhmu, dan menampar mu saat itu. Mama waktu itu malah percaya dengan omongan Clara yang menyudutkabmu. Maafkan mama!" lirih nyonya Erina.
Khanza memghapus bahu belakang mama mertuannya. "Mah, kita disini gaada yang salah. Masalah ini.dibuat karna tante Clara, yang terjadi diantara kita cuman kesalahpahaman. Jadi mama ga perlu minta maaf," tuturnya.
"Makasih nak, harusnya mama beruntung mendapatkan menantu yang begitu baik seperti mu," kata nyonya Erina tersenyum tulus kepada Khanza.
Mereka yang tengah menyaksikan ikut merasa lega, karna tak ada lagi masalah di mansion ini. Segala telah terselesaikan, tetapi semuaa itu hanya bersifat semantara. Karna di tempat lainnya seseorsng sedang menyusun rencana kembali, saat mengetahui sang mata-mata sudah terusir.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓