
Beberapa hari ini Khanza sudah mulai mengakrabkan diri dengan nyonya Erina. Seperti pagi ini terasa sangat sibuk bagi bumil dan nyonya Erina.
Kedua perempuan berbeda usia itu tengah berkutat membua kue bersama. Khanza membantu nyonya Erina menyiapkan berbagai makanan dan kue, karena para teman-teman wanita paruh baya tersebut akan datang ke mansion. Itulah yang membuat bumil sangat aktif dan bersemangat membantu nyonya Erina. Sedangkan nyonya Erina mondar-mandir memastikan semuanya sempurna dan tidak kurang.
"Sebaiknya nyonya duduk saja, biar aku yang nyelesain semuanya," ucapnya pada nyonya Erina yang sibuk mengecek satu persatu makanan yang sudah matang dan berada di meja.
"Saya ga bisa tenang, takutnya makanan ada yang kurang," jawab nyonya Erina pada gadis di dekatnya. Khanza menarik tangan nyonya Erina dan membawa duduk di kursi.
"Nyonya tenang aja, aku akan memastikan semua tidak ada yang kurang satupun," ucapnya memberikan senyuman pada wanita yang tengah duduk di kursi.
Nyonya Erina membalas senyuman Khanza, ternyata gadis di depannya tak seburuk yang ia kira. Benar yang dikatakan cucunya, dia harus mengenal dulu, barulah memberi penilaian. Ya, penilaian terhadap gadis di depannya ini sangat salah. Sekarang ia memahani mengapa cucunya begitu menyayangi gadis ini.
"Em, saya minta kamu jangan panggil saya nyonya. Lagian sebentar lagi kamu juga akan menjadi menantu saya, jadi mulai sekarang panggil mama," Khanza mengangguk.
"Coba panggil saya mama, saya mau mendengarnya," ujar nyonya Erina.
"Ma-ma," cicit Khanza.
"Masih kaku, tapi tidak pa-pa. Nanti juga akan terbiasa,"
"Oh ya, sebaiknya kamu duduk dulu," seru nyonya Erina menyuruh Khanza. "Apa kandungan kamu kuat?" tanyannya memegang perut Khanza. Lagi lagi gadis didepannya mengangguk.
"Alhamdulillah, kuat ma..."
"Kamu ga cape' bantuin saya nyiapkan semuanya,"
Khanza menggeleng, "Ngga ma, malah aku senang bisa bantuin mama."
"Tapi saya ga mau terjadi apa-apa sama kandungan kamu. Jadi lebih baik kamu istirahat di kamar aja, nanti biar sisanya mama minta bantuin Bi Inah,"
"Tapi ma-"
"Khanza turuti saya, jangan membantah. Ayo! sekarang mama antar ke kamar," dengan pasrah Khanza menurutinya. Ia dituntun nyonya Erina, mereka masuk ke dalam lift bersama.
"Sekarang kamu istirahat ya, saya tinggal dulu," nyonya Erina mengelus rambut panjang Khanza. Setelah itu keluar, melanjutkan yang belum terselesaikan.
"Huh! Bosen banget kalau berada di kamar," keluhnya.
"Tetapi ga pa-pa deh, aku ngerasa seneng banget. Nyonya Erina udah mulai anggap aku," bahagiannya. Ia membaringkan dirinya di ranjang, menyelimuti hingga sebatas dada. Menatap langit-langit dinding, matanya mulai mengantuk dan tertidur.
.
.
Terdengar suara begitu bising di ruang tamu. Perkumpulan ibu-ibu yang baru berkumpul, sekian lama nyonya Erina tidak bertemu teman-teman lamanya. Sekarang akhirnya mereka berkumpul di mansionnya. Kira-kira temannya ada sepuluh orang.
"Jeng mana, aku dengar katanya putra mu si Antonio bakal nikah lagi," ucap salah satu teman nyonya Erina.
"Iya jeng, saya juga dengarnya begitu," sambung salah satunya.
Bagaimana bisa kabar ini sampai terdengar oleh para ibu-ibu teman nyonya Erina? Karena para suami mereka bekerja di kantor Horison dan ada beberapa menjadi rekan bisnis Antonio maupun suaminya. Karena putranya Kevin adalah seorang dokter.
"Ayo dong jeng, kasi tahu menantu kamu. Kita kita penasaran sama calon mantu mu," timpal salah satunya.
Clara masuk bertepatan setelah salah satu ibu-ibu tadi menimpali. Dengan anggunnya Clara berjalan dengan masih memakai pakaian kerjanya. Para ibu-ibu langsung menatapnya dan mereka mengira itulah calon istri Antonio.
"Apa itu calonnya," tunjuk salah satunya. Nyonya Erina memberikan gelengan.
"Eh, maaf tante. Clara gatau kalau ada tamu," ucap Clara sopan.
"Iya ga pa-pa Clara," jawab nyonya Erina.
"Kalau gitu Clara langsung ke kamar dulu," pamit Clara tersenyum pada semua ibu-ibu yang tengah menatapnya.
Tak berapa lama seseorang keluar dari dalam lift, orang itu adalah Khanza. Karena merasa bosan berada di kamar, ia memutuskan untuk turun ke bawah. Setelah mandi dan memakai pakaiannya, saat ingin menuju ke dapur tiba-tiba ada suara yang memanggil namanya.
Mendengar suara yang tengah memanggilnya, Khanza menoleh dan berbalik lalu menghampiri nyonya Erina yang ternyata memanggilnya.
"Ada apa ma?" tanya Khanza sopan.
"Duduk sini dulu sayang," seru nyonya Erina menyuruhnya.
"Nah, ini calon menantuku. Calon istrinya Antonio," dengan bangga nyonya Erina memperkenalkan Khanza sebagai calon menantunya.
"Jeng beneran ini calon mantu mu. Masih muda banget," ucap salah satu ibu-ibu dengan tak percaya.
"Iya ini calon mantuku," ucapnya menatap Khanza dengan senyuman.
"Ternyata selera putra mu Antonio yang daun muda ya... Emangnya kamu ga takut jeng, kalau yang daun muda begini biasanya mau hidup mewah aja,"
Khanza menunduk ketika salah satu ibu-ibu mengatainya. Nyonya Erina tidak terima dengan omongan salah satu temannya.
"Saya tidak takut, karna saya tahu calon mantu saya adalah wanita baik-baik. Saya juga telah mengenalnya, jadi saya minta jaga omongan kamu," ketus nyonya Erina. Bahkan ia berbicara formal.
"Maaf jeng," akhirnya ibu yang tadi mengeluarkan kata maaf.
Semua teman-teman nyonya Erina hanya terdiam. Mereka tidak ingin ikut-ikutan, karna tahu betapa berpengaruhnya keluarga Horison. Suami-suami mereka juga ada yang bekerja disana dan ada beberapa dari mereka suaminya yang menjadi rekan bisnis.
Khanza merapatkan diri pada nyonya Erina, lalu mengelus bahunya untuk menenangkan. Dia mencoba meredakan emosi nyonya Erina yang sepertinya ingin meledak-ledak.
"Udah ma ga pa-pa," ucapnya lembut.
"Kalian dengar sendirikan betapa sabarnya menantu saya. Jadi saya tanya apa ada lagi yang ingin mengeluarkan suara mengatakan yang engga-engga pada menantu saya," semuanya menutup mulut mereka rapat agat tidak mengeluarkan suara dan menambah emosi nyonya mansion ini.
"Kami semua meminta maaf jeng," ucap salah satu mewakili semuanya.
"Kenapa kalian meminta maaf pada saya, minfa maaflah sama menantu saya," kata nyonya Erina. Lalu sepuluh ibu-ibu tersebut menatap Khanza.
"Udah ibu-ibu! Gausah minta maaf. Lagian ibu-ibu semua gaada salah sama saya," ucap Khanza tersenyum.
Barulah sepuluh ibu-ibu itu mengerti, bahwa calon menantu Horison tepatnya calon istri dari Antonio ini walaupun masih muda. Tetapi etika dan sopan satun gadis di hadapan mereka ini sangat terjaga.
Salah satu ibu-ibu yang tadi mengatakan itu menjadi sangat merasa bersalah. Bahkan untuk mendongakan kepalanya menatap Khanza saja dia malu. Khanza yang paham situasi dan melihat salah satu ibu-ibu yang hanya menunduk sedari tadi membuat dia tergerak menghampirinya.
"Ibu, kenapa? Apa ibu benci sama saya?" ujar Khanza bertanya sopan. Ibu itu langsung menggelengkan kepalanya.
"Lalu?"
"Saya malu, karna tadi telah mengatakan hal tidak baik tentang mu," lirih ibu itu tersebut.
"Ibu lihat saya," serunya, ibu itu langsung menatapnya sendu. "Saya tidak apa-apa, saya paham ibu tadi hanya berkata spontan saja. Karna mungkin banyaknya orang diluaran sana yang ibu lihat bahkan ibu mengenalnya yang mempunyai istri yang masih daun muda, mereka hanya menginginkan harta kekayaan suami mereka saja. Tetapi saya berbeda dari mereka semua, karna setiap orang berbeda-beda jalan berpikirnya ataupun kehidupannya,"
"Jadi sekarang ibu gausah merasa malu lagi," senyum ibu itu langsung mengembang ketika mendengar penuturan bijak Khanza.
Khanza lega akhirnya, masalah sepele ini terselesaikan juga. Sekarang semua ibu-ibu tersebut Khanza ajak bersama nyonya Erina untuk mencicipi berbagai makanan yang tadi telah di hidangkan diatas meja makan.
Semuanya menikmati sambil sekali-kali mereka mengobrol. Kebosanan yang tadi dirasakan Khanza mendadak menghilang begitu saja dan sekarang malah ikut nimbrung dan tertawa bersama ibu-ibu teman mama mertuannya.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓