
Sesampainya dimansion, Antonio heran melihat Rhea yang kadang tersenyum-senyum seperti mengkhayal. Tetapi apa yang sedang dikhayalkan putrinya sampai tidak menyadari kedatangannya.
"Re," panggil Antonio tidak ada sahutan.
Karena panggilannya tidak mempan membuat putrinya tersadar. Antonio mendatangi dan sudah berada dihadapan Rhea yang masih asik. Tangan Antonio terangkat, lalu melambaikan ke arah wajah putrinya.
"Rhea," seru Antonio.
"Ehh, daddy," ujar Rhea tersadar juga akhirnya.
Antonio lalu duduk di kursi samping putrinya.
"Kamu kenapa sayang?"
Raut wajah Rhea berubah menjadi bingung, apa maksud daddy nya menanyakan kenapa dengan dirinya? Diakan baik-baik saja.
"Hei, malah melamun lagi," tegur Antonio.
"Yeah! Daddy, siapa yang melamun coba," ucap Rhea sambil mengerucutkan bibirnya sebal.
"Kamu tadi melamun, dad panggil ga disahut, makanya dad datangi, baru deh kamu sadar," jelas Antonio.
"Mungkin suara daddy kecil, jadi ga kedengaran," balas Rhea mencoba mengeles.
"Apaan kamu bilang,"
Antonio berdiri dan sedikit berjongkok. Ia menggelitikan Rhea sampai gadis kegelian dan tertawa. Rhea pun mencoba bangkit dan kabur belari sedang Antonio terus mengejar-ngejarnya.
Sampai bapak dan anak tersebut kelelahan, karena saling kejar-kejaran. Keduanya pun tepar, duduk berbaring di sofa ruang tengah.
"Dad," cicit Rhea.
"Kenapa sayang?" tanya Antonio.
"Dad! Re pengen deh di mansion besar ini ada anak kecil yang lucu. Re pengen punya adik, biar kalau ditinggal daddy ga kesepian lagi,"
Seketika itu Antonio menatap putrinya.'Benarkah ini, Rhea menginginkan seorang adik," batinnya.
"Dad! Denger omongan re ga sih," ujar Rhea yang tidak mendengar adanya suara sahutan disampingnya.
"Iya dad denger, tapi beneran kamu mau adik," Antonio memastikannya.
"Beneran lah dadd, masa re bohong. Re pengen di mansion ini jadi rame, terus ga sepi lagi," kata Rhea sambil tersenyum-senyum membayangkannya lagi.
"Ada yang mau dadd bicarakan sama kamu,"
"Apa dad....A..duhh," Rhea tiba-tiba merasakan perutnya sakit dan kepalanya terasa pusing.
Antonio merebahkan pelan Rhea diranjang, lalu menyelimutinya.
"Sebentar dadd telpon dokter dulu,"
Selesai menelpon dokter, Antonio kembali duduk ditepian ranjang. Mengelus kepala putrinya dengan sayang.
Dokter sudah datang dan berada didalam kamar Rhea. Dokter melakukan pemeriksaan, Antonio hanya melihatnya saja.
"Gimana dok, keaadaan putri saya?"
"Nona Rhea baik-baik saja tuan, hanya saja terlihat kelelahan. Apa nona Rhea baru saja berlari-lari?" jelas dokter menanyakan hal tersebut.
Rhea menatap daddy nya dengan tajam. Antonio menyadari bahwa ini kesalahannya, bahkan ia baru mengingat, jika putrinya baru saja sembuh.
"Iya dok, tapi putri saya ga kenapa-kenapakan dok."
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tuan. Nona Rhea baik-baik saja, hanya perlu istirahat untuk memulihkan keadaannya."
Setelah menjelaskannya, dokter tersebut pamit karena tugasnya sudah selesai melakukan pemeriksaan. Antonio pun mengantar dokter tersebut sampai ke depan pintu utama mansion.
Antonio kembali lagi naik ke lantai atas untuk melihat keadaan putrinya. Disana Rhea mencoba memejamkan mata tetapi percuma, dirinya tetap tidak mau tidur.
"Ga bisa tidur," seru Antonio.
Rhea mengangguk."Temanin re,"
Antonio mendekat kearah ranjang. Rhea menggeser badanya agar daddy nya bisa ikut berbaring didekatnya. Antonio mengelus rambut Rhea dengan sayang.
"Dad, tadi ingin bicara apa," ucap Rhea.
"Nanti saja sayang, mending kamu istirahat dulu ya. Dad ga mau terjadi apa-apa sama kamu,"
Rhea tersenyum mengangguk. Ia sangat beruntung mempunyai daddy seperti Antonio. Baik dan perhatian, walaupun sebenarnya dia tahu bahwa Antonio bukanlah orangtua kandungnya.
****
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓