
Kini keduanya sudah duduk dibangku panjang taman. Antonio mengeluarkan isi di dalam paper bag. Tupperware berisi nasi goreng didalamnya sudah berada ditangannya.
Khanza asik memandangi sekitar, melihat-melihat objek yang menarik perhatiannya. Hingga tanpa sadar ia malah mencium bau harum masakan. Antonio memang mendekatkan nasi goreng beberapa senti dari hidung Khanza.
"Hem, harumnya!" seru Khanza langsung berbalik menghadap Antonio.
"Mau," tawar Antonio, secepat kilat Khanza mengangguk.
"Saya suapin ya," Antonio menyendokkan nasi goreng buatnya, lalu membawanya ke mulut Khanza yang sudah terbuka. Siap untuk menerima suapan.
"Gimana, enak ga nasi goreng buatan saya?" tanya Antonio.
"Uhukk...uhukk..." dengan sigap Antonio membukakan tutup botol aqua dan memberikan pada Khanza agar diminum.
Setelah meminumnya, tenggorokan menjadi lega. Berdiam sebentar untuk memulihkan kembali.
"Beneran ini yang masak om.. eh, mas," lidah Khanza sangat susah menyebut Antonio dengan panggilan 'mas'.
"Hm, ini memang saya yang masak. Spesial buat kamu dan calon jagoan kita," goda Antonio, pipi Khanza merona mendengarnya.
Lalu Antonio melanjutkan menyuapi kembali. Khanza mengunyah nasi gorengnya. Menikmati suapan demi suapan, hingga nasi goreng habis tanpa tersisa.
Mereka tidak menyadari bahwa ada seseorang berjubah hitam, sedang mengintai dari kejauhan. Orang itu mengambil gambar keduanya, setelah pergi saat sudah mendapatkannya.
"Sayang, kita kembali ke kamar rawat," ajak Antonio melihat jam tangannya. "Bentar lagi masuk waktu maghrib."
Khanza mengangguki, karena menurutnya sendiri tidak baik juga wanita hamil berada diluar saat masuk waktu maghrib. Khanza mengulurkan tangannya, meminta untuk digendong. Entahlah, rasanya untuk berjalan menjadi males, akibat gendongan tadi. Rasanya dia menjadi ketagihan untuk minta digendong lagi.
"Mau digendong lagi?" Khanza mengangguk.
Akhirnya dia sudah berada dalam gendongan pria berotot, siapalagi kalau bukan Antonio. Dalam gendongan Khanza tersenyum-senyum.
.
.
Antonio merebahkan Khanza diatas ranjang rumah sakit dengan pelan. Mengelus perut Khanza sebentar, habis itu menyelimutinya sebatas dada.
"Saya tinggal pulang tidak apa-apakan," ujar Antonio.
Wajah Khanza berubah murung, ia mencoba menyembunyikan. Hormon kehamilannya membuat ia ingin selalu berdekatan dengan ayah dari bayinya. Sepertinya bayinya tidak mengijinkan Antonio jauh-jauh dari dirinya. Harus selalu berada dalam jangkauannya.
"Kenapa hem! Bilang aja, kalau memang kamu tidak ingin saya pergi. Saya akan menuruti, tetap berada disini," kata Antonio.
Khanza masih belum mau bicara dan memilih diam. Antonio jadi serba salah untuk meninggalkan wanitanya.
"Sayang ngomong! Jangan diam aja, saya jadinya bingung," tukas Antonio.
"Eung! Aku tidak tahu m-mas, rasanya aku tidak ingin m-mas pergi... Ta-pi eung, kalau m-mas mau pulang, ng...ngga pa-pa kok," kata Khanza terbata-bata.
Antonio malah tersenyum senang, akhirnya wanitanya mau bicara. Walaupun agak sedikit takut untuk mengungkapkan keinginannya.
"Kalau itu kamu, saya akan tetap berada disini," ucap Antonio.
Mendengar ucapan Antonio, hati Khanza menjadi senang. Tapi tiba-tiba pikiran Khanza melayang pada Rhea. Bagaimana jika Rhea menanyakan keberadaan Antonio.
"Em, m-mas..." seru Khanza, Antonio memilih diam menunggu perkataan selanjutnya. "Nanti, Rhea pasti nyariin m-mas."
"Kamu tenang saja! Saya sudah berpesan pada Bi Inahya," terang Antonio sedikit berbohong. Memang ia sudah berpesan, jika nanti Rhea mencarinya, agar mengatakan kalau sedang berada di kantor dan akan pulang larut malam.
Akhirnya Khanza merasa lega dengan perkataan Antonio. Mereka saling tatap dan tersenyum. Antonio berjalan menuju ke sofa, dia duduk disana. Mengeluarkan handphone, mengirimkan pesan ke putrinya agar tidak menunggunya.
****
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓