
Antonio berdiri kaku, memandang makam istrinya. Pertama kali pria itu merasa sesak dan sakit bersamaan. Wanita yang telah menemani selama dua puluh satu tahun sudah berbeda alam dengannya.
“Honey, mas masih belum percaya kamu sudah pergi secepat ini. Mas sangat mencintaimu honey, kenapa kamu meninggalkan mas dan anak-anak kita secepat ini honey. Apa kamu sudah lelah mengurus kami honey? Mas masih membutuhkanmu disisi mas honey, harusnya kita menutup mata bersama-sama honey. Tapi kenapa kamu harus pergi duluan? Mas janji tidak akan melarang mu untuk memasak didapur lagi, tolong honey kembalilah. Mas yakin kamu masih hidup dan didalam sana pasti jasad orang lain. Mas berjanji tidak akan menikah lagi, karena kamulah satu-satunya orang yang bisa membuat hati mas bergetar dan jantung mas berdegup kencang saat pertemuaan pertama kita. Mas hanya mencintaimu selamanya. Mas juga berjanji akan membalas orang telah membuat kami kehilangan mu honey.”
Orang-orang yang mendegar penuturan Antonio. Hanya bisa menahan sesak didada mereka. Ikut merasakan bagaimana perasaan Antonio.
Begitupun dengan keluarga Mahendra, terutama Kirana terus-terusan menangis dalam pelukan Aditya. Saat mengetahui kabar Khanza benar-benar meninggal dalam kebakaran tersebut, Kirana sempat pingsan. Hati ibu mana yang kuat melihat jasad putrinya. Sungguh rasanya baru sebentar kebersamaan ibu dan anak itu, sekarang mereka akan berpisah untuk selamanya-lamanya.
Rhea pun sama sangat histeris ketika mengetahui mommynya tak selamat dalam ledakan bom dirumah penyekapan itu.
“Rhea sangat menyanyangi dan mencintai mommy. Karena mommy adalah sahabat sekaligus ibu yang baik dan perhatian. Mommy membawa kebahagian untuk semua keluarga, Rhea beruntung bertemu sahabat sebaik mommy. Mungkin untuk saat ini Rhea belum bisa menerima kenyataan bahwa mommy telah pergi, tapi aku akan mencoba ikhlas melepas kepergian mommy. Mommy yang bahagia ya disana, aku akan mendoakan agar diberi tempat disurganya Allah swt...” Tutur Rhea dengan buliran-buliran bening megalir dipipinya. Leo hanya bisa memeluk dan mengusap punggung sang istrinya.
“Terimakasih Khanza telah menjadi sahabat sekaligus sepupu baikku. Aku akan selalu mendoakanmu,” kata Leo yang sangat merasa kehilangan juga. Berkat Khanzalah dirinya bisa bersatu dengan Rhea.
“Mommy, mengapa mom pergi secepat ini! Rey butuh mommy, maaf kalau Rey sering nakal. Rey bakalan rindu banget sama perhatian mom, nasehat mom. Semuanya Rey ngga bisa lupain...” Rey mengusap batu nisan yang bertuliskan Khanza Almaira.
“Rey mau mommy!”
“Mommy,” racau Rey menangis histeris sampai Arsen harus memeluk adiknya untuk menenangkannya.
*“Mom aku berjanji akan membalas orang telah membuat mommy pergi dan kami harus kehilangan mommy selama-selamanya. Aku akan bunuh orang tuh, tidap perduli aku harus menjadi orang yang kejam.” *Batin Arcell penuh kemarahan.
“Dimana Ghani? Abang tidak melihat,” ujar Arcell bertanya tentang keberadaan Ghani adiknya.
“Tadi aku melihat Ghani pergi bang, setelah selesi mendoakan,” sahut Arsen yang masih menenangkan Rey.
Arcell menghela nafas pasti Ghani belum bisa menerima kenyataan. Walaupun sebenarnya diapun sama belum bisa menerima bahwa mommy pergi untuk selama-lamanya.
Tiba-tiba handphone Vinno bergetar, mendapatkan telpon dari pihak rumah sakit.
*“Aku mau ketemu mommy, jangan halangi aku,” *teriak Queen melempar barang-barang yang berada di dekat. Selang infusnya telah dicabut begitu saja, bahkan tangan mengeluarkan darah karena dicabut secara paksa.
*“Mommy, mommy, mommmyyyy!!!” *Queen masih berteriak-teriak histeris memanggil nama ibunya.
“Apa! Baik saya akan segera kesana, tolong jaga sebentar, ingat jangan menyakitinya.”
Setelah itu Vinno memasukan kembali handphone ke dalam kantongnya. Mendengar teriakan keponakannya membuat Vinno sangat khawatir.
“Kalian saja yang pergi saya masih ingin berada di sini,” ucap Antonio dingin.
“Xavier, mama mengerti keadaan mu sekarang. Tapi jangan berlarut-larut dalam kesedihan nak. Masih ada anak-anakmu yang harus kamu jaga, termasuk princess sekarang pasti sangat membutuhkan dukungan mu dan kita semua,” tutur Erina berhadapan dengan putra pertamanya dan menghapus air mata putranya.
Antonio mengangguk lemah, yang dikatakan mama benar. Princess pasti tidak bisa menerima kepergian Khanza, bahkan dirinya pun masih belum percaya bahwa istri yang sangat dicintainya sekaran telah tiada.
“Arsen gendong Rey, kita ke mobil dan pulang sekarang!” Titah Andreas menatap sedih cucu-cucunya.
“Tidak aku masih mau disini, nemani mommy. Akh engga mau pulang,” tolak Rey mentah-mentah membrontak di gendongan Arsen.
Arcell merasa kasihan dengan kembaran yang dipukul-pukul oleh Rey adik mereka. Arcell maju mendekat pada Arsen.
“Biar abang yang gendong Rey,” sergah Arcell langsung mengambil alih Rey dari gendongan Arsen.
“DIAM REY!” Bentak Arcell, ketika Rey membrontak dalam gendongan. Padahal Rey sudah kelas satu SMA, badan saja yang besar. Tapi masih bisa di gendong Arsen ataupun Arcell.
“Sebaiknya kita langsung pulang saja, biarkan Xavier dan Vinno ke rumah sakit,” tukas Andreas.
Kini semua orang telah berada dalam mobil masing, tujuan mereka yaitu pulang ke kediaman masing-masing. Hanya Antonio dan Vinno yang berbeda tujuan yaitu harus ke rumah sakit.
***
Guys baca karya baru aku yuk judulnya "YOU'RE MINE, SERRA"
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓