
"Siapa kamu?" tanya orang yang mengejutkan.
"A-aku a...anu," bicara Khanza menjadi gagap dan malah menujuk dirinya.
"Iya nama kamu siapa gadis manis?" tanya Kevin. Ya, orang yang mengejutkan tadi adalah Kevinno Horison adik dari Antonio Xaviaro Horison. Mereka berdua hanya beda sepuluh tahun.
"Namaku... Kha-nza," ucapnya berkata pelan.
"Apa kamu pelayan disini?" tanya Kevin lagi.
Khanza malah terdiam dan bingung ingin menjawab. Dia takut salah menjawabnya, jadi dirinya lebih memilih diam. Hingga suara seseorang mengintrupsi dan mengalihkan atensi mereka.
"Dia calon istriku," Antonio lah yang meyahut dari kejauhan, sambil berjalan menghampiri.
"Calon istri? Bukannya istri lo itu Laura. Oh, atau lo lagi mau nambah istri ya... Inget umur, lo udah tua. Mending sama gue aja, mau ga cantik sama om?" crocos Kevin dan akhirnya kalimat menggoda Khanza.
"Diam! Saya sudah bercerai dengan Laura. Satu lagi jangan bicara lo gue depan calon istri saya. Nanti anak saya bisa denger di dalam sini, itu tidak bagus," jelas Antonio mengeratkan pelukan dipinggang Khanza, tangan satu mengelus perut wanitanya.
"Anak? Kalian..."
Antonio malah melenggang pergi bersama pergi, membawa Khanza. Keduanya naik ke lantai atas, menuju kamar.
.
"Duduklah," seru Antonio menyuruh untuk duduk.
Khanza pun duduk ditepian ranjang terdiam, sambil kakinya saling bersentuhan menahan sakit akibat terkena jatuhan dessert yang panas. Ia masih menunggu Antonio untuk bicara. Sudah beberapa menit kemudian Antonio belum mau bicara malah asik dengan kegiatannya melepas dasi serta pakaian. Itu semua tidak lepas dari pandangannya, bahkan dia sama sekali tidak menutup matanya.
"M-mas," cicit Khanza.
"Sudah tahu kesalahan kamu dimana?"
"Em, maaf."
"Kenapa sih, kamu susah sekali saya kasi tahu. Kamu itu tidak boleh melakukan hal-hal yang membuat kamu kelelahan. Sebenarnya kamu ngerti ga sih, keadaan kamu belum benar-benar pulih. Atau kamu memang mau membahayakan kandungan kamu, iya?" Antonio bicara masih dalam intonasi suara rendah yang menekan. Mencoba menahan emosi, agar tidak kelepasan membentak.
"Hiks..."
'Braakk'
Terkejut! Khanza memejamkan matanya, lalu mencoba berdiri. Tetapi kaki sangat sakit sekali.
"Awhh," ringisnya.
Akhirnya dia lebih memilih membaringkan badannya. Karena kaki terluka dan benar-benar sakit untuk dibawa berdiri, apalagi melangkah.
Khanza mencoba memejamkan matanya, agar bisa tertidur menghilangkan rasa sakit.
.
Dilain tempat, Antonio memilih menghindar dari pada meledakan emosinya dan disinilah ia tengah berada di ruang kerjanya yaitu di mansion. Dia menghempaskan punggungnya di sandaran kursi.
Wajahnya terlihat kusut sekarang, padahal Antonio pulang dari kantor terlihat bahagia. Karena kedua orangtuanya dan adiknya akan datang ke mansion. Rencananya Antonio akan mengenalkan calon istrin kepada kedua orangtuannya dan menceritakan bahwa dirinya sudah bercerai dengan Laura. Apalagi Laura juga belum diketahui kabarnya sudah ditemukan atau belum.
"Arggh! Kenapa sih Khanza susah banget buat kamu nurut. Apa hormon hamilnya sebegitu ingin melakukan hal-hal yang bahkan bisa membahayakan kandungannya."
Antonio memijit keningnya, mencoba mengenyahkan Khanza dari pikiran sebentar saja untuk sekedar meredakan emosinya. Menyibukan dirinya dengan membuka laptop, yang tidak ada sama sekali yang harus dikerjakan bahkan dokumen untuk diperiksa. Karena memang semua telah diselesaikannya dikantor.
"Tidak! Aku tidak bisa begini. Ya, seperti aku harus kembali ke kamar," Antonio keluar dari ruang kerja melangkah ke kamar.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓