
Semua orang sudah mengambil tempat duduk masing-masing di meja makan. Antonio menatap bergantian Vinno dan Naila yang duduk saling berhadapan dengannya dan istrinya.
Setelah mendengar cerita dari sang istri membuat Antonio sedikit geram dengan adiknya. Ia paling tidak suka jika seorang anak kecil harus melihat pertengkaran orang dewasa, maka dari itu Antonio selalu menjaga emosinya sebisa mungkin tidak bertengkar dengan istrinya. Walaupun istrinya sangat susah dibilangi, tetapi Antonio sebisa mungkin tak membentaknya. Hanya saja istrinya selalu menangis jika diberitahu olehnya, membuatnya menjadi lemah mendengar tangisan istri tercinta dan melupakan kesalahan yang di buat istrinya.
Matanya kini memperhatikan seksama keduanya, terlihat baik-baik saja dan tidak sedang berdiam-diaman ataupun terlihat kemarahan diantar keduanya. Membuat seakan-akan bingung.
“Ehem,, mengapa kakak melihat kami berdua seperti itu?” Tegur Vinno bertanya pada Antonio yang sedari memperhatikan mereka berdua.
“Tidak papa!
Apa semalam kalian bertengkar?” Tanya Antonio membuat semua orang melirik Vinno dan Naila bergantian.
“Benarkah yang dibilang Xavier, kalian bertengkar semalam,” timpal mama Erina cepat.
Keduanya yang menjadi tersangka, malah menjadi salah tingkah. Bagaimana bisa pertengkaran mereka sampai di telinga Antonio. Mungkin kah ada yang mendengarnya dan menceritakannya pada Antonio.
“Iya mah, semalam kami sempat cekcok. Hanya salah paham saja, tapi sekarang kamu sudah berbaikan kok mah, kak. Iyakan mas kita sudah baikan?” Ujar Naila menjelaskan dan langsung bertanya pada suaminya agar memperjelas lagi.
“Iya mah, kak.. Kami berdua sudah berbaikan kembali. Karna aku juga sudah menceritakan pada Naila yang sebenarnya mah, kenapa sampai sekarang ia tidak hamil juga. Aku ngga mau menyimpan rahasia ini lagi, aku takut nantinya Naila mengatahuinya lewat orang lain, yang bakal pastinya membuatnya tambah sakit,” jelas Vinno.
Semua yang mendengarnya mengangguk mengerti, mereka semua juga sebenarnya sudah tahu tentang hal itu.
“Maafin mas ya sayang,” ujar Vinno.
“Iya mas, maafin aku juga yang udah salah paham sama kamu,” kata Naila, keduanya saling berpelukan. Mereka semua yang melihat itu tersenyum bahagia.
Sedangkan Khanza yang mendengar penjelasan keduanya merasa lega. Ia merasa bersyukur karena pertengkaran keduanya bukanlah dia penyebabnya. Tadinya ia sudah sangat ketakutan dan terus saja memikirkannya.
“Gitu dong uncle, Re kan senang liat kalian begini. Adem gimana gitu,” ucap Rhea. Dibales keduanya dengan tawa bahagia.
“Oh iya kak, apa tadi malam kakak mendengar kami berantem? Padahal setahu aku kamar disini kedap suara semua. Jadi menurut aku, jika kakak mendengar pertengkaran kami, artinya kakak membuka pintu kamar kami,” tukas Vinno bertanya, itulah yang ada dalam pikirannya. Mana mungkin Antonio bisa mendengarnya, kecuali pintu kamar mereka terbuka sedikit. Sedangkan pintu kamar mereka tertutup rapat.
Ketika Antonio ingin menjawabnya, tangan Khanza memegang paha suaminya untuk mencegah dan memberitahu lewat tatapannya, agar membiarkan dia saja yang menjelaskan semuanya.
“Emm, begini kak Vin mba Nai.. Tadi, pagi pagi sekali Abian mendatangi kamar kami, kebetulan saat itu akulah yang membuka pintunya. Wajah Bian terlihat murung sampai aku tanya dia kenapa, awalnya dia tak mau menjawabnya. Sampai aku tanya kembali akhinya bian mau menceritakannya. Bian cerita kalau dia mendengar pertengkaran kalian dan suara tangisan mba Nai. Bian menjadi ketakutan mendengar pertengkaran kalian, tetapi aku mencoba menenangkan agar tidak memikirkan itu semua,” bicara Khanza panjang lebar menjelaskan awal mereka jadi mengetahuinya.
Naila sampai menutup mulutnya mendengar penjelasan Khanza, “Bagaiman ini mas Bian mendengar pertengkaran kita, pasti anak kita merasa sangat ketakutkan,” paniknya sampai meneteskan air mata.
“Tenang sayang nanti kita bicara sama Abian,” ucap Vinno.
“Iya mba, mba yang tenang dan jangan khawatir, aku juga sudah memberitahu Abian agar tidak memikirkannya,” kata Khanza.
“Sebaiknya kita sarapan dulu dan jangan ada yang bicara lagi,” lanjut papa Andreas bicara tegas.
Akhirnya mereka makan dengan hening dan tidak ada yang berani bicara satupun. Memang begitulah peraturannya.
***
Kini di dirumah hanya tinggal Khanza, Naila dan Vinno berserta anak-anak mereka yang belum cukup umur untuk sekolah yaitu Ghani, Bian, Rey, baby girl yang lagi di stroller. Sedangkan Antonio mengantar putra kembar pergi ke sekolah lebih dulu, barulah setelah itu ke kantor. Papa Andreas pergi ke kantor duluan, karna ada pertemuan penting dengan sahabatnya. Mama Erina ikut bersama Rhea dan Leo pergi mengunjungi kediaman Bagaskara dan Raya.
“Bian,” panggil Vinno yang mendatangi Abian bersama istrinya yang berada di sebelahnya.
Abian yang asik bermain bersama Rey dan Ghani, merasa terkejut mendengar suara papa yang memanggil namanya membuat anak itu langsung mendekat kearah Khanza dan memeluknya erat.
“Mom, Bian takut,” cicit Bian dipelukan Khanza.
“Sstt.. Sayang jangan takut, mama papa mau ngomong sesuatu sama Bian,” ucap Khanza berkata lembut agar mudah dipahami anak seusia Bian maupun anak-anaknya.
“Iya sayang, mama papa mau ngomong sama Bian. Mau ya nak?” Kata Naila bertanya dengan nada sedih.
“Bian ngga mau kan buat mama sedih, jadi mau ya nak. Papa mama ngga berantem kok nak, papa mama sudah baikan,” ujar Khanza yang akhirnya membuat anak itu mengangguk.
“Sini sayang,” seru Nailai, Abian langsung berlari menghampirinya dan memeluk erat sang mama yang berjongkok menyambut pelukannya.
“Hiks, maafin mama papa ya sayang,” kata Naila sampai menangis, karena sedih anaknya harus melihat pertengkarannya dan suaminya.
“Mama jangan nangis, Bian jadi ikutan sedih kalau mama nangis,” celoteh Bian, membuat Vinno yang mendengar merasa terenyuh dengan celotehan putranya.
“Mama sedih karena kamu mendengar pertengkaran kami nak. Papa minta maaf ya nak, papa sama mama sudah berbaikan kok sayang. Jadi Bian jangan takut lagi ya nak,” tutur Vinno, Bian menatap mata mamanya yang memberikan anggukan. Lalu anak itu beralih menatap papanya dan memberikan anggukan juga.
“Papa mama janji jangan berantem lagi, Bian ngga suka liat mama nangis,” katanya.
“Iya boy, mama papa tidak berantem lagi,” ujar Vinno, lalu mereka berpelukan bersama-sama.
Khanza yang melihat ketiga tersenyum bahagia, sedangkan dua putranya hanya cengo dan merasa bingung. Karena mereka tidak mengerti permasalahannya dan tidak mengetahuinya juga.
“Rey sama Ghani ngga mau peluk mom,” ujar Khanza pada kedua putranya.
“Mau mom,” girang Rey yang langsung melompat kepelukan mommynya, tidak dengan Ghani yang hanya mengikuti saja dan memeluk mommynya juga.
****