
Rumah sakit.
Satya memberhentikan mobil tepat di pintu masuk rumah sakit. Ia keluar dengan segera berlari menuju ke samping kiri membukakan pintu. Setelah pintu mobil terbuka, Antonio keluar bersama Khanza di dalam gendongannya.
Para perawat yang melihatnya, langsung membawa berangkar, Antonio membaringkan Khanza ke berangkar tersebut. Tiga orang perawat ditambah Antonio membantu mendorong menuju ruang IGD.
"Mohon maaf tuan, anda tidak boleh masuk. Silahkan tunggu di luar," kata salah satu perawat mencegahnya dengan bicara sopan.
Antonio mengangguk dengan wajah lemas, nafas memburu ditambah peluh menetes dari dahinya. Darah Khanza di kemejanya sangatlah banyak.
Beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruang IGD. Antonio berdiri berhadapan dengan dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan istriku? apa ia baik-baik saja," ujar Antonio bertanya.
"Begini tuan, peluru itu berhasil kami keluarkan. Tetapi sekarang istri anda butuh donor darah, akibat tembakan yang mengenai punggungnya, berutunglah pluru itu tak terlalu dalam. Tetapi, tetap saja banyak darah yang keluar...
Istri anda membutuhkan donor darah O Rhesus Negatif, golongan darah yang dimiliki istri anda sungguh langka dan di rumah sakit tidak ada persedian darah tersebut tuan. Apa ada pihak keluarga dari istri anda yang memiliki golongan darah yang sama?" penjelasan dokter itu membuat seketika kepala Antonio rasanya sungguh berat.
Bagaimana dia bisa tahu keluarga Khanza, istrinya saja tinggal di panti asuhan. Bahkan dari masih bayi, bisa di simpulkan. Jangankan dia, istrinya saja tak mengetahui siapa orang tua kandungnya...
"Aditya," gumannya, "Ya, aku harus menghubunginya," ketika Antonio ingin menghubungi sahabatnya. Dokter di hadapannya mencegahnya.
"Sebentar tuan, adalagi yang harus saya bertahu dan jelaskan pada anda," ujar Dokter.
"Bicaralah cepat," pungkas Antonio tak sabaran ingin mengetahuinya.
"Kami akan melakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan bayinya, dan kemungkinan besar hanya salah satu saja yang bisa selamat-"
Karena dipenuhi emosi saat mendengarnya, Antonio menarik kerah baju sang dokter.
"Jangan katakan itu, saya minta selamatkan kedua anak saya. Jika tidak nyawa mu melayang di tangan saya, DENGAR ITU BAIK-BAIK," bentak Antonio di akhir kalimat, saat ingin memukul dokter.
"Tuan hentikan! Lepaskan tangan anda dari kerah baju dokter, tuan. Biarkan dia menjelaskan sampai tuntas, apa tuan ingin memperlambat dokter ini, hingga istri anda merenggang nyawa di dalam sana," Satya memang sengaja berbicara sedikit keras terhadap tuannya, agar mengerti situasi darurat ini.
Antonio melepaskannya, "Lanjutkan penjelasanmu!"
"Tetapi itu baru kemungkinan tuan, kami hanya seorang dokter yang merupakan manusia biasa, bukan tuhan yang bisa menentukannya hidup matinya manusia. Berdoalah tuan, semoga kedua anak anda bisa kami selamatkan. Tolong tanda tangani surat untuk pengoperasian," Dokter tersebut menyerahkan surat tersebut.
Antonio sudah membubuhkan tanda tangannya, dokter tersebut kembali masuk dan meminta para perawat membantu memindahkan Khanza ke ruangan operasi.
Sedangkan Antonio mengikuti berangkar Khanza yang di dorong cepat menuju ruang operasi. Saat pintu tertutup, disitulah Antonio hanya terdiam melihat pintu yang tertutup...
Satya mendekati tuannya, menyentuh bahunya. Lalu menyerahkan paper bag yang dibawanya tadi. "Ini tuan lebih baik anda membersihkan diri terlebih dulu, baju anda juga terkena darah dimana-mana."
Antonio menjawabnya hanya dengan anggukan saja, sebelum pergi ia berbicara terlebih dulu. "Satya, hubungi Aditya... Minta dia agar segera ke rumah sakit sekarang," perintahnya.
"Baik tuan, saya akan menghubungi tuan Adit."
Setelah itu Antonio langsung pergi menuju toilet rumah sakit yang khusus untuk mandi, ia pun memasukinya dan dengan cepat membersihkan tubuhnya. Tak perduli kalau jam sudah menunjukkan pukul 00.30, larut malam...
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓