
Setengah jam lamanya barulah Antonio sampai di kantor, saat memasuki kantornya mata Antonio melihat keberadaan Leo.
"Ikut saya," ujar Antonio tertuju pada Leo agar segera mengikutinya tanpa bertanya.
Bukannya berjalan kearah ruangannya Antonio malah menuju ke ruang bawah tanah yang memang ada di kantornya.
Disinilah mereka berada di ruangan ring tinju, melihat wajah masam Leo membuat Antonio tersenyum miring.
"Saya tidak memaksa, jika kau tidak siap silahkan mundur dari sekarang. Berarti kau juga siap meninggalkan Rhea, karena saya butuh lelaki yang bisa menjaga Rhea dengan baik," jelas Antonio melirik Leo.
"Tidak, aku tidak sanggup berpisah dengan Rhea.. Bagaimanapun aku harus memperjuangkan cintaku," batin Leo.
Antonio melipat kedua tangannya menunggu jawaban dari Leo. Tiba-tiba datanglah Satya membawakan dua paper bag.
"Ini tuan pesanan yang anda minta," ujar Satya. Antonio hanya memberikan anggukan sebagai balasan, dan beralih menatap Leo yang penasaran dengan apa yang di bawa oleh Satya.
"Kalau kau menerima tantangan saya, ambil paper bag di tangan Satya," kata Antonio.
"Memang apa di dalam paper bag itu om?" tanya Leo.
"Ambilah dan lihat sendiri isi di dalamnya," seru Antonio.
Leo berjalan mengambil paper bag yang berada di tangan Satya, lalu membuka dan melihat isinya. Dimana di dalamnya terdapat pakaian ganti.
"Saya akan menguji kemampuan kamu dengan bertinju melawan saya, jika kamu berhasil mengalahkan saya. Berarti kamu layak untuk bersama Rhea dan sedikitpun saya tidak akan menghalangi hubungan kalian..
Tetapi jika kamu tidak berhasil mengalahkan saya, kamu harus siap menjauh dari Rhea..."
Antonio berbicara panjang lebar dengan tersenyum miring. Leo mendengar perkataan Antonio, menjadi sedikit down, tetapi hanya sebentar saat ia mengingat percakapan dengan Rhea tempo hari. Dimana dirinya menyakinkan Rhea untuk mempercayai dirinya bahwa Antonio akan memberikan restunya.
"Saya siap om," ucap Leo melepas bajunya dengan mengganti baju yang di dalam paper bag.
Begitupun Antonio juga telah berganti juga. Ia juga tak menyuruh Satya untuk pergi, melainkan memerintahkannya tetap berada diruangan ini sebagai saksi.
Beberapa kali Antonio membogem Leo, tetapi Leo belum ada sama sekali membalas pukulannya balik bahkan seakan-akan Leo terlihat enggan untuk melakukannya, entahlah kenapa?
Sampai akhirnya Antonio memilih menghentikan, karena merasa tidak per. Dimana dirinya tanpa ada memar sedikipun di wajahnya, hanya saja wajah Leo mendapatkan tiga memar di wajahnya.
Keduanya pun turun dari ring tinju mengambil air dan meminumnya. Antonio sedikit melirik pada Leo yang biasa saja.
"Mengapa kau tak balas memukul saya, padahal kau punya kesempatan untuk itu," ujar Antonio.
"Om benar aku punya kesempatan untuk membalas pukulan om.. Tetapi bagaimana dengan sepupu ku Khanza jika dia melihat suaminya mendapatkan memar pastilah dia akan sangat mengkhawatirkan om, bukan berarti aku hanya mementingkan perasaan Khanza, lalu mengabaikan rasa cinta aku untuk Rhea. Menang ataupun kalah cintaku untuk Rhea tak berkurang sedikipun, aku hanya minta om percaya kalau aku bisa melindungi Rhea..." kata Leo panjang lebar.
Antonio terkekeh ketika Leo mengatakan Khanza akan sangat mengkhawatirkan dirinya. Ketika ia pulang ke rumah dan istrinya melihat memar di wajahnya, ia sudah sangat paham akan reaksi istrinya nantinya.
Antonio mendekati Leo dan menepuk bahunya, "Saya memberikan restu untuk kalian bersama, kau pantas untuk putriku Rhea, jaga dia seperti saya yang selalu melindunginya. Jangan sekalipun kau menyakitinya, atau kau tidak akan pernah bertemu dengannya lagi, karna saya sendiri yang akan memisahkan kalian. Ingat itu!"
Leo mengangguk, "Baik om, aku tidak akan berjanji, tapi aku akan membuktikannya," katanya bersungguh-sungguh.
"Hmm, kita lihat nanti," ucap Antonio dan berlalu keluar menuju ruangannya untuk membersihkan dirinya sebelum pulang menuju ke rumah.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓